
Sonny membaca serius sebuah dokumen. Di ruangan yang sama, Justin duduk tenang menunggu dengan sabar sampai Sonny selesai membaca.
“Jadi ... salam macam apa yang kau berikan pada mereka?” Sonny menatap serius Justin.
“Tidak ada yang spesial.” Justin pura-pura sibuk memainkan kuku jarinya.
“Saya hanya melenyapkan mereka dari masyarakat,” imbuhnya.
“Terlalu ringan.” Sonny melirik sebentar dokumen-dokumen yang berisi informasi tentang siapa-siapa saja yang terlihat dalam berbagai insiden yang menimpa Shalome belakang ini.
“Buat mereka, hidup segan mati pun enggan.” Sonny menatap Justin tajam.
“Kau sanggup melakukannya, tidak?” lanjut Sonny, saat tak mendapat jawaban dari Justin.
“Sekarang aku tahu dari mana asal sifat kejam Shalome,” setengah canda Justin. Sejujurnya,
Shalome memang kejam. Walaupun kadang-kadang, sih!? batin Justin.
Sonny diam, tak menanggapi candaan Justin. “Saya paham maksud Anda. Tanpa Anda minta pun. Saya akan membalas mereka berkali-kali lipat dari yang Shalome rasakan.” Sonny mengangguk puas.
Keduanya, selain memiliki kesamaan overprotective terhadap Shalome. Mereka juga tidak kenal ampun, saat membalas siapa pun yang mengusik mereka.
“Lalu ....” Sonny menyatukan kedua tangannya.
“Kapan kau mau melamar Shalome?”
Justin memejamkan mata. Tidak mengira, Sonny akan menyinggung masalah tersebut. Dia kira, Sonny memanggil dia hanya mau membahas tentang orang-orang bodoh yang sebentar lagi akan dilupakan dunia. Mereka 'lah orang-orang yang terlibat dalam insiden yang menimpa Shalome.
“Mengenai itu ... sepertinya ada sedikit kendala.” Justin duduk tegak.
“Anda juga tahu sendiri. Seperti apa sifat Shalome,” ringis Justin. Teringat, betapa dia dibuat menderita. Hasratnya tak dapat disalurkan karena Shalome selalu menolak bila diajak melakukan itu. Sunyi, Sonny tak berkomentar apa pun.
“Jangan harap aku sudi melepasmu. Setelah diam-diam, kau menyentuhnya,” lanjut Sonny.
Justin tersenyum kikuk, dia tertangkap basah. “Kau tidak berpikir aku tidak mengetahui masalah tersebut, 'kan?”
“Atau sebenarnya, kau berniat menyembunyikan hal itu dariku,” tuduh Sonny yang sayangnya tepat sasaran.
“T-tidak. Bukan seperti itu———”
“Jangan sampai aku juga memiliki keluhan padamu,” peringat Sonny tenang.
Justin diam, tak bisa membantah. Dia tahu betul makna di balik satu kalimat tersebut. Bisa gawat, kalau Sonny juga ikutan-ikutan menjadi penghalang hubungannya dengan Shalome. Bisa-bisa, dia benar-benar gagal menjadikan Shalome sebagai memiliknya.
“Apa pun itu. Segera resmikan hubungan kalian!” titah mutlak Sonny.
“Meski aku sangat menginginkan cicit. Tetapi, jangan sampai kau menghamili cucuku sebelum menggelar pesta pernikahan!” pesan terakhir Sonny, sebelum keluar. Meninggalkan Justin yang duduk terdiam. Mirip penjahat yang baru saja tertangkap basah, habis melakukan kejahatan.
“Justin?” panggil Shalome, ketika seseorang memeluknya dari belakang.
“Hem ....” Justin memejam kedua matanya sambil bersandar meletakan dagunya di bahu Shalome.
“Kalian sudah selesai berbicara?”
“Hem ....”
“Apa semuanya baik-baik saja?”
“Hem ....”
“Kamu sehat, 'kan?”
“Hem ....”
Gregetan, Shalome balik badan. “Hentikan!”
Justin membawa Shalome ke pelukannya. “Lepaskan aku!” Shalome memberontak.
__ADS_1
Bukannya menuruti Shalome, Justin malah mempererat pelukannya. “Aku mohon berhenti, 'lah bergerak.
“Sebentar saja," lirihnya, lesu.
“Biarkan aku lebih lama, memelukmu seperti ini,” pinta Justin.
Shalome berhenti, berusaha melepaskan pelukan Justin. Dia tidak tega menolak permintaan Justin. Apalagi pria itu sampai memohon. Jarang-jarang dia begitu.
“Hanya sebentar saja,” lirihnya. Seolah tak rela dengan kata sebentar yang keluar dari bibirnya.
Jauh di tempat lain. Di sebuah villa pribadi mewah——tempat persembunyian. Aktivitas panas Giselle dengan seorang pria harus terhenti. Tak kala, beberapa pria tak dikenal yang merupakan orang-orang suruhan Justin. Memaksa masuk.
Terkejut. Giselle dengan panik, mencari apa pun yang bisa dia gunakan untuk menutupi tubuh polosnya.
“Siapa kalian?” Giselle menatap tajam pria-pria tak dikenal itu.
Sunyi, tak ada yang menjawab. Perhatian Giselle teralihkan pada prianya yang memakai kembali pakaiannya dengan tenang. Seperti tak ada masalah.
“Aku sudah melakukan sesuai perintah. Setelah ini, aku tidak lagi memiliki urusan lagi dengan kalian,” ucap pria tampan yang bersama dengan Giselle di kamar tersebut——pria yang tadi bercinta dengan Giselle.
“Kau!!” Dengan cepat Giselle menghampiri prianya.
“Perintah apa?” tuntut Giselle.
“Jangan bilang kau ....” Kaki Giselle sedikit goyah, tak percaya ketika pria yang dia percayai malah menusuk dirinya dari belakang.
“Ka-kau ... mengkhiatiku,” lirih Giselle terbata-bata. Sekuat apa pun, dia berusaha terlihat baik-baik saja. Bibirnya tetap bergetar, antara menahan amarah dan kecewa disaat bersamaan.
Pria tampan itu tersenyum miring. “Mengkhianati?”
“Kau pikir. Sejak kapan wanita ular sepertimu, bisa dipercaya.” Pria itu melepas kasar cengkeraman Giselle pada pakaiannya.
“Kau saja bisa dengan mudah berpaling dari tunanganmu.” Pria itu menatap remeh Giselle.
“Kau!! Aku meninggalkan Justin untukmu!” teriak Giselle tak percaya. Antara tak percaya dia berhasil dibodohi oleh sosok pria tampan di hadapannya itu. Mau pun situasi yang sekarang terjadi padanya.
Pria itu berbalik. “Aku tidak mau bernasib sama,” imbuhnya, terselip sindiran atas pengkhianatan Giselle pada Justin.
“Sesuai kesepakatan awal. Kau akan mendapatkan semua kau inginkan. Setelah melapor langsung pada Tuan Charles,” ucap pemimpin para pria itu.
“Charles,” ulang Giselle.
Bila itu orang yang dia kenal artinya, Charles di sini adalah sepupu Justin——mantan tunangannya. Seseorang yang selalu berdiri di belakang Justin, mendukungnya.
“Jangan terlalu kasar padanya. Yah ... walaupun aku juga tidak peduli mau kalian apa, 'kan dia, sih,” pesan pria pasangan Giselle.
“Menggelikan.” Pemimpin para pria, orang-orang suruhan Justin menatap Giselle yang terduduk di lantai.
“Mendengar kalimat itu keluar dari mulutmu sendiri.” Pria itu berjalan mendekati Giselle yang menatap tajam ke arahnya.
“Padahal sejak awal kau sudah menipunya,” ejeknya.
Pria tampan itu tertawa renyah, mendengar ejekan temannya. Sembari melangkah pergi, meninggalkan Giselle yang terpuruk.
“Kau benar-benar tak tahu malu,” imbuh pemimpin suruhan Justin.
Dia tersenyum mengejek, melihat keterkejutannya di wajah cantik Giselle. “Mau ku jelaskan sedikit, situasi macam apa yang sedang kau hadapi sekarang ini?” tawarnya.
“Sejak awal .... Pria yang kau cintai. Sekaligus kau pikir juga memiliki perasaan yang sama denganmu itu ....” Dia menjeda kalimatnya.
“Tidak lebih dari seorang penipu,” bisiknya tepat di depan wajah Giselle.
Pria itu berdiri. “Sampai di sini, kau pasti sudah paham, 'kan. Orang yang berdiri di belakang semua ini.” Pria itu memberi isyarat tangan pada bawahannya.
“Merepotkan,” keluhnya seraya menekan handphone yang tadi berikan salah satu bawahannya.
“Lebih jelasnya .... Beliau akan mengatakan langsung padamu.” Dia menekan tombol speaker, setelah panggilan terhubung. Mendekatkan telepon pada Giselle.
__ADS_1
“Giselle.” Terdengar suara rendah seorang pria dari seberang telepon.
Seseorang yang dia kenal. Namun sayangnya, tak betul-betul dia kenal dengan baik. Kalau Giselle mengenal sosok pria yang berbicara ditelepon itu. Pastinya, sejak awal dia tidak akan berani mencari masalah dengannya. Hingga tanpa sadar dia menjeburkan dirinya ke jurang kehancuran.
“Aku persingkat saja. Aku berniat melupakan pengkhianatanmu. Tapi ... sebelum aku sempat melepaskanmu.” Sunyi, pria di seberang berhenti berbicara.
“Kau mengubah pikiranku,” ucap Justin dingin.
"Dengan lancangnya, kau mengincar Shalome-ku."
“Ju-Justin,” panggil Giselle bergetar. Dia menggeleng kuat, menolak tahu tak akan selamat dari murka Justin.
“Kau harus membayar kembali semuanya, tanpa terkecuali,” vonis final Justin.
“Tidak!!!” teriak Giselle histeris, tak kala terdengar bunyi panggil diputus.
“Justin! Tidak! Jangan tinggalkan aku!” Seberapa keras Giselle berteriak, memohon atau memanggil nama pria itu. Terlambat, Justin telah menetapkan nasibnya.
“Nah, sekarang mari kita mulai saja.” Giselle tersentak, mendengar suara rendah pria tak dikenalnya. Matanya membulat, takut melihat para pria suruhan Justin mulai mendekat.
💕💕💕
“Ada apa?”
“Tidak ada. Aku hanya ingin memelukmu saja,” kilah Justin, semakin membawa tubuh munggil Shalome mendekat.
“Katakan, ada apa!?” Suara Shalome meninggi. Tapi Justin tak bergeming, dia tetap bungkam. Memilih menghirup aroma harum tubuh Shalome yang memabukan. Benar saja, tubuhnya sudah panas. Adik kecilnya sudah bangun.
“Justin,” lirih Shalome.
Justin membalas tatapan dalam Shalome. Meski ekspresi wajah Shalome terlihat marah. Namun Justin tahu betul, wanitanya tengah mengkhawatirkan dirinya. Mengetahui itu saja, hatinya sudah menghangat.
“Tidak ada apa pun.” Justin menggeleng, seraya kembali memeluk erat Shalome.
Shalome mendengus, ketika Justin menyandarkan kepala di punggungnya. Bermanja-manja seperti sekarang ini menjadi hobi baru Justin.
Lelah, Shalome memilih melepaskan Justin. Tidak lagi berusaha mengorek informasi dari pria tampan itu. Kembali fokus dengan novel yang tengah ia baca. Tubuh Shalome hangat, tidak kedinginan sedikit pun meski udara malam tengah terasa dingin-dinginnya.
“Akh ... Shalome ....” geram Justin tepat di samping telinga Shalome.
Shalome tak menjawab panggilan Justin. Dia menggigit bibir bawahnya. Menahan desahannya. Sejak awal Shalome memang tidak bisa mengharapkan apa pun dari Justin. Setiap ada kesempatan, Justin pasti akan melakukannya.
“Ehm ....” Shalome memejamkan matanya. Menikmati sensasi jari besar Justin yang tengah bergerak cepat di dalam intinya. Di belakang, Justin juga tak tinggal diam begitu saja. Dia mencari kenikmatan dengan menggesek-gesekan adik kecilnya ke bokong sintal Shalome. Tangan lain pria itu meremas gemas dada berisi Shalome, tanpa menyentuh puncaknya. Membuat tubuh Shalome semakin bergerak gelisah.
“Ah ....” kecewa Shalome. Justin mengeluarkan jarinya, tepat sebelum Shalome keluar.
Sudah tak tahan lagi, Shalome meletakan asal novel yang sejak tadi dia baca. Lalu berbalik dan duduk mengangkangi Justin. Mempertemukan dia dengan milik Justin yang sudah berdiri tegak.
“Ah ....” lenguh Shalome ketika milik Justin menusuk intinya.
Shalome mengalungkan tangannya ke leher Justin. Kemudian mencium liar bibir Justin. Membawa pria itu ke dalam kenikmatan surgawi dunia.
Keduanya bercumbu dengan liar. Shalome sengaja menggerakkan pinggulnya. Menggoda sekaligus mencari kenikmatan dari adik kecil Justin yang sudah berdiri tegak, siap tempur. Justin tak tinggal diam. Dia menarik tengkuk Shalome, memperdalam ciuman mereka. Tak mau kalah, Shalome sengaja menggesekan dada berisinya ke dada bidang Justin.
Justin main santai. Dia suka. Amat menyukai, sisi liar Shalome yang baru dia ketahui sekarang. Keliaran Shalome tak berhenti di sana. Dia dengan berani memberikan tanda kepemilikan di leher Justin. Sembari diam-diam, salah satu tangannya bergerak ke bawah. Berhenti di adik kecil Justin dan menggelus seringan bulu benda sakral itu.
“Uh!?” desah panjang Justin. Dia benar-benar tidak menyangka Shalome akan main curang.
“Akh!?” pekik Shalome ketika tiba-tiba tubuhnya melayang di udara.
Tanpa beban berarti, Justin menggendong Shalome ala bridal style. Membawa wanita cantik itu ke kamar. Melanjutkan kegiatan intim mereka di sana.
“Gadis nakal. Malam ini jangan memohon! Karena aku tidak berhenti, sampai aku puas.”
💕💕💕
Ace Blue Charlotte
__ADS_1
12 November 2020