RA S001 : First Sight

RA S001 : First Sight
Chapter AC


__ADS_3

Sebulan sudah, sejak Shalome resmi berkencan dengan Justin. Meski keduanya belum menggelar pertunangan secara resmi. Tetapi, mereka berdua sudah dikenal luas sebagai pasangan serasi. Justin yang datang langsung ke Valkyrie Group's, menjemput Shalome di ruangannya untuk makan siang bersama atau Justin yang sekedar mampir. Seusai menyelesaikan rapat atau agenda, baik itu yang diakan di Valkyrie Group's atau disekitarnya. Sudah menjadi pemandangan yang lumrah di kalangan para karyawan Valkyrie Group's.


“J.A Hotel, J.A Apartment, J.A Building, dan J.A Bank, semua itu tergabung dalam Alexander Corporation's.”


“Lalu, apa Nona tahu kepanjangan dari J.A itu sendiri?”


“Hem ... tidak. Kenapa aku harus tahu?” Shalome menatap polos Monica.


“Sudah saya duga.” Monica tersenyum ke arah Shalome. Namun, siapa pun yang melihat senyuman Monica sekarang, dapat menebak dengan mudah makna sebenarnya dari senyuman tersebut.


“Katakan saja! Jangan memasang ekspresi, seolah-olah aku ini adalah orang paling kudet di muka bumi ini,” sarkas Shalome, melihat air muka Monica yang gatal ingin mengatakan sesuatu padanya. Tepatnya, menjelaskan apa pun tentang topik yang sedang keduanya bicara sekarang ini.


“Baiklah. Ini karena Anda sendiri yang memintanya. Sebagai asisten yang baik. Tentu saja dengan senang hati, saya akan menjelaskannya.”


Malam harinya, Shalome menghadiri pembukaan kerjasama antara Valkyrie Group's dan Alexander Corporation's.


Shalome memberikan isyarat dengan jari. Meminta Peter untuk mendekat.


“Keluarkan mereka dari sini! Cari cara agar tidak menarik perhatian!” bisik Shalome.


Peter mengikuti arah pandang Shalome. Keduanya melihat ke arah beberapa pria yang diam-diam melecehkan para tamu perempuan. Bahkan pelayan perempuan tak mereka lepaskan. “Apa saya boleh mengeluarkan mereka dalam kondisi tidak sadar?"


"Terserah. Aku tidak peduli cara apa yang kau gunakan. Yang kuinginkan adalah tidak melihat mereka selama acara ini berlangasung," titah Shalome mutlak.


“Nona Valkyrie,” sapa seorang gadis cantik dengan dandanan menor. Tetapi tidak membuatnya terlihat norak. Justru memberikan kesan dewasa dan sensual yang menarik para kaum adam. Khususnya mereka para hidung belang. Nampak menikmati pemandangan menggiurkan yang tersaji gratis di depan mereka.


Ini 'lah salah satu alasan Shalome begitu enggan menghadiri sebuah pesta. Siapa pun penyelenggaraan pesta dan apa pun tajuk dari pesta itu. Pasti akan ada beberapa pria mau pun orang-orang yang mencari patner bersenang-senang. Meski pun ada beberapa wanita juga datang ke pest dengan tujuan yang kurang lebih sama. Tetapi, para pria lebuh bersikap agresif dan tidak tahu malu.


“Ya. Maaf, dengan siapa, ya?”


“Oh, perkenalkan, Giselle.”


Shalome tanpa curiga menyambut uluran tangan Giselle. Merasa Giselle tidak memiliki niat tersembunyi. Juga senyuman wanita itu, selalu sedap dipandang mata. Tanpa sadar mengsugesti Shalome untuk melonggarkan kewaspadaanya.


“Sangat disayangkan,” lirihnya yang tidak dipahami oleh Shalome.


“Oh, maafkan saya.” Giselle buru-buru tersenyum dan tertawa kecil.


Lanjutnya, “saya hanya .... Jaga diri Anda,” pesannya, sebelum tiba-tiba menjauh. Perkataan Giselle yang ambigu, sukses membuat Shalome terheran-heran sekaligus bingung.

__ADS_1


Baru saja Shalome ingin menyusul Giselle. “Shal.” Shalome berbalik dan mendapati keberadaan Justin.


“Ada apa?” tanyanya, meski terdengar santai. Tetapi, Shalome tidak bisa ditipu. Tatapan tajam Justin yang tidak biasa atau pun isyarat yang pria tampan itu berikan pada anak buahnya. Semua itu terlalu ketara di mata Shalome. Sulit baginya untuk pura-pura tidak menyadarinya.


“Apa?” Shalome tahu kalau semua sikap Justin saat ini, bukan ditunjukan padanya.


Justin menghela nafas. Menatap teduh wajah cantik wanitanya. Juga sikap dingin Shalome yang selalu bisa membuatnya terpesona.


“Apa yang kau la———” Belum selesai Shalome menyelesaikan kalimatnya. Justin sudah membungkamnya dengan ciuman lembut dan penuh pujaan yang menghanyutkan, membuat Shalome tak kuasa untuk menolaknya.


“Jauhi wanita itu,” bisik Justin.


“Tidak ada penolakan!” tekan Justin, tahu kalau wanitanya ingin membantah dirinya. Tak ingin memperpanjang masalah. Shalome memilih diam, menuruti perkataan Justin.


Acara pembukaan malam itu berjalan lancar, bahkan mendulang kesuksesan besar. Melampaui target.


Beberapa hari, setelah acara pembukaan kerjasama antara Valkyrie Group's dan Alexander Corporation's. Alis Shalome terangkat satu. Hari ini sudah kesekian kalinya, dia mendapat pesan aneh.


“Nona.”


“Nona!!” panggil Monica kencang, membuat Shalome terperajat.


“Ya.”


Tak ada jawaban dari Shalome. “Kirim saja semuanya ke emailku. Nanti biar aku periksa sendiri,” ucap Shalome cepat, sebelum Monica membuka mulutnya.


“Apa hari ini Anda pulang cepat lagi?”


Shalome mengangguk. Beranjak mengambil barang-barangnya. Baru saja dia mendapat pesan dari Justin, kalau dia sudah menunggu di lobby.


Shalome sedang menikmati angin malam. Pikirannya berkelana kepada pesan misterius yang akhir-akhir ini dia dapat. Saking seringnya, sampai membuatnya terganggu. Walau bukan hal baru, jika Shalome mendapat pesan ancaman atau tawaran kerjasama. Tetapi, kali ini sedikit berbeda. Pesan itu berhubungan dengan ....


“Apa yang mengganggu pikiranmu?” Sebuah tangan kekar melingkar di perut rata Shalome.


“Ada apa denganmu?” Justin mencium bahu telanjang Shalome.


“Sekarang laki-laki mana lagi?” Justin masih menyerang Shalome dengan ciuman ringan. Tetapi, Shalome tahu prianya sedang menahan amarah.


Tanpa Shalome ketahui, keterdiamannya menakuti Justin. Hingga tanpa sadar, Justin mempererat pelukannya dan semakin gencar menciumi kulit halus Shalome yang bisa dia jangkau.

__ADS_1


“Akh ....” desahan tertahan lolos dari bibir Shalome, ketika Justin dengan sengaja membuat kissmark di lehernya.


“Hentikan,” lirih Shalome, menahan diri karena tangan Justin sudah mulai menggerayangi tubuhnya.


“Justin, hentikan.” Shalome berbalik dan menatap lurus netra tajam Justin.


Shalome terkekeh, mendapati wajah cemberut pria tampannya. “Aku baik-baik saja.” Shalome mengusap lembut pipi Justin.


“Apa yang kalian bicarakan?” Shalome masih terkekeh. Tetapi tak gentar sedikit pun di bawah tatapan tajam prianya yang ternyata tukang cemburu. Selama menghabiskan waktu bersama Justin, Shalome juga menemukan sisi lain dari diri pria itu.


“Kau tahu ....” Shalome mendekatkan wajahnya ke telinga Justin dan berbisik, “kau imut. Terutama kalau sedang posesif begini.”


Justin menarik pinggang ramping Shalome merapat ke tubuhnya. “Aku yakin, kau akan menarik julukan imut itu dariku begitu di atas ranjang nanti.” Justin menghembuskan nafas hangatnya di ceruk Shalome. Lalu kembali memanjakan kulit halus Shalome dengan bibirnya yang lembut.


“Apa kau juga mengatakan itu padanya ... Giselle.”


Justin membeku. Dia menjauhkan wajahnya dari ceruk Shalome. “Apa yang kau bicarakan?”


Alih-alih menjawab, Shalome memiringkan kepalanya. Mengamati dengan seksama raut wajah pria di hadapannya.


“Shalome,” panggil Justin penuh penekanan. Meminta Shalome berhenti mempermainkannya.


Ekspresi terganggu dan amarah jelas tercetak di wajah Justin. Meski sudah mempersiapkan diri, tetap saja Shalome tak menyangka kalau sebuah nama bisa memberikan dampak yang begitu signifikan pada Justin. Pria yang terkenal sebagai seorang casanova dan sebelumnya, tidak pernah serius menjalin hubungan dengan seorang wanita.


“Jangan sampai aku bertanya untuk kedua kalinya,” ucap dingin Justin.


Hal itu semakin meyakinkan Shalome akan satu hal. “Kenapa?” Shalome membelai lembut dada bidang Justin.


“Apa kau akan mencampakanku dan kembali padanya?” Shalome tepat meletakan telapak tangannya di dada kiri Justin, membuat dirinya dapat mengetahui kalau jantung pria itu berdetak cepat.


“Omong kosong apa yang kau katakan ini.” Justin sudah tidak menutupi kemarahannya.


Shalome membebaskan diri dari pelukan Justin. “Entahlah.”


“Jangan khawatir. Sejak awal aku tidak berharap lebih pada hubungan bisnis ini,” celetuk Shalome. Justin menggemertakan gigi.


“Pergilah! Aku tahu ada banyak hal yang harus kau urus sekarang.” Shalome tersenyum, berbalik dan pergi tanpa melihat ke belakang.


💕💕💕

__ADS_1


Ace Blue Charlotte


22 Oktober 2020


__ADS_2