RA S001 : First Sight

RA S001 : First Sight
Chapter N


__ADS_3

“Kau populer juga, ya di kalangan para pria,” goda Ian.


“Kalau Izzie, apa dia juga populer di kalangan para pria?” balas Shalome.


“Jangan coba-coba menyesatkan Adikku, ya!!” peringat tegas Ian.


“Oh, ya. Siapa tadi yang memulai?” smirk Shalome, melihat kemarahan di wajah tampan Ian. Shalome tahu betapa posesifnya pria tampan itu pada adik cantiknya.


“Kak, sudahlah! Kenapa Kakak memulai pertengkaran yang tidak akan pernah bisa Kakak menangkan, sih,” lerai Izzie, sebelum kakaknya lebih dipermalukan lagi oleh Shalome.


Ian akhirnya, pergi. Meninggalkan keduanya sendirian. Pria itu selalu sukses dibuat naik pitam oleh Shalome. Kalau saja Shalome bukan merupakan teman adiknya. Pasti Shalome sudah habis olehnya atau justru malah sebaliknya (?)


“Untung dia tidak datang.” Shalome mengernyit bingung dengan ucapan Izzie. Siapa yang gadis itu maksud dengan dia.


“Ian, ada apa? Kenapa wajahmu ditekuk begitu? Apa ada yang mengganggumu?” kelakar Sonny yang disambut suara tawa para tamu undangan yang kebetulan sedang di dekat Sonny.


“Anda akan membantuku. Kalau memang ada yang mengganggu saya, Presdir Valkyrie?” jawab Ian. Tanpa diduga akan mengganggap serius candaan Sonny.


“Tentu.” Sonny merangkul bahu lebar Ian.


“Tentu saja. Katakan padaku! Siapa orang yang mengganggumu? Pastinya dia bukan orang sembarang. Sampai bisa mengusik Tuan Muda Vasquez kita yang terhormat ini,” lanjut Sonny yang kembali mengundang tawa beberapa orang.


“Shalome.”


“Apa?” Sonny sedikit menjaga jarak dari Ian.


“Benar. Orang yang menggangguku adalah Shalome, cucu Anda, Presdir Valkyrie,” jelas Ian yang untuk kesekian kalinya membuat suasana pecah. Sonny menatap bingung pemuda itu. Sedangkan beberapa orang justru menertawakan hal itu.


“Presdir Valkyrie, Anda benar. Orang yang mengganggu Direktur Muda kita adalah orang hebat,” celetuk seseorang.


“Orang hebat itu adalah cucu Anda sendiri.”


“Lalu sekarang .... Bagaimana cara Anda menolong pemuda malang ini?” ucap seorang pria seumuran Sonny dengan nada pura-pura prihatin kepada Ian.

__ADS_1


“Ah .... Seperti kata pepatah, mulutmu harimaumu,” keluh Sonny yang membuat siapa pun yang mendengar tak bisa menahan tawa mereka.


“Karena sudah terlajur, jadi begini. Mau tidak mau. Aku tetap harus melakukan sesuatu untukmu.” Sonny menepuk akrab punggung Ian.


Hari masih sore. Acara amal tahunan Valkyrie Group's untuk hari kedua, baru akan dimulai jam 9 malam nanti.


Shalome meletakan tablet-nya dan menatap kakeknya. “Apa yang membuat Grandpa sesenang ini?”


“Ada, 'lah.”


Shalome tak percaya begitu saja. Dia menatap curiga Sonny. Sampai kedua mata menyipit.


Sonny berdehem sambil membuka koran, “Bagaimana persiapan pesta untuk nanti malam?”


“Sebenarnya, apa yang sedang Grandpa rencanakan?”


Sonny meletakan kasar korannya. Sampai menimbulkan bunyi yang nyaring. “Sampai kapan kamu akan terus mencurigaiku? Jangankan merencanakan sesuatu. Pria tua ini, bahkan sering sakit-sakitan. Apa ini caramu, memperlakukan Kakekmu!?” hardik Sonny.


Shalome menghela nafas. Entah apa salahnya. Kenapa reaksi Sonny berlebihan begitu.


“Anak ini, benar-benar!!” teriak Sonny.


“Aku pergi dulu,” pamit Shalome.


“Shalome, tunggu! Aku bilang tunggu! Kenapa kamu pergi begitu saja tanpa menunggu orang tua selesai berbicara.”


Shalome pergi, mengabaikan semua kata-kata Sonny.


“SHALOME!!” jerit Sonny tapi Shalome sudah pergi.


Pada hari pertama. Lebih ditunjukan untuk menggalang sumbangan yang nantinya akan disalurkan kepada orang-orang yang membutuhkan. Di hari kedua, dikhususkan untuk pesta seperti pesta para konglomerat lainnya——bersenang-senang. Yah, walaupun orang-orang yang nanti hadir di pesta, tidak melulu untuk bersenang-senang. Untuk para senior, mereka cenderung memanfaatkan pesta ini untuk bersosialisasi. Menambah teman dan relasi atau pun mencarikan pasangan untuk putra-putri mereka.


“Semua hadiah sudah disiapkan. Saya sudah mengirim daftarnya kepada Anda,” lapor Monica.

__ADS_1


Shalome menggeser data-data yang ditampikan tablet-nya. Kedua netra hitamnya, bergerak lincah menelusuri kata demi kata yang ada di sana.


“Apa ini?”


“Ini permintaan dari pihak donaturnya sendiri? Saya tidak bisa melakukan apa pun pada hal ini. Karena beliau adalah donatur yang menyumbang paling banyak.”


“Lalu, nanti bagaimana caranya kita memberikan hadiahnya?”


“Oh, itu. Sebenarnya, ini juga yang mau saya sampai kepada Anda tadi.”


Monica meminta Shalome untuk membaca berkas selanjutnya. Sembari Shalome membaca, Monica menerangkan semuanya.


Di tempat lain, Justin sedang mengamati sesuatu dari laptopnya.


“Sampai kapan, kau mau terus melihat fotonya?” ledek Charles.


“Bilang saja kalau iri,” balas datar Justin dengan mata yang masih setia melihat foto-foto Shalome yang tidak ada duanya. Maksudnya adalah foto Shalome yang tidak dimiliki siapa pun di dunia ini. Bahkan, mungkin saja Shalome sendiri pun tidak memilikinya. Justin baru-baru ini, menyuruh orang untuk mengambil diam-diam gambar keseharian gadis cantik itu.


“Kau yakin sekarang sedang tidak tergila-gila padanya?”


“Lihat!” Justin mengalihkan tatapan dari layar laptop.


“Apa?”


“Apa wajah setampan ini. Bisa disebut sebagai wajah seorang pria yang sedang kasmaran?”


“Mungkin saja,” ragu Charles.


Charles menatap waspada Justin yang berjalan mendekatinya, sambil menenteng laptop. Dia sudah melindungi kepalanya, saat Justin berhenti tepat di depannya. Takut Justin memukul kepalanya menggunakan laptop. Alih-alih Justin melakukan sesuai yang Charles pikirkan.


“Tepat.” Justin menepuk pelan pundak Charles dan pergi begitu saja, seraya bersiul senang. Charles memiringkan kepalanya, menatap bingung punggung Justin yang menjauh.


💕💕💕

__ADS_1


Ace Blue Charlotte


02 September 2020


__ADS_2