RA S001 : First Sight

RA S001 : First Sight
Chapter AE


__ADS_3

Setelah kuliah dadakan dari Prof. Monica beberapa hari lalu. Atas kebaikannya, yang mau bahkan senang hati memberitahu Shalome. Perihal seberapa kaya dan berkuasa pria tampan di hadapannya. Sekarang, Shalome tahu harus bagaimana menghadapi pria yang tiba-tiba menghilang itu.


“Kau diam, tapi aku melihat ketidaksetujuan pada matamu.”


“Lalu ... kalo saya boleh tahu. Ketidaksetujuan atas apa yang Anda lihat di mata, CEO Alexander?” Shalome menegaskan garis pembatas diantara mereka dengan menggunakan bahasa formal.


“Shalome, hentikan!”


Justin memegang erat kedua bahu Shalome. “Sampai kapan kau akan terus begini?”


Shalome mengabaikan Justin. Dia malah melihat sekitar. Tidak menganggap penting omongan Justin. Habis kesabaran, Justin tanpa sadar mencengkeram kuat bahu Shalome.


“Sakit.” Shalome menatap lurus ke mata Justin. Tenang, berbanding terbalik dengan Justin. Pria tampan itu terlihat stress dan frustasi.


Sadar, Justin langsung melepas bahu Shalome. Berbalik dan mengacak geram rambutnya. “Kau tahu, ini sangat berbahaya untukmu.”


Shalome memutari meja kerja Justin. Jari letiknya menyusuri pinggiran meja kerja Justin yang bersih dari kertas dokumen. “Entahlah.” Shalome mendaratkan bokong di pinggiran meja, seraya menatap dingin Justin.


Untuk beberapa saat, Justin tidak bisa mengalih pandangannya. Pose Shalome benar-benar menggoda iman. Tetapi itu tak bisa mencegah Shalome terlepas dari amarahnya. Justin tetap marah pada Shalome. Jika saja, dia terlambat sedikit saja. Entah apa yang akan menimpa Shalome.


Justin memutari meja kerjanya, menekan intercom. “Batalkan semua janjiku hari ini!" titah tegas, tak terbantahkan pada Nada——sekretarisnya. Lalu dengan arogannya, langsung mematikan intercom tanpa terlebih dahulu menunggu jawaban dari seberang.


Justin menghampiri Shalome berdiri menjulang dihadapannya. Dahi Shalome mengerut, menunggu apa yang mau dilakukan Justin.


Dia meletakan tangannya di kedua sisi badan——mengurung Shalome. Mendekatkan wajahnya dan berbisik, “Kau selalu bisa memancing amarahku dan membangunkannya.”


Tanpa aba-aba dia langsung mencium tanpa ampun bibir Shalome. Lidah pria itu bahkan sudah masuk dan terus menelusuri rongga mulut Shalome. Justin masih betah melakukan aktivitasnya. Mengabaikan Shalome yang terus mendorong dada bidangnya. Guna membebaskan diri dari kungkungan tubuh kekarnya.


“Akh ....” lenguh Shalome tanpa sadar di tengah ciuman panas mereka. Justin menyeringai, dia tahu tubuh Shalome menikmati apa pun yang tengah dia lakukan padanya.


“Akhhh .... Justiiinn ....”


“Hentikaaannn .... Akhhhhh ....” racau Shalome saat bibir Justin turun ke dadanya. Tangan pria itu tak tinggal diam. Dengan lihai Justin menyusup ke dalam rok yang dikenakan Shalome dan membelai lembut paha dalam Shalome. Tangan besar Justin bergerak semakin naik. Sampai akhirnya berhenti tepat di area pribadi Shalome.


Justin memberikan ciuman basah sebanyak yang dia bisa di tubuh Shalome. Masih dengan tangan kanannya yang tak berhenti menggoda pusat gairah Shalome. Dari balik celana dalam yang Shalome pakai, pria itu tahu betul. Kalau Shalome sudah basah. Tapi dia belum puas kalau hanya sekedar membuat Shalome basah. Jari-jari Justin bergerak semakin dalam ke pakaian dalam Shalome. Dia merasakan sesuatu yang lembut, basah dan hangat. Namun kegiatannya harus terhenti saat Shalome mencengkeram tangan Justin, mencegah dia untuk masuk semakin dalam lagi.


“Justin,” panggil pelan Shalome.


Justin menghentikan kegiatannya di dada Shalome. Kemudian menatap wajah sayu Shalome. Wanita itu terengah-engah. Demi apa pun, Justin sangat ahli dalam memuaskan wanita.


“Hentikan!” tegasnya seraya semakin kuat mencengkeram tangan kanan Justin yang masih berada di balik roknya. Menolak berhenti melakukan sesuatu yang menurutnya menyenangkan.

__ADS_1


“Kau yakin ingin aku berhenti?” Justin ragu untuk berhenti, menuruti keinginan Shalome.


“Kau hanya perlu duduk diam. Biarkan aku yang bekerja untukmu,” tawar Justin sensual. Sungguh, saat ini pun Shalome sedang berusaha mati-matian untuk tidak membuka lebar kakinya di hadapan Justin.


“Kau yakin?” Justin sengaja menggesekan miliknya yang sudah menegang pada area pribadi Shalome.


Tubuh Shalome menegang, merasakan miliknya yang sudah basah bertemu dengan milik Justin yang besar. Dan pasti dapat memuaskan dirinya.


“Akhhhh ....” Justin mengerang tertahan tepat di samping telinga Shalome, membuatnya terdengar sexy. Berusaha mengubah pendirian Shalome.


Shalome menggigit bibir bawahnya. Menahan desahan agar tak lolos dari bibirnya. Dia harus menahan diri atau Justin tidak akan pernah melepaskannya.


Setelah tak mendapat respon apa pun dari Shalome. Akhirnya Justin memundurkan wajahnya. Dia terkejut mendapati ekspresi dingin Shalome.


“Hentikan!”


“Ah, ternyata kau benar-benar serius.”


“Hah ....” kecewa Justin seraya menarik diri dari Shalome. Justin berjalan menjauhi Shalome dan menggapai tissue untuk membersihkan telapak tangan pria itu dari cairan milik Shalome. Ketika melakukan itu, kedua mata Justin terpejam setelah sebelumnya melamun untuk beberapa saat. Semua itu tak luput dari pengamatan Shalome yang masih bergeming di tempat.


Setelah memperoleh akal sehatnya kembali, Shalome merapikan pakaiannya. “Aku bisa melakukan sendiri.” Shalome sedikit tersentak. Tiba-tiba, tangan besar Justin menyentuh tangannya yang sedang mengancingkan pakaiannya. Shalome bisa-bisa dibuat kacau lagi, bila bersentuhan dengan kulit hangat Justin. Dia masih ingat betul, dampak setiap sentuhan Justin pada tubuhnya.


Sensasi ketika hawa panas pria itu bersentuhan dengan kulitnya. Gelenyar aneh, menyesakkan dada dan mendesak untuk keluar. Tetapi, membawa kenikmatan disaat bersamaan. Shalome bukan remaja polos yang tidak mengetahui makna dari semua itu. Shalome hanya tidak terhanyut oleh kenikmatan sesaat. Menggoda memang. Tapi dibandingkan merasakan menikmati yang semu itu. Masih ada banyak hal yang Shalome pikirkan. Shalome baru yakin, setelah mempertimbangkan berbagai hal.


Shalome bermaksud menolak. Tapi diurungkan saat melihat tatapan memohon Justin. Ekspresi pria itu juga terlihat berbeda dengan biasanya. Tak ada tatapan nakal atau sombong mau pun percaya diri yang selalu menghiasi paras tampannya.


Dengan telaten pria tampan itu merapikan pakaian Shalome. Justin mengancingkan satu persatu kancing depan yang tadi dia buka paksa. Kali ini Justin benar-benar hanya membantu Shalome merapikan pakaiannya.


Tapi .... Entah karena Justin yang sedang mengancingkan pakaiannya. Atau tadi mereka sempat melakukan kontak fisik yang intim. Sekarang tubuh Shalome menegang saat merasakan hembusan nafas Justin  mengenai wajahnya.


“Sudah, cukup!” Shalome mendorong Justin agar keras. Pandangan keduanya bertemu. Canggung, Shalome memilih berjalan melewati Justin. Shalome harus sedikit menjaga jarak dari Justin. Kalau tidak, dia benar-benar akan kembali terperangkap. Dan dia benar-benar, tidak menginginkan hal itu terjadi.


Shalome pura-pura menikmati pemandangan dari jendela ruang kerja Justin. Bermaksud menenangkan hati, sekaligus mengusir segala pikiran kotor dari otaknya. Beberapa kali Shalome menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Sebelum mencapai ketenangan yang diinginkan. Tanpa suara, Justin memeluk Shalome dari belakang.


“Kali ini aku akan melepaskanmu.” Justin meletakan dagunya di bahu Shalome. “Tetapi tidak dengan tindakanmu datang diam-diam kesini,” imbuh Justin seraya mengeratkan pelukannya.


“Shalome,” panggil Justin setelan kebisuan lama.


“Ehm.”


“Hari ini ... aku ketakutan setengah mati.” Justin memejamkan kedua matanya. “Aku takut, terjadi sesuatu padamu kalau sedikit saja aku terlambat datang,” lirihnya.

__ADS_1


Shalome membeku. Dia tidak mengira, ketakutan yang ada di dalam tatapan Justin. Ditunjukan padanya.


“Aku tidak tahu apa yang bisa aku lakukan. Jika tadi benar-benar terjadi sesuatu padamu.” Shalome masih diam. Dia merasakan pelukan Justin semakin menguat. Selaras dengan ketakutan yang tengah pria tersebut rasakan.


“Kau membuatku gila,” lirih Justin, meringkuk lebih mendekat ke leher Shalome. Menghirup kuat-kuat aroma khas milik wanitanya. Merekam baik-baik dan menyimpan dalam ingatannya. Kehangatan dan aroma harum tubuh Shalome.


💕💕💕


Shalome menatap dingin belasan bodyguard kiriman Justin. Setelah kemarin, Shalome diserang oleh orang tak dikenal dan hampir saja celaka. Jika saja waktu itu Justin tidak datang tepat waktu. Pasti sekarang Shalome terbaring di ranjang rumah sakit atau dalam situasi terburuknya. Pagi ini, bisa saja berbagai media dipenuhi dengan berita duka tentang dirinya.


Shalome tahu betul akan siatusi dirinya kemarin hari. Tetapi, dia merasa sikap Justin sudah kelewatan. Bagaimana bisa, pria dingin itu begitu parno hanya karena satu serangan. Itu pun tidak ditunjukan padanya. Bahkan Shalome yang menjadi satu-satunya korban pun, bisa bersikap tenang. Lalu sekarang .... Justin sampai mengikuti jejak Sonny——mengirim para bodyguard untuk melindungi Shalome 24 jam penuh.


“Sekarang aku tahu. Kesamaan diantara mereka berdua,” gumamnya. Berhasil menemukan persamaan Justin dengan Sonny——sang kakek.


Pusing dengan tatapan orang-orang. Shalome sekarang sedang melakukan inspeksi lapangan dan kemana pun dia pergi. Dia sukses menjadi pusat perhatian. Keberadaannya yang mencolok. Lebih tepatnya keberadaan belasan pria kekar lengkap dengan alat komunikasi jarak jauh, kacamata dan setelah hitam.


“Derk———”


“Tidak bisa Nona,” tolak langsung Derk. Mengetahui apa yang mau Shalome katakan.


“Tolong aku kali ini saja.”


“Hah ....” desah lelah Shalome, ketika Derk menggeleng. Sonny juga sama saja, pikir Shalome. Setelah tahu penyerangan yang menimpa Shalome. Kakeknya langsung menambah jumlah bodyguard untuk berkeliaran disekitarnya.


“Dibandikan mau melakukan inspeksi lapangan. Sekarang aku lebih merasa mau pergi berperang,” keluhnya.


Bila ditotal, jumlah bodyguard yang mengekor Shalome kemana pun ia pergi. Baik itu yang dikirim Sonny mau pun Justin. Mungkin ada lima puluh lebih. Diikuti Derk dari jarak dekat saja, sudah membuat Shalome risih. Lalu, sekarang ada puluhan pasang mata yang mengawasi gerak-geriknya.


“Aku harus mulai mempertimbangkan untuk menikahi pria itu,” celetuknya.


Derknya yang mendengarnya, hanya diam. Derk tahu kekesalan Shalome atas sikap Justin dan Sonny. Tetapi, menurutnya Derk pribadi. Itu normal. Menilik dari bagaimana protective-nya kedua pria itu pada Shalome. Terlebih dengan kejadian tak terduga yang terjadi kemarin.


“Bisa-bisa aku mati muda bila harus hidup bersama mereka.” Shalome serius. Dia tidak ingin menambah satu lagi orang yang sama seperti kakeknya. Belum apa-apa saja, Justin sudah sok berhak mengaturnya. Sama persis dengan Sonny.


“Siapa yang kau maksud mereka?” Shalome memutar jengah kedua matanya.


“Apa aku termasuk dalam mereka itu?” Justin membelai lembut pipi kiri Shalome. Perlakuan manis Justin menjadikan dirinya ditatap penuh puja oleh para kaum hawa yang melihat adegan tersebut.


Dari jauh, diam-diam seorang wanita mengamati kebersamaan Shalome dan Justin. “Ini semakin menarik,” ucapnya seraya berlalu dari sana. Meninggalkan dua sejoli yang jadi pusat perhatian karena keberadaan keduanya yang mencolok.


💕💕💕

__ADS_1


Ace Blue Charlotte


27 Oktober 2020


__ADS_2