RA S001 : First Sight

RA S001 : First Sight
Chapter M


__ADS_3

Shalome mengosongkan gelas winenya.


“Dia benar-benar sangat profesional,” puji Shalome sambil menatap dari jauh Demian yang sedang berbicara dengan tamu undangan lain.


“Apa yang Nona harapkan? Apa Nona berpikir bisa mendapatkan sebuah informasi seorang selebriti papan atas, hanya karena Nona kaya?”


“Ya,” jawab Shalome cepat.


“Memang ada masalah dengan itu?” protesnya.


Monica tak bisa berkomentar lagi. Sepertinya rasa penasaran boss-nya tentang kebenaran gosip seorang anggota girlband yang menjalin hubungan terlarang dengan seorang konglomerat, tidak akan bisa hilang begitu saja.


“Tapi apa gosip itu benar?” tanya Shalome tiba-tiba pada Monica.


“Tidak! Tidak! Itu tidak boleh terjadi. Pasti itu cuma gosip saja.” Shalome menggeleng beberapa kali. Meyakinkan dirinya, bahwa berita selebriti yang dia sukai hanyalah gosip belakang.


“Tapi, bagaimana kalau itu benar!?” resah Shalome.


Monica lagi-lagi hanya bisa tersenyum. Beginilah jadinya, Shalome. Sikapnya berubah drastis, kalau sudah menyinggung satu-satunya selebriti yang dia gemari.


“Tidak! Tidak, bisa! Simpanan? Yang benar saja!!” geram Shalome entah pada siapa.


“Kalau saja yang datang bukan perwakilan. Pasti aku bisa bertanya langsung padanya. Kenapa dia pakai tidak datang segala, sih? Padahal tunangannya, datang, loh!?” gerutu Shalome.


“Nona,” panggil lembut Monica.


“Ap———”


“Lihat siapa ini.” Sebuah suara merdu mengintrupsi pembicaraan keduanya.


“Kalian datang bersama?” heran Shalome baru melihat dua wajah yang familiar.


“Anggap saja begitu,” jawab orang yang sama.

__ADS_1


“Jadi ... apa itu benar?” Shalome menatap kedua wanita yang seumuran dengannya. Orang yang ditanya hanya diam sambil meneguk anggurnya.


“Kapan kalian bercerai? Perkiraan tanggalnya, juga tidak apa-apa,” sela wanita ketiga, Katana Arskoning.


“Apa yang mau kau lakukan?” Shalome menatap curiga Katana.


“Memang apalagi? Tentu saja aku mau mencoba peruntunganku,” seringai Katana.


“Jadi kau mau memungut bekas suami temanmu sendiri?” tanya Shalome tak percaya.


“Ya. Tidak ada yang salah dengan itu, bukan?” Katana merangkul wanita yang sejak tadi jadi topik obrolan Shalome dan Katana. “Toh, aku baru akan mendekatinya. Setelah teman baik kita ini, resmi menceraikannya,” sumringah Katana yang direspon gelengan kepala tak percaya dari Shalome.


“Rennei, kenapa diam? Kau dengar itu. Katana mau merebut suamimu,” sungut Shalome. Entah kenapa justru dia yang paling emosi di sini.


“Shalome, kalau kami beneran bersaing. Kira-kira kau akan memihak pada siapa?” Katana tersenyum menggoda Shalome.


“Yang pasti bukan wanita murahan, sepertimu,” cibir Shalome.


“Aduh-aduh, mulut pedasmu itu ... benar-benar tidak singkron dengan wajahmu,” cemooh Katana.


“Rennei, tidak mungkin kamu tidak tahu.” Katana melirik Shalome. “Bukan, 'kah selebriti kesukaan Shalome kita ini. Si ... si siapa, sih. Aku, kok lupa,” jeda Katana. Berusaha mengingat satu-satunya nama selebriti yang Shalome gilai.


“Ah, siapa, sih!! Ah, ya. Si Rebecca Anaya!?” yakin Katana. “Dia juga, 'kan digosipkan terlibat skandal yang mirip denganmu.”


“Bedanya, kalau kamu jadi korban. Sedangkan dia jadi orang ketiga. Benar nggak, Shal?” lirih Katana, tak berhenti menggoda Shalome.


“Benarkah? Ada gosip seperti itu juga, toh,” celetuk Rennei.


“Ya, aku, sih maklum. Kamu mana ada waktu mikirin masalah orang lain. Apalagi sekarang ini, kamu juga sedang ada masalah. Beda banget dengan seseorang,” lirih Katana seraya melirik Shalome.


“Memangnya ada apa denganku?”


“Shalome .... Shalome, Sayangku, sini, deh!” Katana memberi isyarat menggunakan tangannya. Meminta wanita itu untuk mendekatkan kepalanya.

__ADS_1


“Kamu punya banyak waktu untuk mengurusi masalah orang lain karena .... Kamu itu lajang dari orok,” cibir Katana. Dia tertawa puas melihat ekspresi jengkel Shalome yang langka.


“Tapi tadi .... Kayanya aku lihat Nona Baragas datang sendiri.” Rennei melihat kesana-sini, mencari orang yang dia maksud.


“Benarkah!? Kau yakin tidak salah lihat?”


“Bisa saja, kamu terlalu sedih jadi salah lihat orang,” gumam Katana.


Rennei menyikut Katana. “Bercanda,” ringis Katana.


“Emang itu kamu, yang tidak bisa membedakan mana anak kecil, mana kakek-kakek,” ledek Shalome.


“Iya, aku yakin. Itu beneran dia,” yakin Rennei, sekaligus menghentikan perdebatan koyol diantara Shalome dan Katana.


“Kapan dia pulang? Oh, pantesan tadi aku juga lihat Devon dan Megan datang bersama pengacara yang sedang terkenal itu, loh!?” urai Katana.


Semua terdiam. Kini mereka paham, kenapa Devon yang terkenal sangat malas datang ke acara-acara atau pesta, tiba-tiba memutuskan untuk datang. Itu pun pesta yang diadakan Valkyrie Group's. Yang tidak perlu lagi dipertanyakan skala pestanya mau pun tamu undangan yang semuanya berasal dari kalangan atas.


Lalu mengenai pertanyaan Shalome dan Rennei tentang Megan yang ada di pesta. Tak lain karena dia adalah pasangan pria yang tadi Katana sebut sebagai pengacara yang sedang terkenal.


“Sepertinya, kabar itu tidak lebih menarik dibandingkan informasi yang saya punya,” sela Monica.


Monica tersenyum pada ketiga wanita itu. “Nona Yvon Bluebell datang sebagai perwakilan dari Bluebell Farma dan ....” Ketiganya menatap tak percaya Monica.


“Direktur dari A Exile Company juga datang.” Wah, ketiganya benar-benar dibuat terdiam. Tak bisa berkomentar.


“Selain, banyak berita perselingkuhan. Pesta ini menjadi ajang reunian kisah cinta yang belum terselesaikan,” gumam Shalome yang diangguki setuju oleh Katana dan Rennei. Sedangkan Monica hanya tersenyum kecil, melihat jiwa pengosip ketiga wanita itu.


“Skala Valkyrie Group's memang berbeda dengan lainnya,” celetuk Katana.


💕💕💕


Ace Blue Charlotte

__ADS_1


01 September 2020


__ADS_2