RA S001 : First Sight

RA S001 : First Sight
Chapter X


__ADS_3

“Apa Nona akan ikut makan malam bersama?” tanya pelayan itu sambil memasang senyuman palsu.


“Ti— Ya,” jawab cepat Shalome masih dengan ekspresi dingin.


“Aku mau ganti baju dulu,” ucapnya sembari berlalu, pergi ke kamarnya.


Beberapa menit kemudian, Shalome dengan tenang menyantap hidangan makan malamnya. Mengabaikan perbincangan seru antara Sonny dan Justin yang sudah terjadi sejak ia datang.


“Justin, kenalkan cucu cantikku, Shalome.”


“Halo,” sapa Justin ramah tapi diacuhkan Shalome.


“Tolong maklumi sifatnya itu,” sela Sonny.


“Anda tidak perlu sungkan.” Justin tersenyum kepada Sonny.


Sambungnya, “tanpa Anda minta pun, saya dengan senang hati memakluminya.” Justin sekilas menatap nakal Shalome.


Justin kembali mengalihkan pandangan kepada Sonny. “Seharusnya, saya yang minta maaf. Saya sudah mengganggu acara makan malam keluarga Anda.”


“Aku sudah selesai,” sela Shalome seraya berdiri, melangkah pergi.


“Anak itu selalu begitu,” gerutu Sonny.


“Lagi-lagi dia makan sedikit,” ujar Margaret seraya ikut berdiri. “Aku akan pergi memeriksanya,” sambungnya dan pergi ke arah yang sama dengan Shalome.


Ekspresi marah dan kesal, ketara sekali di wajah cantik Shalome. Sampai beberapa pelayang yang kebetulan berpapasan dengannya, langsung menyingkir. Takut mengusiknya. Sesampainya di dapur, Shalome langsung membuka kulkas dan menyomot sebuah apel besar nan merah.


“Setidaknya, cuci terlebih dahulu!” tegur Margaret yang mendapati putrinya langsung memakan apelnya tanpa dicuci dahulu. Walaupun para pelayan sudah mencuci semua buah, sebelum dimasukan ke dalam kulkas. Tapi demi menjaga kebersihan dan kesehatan, tidak salahnya dicuci lagi sebelum dikonsumsi.


“Aku tidak akan mati,” acuh Shalome.

__ADS_1


“Ada apa sampai Mommy mengikutiku kemari? Apa Mommy juga mau ikut-ikutan mengkritik sikapku waktu di meja makan tadi?”


Margaret hanya bisa geleng-geleng kepala, melihat Shalome yang berbicara di sela-sela kunyahannya. “Tidak.” Margaret mengambil tisu dan menyodorkannya pada putrinya.


“Mommy hanya mau memastikan kamu tidak membuat masalah lagi.”


Shalome menyeka area sekitar mulutnya menggunakan tisu pemberian Margaret. “Masalah?” Dia melangkah ke pojokan, membuang sisa apel dan tisu yang sudah digunakannya ke tempat sampah.


Shalome berbalik, menatap ibunya yang sudah berumur tapi masih terlihat cantik dan segar. “Memang masalah seperti apa yang bisa aku ciptakan di rumah ini?” Nada protes dan tak terima sangat jelas terdengar dari ucapannya.


“Entahlah. Selama Mommy mengenalmu. Sejak kau lahir ....” Margaret menjeda kalimatnya, tapi tetap menatap seksama wajah putri tunggalnya yang cantik.


“Mommy, tidak tahu masalah macam apa yang akan atau bisa, kamu perbuatan di luar sana. Tapi satu hal yang pasti. Tanpa disadari, kamu selalu membuat masalah dengan dirimu sendiri,” jelas Margaret tenang tak terpengaruh sedikit pun dengan ekspresi kecut Shalome.


“Benarkah.”


“Makan teratur, 3X sehari. Istirahat dengan cukup, minimal tidurlah 8 jam per hari. Setidaknya, luangkan sehari dari total tujuh hari dalam seminggu untuk olahraga selama 2-3 jam.”


“Kalau kamu bisa melakukan ketiganya. Mommy tidak akan lagi ikut campur dengan semua urusanmu,” lanjut Margaret saat Shalome menatapnya bingung.


Semakin kesini, Margaret merasa sudah tidak bisa mengatur putrinya. Jangankan mengatur, apa pun yang wanita itu katakan. Dia sudah tidak bisa mengubah pemikiran mau pun keputusan sang putri. Margaret sadar, secara tidak langsung ketidakpeduliannya membentuk kepribadian Shalome. Lebih tepatnya, Margaret membiarkan Shalome melakukan apa pun yang dia inginkan. Berbeda dengan ayah mertuanya yang setiap kali ada kesempatan. Selalu ikut campur dan memantau apa pun tindakan Shalome. Hingga tak jarang keduanya terlibat perdebatan, pertengkaran atau pun perang dingin.


Semuanya dengan tujuan untuk memastikan Shalome tidak melakukan kesalahan kemudian melibatkannya ke dalam masalah. Sekali pun memang Shalome sudah tidak bisa terhindar dari masalah, setidaknya Sonny bisa memberikan penanganan di situasi darurat. Margaret sepertinya harus memulai mempertimbangkan saran ayah mertuanya, Sonny Valkyrie.


Sudah beberapa menit sejak Shalome datang. Semenjak itu pula, senyuman tak pernah hilang dari wajah Justin. Sedangkan Shalome dengan sabar menunggu pria tampan yang duduk di depannya membuka mulutnya. Keduanya saat ini tengah berada di sebuah cafe berkelas.


Jangan pikir, Shalome datang kesana dengan senang hati. Apalagi dengan keberadaan Justin. Seseorang yang sudah Shalome masukkan dalam daftar hitamnya. Kedatangan Shalome kesana tak lain karena Monica sudah mengatur janji temu dengan seorang klien. Tapi mustahil bila Justin adalah klien itu. Dia tidak mungkin salah ingat. Sejak awal, Valkyrie Group's sudah membatalkan semua kerjasama dengan Alexander Corporation's. Itu pun Shalome sendiri yang sudah melakukannya.


“Sepertinya, tidak ada yang mau Anda katakan. Kalau begitu, saya pamit dulu.” Shalome sudah berdiri.


“Kamu tidak penasaran?” Justin meletakan cangkir kopinya.

__ADS_1


“Tanpa ku beri tahu pun. Kamu pasti akan mencari tahunya sendiri. Sia-sia saja niat baikku. Yah ... mau bagaimana lagi, aku hanya ingin memberitahumu secara gratis. Karena aku tahu kamu tidak suka membuang-buang watu,” imbuh Justin.


“Cepat katakan!” tuntut Shalome seraya kembali duduk. Justin tersenyum miring, umpannya telah digigit buruannya.


“Sebelum itu, aku mau meminta maaf. Aku tidak mengira, kalau Presdir Valkyrie sampai bertindak sejauh ini,” ucap Justin dengan kata-kata informal.


“Terlepas dari semua itu .... Bisakah kita menjalin hubungan normal?”


Shalome diam, tidak menjawab. Dia tidak berhenti melirik Justin. Ada banyak alasan untuknya menjauhi Justin. Tapi dia tidak bisa melawan naluri femininya. Apalagi setelah apa yang dia alami di restoran beberapa hari lalu.


“Bagaimana bila kita berteman saja?” Justin tersenyum sembari menatap Shalome hangat.


“Berteman?” ulangnya. Jauh dari kesan maskulin dan dingin yang Shalome dengar dari orang-orang. Dia menyadari perbedaan sikap Justin. Shalome mengakuinya, di hati terdalamnya bangga diperlakukan spesial oleh pria tampan itu.


“Shalome,” panggil Justin lembut masih dengan senyuman yang menghiasi paras rupawannya.


“Ba-baiklah,” gugup Shalome. Malu, ketahuan memikirkan hal lain.


“Kita sudah sepakat, ya. Jangan ditarik lagi!” goda Justin. Dia tersenyum, melihat Shalome gugup.


“A-aku ada urusan lain. Aku pergi dulu.” Shalome buru-buru pergi, menyembunyikan pipinya yang sudah merona. Sayangnya, Justin sudah melihatnya.


“Mau aku antar?” tawar Justin seraya ikut berdiri.


“Tidak!” jawab Shalome cepat.


“Maksudku tidak perlu. Terima kasih tawarannya.”


“Hati-hati.”


💕💕💕

__ADS_1


Ace Blue Charlotte


22 September 2020


__ADS_2