RA S001 : First Sight

RA S001 : First Sight
Chapter AA


__ADS_3

Ketika melewati ruang baca sang kakek, Shalome tanpa sengaja berpapasan dengan seorang pria bersetelan rapi. Usianya hanya berjarak beberapa tahun lebih muda dari Sonny. Dia adalah penanggung jawab keuangan dan pengacara Keluarga Valkyrie. Juga menjabat sebagai direktur di Vasquez Bank.


“Selamat sore, Nona. Lama tidak berjumpa,” sapanya.


Shalome mengangguk dan tersenyum kecil, sebagai jawaban. Tetapi, saat dia hendak pergi melewati pria itu.


“Nona, bisa minta waktunya sebentar?”


Shalome mengangguk, dia tak tega menolak permintaan pria tersebut. Dia juga penasaran, ada keperluan penting apa sampai orang yang bekerja untuk kakeknya. Ingin berbicara secara pribadi dengannya tanpa sepengetahuan sang kakek.


“Mohon maafkan saya,” ucapnya ragu.


“Saya tahu, tidak berhak mengatakan ini pada Anda. Tapi saya beranggapan, kalau Nona berhak mengetahuinya.” Shalome diam, menyimak. Tidak terkejut lagi, kalau kakeknya menyembunyikan sesuatu darinya.


“Beberapa hari lalu ... CEO Alexander Corporation's datang ke kantor saya.” Shalome menatap serius pria tersebut. Penasaran apalagi yang pria bermarga Alexander itu lakukan.


“Dia bilang, mendapat kartu nama saya dari Anda ....” Pria itu menjeda kalimatnya, melihat reaksi Shalome.


“Singkatnya, dia mengajukan permintaan melalui saya sebagai imbalan telah membantu Anda.” Pria itu kembali mengamati perubahan ekspresi Shalome. Tetapi tidak ada perubahan yang signifikan. Cucu perempuan dari atasannya itu, masih bersikap tenang seperti topik tentang dirinya yang sedang mereka bicarakan sekarang. Bukan masalah besar untuknya.


Shalome baru dipanggil Sonny untuk ke ruang baca ketika malam hari telah tiba. Sejak siang tadi, dia sudah penasaran kapan kakeknya akan membicarakan masalah permintaan yang Justin ajukan.


Shalome langsung duduk berhadapan dengan Sonny, begitu memasuki ruang baca sang kakek. Wajah cantiknya tenang, menipu, seperti biasanya. Tidak memperlihatkan sedikit pun tanda-tanda bahwa dia sudah mengetahui, apa yang akan disampaikan sang kakek.


Sonny langsung ke intinya. Shalome yang sudah mengetahui garis besar masalah yang mau diutarakan Sonny. Hanya menanggapinya sekedarnya. Dibandingkan penasaran akan apa yang Justin minta. Shalome lebih terkejut tentang fakta, bahwa Justin 'lah malaikat penolongnya.


“Grandpa berjanji memberikan apa pun pada orang yang sudah membantumu. Itu juga berlaku untukmu.” Sonny tampak ragu melanjutkan ucapannya.


“Ini mengenai pengaturan pertunanganmu dengan Justin ....” Sonny memberikan beberapa dokumen. “Grandpa sudah mencari tahu. Benar dia, 'lah orangnya.” Shalome membaca isi dokumen yang diberikan Sonny, masih dengan kedua telinga yang fokus menyimak apa pun yang dikatakan Sonny.


“Dia, orang yang telah menolongmu. Kemudian, sebagai imbalannya, dia meminta ... dirimu, Shalome Valkyrie.”

__ADS_1


Shalome menghembuskan nafas. Walaupun sudah memperkirakan sebelumnya. Dia masih sulit percaya, Justin tetap dengan pendiriannya untuk mendapatkan dirinya. Kini Shalome yakin Justin terobsesi padanya atau mungkin lebih parah dari itu. Pantas sudah, Shalome menjuluki Justin sebagai iblis berwujud malaikat.


Shalome meletakan dokumen tentang Justin ke meja. “Apa Grandpa yakin, dia tidak kehilangan kewarasannya?”


Sonny berdiri, melihat ke luar jendela. Menatap langit malam. “Sekali dalam seumur hidup. Seorang pria bisa menjadi gila bila berurusan dengan wanita.” Sonny berbalik dan menatap lekat cucunya. “Selama ada peluang untuk mendapatkan wanita idamannya itu. Tidak peduli menggunakan cara apa, akan dia tempuh. Sekali pun harus bersujud di kaki wanita idamannya. Jika dia sanggup, maka akan dia lakukan.”


“Seorang pria sejati pun bisa menjadi pecundang di hadapan wanitanya. Tapi ada hal yang harus kamu ingat .... Kesabaran seorang pria yang dimabuk cinta, tak pernah bertahan lama.”


“Apa Grandpa sedang mengkhawatirkanku? Atau ... sedang mencoba memperingatkanku?”


“Bohong, bila Grandpa tidak mengkhawatirkanmu. Setelah semua yang terjadi ... entah kapan sosok Justin yang sebenarnya akan muncul. Bila saat itu tiba, kamu, 'lah orang yang paling dirugikan.”


“Grandpa saja tidak sepenuhnya percaya padanya,” ejek Shalome.


“Aku akan segera mengembalikan tujuh persen saham yang pernah aku terima.”


“Lakukan,” ucap Sonny cepat saat Shalome beranjak dari tempat duduknya. “Lakukan apa pun yang kau inginkan,” imbuhnya.


“Dengan syarat kamu tetap bertunangan dengan Justin. Ini tawaran terakhir.” Sunyi, untuk beberapa saat tak ada respon dari Shalome. Tetapi itu hanya berlangsung sebentar saja. Benar-benar sebentar saja.


“Lalu, bagaimana dengan tujuh persen .... Ah! Aku mengerti.” Shalome tersadar akan sesuatu.


Shalome tersenyum menang. “Ini sudah malam. Grandpa segera, 'lah istirahat, aku pergi dulu.”


Pintu ruang baca tertutup, Shalome langsung menyeringai lebar. Mulai detik ini, dia mendapatkan kekuatan absolute. Juga hak untuk bebas melakukan apa pun kepada orang-orang yang terlibat dengan kepergian sang ayah.


Lebih dari sepuluh tahun, Sonny menutup rapat akses semua data tentang ayah Shalome dengan alasan menjaga keselamatannya. Tetapi, bukan Shalome namanya kalau bisa dilarang.


💕💕💕


Seusai makan malam, Shalome memilih menyendiri. Meninggalkan kakek dan ibunya yang ngobrol akrab dengan Justin. Pria tampan yang sayangnya, sikapnya tak sebagus wajahnya.

__ADS_1


Shalome memejamkan kedua matanya, sembari menikmati semilir angin malam. Dalam kesunyian itu, hidungnya menangkap aroma maskulin seorang pria yang sialnya Shalome kenali, meski dia tak ingin.


Justin nekad menemui Shalome yang sedang sendirian di tepi kolam pada malam hari.


“Bersikap kurang ajar, juga ada batasnya.” Benar saja. Suara rendah dan berat yang sekali lagi Shalome kenal betul pemiliknya. Shalome membuka matanya, benar saja. Justin sudah berada di sampingnya. Tapi ada yang aneh dengannya.


“Aku menyukai tantangan.”


“Aku juga tidak melupakan seseorang yang menarik .... Apalagi jika orang itu memiliki kesan khusus, contohnya hampir membuat perusahaanku bangkrut, misalnya.”


Mati-matian Shalome berusaha untuk tidak melirik Justin.


“Tujuh persen.” Shalome mengalihkan pandangan kepada Justin yang ternyata sedari tadi menatapnya lekat.


Di jarak mereka sekarang, Shalome bisa melihat dengan jelas wajah tampan Justin yang selalu sukses memikat para kaum hawa. Ekspresi tenang Shalome kontras dengan jantung berdebar dan hawa panas yang tiba-tiba menyerangnya.


“Apa aku semurah itu?” protes Justin masih menatap Shalome lekat. Protes yang bercampur dengan perasaan terhina, marah dan ... terluka.


“Di matamu, apa nilaiku tidak lebih tinggi dari tujuh persen saham Valkyrie Group's?” tanya ulang Justin.


Shalome membeku, dia tak bisa berargumen. Antara merasa bersalah telah bersikap licik atau pun bertanggung jawab atas hal yang menimpa perusahan Justin memang ulahnya.


“Kau, melukaiku ....” Justin mencondongkan tubuhnya lalu berbisik, “padahal, aku bisa memberikan lebih dari itu.”


“Apa?” Shalome menoleh cepat ke Justin, mendapati tatapan tajam dan senyuman miring pria tampan itu.


“Kau tahu .... Aku bukan orang sabaran.”


💕💕💕


Ace Blue Charlotte

__ADS_1


06 Oktober 2020


__ADS_2