RA S001 : First Sight

RA S001 : First Sight
Chapter U


__ADS_3

“Tidak alasan khusus.”


“Tidak ada alasan khusus? Apa Anda bisa lebih memperjelasnya?”


“Apa itu sangat penting untuk Shalome.” Justin menekan bagian kata terakhir.


“Saya belum memberi izin Anda bisa memanggil nama depan saya.”


“Bukan, 'kah kita di sini untuk makan malam?” Justin menyandarkan punggung ke sandaran kursi.


Ah, Shalome sudah habis kesabaran. Dia sudah tidak tahan lagi.


“Anda benar. Saya datang kemari untuk makan malam.”


“Benarkan. Jadi masalah lainnya, tidak perlu———”


“Tapi, sejak awal. Yang saya ketahui, hari ini Presdir Valkyrie, 'lah, orang yang janjian makan malam bersama saya. Bukan orang lain.” Shalome menatap Justin tajam.


“Untuk urusan lain, seperti siapa yang akan beliau ajak. Itu bukan urusan saya,” imbuh Shalome.


“Maka dari itu .... Saya juga tidak perlu melanjutkan makan malam ini. Karena bukan urusan saya,” ujarnya dingin.


“Tapi harus saya ingatkan kepada Anda. Apa pun tujuan Anda mendekati Presdir Valkyrie dan Valkyrie Group's, saya tidak peduli. Saya juga tidak akan ikut campur. Tapi jangan coba-coba masukan nama saya ke dalam rencana Anda itu!” tegas Shalome.


Shalome berdiri. “Sudah terlalu malam. Maaf, sepertinya saya harus pamit duluan. Senang bisa makan malam bersama Anda, CEO Alexander.” Shalome menundukkan kepala sedikit ke Justin sebelum pergi.


“Ah, bagaimana ini?” gumam Justin. Namun ekspresi wajahnya justru terlihat senang. Tak memperlihatkan sedikit pun kekecewaan atas sikap Shalome.

__ADS_1


“Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja,” ucap Justin seraya berdiri dan cepat-cepat menyusul Shalome.


Shalome yang tidak tahu Justin tengah menyusulnya. Berjalan pelan dan tenang-tenang saja.


“Maaf. Tapi saya tidak bisa mengabulkan permintaan Anda.”


Shalome tetap berjalan, walaupun suara Justin terdengar semakin mendekat.


“Karena tujuan saya mendekati Presdir Valkyrie dan Valkyrie Group's adalah ....”


“Akh!?” pekik Shalome karena tiba-tiba tangannya ditarik oleh Justin. Tubuh munggil Shalome langsung membentur dada bidang Justin.


“Kamu.” Tanpa peringatan Justin mencium bibir Shalome dengan sensual.


“UGH!? Ehm ....”


Justin mencium paksa Shalome. Dalam hitungan detik, lidah Justin sudah menggoda mulut Shalome. Lidah panas Justin bergerak lincah menjelajahi mulut Shalome yang kebetulan terbuka karena pemiliknya terkejut. Tidak mengira akan mendapat serangan tak terduga dari Justin.


Ciuman panas sepihak Justin masih berlangsung. Sampai Shalome merasakan sesuatu yang keras menusuk perutnya. Seolah telah mendapatkan kesadarannya kembali, Shalome mendorong kuat dada Justin dan ....


PLAK


Tamparan keras Shalome mulus mendarat di pipi Justin. Memecah kesunyian di sana. Sekaligus mengakhiri adegan panas diantara keduanya.


Justin sampai dibuat mundur beberapa langkah. “Ah, kau benar-benar sesuatu,” kekeh Justin seraya mengelus pipinya, di tempat bekas mendaratnya tamparan Shalome. Tidak menampakan sedikit pun penyesalan.


Justin tetap tersenyum, mengabaikan tatapan tajam Shalome. Berbeda dengan Shalome, wajah cantiknya memerah, antara terangsang dan juga marah. Merasa dilecehkan oleh Justin.

__ADS_1


“Tenyata Anda sudah salah mengartikan kebaikan saya,” ketus Shalome.


Shalome mengusap kasar bibirnya menggunakan punggung tangan. Membersihkan saliva Justin yang tertinggal di sana.


“Begitu, 'kah.”


Shalome menatap Justin waspada, ketika pria itu tersenyum miring. Dia tahu kalau tidak bisa keluar dari sana, tanpa kode khusus untuk membuka pintu. Sekali pun dia meminta baik-baik pada Justin. Shalome yakin Justin tidak akan memberikannya begitu saja. Keras berpikir, Shalome sampai mengigit bibir bawahannya. Tanpa dia sadari, perilakunya itu justru semakin membuat Justin tertarik padanya. Sibuk mencari jalan keluar, sampai Shalome tak menyadari Justin sudah berjalan mendekatinya. Ketika menyadarinya, itu sudah terlambat. Justin sudah berada di depannya.


“Jangan mendekat!” peringat Shalome.


Shalome terus mundur sampai berhenti, karena terhalang meja. Tahu Shalome ingin menjauh, Justin langsung menarik tubuh Shalome mendekat.


“Aku menyukai kedua matamu yang sedang menatapku dengan berani.”


“Menjauh dariku!” Shalome berusaha melepaskan diri dari kungkungan Justin. Sekeras apa pun dia berusaha. Tidak sedikit pun berpengaruh pada Justin.


Di sisi lain, Justin menikmati setiap penolakan yang Shalome lakukan. Image dingin dan tak ingin tunduk pada siapa pun itu, terlihat semakin jelas. Entah mengapa, semakin Shalome menghindarinya. Justin justru lebih menginginkannya dari sebelumnya.


“Sudah lelah?” bisik Justin. Tak ada sahutan dari Shalome. Dia malah membuang muka dari Justin. Ketika napas hangat pria tersebut menerpa wajahnya.


Justin mengerutkan dahinya. Dia tidak suka Shalome memalingkan wajah darinya. Justin memegang dagu Shalome, mengarahkan dan mengangkat sedikit sampai wajahnya mengarah lurus ke arahnya. Justin bisa melihat, kedua mata hitam Shalome menatap dirinya, penuh akan kemarahan dan kebencian.


Sadar akan hal itu, hatinya mendadak nyeri. Bukan ini yang dia inginkan. Tapi Justin juga tidak bisa mundur. Sudah terlambat baginya untuk kembali. Apalagi dengan perasaan ingin memiliki yang setiap detik mencekiknya. Justin hanya ingin memiliki wanita cantik itu. Untuk terakhir kalinya. Dalam hidupnya, dia ingin bersikap egois.


Shalome menarik wajahnya, sampai cengkeraman Justin terlepas. “Kau yakin bisa menanggung akibatnya?” desis Shalome.


💕💕💕

__ADS_1


Ace Blue Charlotte


17 September 2020


__ADS_2