RA S001 : First Sight

RA S001 : First Sight
Chapter H


__ADS_3

Tiga hari sebelumnya. Di gedung kantor Alexander Corporation's. Justin dan Charles baru saja selesai mengikuti sebuah meeting. Mereka sekarang sedang di dalam lift. Keduanya dalam perjalanan untuk pergi ke ruang kerja Justin, di lantai 27.


“Apa tidak ada perkembangan?”


“Seperti yang kau lihat sekarang.”


“Kau benar-benar payah. Kemana kemampuan mencari informasi yang selama ini kau banggakan?”


Charles menatap Justin yang berdiri di sampingnya. “Jangan mulai mencari gara-gara denganku!”


Charles kembali mengalihkan pandangan ke arah depan. “Jika kamu bisa, lakukan sendiri!”


“Itu pun, kalau kamu mampu,” ledek Charles seraya keluar duluan dari lift.


Justin mendengus, sebagai respon ledekan Charles padanya. “Kalau bukan saudara sudah ku sumpal itu mulut yang nggak ada akhlak. Dari mana dia belajar bersikap tidak kurang ajar pada atasannya!?” Justin ikut keluar dari lift seraya menyusul Charles yang sudah pergi duluan ke ruangannya.


Beberapa menit sudah berlalu. Kedua pria tampan itu masih sibuk mendiskusikan sesuatu.


“Terima kasih, Nada. Seperti biasanya, kau bekerja dengan baik,” puji Charles seraya melempar senyuman mempesona pada wanita yang berstatus sebagai sekretaris pribadi sepupunya.


“Sama-sama, Direktur Charles. Anda terlalu memuji saya. Saya masih harus banyak belajar lagi.”


“Tidak. Kau pantas mendapatkan pujian dariku. Bahkan seharusnya boss-mu juga tidak perlu pelit padamu.” Charles melirik Justin yang duduk di depannya dan masih sibuk dengan berkas-berkas. Nada yang tahu kalau Charles sedang menyindir Justin hanya tersenyum.


“Nada, katakan padaku!” Charles memperbaiki posisi duduknya. Jadi tegak dan menatap Nada serius.


“Apa Justin pernah memuji hasil kerjamu? Sekali saja, apa dia pernah mengatakannya?”


“Sir Justin tidak perlu memuji saya. Karena saya pun tidak membutuhkan pujian seperti itu.”

__ADS_1


“Wah .... Ayolah, Nada!! Jangan seperti ini! Kenapa kamu mengelak? Siapa yang kamu takuti di sini? Jangan takut! Aku pasti akan melindungimu.”


“Jadi, katakan saja. Apa adanya,” bujuk Charles seraya bersandar dengan nyaman di sofa.


“Yang saya katakan itu sudah apa adanya, Direktur Charles.” Nada tersenyum sopan.


Charles menghela nafas. “Baiklah-baiklah. Aku tidak akan mendesakmu lagi. Tapi apa ....”


Charles beralih melihat ke arah Justin yang masih saja sibuk. “Apa kamu tidak keterlaluan, Justin?”


“Bagaimana kamu menahan hak pegawai rajin seperti Nada? Nada berhak mendapat bonus.” Charles menyilangkan kakinya dan bersandar dengan nyaman.


“Bukan, 'kah begitu, Nada?” Charles mengedipkan sebelah matanya pada Nada.


“Kau benar.” Justin meletakan berkas yang tadi sedang dia teliti ke atas meja.


Justin menatap Nada. “Nada, hubungi bagian akunting. Kamu dapat bonus 30% dari gaji bulananmu.”


“Nada, kamu juga har———”


“Dan katakan juga. Kalau Direktur Charles tidak akan mengambil gajinya selama setahun. Jangan sampai lupa!”


“Baik, Sir,” patuh Nada.


“Hey, kau gila, ya!?” teriak Charles.


“Tidak.”


“Lalu apa-apaan ini!? Apa yang mau kau lakukan pada gajiku selama setahun itu?”

__ADS_1


“Apa yang mau aku lakukan? Entahlah, tadi seperti ada seseorang yang berkata kalau Nada sudah berkerja dengan rajin karena itu dia berhak mendapat bonus. Tapi juga ada seseorang yang ku kenal, bersikap sebaliknya ....”


“Jadi bukan, 'kah aku harus memotong gajinya?” Justin menatap dingin Charles.


“Apa? Jadi maksudmu, aku ....” Charles langsung mengoreksi perkataan saat dia teringat sesuatu. “Ah, tadi itu aku asal bicara saja, kok. Jangan diambil hati, dong.”


“Sepertinya di sini, ada kesalah pahaman. Selaku CEO, dalam mengambil keputusan aku tidak pernah sekali pun mengedepan perasaan.”


Justin tersenyum lebar. “Gajimu ku potong, murni karena hasil kerjamu sekarang.”


“Po-potong? Yang benar saja!? Kau berencana untuk mengambil semua gajiku, selama setahun dan tak menyisakan barang sepeser pun!!” teriak kemarahan Charles menggema di ruangan. 


“Tidak bisakah, kau bersikap lebih kejam dari ini!?”


Justin mengabaikan Charles.


“Ah, sial,” maki Charles.


Berpindah tempat. Di salah satu suite room di J.A Hotel.


“Nona, semua persiapannya sudah selesai. Anda hanya tinggal memilih gaun untuk pesta nanti,” ucap Monica.


Tak ada sautan dari Shalome. Dia masih diam sambil menikmati pemandangan laut biru yang ditawarkan J.A Hotel.


Shalome berbalik dan menatap lelah Monica. “Biarkan dia masuk!” perintah Shalome, seraya berjalan mendekati Monica dan duduk manis di sofa yang tersedia di sana.


Setelah dia duduk, tak berselang lama seorang perancang busana masuk. Shalome mengangguk sedikit, menjawab sapaan perancang busana itu. Dengan setengah hati, Shalome membiarkan perancang busana itu menerangkan semua rancangan yang dirasa cocok untuk dipakai olehnya. Shalome janji, akan membalas kakeknya. Seusai acara amal ini.


💕💕💕

__ADS_1


Ace Blue Charlotte


28 Agustus 2020


__ADS_2