
Dari penjelasan Monica, masalahnya tidak bisa diselesaikan oleh direktur yang bertanggung jawab sebagai wakilnya dalam rapat tersebut. Karena masalahnya sangat kompleks dan sensitif. Jadi tidak boleh ditanggani dengan asal-asalan. Dengan alasan itu direktur yang bertanggung jawab, tak bisa sembarangan mengambil keputusan. Menyebabkan, penyelesaian masalahnya tak kunjung diambil hingga akhirnya menjadi lebih besar dari sebelumnya.
“Sambungkan aku dengan Direktur Devon!”
Kini harus Shalome sendiri yang menyelesaikannya. Tapi dia juga tak bisa begitu saja meninggalkan pesta. Terlebih lagi dengan rumor tak masuk akal tentang dirinya. Bila Shalome pergi, sebelumnya pesta selesai. Secara tak langsung dia memberikan jawaban atas rumor tersebut.
“Ini, Nona.” Monica menyerahkan kepada Shalome, handphone yang sudah terhubung dengan Direktur Devon.
Setidaknya sekarang, Shalome harus bertahan sampai pestanya berakhir dan memberikan penjelasan secara langsung. Walaupun dia tidak mungkin mengatakan pada semua tamu undangan yang ada. Paling tidak ia secara tidak langsung, sudah memberi bantahan melalui beberapa orang penting. Yang selanjutnya, jawaban bantahan atas rumor mengenai dirinya akan menyebar dengan sendirinya. Melalui tukang gosip yang memang menyukai hal-hal semacam ini.
“Halo,” ucap Shalome langsung setelah menempelkan benda pipih itu di telinganya.
Setelah berbicara dengan Direktur Devon. Shalome sudah lebih paham dan mengetahui garis besar masalahnya.
Shalome menutup panggilannya. “Aku akan menghubungi langsung semua direktur yang terlibat. Jadi, Monica, tolong kamu pantau semuanya dan laporkan padaku perkembangannya.”
“Baik, Nona.” Monica mengangguk patuh.
Shalome sibuk mencari sesuatu di handphonenya. “Kemungkinan ini tidak akan selesai dengan cepat. Setelah pesta selesai, kamu tidak akan bisa langsung istirahat. Jadi apa kamu ....”
“Saya tahu. Lagian, saya tidak yakin bisa menyelesaikan dengan cepat apa yang tadi Anda perintahkan pada saya,” ucap Monica. Dia tahu kalau Shalome ragu mengatakan langsung padanya. Kadang Monica merasa Shalome itu mengemaskan. Dia tahu sekarang Shalome sedang merasa tidak enak padanya.
__ADS_1
“Ini bukan pertama kalinya. Anda membuat saya bekerja keras seperti seekor kuda,” cibir Monica.
Shalome mengangkat kepalanya. “Jangan salah paham!”
Shalome kembali sibuk dengan handphonenya. “Aku mengatakannya. Takut kamu akan mengeluh nanti.”
“Saya tidak akan mengeluh. Anda hanya perlu memberi saya bonus saja.”
Shalome sudah tidak kaget dengan sikap tak tahu malu asisten pribadinya itu.
“Baiklah-baiklah. Aku akan pastikan kamu mendapatkan bonus itu.”
“Jadi sekarang sampaikan ....” Shalome mengangkat wajahnya. Menatap wajah sumringah Monica yang senang karena akan mendapatkan bonus.
“Untuk sekarang cukup bonus saja. Kalau nanti saya sudah terpikirkan sesuatu. Saya pasti akan langsung mengatakannya pada Anda,” tutur Monica percaya diri.
“Kalau sudah tidak ada lagi yang akan Anda katakan. Saya permisi dulu,” pamit Monica.
Saat Monica sudah bersiap pergi, melakukan apa yang diperintahkannya. “Oh, ya,” cegah Shalome.
Monica berbalik dan menunggu apa yang akan Shalome katakan.
__ADS_1
“Bisa, 'kah kamu menjelaskan situasi sekarang pada Presdir.”
Baru saja Monica ingin bertanya kenapa dia tidak mengatakannya langsung.
“Aku takut akan melampiaskannya pada Presdir,” imbuh Shalome.
Ah, dia lupa jika Shalome sudah memanggil Sonny, presdir saat di luar kantor. Itu artinya Shalome sedang tidak ingin bertemu dengan Sonny. Bagaimana pun Monica paham perasaan boss-nya. Semua masalah yang sekarang sedang menimpa Shalome, disebabkan oleh pria paruh baya itu. Entah itu rumor Shalome yang tersebar diantara para tamu undangan mau pun masalah di rapat rutin pemegang saham utama.
“Bagaimana pun, aku tidak ingin menjadi cucu durhaka.”
Tetap saja. Walaupun Sonny secara tidak langsung adalah penyebabnya. Jangankan tidak ingin melihat wajahnya. Monica pasti tidak mau repot-repot menyelesaikan masalah perusahan. Toh, itu juga hasil dari keegoisan Sonny yang memaksa Shalome untuk hadir di pesta. Meski tahu seharusnya Shalome memimpin rapat rutin pemegang saham utama Valkyrie Group's. Tapi Sonny tetap keras kepala. Sampai akhirnya masalah ini terjadi. Ujung-ujungnya pun Monica juga dibuat repot. Rasanya Monica ingin ....
Tidak biasanya Monica diam. Shalome meliriknya. “Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan,” celetuk Shalome.
Monica gelagapan. Tertangkap basah sedang memikirkan sesuatu yang buruk.
“Aku tahu kamu kesal. Tapi ... tetap saja, kamu tidak boleh terang-terangan begitu,” pesan Shalome.
“Maafkan saya, Nona.” Monica menundukkan kepala sedikit, meminta maaf.
💕💕💕
__ADS_1
Ace Blue Charlotte
05 September 2020