RA S001 : First Sight

RA S001 : First Sight
Chapter Y


__ADS_3

“Lepas!”


“Kalian tuli, ya!? Aku bilang lepaskan!!” Shalome memberontak sekuat tenaga.


“Nona, tolong kerjasamanya.” Sabuk hitam taekwondo yang Shalome pegang dibuat tak berkutik di depan para bodyguard sewaan kakeknya. Mereka terdiri dari para mantan atlet yang pernah menjuarai kejuaraan dunia. Tidak salah bila Sonny mengirim mereka karena Shalome sendiri adalah pemegang sabuk hitam taekwondo.


“Lepaskan aku!” teriak Shalome. Seolah tuli, Shalome dipaksa untuk masuk ke dalam sebuah mobil.


“Kalian kurang ajar!” Setelah di dalam mobil. Dia tak dibiarkan begitu saja. Shalome duduk diapit dua bodyguard berbadan besar dan kekar, serta mantan juara dunia.


Belum menyerah, Shalome berusaha meloloskan diri dengan mencoba menyerang salah satu bodyguard tersebut dengan jurus karate. Sayangnya, tidak berhasil.


“Nona, jangan paksa kami menggunakan cara kasar,” ucap salah satu bodyguard yang berhasil mengunci tangan Shalome.


Selain mempelajari bela diri yang berasal dari Negeri Ginseng, taekwondo. Shalome juga mempelajari jenis bela diri lain, yaitu karate. Berbeda dengan taekwondo yang lebih mengandalkan kekuatan kaki. Bela diri asal Negeri Sakura itu lebih menitik beratkan pada kekuatan tangan.


Di posisi Shalome sekarang, duduk sambil diapit dua pria. Menerapkan jurus-jurus dari karate adalah solusinya. Tetapi, dia hanya sampai sabuk ungu. Membuat perlawanannya dapat dipatahkan dengan mudah oleh para bodyguard yang merupakan masternya bela diri. Lengkap dengan pengalaman yang lebih banyak darinya. Sejak awal pun, dia sudah kalah telak.


Mengirim para master untuk menangani Shalome. Berlebihan, tentu tidak. Keahlian bela diri Shalome, selalu sukses membuat orang-orang suruhan Sonny tak berkutik. Tapi hari ini berbeda dengan sebelumnya.


“Kembalikan!”


“Jangan lancang, ya!” Teriakan Shalome bak angin lalu.


“Jangan sentuh barang-barangku!” Shalome tak terima tas miliknya, diambil paksa oleh salah satu bodyguard. Seorang bodyguard tetap membongkar dan mengambil barang-barang milik Shalome seperti, dompet, handphone dan paspor.


“Kembalikan handphoneku! Aku harus berbicara langsung dengan Presdir!”


“Nona dapat berbicara dengan beliau, ketika tiba di ruman, nanti,” jawab cuek seorang bodyguard, mengabaikan kemarahan Shalome.


Merasa sia-sia melawan. Shalome dengan patuh menuruti ucapan bodyguard tersebut. Kepatuhan Shalome membuahkan hasil dan membawanya kembali ke kediaman Valkyrie. Dia langsung digiring masuk begitu turun dari mobil. Shalome kembali menginjakkan kaki di bangunan megah yang baru beberapa jam lalu dia tinggalkan. Kediaman Valkyrie yang biasanya ramai akan hilir mudik para pelayan. Sekarang terlihat lenggang, seolah itu memang diatur seperti itu adanya. Shalome dibawa ke ruang keluarga masih dengan sepasang bodyguard yang tak pernah sekali pun melepas lengannya.


“Lepaskan!” desis Shalome sambil menghentak kasar lengannya tapi tak terlepas. Dia sudah geram, diperlakukan bak penjahat kelas kakap yang diharuskan dijaga ketat supaya tidak bisa melarikan diri. Walaupun ada kesempatan kabur pun, Shalome juga tidak akan menyia-nyiakan sih.

__ADS_1


Kepala pelayan yang melihat kedatangan Shalome, mengetuk pintu. Lalu mempersilahkan Shalome masuk begitu mendapatkan izin. Di ruang keluarga, Sonny dan Margaret sudah menantinya di sana. Shalome mengernyitkan alis, sedikit heran akan keberadaan ibunya.


“Duduk,” ucap Sonny langsung begitu Shalome memasuki ruang keluarga.


Shalome menghentak kasar lengannya, hingga terlepas. Sebelum pergi kedua bodyguard yang mengawal Shalome menunduk hormat kepada Sonny.


“Apa Grandpa sampai perlu bertindak sejauh ini!?” Shalome memegang pergelangan tangannya yang perih karena dicengkeram kuat oleh orang-orang suruhan Sonny.


“Kembalikan semuanya, ke tempat semula,” perintah Margaret kepada dua pelayan. Setelah seorang bodyguard membawa masuk koper milik putrinya.


Margaret mengangkat cangkir tehnya dengan anggun. Mengabaikan tatapan jengkel Shalome padanya.


“Jadi, kali ini apa pembelaan Grandpa?” Shalome memilih duduk di sofa panjang, berhadapan dengan Margaret yang masih bersikap tenang.


“Di sini, kamu tidak berhak menanyakan pertanyaan itu.” Margaret meletakan cangkir tehnya, menatapa lurus ke arah Shalome.


“Apa pembelaanmu? Di balik rencanamu pergi dari rumah tanpa izin.”


“Izin?” Shalome menatap tak percaya Margaret dan Sonny, bergantian.


Shalome terdiam, tak bisa berkata-kata. “Aku bukan anak kecil lagi,” kilah Shalome.


“Tapi dimata Mommy, sifatmu masih seperti anak kecil,” cemooh Margaret.


“Apa yang sebenarnya, ingin Mommy katakan padaku, sih.” Shalome menatap kesal Margaret yang malah dengan tenangnya, menyesap teh hijaunya. Alih-alih menjawab pertanyaannya.


“Kami kecewa padamu,” celetuk Sonny.


“Bagaimana bisa kamu seenaknya memutuskan sesuatu di perusahaan?”


Shalome menatap Sonny remeh. “Oh .... Jadi, ini semua tentang itu,” jawabannya enteng.


Shalome sudah tahu, ada seseorang yang membantu Justin. Tapi dia tidak menyangka Sonny 'lah orang tersebut.

__ADS_1


“Kamu dilarang keluar rumah sampai pesta pertunangan kalian, nanti," putus Sonny.


DEG


“Pertunangan!?” Shalome membelalakan mata.


“Ya, pertunangan,” ulang Sonny.


Shalome beralih pada Margaret. “Apa Mom ....” Dia menggatung kalimatnya. Ketika mendapati sang ibu terlihat tenang-tenang saja. Tidak terlihat terkejut seperti dirinya.


“Ah ....” desah Shalome. Sadar, dia telah terperangkap.


“Kali ini, apa yang Grandpa dapatkan sebagai ganti pertunanganku?” tanya Shalome. Dia sudah memutuskan untuk mencari tahunya. Dia tak ingin, menjadi satu-satunya pihak yang terbodohi.


“Hubungan kekerabatan Valkyrie Group's dan Alexander Corporation's,” gamblang Sonny.


“Pada dasarnya .... Grandpa sudah menjualku,” sarkastis Shalome.


“Shalome, jaga mulutmu!” tegur Margaret.


“Kenapa?” Shalome menatap polos Margaret.


“Tidak, ya?” Dia pura-pura tidak tahu. “Apa yang salah dari perkataanku?”


Shalome beralih menatap Sonny dingin. “Bahkan .... Presdir Valkyrie Yang Terhormat, pun tidak membantahnya,” ejek Shalome. Ketara sekali aura permusuhan yang berusaha Shalome tunjukan pada ibu dan kakeknya, terutama pada Sonny.


Teriak Margaret, “SHALOME, KAMU ....” Margaret berdehem, saat Sonny memberi isyarat agar perempuan itu lebih tenang.


Shalome sedikit terlojak. Ini pertama kalinya, Margaret meninggikan suara di depannya. Tapi itu tak menyurutkan tekad Shalome. Sekali pun harus dikorbankan. Dia ingin mengetahui dengan cara apa ia eksekusi. Siatusi macam apa yang harus dia hadapi. Shalome tidak bisa dikirim begitu saja ke medan perang yang dia sendiri, tak ketahui kondisinya.


“Kira-kira .... Berapa persen bagianku?” Shalome menyilangkan kakinya, mencari posisi duduk yang nyaman. “Tidak mungkin, Presdir Valkyrie yang tersohor, bersikap pelit pada satu-satunya ... cucu kesayanganya,” lanjut Shalome, mengabaikan tatapan peringatan dari sang ibu.


💕💕💕

__ADS_1


Ace Blue Charlotte


29 September 2020


__ADS_2