
“Apa perlu sampai kau mengikutiku sampai kesini?” ucap Shalome saat mobil yang dia tumpangi berhenti di tempat tujuan.
Keduanya sudah berada di tempat janjian. Shalome menatap bangunan megah di depannya. Setelah itu beralih melihat Monica.
“Saya tidak tahu apa pun,” kilah cepat Monica.
“Anda tidak mempercayai saya!? Sungguh, saya tidak mengetahui apa pun.” Monica berusaha meyakinkan Shalome. Kalau kali ini dia tidak turut ikut campur.
Shalome menghela nafas. Dia keluar dari mobil disusul Monica. Dia langsung disambut manager hotel.
“Selamat malam, Nona Valkyrie, perkenalan saya Manager J.A Hotel,” sapa ramah manager tersebut.
“Mari, saya akan mengantar ke meja Anda. Beliau sudah menunggu Anda di sana.” Dia mempersilahkan Shalome masuk.
Meski masih kesal. Shalome tetap melangkah masuk. Dia beranggapan hanya orang aneh yang mengajak orang asing, janjian makan malam di sebuah hotel. Walaupun Shalome tidak berpikiran kolot. Tapi dari sekian banyak restoran yang ada kenapa harus di hotel, sih. Ya, di hotel pun masih ada restoran sih. Apalagi untuk ukuran J.A Hotel yang kualitas pelayanannya sudah tak perlu diragukan lagi.
“Apa Presdir yang memilih tempatnya?” Sampai sekarang Shalome masih memanggil Sonny, presdir. Entah kapan panggilan Shalome pada Sonny akan normal seperti biasanya.
“Saya tidak tahu, Nona,” jawab Monica jujur.
“Benar, 'kah. Bukannya kamu masih bekerja untuknya. Selama kamu tetap menjadi asisten pribadiku. Bagaimana bisa kamu tidak mengetahui banyak hal? Apalagi itu hanya masalah sepele.”
Mereka hampir sampai. Bahkan sudah ada seorang pegawai hotel yang stand by di depan pintu.
“Sepertinya, aku harus mempertimbangkan lagi mencari asisten baru,” imbuh Shalome sebelum masuk ke restoran. Monica benar-benar berharap hubungan di antara keduanya, Shalome dan Sonny akan segera membaik. Atau dia tidak akan bertahan lebih lama dari ini.
__ADS_1
Shalome mengedarkan pandangan ke seluruh restoran. Kosong, di sana tidak ada pelanggan lain. Selanjutnya Shalome dibimbing untuk semakin melangkah masuk. Sampai akhirnya dia sampai di bagian lain dari restoran. Di depannya ada sebuah pintu lain. Pintu yang jauh lebih mewah dari pintu sebelumnya.
Jika tadi di pintu pertama dia bisa melihat ke dalam restoran. Karena restoran sebelumnya dikelilingi kaca bening. Berbeda dengan sekarang. Selain pintunya memiliki akses kode khusus. Shalome juga tidak bisa melihat ke dalam restoran, barang sedikit pun. Lebih privasi dari restoran sebelumnya.
Pria yang merupakan manager hotel, maju dan menekan kode untuk akses masuk. Setelah terdengar bunyi 'klik', dia membuka pintunya. “Silahkan masuk.”
“Tapi Anda hanya bisa masuk sendirian,” imbuh sang manager sebelum Shalome masuk.
“Pegawai kami akan melayani asisten Anda.” Shalome mengangguk, melangkah masuk seorang diri.
Lagi-lagi kosong. Tak ada orang, selain Shalome. Dekorasinya jauh lebih mewah dari bagian restoran sebelumnya. Jumlah mejanya juga hanya ada sedikit. Bisa dihitung dengan jari tangan.
Koreksi, di sana sudah ada orang lain. Seorang pria yang duduk membelakangi Shalome di meja dekat jendela. Tanpa pikir panjang Shalome mendekati pria tersebut. Dia ingat ucapan manager hotel yang tadi mengantarnya. Orang yang janjian makan malam dengannya sudah menunggunya.
Shalome berhenti di depan pria itu. Baru saja Shalome ingin bersuara ....
“Saya pikir, Anda akan kembali tidak datang.” Tiba-tiba pria itu berdiri, dengan gentle dia menarikan kursi untuk Shalome yang masih terdiam di tempat.
“Anda pasti lelah sudah bekerja seharian dan langsung disuruh datang kemari.” Pria itu tersenyum ramah ke arah Shalome.
Diperlakukan dengan sopan dan ramah, mau tak mau Shalome juga harus ikut menyesuaikan diri. “Anda terlalu berlebihan, Tuan Alexander,” ucap Shalome setelah duduk.
Shalome menghela nafas karena Justin hanya tersenyum. “Tuan Ale———”
“Justin.”
__ADS_1
“Maaf?”
“Panggil saja, Justin. Tuan Alexander, aku tidak setua itu,” jelas Justin masih setia tersenyum. Meski wanita di depannya terlihat sangat enggan.
“Saya juga berharap. Anda mengizinkan saya untuk memanggil nama depan Anda,” ucap Justin tanpa beban.
“Tapi———”
“Cukup Justin!” Lagi-lagi Justin memotong ucapan Shalome.
Shalome tidak bisa marah karena Justin terus tersenyum padanya. Tapi itulah yang membuat Shalome kesal.
“Lagi pula kita juga seumuran.” Justin tersenyum menang.
“Tunggu! Sebelum kita mulai makan,” cegah Shalome saat Justin mengangkat tangannya. Memberi kode ke pelayan restoran, meminta daftar menu.
“Apa Anda bisa menjelaskan situasi kita ini?” Justin mengernyit.
“Dari yang saya tahu. Presdir Valkyrie seharusnya juga ikut makan malam bersama kita di sini, sekarang. Tapi kenapa hanya ada kita berdua?” tekan Shalome pada bagian kita berdua.
“Tidak alasan khusus.”
💕💕💕
Ace Blue Charlotte
__ADS_1
16 September 2020