
Shalome memilih menyibukan diri dengan mengurusi berbagai macam dokumen. Jenis pekerjaan yang tidak mengharuskan dia keluar ruangan. Semakin jarang Shalome melakukan kegiatan di luar, berarti mengurangi kemungkinan dia berinteraksi dengan para bodyguard tersebut, plus memperkecil dirinya menjadi pusat perhatian. Walaupun Justin menunjukan perhatiannya, tetapi ....
BUK
Shalome menutup kasar sebuah map. Sekilas melirik handphone-nya. Tahu tidak ada pesan atau panggilan masuk, wajahnya jadi datar dan dingin.
“Monica.”
Shalome menatap serius Monica. “Kami baik-baik saja, 'kan?” ragu Shalome.
Lanjutnya, “menurutku ... semuanya baik, tidak ada masalah.”
Monica diam, meski paham siapa yang Shalome maksud dalam konoktasi kami yaitu, mengarah pada Shalome sendiri dan juga Justin.
“Atau ... hanya aku yang berpikiran begitu!?”
Shalome benar-benar dibuat pusing akan sikap Justin yang berubah-ubah. Di sisi lain, Justin memberikan perhatian lebih padanya. Tak sedikit pun membiarkan Shalome berada dalam bahaya. Tetapi, menghilangnya pria itu juga tidak bisa diabaikan begitu saja. Terutama setelah kontak intim mereka di ruang kerja Justin. Pipi Shalome masih saja memerah saat mengingat kejadian tersebut.
“Ehm ....” dehemnya. Walau Monica tidak tahu. Shalome malu pada Monica karena sudah berpikiran kotor. Entah sejak kapan dirinya terkontaminasi pikiran mesum Justin.
“Tetap saja ....” Shalome menggantung perkataannya. Beralih pada handphone yang berbunyi. “Aku akan membalasnya.” Shalome meraih handphonenya. Sikapnya 180 derajat berbeda dengan sebelumnya.
“Tuhan memang selalu adil,” ucap Shalome misterius.
💕💕💕
“Meriahnya ....” Mata Shalome berbinar, melihat kemegahan pesta yang diadakan di J.A Hotel.
“Saatnya bersenang-senang,” smirk Shalome.
Dengan penuh percaya diri Shalome masuk. Entah dengan cara apa pihak keamanan membiarkan dia masuk begitu saja. Berbeda dengan tamu undangan lain yang diminta memperlihatkan kartu undangan sebelum memasuki tempat pesta. Jangankan disuruh menunjukan kartu undangan, para security tersebut seperti tidak melihat Shalome dan Monica yang masuk begitu saja. Tanpa kartu undangan plus nyrobot antrian.
Sesampainya di dalam, kepercayaannya diri Shalome tak kunjung luntur——justru malah bertambah. Tak kala sebagian dari tamu mengetahui identitasnya.
“Lumayan,” gumamnya, sembari dengan pd-nya menyusuri tempat pesta. Sambil sesekali tersenyum dan membalas sapaan beberapa tamu.
__ADS_1
Monica setia mengekor di belakang Shalome. Wanita itu tak pernah protes. Masih memasang wajah serius dan senyum bisnis. Ekspresi yang selalu dia pasang ketika bekerja. Dia terlihat santai dan tenang, baik- baik saja. Tidak terusik mau pun terganggu. Kendati penampilannya paling mencolok. Dia menjadi satu-satunya orang yang memakai setelan formal ala pegawai kantoran. Sementara lainnya termasuk Shalome, berbusana yang lebih cocok untuk datang ke sebuah pesta.
“Kira-kira kapan Nona akan kembali?” Satu jam sudah berlalu.
Shalome mengangkat gelasnya. “Entahlah,” jawabannya acuh.
Monica menghela nafas. Tanpa suara, dia menghubungi seseorang. Sementara Monica berbicara serius dengan bodyguard, Shalome mengedarkan pandangannya ke arah para tamu yang mayoritas adalah para konglomerat muda.
“Tolong beritahu saya posisi Anda sekarang. Saya akan datang ke sana.” Terlalu berisik untuk berbicara lewat telepon.
Semenjak menginjakkan kaki di tempat pesta, Shalome sudah tidak melihat keberada para bodyguard. Entah mereka berada dimana. Shalome tak mau ambil pusing. Bagus jika mereka bisa berbaur, pikirnya. Tetapi, dapat dipastikan mereka tetap mengawasi Shalome dengan ketat.
“Ya, benar.” Monica menutup teleponnya.
“Nona.” Shalome mengalihkan perhatiannya ke Monica. “Saya pergi sebentar. Ada hal penting yang harus saya bicarakan dengan ketua pengawal.”
“Jadi, selama saya pergi. Tolong jangan———”
“Ya-ya.” Shalome membuang wajah dari Monica. “Kalau mau pergi. Pergi, 'lah! Berhenti mengingatkanku!” ketusnya.
Lima belas menit sudah Monica pergi. Shalome mulai ikut hanyut ke dalam kemeriahan pesta.
“Aku pikir kau membutuhkan waktu lebih,” ejek Shalome pada pria tegap yang menghampirinya.
Derk terseyuman kaku. “Terima kasih atas pujiannya. Beruntung saya tidak memerlukannya.” Setelah menjawab ledekan Shalome, ia langsung berdiri di posisinya——melakukan tugas.
Shalome mengangguk, mengakui kemampuan Derk. Pasalnya pengaman pestanya sangat ketat. Alasan Shalome sebelumnya masuk hanya bersama Monica saja, karena tanpa undangan tidak ada seorang pun yang diperboleh masuk. Shalome tidak tahu nasib para bodyguard-nya. Tetapi dia yakin, mereka bisa mencari jalan sendiri. Buktinya, dia sempat mengenali beberapa wajah bodyguard yang berkeliaran diantara tamu pesta. Bahkan tadi, Derk entah muncul dari mana.
Shalome tak heran lagi, mendapati semua pria yang berniat mendekatinya mulai mundur perlahan. Sosok Derk yang berdiri gagah di belakang Shalome. Nampaknya menciutkan nyali mereka. Shalome tak menyalahnya mereka. Toh, sikap mereka sangat alamiah. Pasalnya dengan aura dominasi yang Derk pancarkan. Juga tatapan tajam dan waspada. Lalu yang membuat siapa pun berpikir ulang untuk mencari masalah dengannya adalah ekspresi datar yang tak pernah kompromi pada orang-orang yang nekad mencari gara-gara dengannya.
“Kalian benar-benar tidak melepasku,” celetuk Shalome.
Terlepas dari semua itu, Derk adalah bodyguard yang paling kompeten dan dapat diandalkan. Dengan keberadaan Derk di sisinya, Shalome tidak perlu lagi repot-repot menanggapi para pria yang mencoba mendekatinya.
“Anda tidak perlu cemas. Tugas kami hanya memastikan keselamatan Anda. Untuk urusan bagaimana nanti Anda menghadapi akibat dari keputusan yang Anda ambil.”
__ADS_1
Shalome menatap Derk, ingin tahu kelanjutan ucapan pria itu. “Sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda.”
Sementara Shalome menikmati pesta. Derk tetap dalam mode siaga. Dari kejauhan, Shalome melihat seseorang. Orang yang mengundangnya ke pesta.
“Anda datang.” Giselle datang menghampiri keduanya dengan senyuman sumringah.
Shalome diam sambil menikmati anggurnya, sampai Giselle kembali bersuara. Setelah sebelumnya dia membisikan sesuatu pada pria muda yang dia gandeng. Mungkin dia adalah partner Giselle. Apalah itu, Shalome tidak ingin tahu.
“Seperti biasanya, kemana pun Anda pergi. Anda tidak pernah sendirian.” Giselle sekilas melirik Derk yang berdiri agak di belakang Shalome.
“Terima kasih pujiannya.” Shalome tahu Giselle tengah menyindirnya.
“Hahaha .... Ternyata Anda lebih humoris daripada yang saya dengar.” Giselle tertawa bisnis.
“Mari kita hentikan ini. Basa-basinya cukup sampai di sini saja.” Shalome mulai serius. Telinganya sudah gatal mendengar suara tawa merdu Giselle. Tapi sayangnya yang telinga Shalome tangkap bukanlah suara tawa merdu wanita itu. Melainkan lebih ke bunyi kaleng kosong ketika dipukul benda tumpul. Mengganggu.
“Maafkan saya. Sepertinya, tanpa disadari saya sudah menyita banyak waktu berharga Anda.” Giselle masih ingin beramah-tamah.
“Baiklah-baiklah, mari ikut saya,” ajak Giselle melihat Shalome sudah terlihat bosan. Tanpa menunggu persetujuan Shalome. Dengan sesuka hati Giselle memutuskan. Dia menjauh, entah mau mengajak Shalome pergi kemana.
Sedikit mencurigakan, Shalome sejenak menatap Derk. Ternyata dia minta pendapat bodyguard-nya. Akhirnya, Shalome ikut pergi ke arah yang sama dengan orang dalam yang menyelundupkan dirinya ke pesta tersebut. Setelah Derk mengangguk. Memberi persetujuan sekaligus meyakinkan wanita itu——bahwa ada dirinya.
Shalome dibawa ke bagian paling dalam hotel. Area private, tepatnya paling privasi. Fasilitasi yang biasa digunakan oleh para konglomerat untuk kenyamaan sekaligus menjaga privasi mereka. Tidak sembarang orang bisa memasuki area ini. Hanya mereka yang sudah terdaftar sebagai anggota atau mereka yang benar-benar kaya yang mampu merogoh dompet lebih dalam.
Keduanya sudah berada di sebuah ruangan. Sekilas Shalome mengamati desain interior ruangan itu. Perhatian mengarah ke arah pintu yang ditutup oleh pegawai hotel.
“Jadi ... apa yang mau kau perlihatkan padaku?” tanya Shalome to the point——mengakhiri keformalan Shalome. Ketika diruangan tersebut, menyisakan tiga orang saja. Dirinya, Derk dan tentunya Giselle.
“Kenapa terburu-buru begitu?” Giselle berjalan mendekati meja. Di sana sudah tersedia sebotol anggur lengkap dengan sepasang gelas. Tanpa Shalome lihat pun, dia sudah mengetahui betul kualitas dari anggur tersebut.
Keheningan panjang, Shalome memilih menikmati pemandangan malam lewat jendela, sembari menunggu Giselle menyelesaikan kegiatannya. Bunyi botol anggur dibuka menggema. Diikuti aroma harum, khas anggur kualitas tinggi yang sudah melewati waktu fermentasi yang lama.
💕💕💕
Ace Blue Charlotte
__ADS_1
27 Oktober 2020