
“Kau yakin bisa menanggung akibatnya?” desis Shalome.
Justin tersenyum. Di saat terdesak pun, Shalome masih bisa bersikap tenang. Justin menyeringai, ia mencondongkan tubuhnya dan kembali mencium bibir Shalome tanpa izin.
Kepercayaannya dirinya terbangun. Shalome tak memberikan perlawanan, barang sedikit pun. Membuat Justin lebih leluasa melancarkan aksinya. Kali ini, tangan Justin tak dibiarkan menganggur. Dengan beraninya, dia meremas lembut bokong padat Shalome. Mau tak mau membuat pelukannya merenggang. Shalome yang dibekali sabuk hitam taekwondo, tak menyia-nyiakan kesempatan. Dengan gerakan cepat dan akurat, dia menyerang area pribadi Justin menggunakan lututnya. Seketika Justin terjatuh, meringis kesakitan sambil memegangi aset masa depannya.
Dengan gaya angkuh, Shalome melangkah pergi meninggalkan Justin. Sebelum sampai di pintu, gadis itu merapikan penampilan yang dibuat berantakan oleh Justin. Tak lupa membersihkan sisa saliva Justin pada bibirnya.
“BUKA!!” teriakan Shalome menggelegar.
Sepeninggalan Shalome, Justin masih terduduk di lantai. Meringis, menahan rasa nyeri di area pribadinya. “Ah, aku benar-benar sudah gila,” kekehnya.
Manager hotel yang sama membuka pintu. Dia tegang melihat ekspresi Shalome. Lalu beralih melihat ke dalam. Tepat ke arah Justin yang terduduk di lantai sambil meringis.
“Nona, Anda tidak boleh pergi. Kami akan menyiapkan kamar untuk Anda,” cegah manager hotel tersebut, memahami kode yang diberikan Justin. Menyuruhnya, supaya tidak membiarkan Shalome pergi.
“Boleh saya, siapkan supir dan mobil untuk Anda?” Manager tersebut masih berusaha membujuk Shalome yang tetap berjalan. Tak menanggapi sedikit pun ucapannya.
“Tidak perlu,” tolak Shalome tegas. Tidak menutupi sedikit pun ekspresi terganggunya.
Dia sudah jengah dengan bujukan sang manager J.A Hotel. Juga beberapa pegawai hotel yang panik karena tak berhasil membujuknya. Ia juga tidak memperlambat langkah kakinya sedikit pun. Mengabaikan manager dan beberapa pegawai hotel keteteran mengikuti langkah kakinya yang cepat.
__ADS_1
“Lebih baik kalian menghubungi ambulance,” ucap Shalome sesampainya ia di lobby hotel.
“Siapa yang tahu, apa yang mungkin terjadi pada boss Anda?” Shalome tersenyum kepada sang manager yang masih setia mengikutinya. “Jika terlambat ditangani,” tambahnya sebelum masuk mobil.
“Berikan aku tisu!”
“Ini, Nona.”
Tanpa bersuara, Monica memberikan Shalome tisu yang memang tersedia di mobil. Suasana di mobil terasa tegang. Sejak Shalome keluar sambil dikejar manager dan beberapa pegawai J.A Hotel. Sampai ia masuk mobil hingga sekarang, mobil sudah melaju. Ekspresi Shalome tetap tidak berubah.
“Sialan,” umpat Shalome, seraya mengelap kasar bibirnya. Dia sampai menggunakan beberapa tisu, membersihkan bibirnya dari segala jejak yang Justin tinggalkan. Tidak mempedulikan bibirnya yang sudah memerah. Akibat perlakuan kasar Shalome.
“Ah, aku benar-benar tidak percaya ini ....” Shalome menyandarkan punggung sambil memejamkan kedua matanya. Menenangkan diri. Mengontrol kemarahan yang beberapa saat lalu memenuhi dirinya.
“Ya, Nona,” jawab Monica cepat.
“Besok kumpulan semua proposal kerjasama Alexander Corporation's! Mau itu skalanya besar atau kecil ....” Shalome melihat ke luar jendela. “Bawa saja, semuanya!!”
“Baik, Nona.” Monica mengangguk patuh. Apapun yang terjadi pada Shalome tadi saat makan malam. Monica tidak ingin tahu atau pun ikut campur. Ekspresi wajah Shalome, di matanya sudah cukup memberinya peringatan. Monica tidak mau, jika suasana hati Shalome yang tengah buruk itu dilampiaskan padanya.
“Aku tidak akan melepaskannya begitu saja,” gumam Shalome. Dia merasa harus membalas yang dia alami hari ini dan itu akan segera terjadi.
__ADS_1
Keesokan harinya. Di Alexander Corporation's.
BRAKK
Charles membanting sebuah map tepat di depan Justin.
“Kali ini, apa lagi yang telah kau perbuat!?” Justin diam, tak menjawab. Dia mengambil map yang tadi dibanting Charles.
Charles melangkah ke tengah ruangan dan duduk di sofa. “Sebenarnya apa yang kau lakukan kemari?”
“Bagaimana bisa tiba-tiba, semua proyek kita dengan Valkyrie Group's dibatalkan secara sepihak seperti ini? Anehnya, semua proyek kita dengan beberapa perusahan yang menjalin kerjasama dengan Valkyrie Group's juga ikut menolak berkerjasama dengan Alexander Corporation's,” urai Charles.
“Apa separah itu?” Justin menatap Charles.
“Apa separah itu? Kau bilang.” Charles berdiri dan berjalan cepat ke arah Justin. Berhenti di depan meja kerjanya. Charles berkacak pinggang. “Kau tahu, berapa kerugian yang kita tanggung sekarang?”
“Harga saham kita anjlok sampai titik terendah. Baru kali ini harga saham kita seperti ini. Sekarang pun, bahkan anak kecil saja bisa membeli beberapa lembar saham kita dengan uang jajan mereka,” urai Charles yang secara tersirat mengatakan, semurah apa harga saham Alexander Corporation's.
Justin menutup dokumen yang sedang dia baca. Lalu mengangkat kepalanya. “Okey-okey, maafkan aku.”
💕💕💕
__ADS_1
Ace Blue Charlotte
19 September 2020