RA S001 : First Sight

RA S001 : First Sight
Chapter AM


__ADS_3

Seorang pria gagah dan tampan dengan langkah kaki lebar, melangkah masuk ke sebuah mansion mewah.


“Dimana dia?” tanya pria itu dingin pada salah satu pelayan.


“Di atas, Tuan,” jawab gugup pelayan tersebut. Ciut di bawah tatapan tajam dan penuh amarah majikannya.


Tanpa mengetuk pintu, dia langsung masuk ke sebuah kamar. Dia disambut siulan riang dari pemilik kamar. Nampak suasana hatinya tengah berbunga-bunga. Berbading terbalik dengan pria tampan yang baru saja masuk.


“Mau pergi ke mana kau?” tanyanya ketika mendapati penampilan rapi sang pemilik kamar, sekaligus adik tirinya.


Sang adik tersenyum lebar. “Jangan khawatir.” Dia menepuk pelan punggung sang kakak. Mengabaikan kemarahan yang ditahan sang kakak.


“Berapa kali harus aku bilang. Jangan dekati Cucu Presdir Valkyrie!” tekan sang kakak yang menghentikan langkah sang adik.


Sang adik berbalik dan balas menatap tajam kakaknya. “Urusi urusanmu sendiri!”


Lanjutnya, “saranku ... kau pikirkan saja bagaimana cara membuat Kakak Ipar kembali padamu.”


Sang Kakak menatap sang adik, memperingatkan. Jelas dari sorot mata sang kakak. Dia tidak menyukai pembahasan tersebut. Namun sang adik tidak peduli tentang itu.


“Kemarin, aku kebetulan berpapasan dengan mereka. Dari pengamatanku .... Pilihan Kakak Ip——ups ... Maksudku mantan Kakak Ipar tidak terlalu buruk, tuh,” ejeknya.


Kini senyuman yang semula menghiasi wajah tampan sang adik, lenyap sudah. Keduanya saling melempar tatapan tajam. Tak ada yang mau mengalah.


“Sekarang kita sedang membicarakan tentang dirimu,” ucap sang kakak, kembali ke topik pembicaraan mereka yang tadi sedikit keluar jalur.


“Sampai kapan pun, ini menjadi urusanku. Selama kau menggunakan Exile sebagai nama belakangmu,” ujar sang kakak tegas.


“Oh, ya!?” Sang adik tersenyum mengejek.


“Sudah cukup sebelumnya, aku menyelesaikan semua tindakan gilamu. Jika sekali lagi kau menyinggung dia, CEO Alexander atau pun Presdir Valkyrie pasti tidak akan melepaskan kau dan perusahan.”


“Jangan berlebihan, deh!?” acuh sang adik.


“CEO Alexander? Siapa itu? Sebentar lagi dia akan menangisi dirinya sendiri. Karena lagi-lagi dicampakan tunangannya.” Sang adik tersenyum licik.


“Sudahlah, Kak!” sambungnya cepat. Sebelum sang kakak kembali bersuara yang pastinya akan membuat kepalanya pusing karena omelan sang kakak. Pria itu merapikan tatanan rambutnya.


“Aku pergi dulu. Ada kencan yang harus kuhadiri.” Dia mengecek kembali penampilannya.


“Setelah hari ini .... Jangan pria brengsek bermarga Alexander itu. Bahkan adik tampanmu ini akan menjadi pewaris Valkyrie Group's.” Pria itu tersenyum percaya diri. Lalu melangkah pergi dengan membawa seluruh kepercayaan dirinya.


“Aku harus mempertimbangkan untuk mencoret dia dari daftar anggota keluarga,” keluhnya, terselip keseriusan.


Ping


Notif pesan masuk. Tanpa suara dia membuka pesan yang baru saja masuk. Dalam diam dia membaca pesan tersebut. Seketika ekspresi wajah berubah.


Kemarahan yang jauh lebih besar dibandingkan kemarahan sebelum——kemarahan pada sang adik.


"Sialan," umpatnya. Dia yakin, adiknya pasti telah menyumpahi dirinya karena kesal diomeli.


💕💕💕


“Justin,” panggil Shalome.


Kedua tengah berbaring di ranjang sambil berpelukan dengan selimut tebal yang menutupi tubuh polos mereka.


“Ya,” jawab Justin singkat, seraya tetap asyik memainkan rambut panjang Shalome.


“Aku menginginkan sesuatu.” Shalome memiringkan tubuhnya, agar bisa melihat langsung ke arah Justin.


“Katakan saja.” Enteng Justin.


Walau bagaimana pun. Sebelumnya, dia sudah menebak  pasti ada sesuatu. Pasalnya, sejak mereka tidur untuk pertama kalinya. Mau Justin menggoda atau membujuk Shalome untuk melakukan itu. Shalome selalu konsisten menolaknya. Nah, sekarang tanpa angin dan hujan. Tiba-tiba Shalome berinisitif sendiri. Walau awalnya Justin juga yang memulainya. Intinya, di sini setiap tindakan yang Shalome lakukan pasti ada alasannya.

__ADS_1


Apa pun alasannya, Justin tidak peduli. Toh, tidak ada yang lebih penting darinya selain bisa bercinta dengan Shalome. Bagi Justin, izin Shalome besar maknanya.


“Biarkan aku mengurus pria itu.”


Justin menatap Shalome tajam. Seketika suasana hatinya berubah.


“Tidak!” tolaknya langsung.


Sampai kapan pun, Justin tidak akan membiarkan wanitanya berurusan dengan pria brengsek——orang yang berkerjasama dengan Giselle untuk menjebak Shalome. Sekaligus pria  yang dua kali hampir memperkosa Shalome. Dia adalah otak, dibalik kejadian-kejadian yang menimpa Shalome.


Shalome mengelus pipi Justin. “Setelah ini aku tidak akan meminta apa pun lagi———”


“Tidak!”


Justin beranjak duduk. “Sekali aku bilang tidak. Ya, TIDAK!” tegas Justin. Melihat Shalome ingin membantah.


Shalome ikut duduk, tangannya menjaga selimut agar tetap menutupi tubuh polosnya.


“Kenapa?” protesnya.


Shalome menatap serius Justin yang tengah dalam suasana hati buruk. “Aku tahu kamu sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk membalas dia. Tapi ....”


“Setiap malam, aku tidak bisa tidur dengan tenang.” Shalome menundukkan kepala.


“Aku ketakutan setiap kali .... Meski aku tidak menginginkannya. Aku selalu mengingatnya.”


“Ingatan-ingatan tentang senyuman, suara dan perlakuan menjijikan pria itu———”


“Sudah. Jangan dilanjutkan!” Justin memeluk Shalome erat. Dia benar-benar tidak tahan melihat Shalome menderita.


“Ma-maafkan aku.” Tubuh Shalome bergetar.


Hati Justin hancur, melihat wanita yang dia cintai ketakutan seperti ini. Justin membiarkan Shalome menyembunyikan wajahnya di pelukannya. Dia menepuk-nepuk lembut punggung Shalome. Berusaha menyalurkan perasaan nyaman dan aman.


“Justin.” Shalome mendongakkan kepala. Menatap wajah tampan prianya.


“Untuk kali ini saja,” peringat Justin tegas.


Shalome mengangguki yakin. Lalu tersenyum manis. Senyuman itu menular ke Justin.


“Tapi itu tidak gratis.” Justin mendekatkan wajahnya ke Shalome.


“Aku tahu,” lirihnya, seraya melepas pengangan tangannya pada selimut tebal yang menutupi tubuh polosnya.


Justin menatap datar Shalome. Tapi tubuh bagian selatannya, tak bisa berbohong. Shalome tersenyum kecil, melihat sesuatu yang menonjol dari balik selimut.


Shalome memulai aksinya. Tangannya bergerek pelan di bawah selimut, menuju adik kecil Justin yang sudah berdiri tegak. Mengocok benda berurat itu, sembari membiarkan tubuh polosnya terekspos di depan Justin.


Setelah dirasa pas, Shalome mulai ke posisinya. Dia duduk di pangkuan Justin. Membawa milik Justin yang besar ke dalam dirinya yang hangat dan juga sudah basah.


“Akh ....” desah keduanya berbarengan, ketika milik mereka menyatu.


“Ha ha ha .... Akh ....”


“Akh .... Shalome ....”


Desahan kedua saling bersahutan ketika Shalome dengan semangat mulai menggerakkan pinggulnya——memompa Justin. Kedua tangan Justin memegangi pinggul Shalome, membantu bergerak. Gerakan Shalome tambah cepat dan tak beraturan.


“Ah .... Ah .... Justiiinnn ini ... ahhhh,” racau Shalome.


“Akh .... Jangan digigit,” ringis Shalome saat Justin menggigit keras puncak dadanya.


Justin tak mengubrisnya. Dia tetap asyik memainkan dada Shalome menggunakan mulutnya. Kegiatan Justin di dada Shalome mempercepat wanita itu sampai ke pelepasannya.


“Akh .... Aku sudah tidak tahan lagi .... Akh ....” Shalome tumbang. Tanpa membuang waktu, Justin membalikkan posisi mereka. Menindih Shalome. Meneruskan memompa tubuh Shalome tanpa menunggu Shalome menikmati pelepasannya.

__ADS_1


“Akh .... Juuussss ....” desah panjang Shalome. Lagi-lagi Justin menggigit puncak dadanya.


“Ah .... Ah .... Ah ....”


Shalome hanya bisa mendesah pasrah di bawah kuasa Justin. Dia sudah kelelahan. Tapi sepertinya tidak dengan Justin. Meski mereka sudah melakukan beronde-ronde. Dominasi pria itu masih berlanjut, tidak memandang Shalome yang sudah terkapar pasrah di bawah tindihannya. Suara Shalome sudah habis. Bahkan untuk mendesah saja, sudah tak ada suara yang keluar.


“Jus, suudahhh .... Ah ....” Justin menyumpal mulut Shalome dengan bibirnya. Tak membiarkan kalimat protes keluar dari mulut wanita itu.


Justin menggerakkan pinggulnya kasar. Ketika dirasa, dia akan segera sampai.


“Akh ....” lenguh Justin panjang.


Shalome pasrah, saat Justin menyemprotkan cairan lengket nan hangat miliknya ke dalam rahim Shalome. Saking banyaknya, sampai mengalir ke luar. Mengotori sprai.


Justin mencium lembut puncak kepala Shalome. Lalu turun ke kedua kelopak mata Shalome yang terpejam. Tak ketinggalan hidung mancung Shalome. Kemudian yang terakhir, mengecup singkat bibir bengkak Shalome. Untuk pertama kalinya, Justin memperlakukan wanita sehangat itu.


“Tidurlah,” bisiknya lembut.


Justin menarik diri dari Shalome dan menyelimuti wanita itu sampai batas dada. Shalome yang sudah kelelahan, hanya diam. Menerima semua perlakuan hangat Justin.


Justin ikut berbaring, di sebelah Shalome. Tapi bukan Justin namanya, kalau tidak bisa mencuri kesempatan. Dengan berani dari balik selimut, pria itu mengelus area bawah perut Shalome. Shalome yang sudah kehabisan tenaga, hanya bisa pasrah dengan ulah pria tampan itu. Memilih untuk tidur, mengistirahatkan tubuhnya yang sudah digempur habis-habisan oleh Justin.


Justin tahu, Shalome sudah kelelahan. Dengan santai, mulai memasukan jarinya ke dalam milik Shalome. Tentu saja Shalome terganggu, tapi untuk membuka matanya saja dia sudah tak sanggup. Tahu tidak bisa menolak atau pun protes, Shalome memilih mendekatkan diri ke Justin. Memeluk, tapi juga tidak memeluk. Shalome mencari posisi nyaman. Dia menyembunyikan kepala di dada bidang Justin.


Justin tersenyum, melihat tindakan manja Shalome. Tak lama ia menyusul Shalome ke dunia mimpi.


Shalome berjalan pelan menuju ruangannya. Ekspresi datarnya sukses menakuti para pegawai yang kebetulan berpapasan dengannya. Semuanya salah paham, berpikiran suasana hati Shalome buruk karena masalah yang terjadi di perusahan.


*Mau aku belikan apa untuk makan siang nanti?


*Bagaimana kau daging? Menu itu cocok sebagai pengganti tenaga. Baik untuk mengatasi kelelahan~


“Akh ....” ringis Shalome.


Setiap dia bergerak, area feminim-nya akan terasa nyeri. Bahkan terasa amat nyeri, melebihi saat pertama kali mereka melakukannya. Pelaku dari penderitaan yang Shalome alami tak lain——pria yang baru saja mengirimi pesan padanya, Justin.


*Berhenti mengutukku dalam hati. Kamu tidak bisa cuma menyalahku.


Ping


*Kamu yang memulainya. Aku hanya meneruskan apa yang sudah kamu mulai.


Shalome yakin, di dunia tidak ada orang yang lebih tak malu dibandingkan Justin. “Jelas-jelas semalam, kau yang tidak melepasku,” gerutu Shalome.


Mengingat dia sudah berkali-kali memohon, meminta Justin untuk berhenti. Nyatanya, Justin tetap tak melepaskannya. Shalome bahkan tidak tahu kapan mereka berhenti. Shalome yakin, semalam Justin baru mau berhenti setelah dia pingsan atau tertidur karena kelelahan.


Tok tok tok


Terdengar suara ketukan pintu. Ekspresi jengkel Shalome berganti dengan senyuman licik.


“Waktunya balas dendam,” ujarnya.


Shalome menatap datar, tersangka lain. Pria yang juga menjadi penyebab dirinya tidak bisa berjalan normal untuk beberapa hari ke depan.


“Selamat datang, Tuan ... Ash Exile.” Muncul seorang pria tampan——Direktur Senior A Exile Company.


💕💕💕


. . . END . . .


💕💕💕


Ace Blue Charlotte


13 November 2020

__ADS_1


__ADS_2