RA S001 : First Sight

RA S001 : First Sight
Chapter AK


__ADS_3

Justin terusik oleh pergerakan seseorang yang berbaring di sebelahnya. Netranya terbuka dan langsung terbit senyuman di wajah tampannya. Ketika mengenali sosok yang berbagi ranjang dengannya. Tangan Justin terulur, menyibak anak rambut Shalome yang menutupi wajah cantiknya.


Pandang Justin turun ke bawah. Sial, milik terbangun lagi. Shalome banyak bergerak dalam tidurnya, sedikit menyikap selimut. Menampakan tubuh polosnya. Dengan enggan, Justin beranjak. Dia harus menjauh atau dia akan membangunkan Shalome untuk kembali .... Walaupun itu tidak buruk juga, menurut Justin——percintaan panas dan penuh gairah di pagi hari. Hitung-hitung sebagai suntikan vitamin tambahan untuk memulai hari.


Justin memungut celana dan memakainya dengan cepat. Dia kembali mendekati ranjang. Pria itu merapikan selimut dan menyelimuti Shalome. Lalu masuk kamar mandi, mendinginkan tubuhnya. Keinginan Justin untuk bercinta, tak lebih besar dari rasa cinta itu sendiri.


Justin sadar, dia harus menahan diri. Terutama bila itu di depan Shalome. Dia tidak bisa menyamakan Shalome dengan wanita-wanita yang selama ini, pernah menghangatkan ranjangnya. Sejak awal, tujuan Justin mendekati Shalome sampai memberanikan diri untuk memantapkan pilihan. Itu semua, semata-mata hanya untuk mendapatkan Shalome seutuhnya. Dia harus memperlakukan Shalome sebagai mana mestinya. Karena Shalome bukan sekedar penghangat ranjangnya saja.


“Bagaimana?” Justin sudah selesai mandi. Sekarang dia sedang berbicara dengan bawahan di telepon.


“Rekaman CCTV menunjukan ada seorang wanita, diam-diam menambahkan obat perangsang ke dalam minuman Nona.” Justin melirik sebentar Shalome yang masih terlelap.


“CCTV yang terpasang di lift. Memperlihatkan———” ucap ragu orang di seberang. Tatapan Justin berubah datar. Aura membunuh memenuhi ruangan.


“Cukup!” potong Justin cepat. Tanpa dilanjutkan pun, Justin tahu betul apa yang akan dikatakan bawahannya. Kepala Justin, rasanya mau meledak. Setiap mengingat fakta bahwa orang lain telah lancang menyentuh miliknya tanpa izin.


“Lakukan seperti biasanya!” perintah Justin penuh dengan aura membunuh.


“Tuan, lalu masalah tentang mendiang Wakil Presdir Valkyrie ....”


“Soal itu, aku akan mengurusnya sendiri.” Justin secara sepihak memutus sambung telepon.


Perhatian langsung tersita sepenuhnya pada sosok wanita cantik yang semalaman bergulat panas dengannya. Justin naik ke ranjang dan berbaring di sebelah Shalome. Mencium aroma tubuh Shalome yang memabukkan. Justin mengabaikan sesuatu yang mengeras di bawah sana. Memilih mengamati wajah cantik Shalome yang tengah tertidur pulas.


Kelopak itu mulai terbuka. Membutuhkan waktu beberapa saat untuk beradaptasi dengan cahaya terang di sekitar. Sampai akhirnya, kedua netra Shalome terbuka sepenuhnya.


“Apa tidurmu nyenyak?” tanya Justin hangat. Shalome berkedip polos. Terlihat menggemaskan di mata Justin.


“Apa masih terasa sakit?” khawatir Justin. Dia membelai lembut wajah Shalome yang bingung, masih mencoba mencerna situasi.


Shalome melotot, setelah menyadari situasi. “Justin!! A-apa yang kau lakukan di sini?”


Spontan Shalome menjaga jarak. Dia terkejut, mendapati wajah Justin berada amat dekat di depan wajahnya. Apalagi senyuman hangat pria itu. Terasa asing dan janggal.


“Akh!?” ringisnya.


Area bawah perutnya terasa amat nyeri dan perih. Ketika Shalome menggerakkan kakinya.


“Hati-hati.” Dengan cepat Justin mendekap tubuh Shalome, menjaga wanita itu terjatuh dari ranjang.


“Semalam ....” Pipi Shalome merona. Sadar bahwa dia telanjang bulat. Dia mempererat pelukan Justin. Mencegah Justin melihat tubuh polosnya. Namun, Shalome terpaku. Merasakan sesuatu mengeras di bawah sana.


“Justin,” panggil Shalome, memastikan pria yang tengah memeluknya erat itu tidak sedang memikirkan hal yang sama.


“Apa yang sedang kamu coba pastikan?” Senyuman di wajah Justin tak bisa menipu mata Shalome. Tatapan tajam Justin yang biasanya dingin dan tak berperasaan. Kini tampak liar, dalam makna yang sebenarnya.

__ADS_1


Ingatan-ingatannya akan pergulatan panas yang semalam keduanya lakukan berseliweran. Pipi Shalome merah merona. Malu juga terangsang. Ketika ingat, bagaimana liar dan perkasanya Justin di atas tubuhnya.


“Uhm!?” pekik Shalome lirih. Lagi-lagi dia bergerak dengan ceroboh. Tetapi Shalome belum siap. Bila harus melakukan itu lagi. Tiba-tiba dia gugup dan sedikit takut.


Justin merasakan tubuh munggil Shalome bergetar di dalam pelukannya. “Aku akan melepasmu kali ini,” ucap Justin, seolah tahu apa yang sedang wanita cantik itu pikiran.


Shalome mendongak, menatap lurus ke kedua netra Justin. Mata sama yang semalaman tak sedikit pun mengalihkan tatapan darinya.


Justin memaklumi perasaan Shalome. Mau bagaimana pun, ini pengalaman pertamanya. Justin harus pandai mengendalikan diri. Jangan sampai wanitanya malah takut padanya. Karena dia terlalu menuruti hasratnya. Meski sulit, tidak apa bagi Justin. Selama itu untuk Shalome. Apa pun akan dia lakukan. Tetapi ....


“Hanya kali ini,” tandas Justin. Dia masih tidak bisa terima bagaimana cara Shalome mamandang dirinya. Justin sedikit tersinggung, apa di mata Shalome. Dia sebegitu menakutkannya, terutama saat menginginkan dirinya.


Hari ini tubuh Shalome selalu dibuat kaku. Dia tidak ingin seperti itu, tetapi tubuhnya masih belum terbiasa dengan hormon seksual Justin yang kelewat banyak. Setelah keduanya tidur bersama untuk pertama kalinya. Mereka belum pernah melakukan lagi, sejak itu.


Namun, Shalome masih saja terkejut. Terutama ketika Justin, tiba-tiba mencium atau meraba tubuhnya. Sekarang pun, posisi duduk keduanya terasa tidak nyaman.


“Kau harus terbiasa dengan ini,” tuntut Justin.


“Y-ya.” Ralat. Hanya Shalome seorang yang merasa tidak nyaman. Berbanding terbalik dengan Shalome. Justin nampak baik-baik saja dengan posisi duduk mereka.


“Kau tahu ....”


“Apa?” Shalome sedikit menunduk. Berharap bisa sedikit menjauh dari wajah tampan Justin yang menguji iman.


“Saat kau berubah jadi pendiam begini ... aku semakin ingin melakukannya.”


Tok tok tok


Panik, Shalome langsung beranjak berdiri dari pangkuan Justin ketika mendengar suara ketukan pintu. Tetapi, gagal karena Justin menahannya dan menarik lengan Shalome. Akhirnya, Shalome kembali terduduk kaku di pangkuan Justin. Namun tak hanya posisi duduk keduanya yang terasa intim. Melainkan, Shalome tahu betul sesuatu yang mengeras dan menusuk bokongnya.


“Masuk.”


Tanpa beban, Justin mengizinkan masuk, siapa pun yang mengetuk pintu. Berbeda dengan Shalome yang kelabakan, celingukan kesana-sini——bingung mau sembunyi di mana.


“WAH!” kagum Charles, begitu masuk ke ruangan CEO. Dia malah disuguhi adegan romantis atasannya.


“Tutup mulutmu!” Justin meletakan kepala di bahu Shalome.


“Cepat katakan! Mau apa kau kesini?” Jengkel Justin, acara mesra-mesraannya dengan Shalome harus diintrupsi oleh Charles yang tiba-tiba datang.


Charles tak langsung mengatakan tujuannya datang menemui Justin di ruangannya. Dia malah tersenyum pada Shalome.


“Maaf, saya tidak menyapa Anda lebih awal, Nyonya Alexander,” ucap Charles sumringah.


Ibarat Justin yang tak tahu malu. Mesra-mesraan di tengah jam kerja. Selaras dengan sang sepupu yang juga tak tahu malu——menggoda Justin.

__ADS_1


“Tidak apa-apa.” Shalome juga mencoba mengikuti jejak tak tahu malu Justin dan Charles.


“Bagaimana kabar Anda.”


“Saya baik. Bagaimana dengan Anda?”


"Saya baik." Charles enjoy dengan apa pun yang tengah dia lakukan.


“Kalian akrab, ya,” sela Justin. Terselip nada ketidaksukaannya, melihat keakraban Shalome dan Charles. Karena hal itu pula, dia dicuekan Shalome.


“Tentu saja.” Charles tersenyum ramah pada Shalome. Mengabaikan tatapan tajam Justin yang terarah padanya.


“Bagaimana pun, aku harus akrab dengan orang yang tepat. Bukan begitu, Nyonya Alexander?”


“Nyonya Alexander, huh!?” dengus Justin. Tanpa melihat pun, Shalome tahu Justin tengah menatap tajam ke arah Charles.


“Kalau begitu .... Keluar!” Justin mengecup singkat pipi tirus Shalome.


“Berhenti membuang waktu Nyonya Alexander-ku.” Justin mendusel-duselkan kepala di leher jenjang Shalome.


“Ah ... tentu saja.” Bibir Charles berkedut. Mengakui betapa tak tahu malunya Justin.


“Apa?” tanya Justin setelah Charles keluar.


“Bukan apa-apa.” Shalome buru-buru menggeleng.


Justin masih betah menahan Shalome. Mau tak mau wanita itu juga mulai terbiasa dengan perlakuan Justin yang mengarah ke hal mesum. Tangan pria itu setia melingkar di pinggang rampingnya. Shalome sendiri juga sudah nyaman. Baginya, duduk di pangkuan Justin, tak ayal tidak berbeda jauh dengan saat ia duduk di sofa atau kursi.


“Good girl,” puji Justin tiba-tiba. Dia mendekat ke telinga Shalome.


“Lain kali, kamu harus bersikap lebih tak tahu malu seperti tadi. Terutama ... saat di atas ranjang,” bisik Justin sensual. Sukses membuat Shalome terdiam, tak berkata-kata——malu.


“Aku sudah tidak sabar, menanti malam tiba,” imbuhnya.


Shalome menghembuskan nafas. Sudah tidak tahu, harus bersikap bagaimana terhadap kelakuan Justin yang isi pikirannya melulu mengarah ke hal-hal mesum.


“Bagaimana kalau besok, kita menikah saja.”


“Kenapa?” Justin cemberut ucapannya diabaikan.


“Aku serius,” imbuhnya, tahu makna keterdiaman wanita cantik di pelukannya itu.


“Setelah menikah. Otomatis kita tinggal serumah. Selanjutnya, aku tidak perlu lagi menahan diri.” Benarkan, tebakan Shalome. Otak Justin hanya dipenuhi hal-hal itu saja.


💕💕💕

__ADS_1


Ace Blue Charlotte


10 November 2020


__ADS_2