
Shalome baru saja selesai menjalani pemeriksaan dan beberapa macam terapi. Kendati gadis cantik itu merasa baik-baik saja dan yakin tak ada yang salah dengan tubuhnya. Namun pada akhirnya. Sudah seminggu ini, dia bolak-balik ke rumah sakit. Itu semua berkat kakeknya yang sangat keras kepala.
“Bagaimana keadaan Nona sekarang?” tanya Peter setelah Shalome masuk mobil.
“Seperti sebelumnya.” Peter tersenyum mendengar jawab singkat sang nona.
“Sekarang Nona mau pergi kemana?”
“Toko buku.” Peter mengangguk dan segera melajukan mobilnya ke toko buku langganan Shalome.
Sejak kejadian percobaan pemerkosaan yang menimpa Shalome seminggu lalu. Sonny Valkyrie masih belum tenang untuk membiarkan cucu kesayangan keluar rumah. Dia pun memerintahkan Peter untuk menjadi pengawal sekaligus sopir sang cucu. Jangan pikir Sonny yang terhormat hanya mengutus Peter seorang untuk menjaga Shalome.
Sesuai kesepakatan awal antara dua orang dari Keluarga Valkyrie beda generasi itu. Dimana Shalome tak membatasi jumlah bodyguard yang Sonny tugasnya untuk menjaganya dengan satu syarat yaitu, Shalome tidak ingin merasakan keberadaan mereka di dekatnya. Sonny bersikeras tidak bisa menerima syarat yang cucunya ajukan. Karena bagaimana seorang bodyguard bisa menjalankan tugasnya. Jika tidak berada di dekat orang yang harus dilindungi.
Sama-sama keras kepala, hingga akhirnya dengan terpaksa Shalome menerima syarat dari sang kakek. Jadilah Peter akan menguntit kemana pun dia pergi.
“Peter, berapa jumlah mereka?” tanya Shalome tiba-tiba masih sibuk memilah buku mana yang kira-kira menarik untuk dibaca.
“Mungkin sekitar sepuluh,” ragu Peter seraya tersenyum ramah ke arah cucu cantik majikannya itu.
“Benarkah?” Shalome meletakkan kembali buku yang tadi dia ambil dan beralih menatap Peter. Memastikan jawaban pria tampan itu.
__ADS_1
Peter dibuat kikuk oleh Shalome. Akhirnya Peter hanya bisa tersenyum ramah. Karena sebenarnya dia juga tidak tahu jumlah pasti berapa orang yang dikirim untuk menjaga sang nona.
“Grandpa tidak akan sebaik itu dengan hanya membiarkanku diikuti oleh sekitar sepuluh orang,” sarkastis Shalome.
“Jika Grandpa bisa, bukan hal yang mengejutkan kalau dia memerintahkan semua bodyguard yang bekerja di Keluarga Valkyrie.” Yup benar, seperti yang Shalome katakan. Peter diam tak membantah. Dia tidak mengetahui dengan pasti jumlah bodyguard yang menjaga nonanya dari jauh karena saking banyaknya yang Sonny kirim.
“Meski aku sudah bilang untuk berbaur. Mereka justru terlihat mencolok.” Peter mengikuti arah pandang sang nona. Beberapa meter dari tempat keduanya berdiri. Terlihat seorang pria dengan tubuh kekar yang melihat-lihat buku khusus wanita. Tentu saja itu hanya pura-pura.
“Sudahlah! Sebaiknya kita cepat kembali. Sebelum kepalaku tambah pusing.” Shalome menghela nafas, pusing melihat tingkah salah satu bodyguard yang kakeknya kirim. Sejak Shalome dan Peter memasuki toko. Pria lain hanya mondar-mandir di lorong tempat keduanya berada dan secara terang-terangan mengamati semua tingkah laku Shalome.
Shalome sedang makan malam bersama kakek dan ibunya.
“Ada apa?”
“Apa tidak ada yang mau Grandpa katakan?”
Margaret mendengar dengan tenang perdebatan pasangan kakek dan cucu di hadapannya.
“Bukankah sudah aku bilang. Jangan biarkan aku menyadari keberadaan bodyguard-bodyguard yang Grandpa kirim!?”
“Aku sudah memerintahkan mereka seperti yang kamu inginkan,” balas Sonny tenang.
“Benarkah?“
__ADS_1
“Ya.”
“Tapi kenyataan nggak gitu, tuh!” geram Shalome.
“Masa, sih?” Sonny masih tenang, menyantap makan malamnya. Tak terpengaruh sedikit pun dengan tatapan tajam Shalome yang diarahkan padanya.
“Jangan libatkan aku!” peringat Margaret cepat saat mengetahui tatapan putrinya.
Sonny menggelap sudut mulutnya dengan serbet. “Dari pada kamu di sini melakukan protes yang tidak berguna. Lebih baik kamu segera mempersiapkan segala keperluan untuk kepergianmu nanti!” Belum sempat Shalome kembali melayangkan protes. Sonny sudah pergi meninggalkan meja makan.
Shalome mendengus kesal. Kenapa akhir-akhir ini dia selalu kalah berargumen dengan sang kakek. Mulai dari pemeriksaan di rumah sakit sampai urusan bodyguard pula. Sekarang Shalome diharuskan mengganti tempat untuk penyelenggaraan pesta amal tahunan perusahaan.
Di tempat lain, suasana begitu suram dan tegang. Semua pegawai Alexander Corporation's sedang dibuat ketakutan oleh CEO mereka. Sudah lebih dari seminggu, Justin terlihat menakutkan.
“Bagaimana?” tanya Justin, begitu melihat kedatangan Charles.
“Aku sudah mencari tahu. Tapi nihil. Kurasa dia bukan orang biasa,” frustasi Charles.
Charles sukses dibuat gila. Untuk pertama kali dalam hidupnya. Dia tidak berhasil menemukan informasi seseorang. Aneh, ya Charles tahu. Jika orang biasa maka akan ditemukan informasi. Walaupun itu sedikit. Tapi ini, tidak ada sama sekali. Bahkan orang yang sudah mati puluhan tahun pun masih bisa dia dapatkan informasinya.
“Siapa sebenarnya dia?” gumam keduanya. Tentunya dengan keresahan yang berbeda.
💕💕💕
__ADS_1
Ace Blue Charlotte
26 Agustus 2020