
Tak jauh dari tempat Shalome berdiri, Giselle sedang menuangkan anggur ke dalam dua gelas yang sejak kedatangan mereka sudah terletak di meja.
“Anda masih berhubungan dengannya?” Shalome diam, membiarkan bunyi anggur yang tengah dituang ke dalam gelas mengisi kesunyian diantara mereka.
“Diluar perkiraan, ternyata hubungan Anda dan Justin lebih harmonis dari kelihatannya.” Giselle berjalan mendekati Shalome sambil membawa dua gelas yang sebelumnya sudah dia isi anggur di kedua tangannya.
Shalome mengernyitkan alisnya. Bingung dengan tujuan wanita dihadapannya. Sebelumnya Giselle memanggil Justin dengan 'nya'. Sekarang memanggil nama depan Justin. Walaupun mereka pernah bertunangan, tetap saja apa yang sedang Giselle lakukan tidak lazim. Apalagi kalau menyangkut status keduanya.
Orang lain yang melihat, pasti akan salah paham. Itu semua pasti disangkut-pautkan dengan Justin. Mereka akan berpikiran kalau Shalome, kekasih Justin sedang ditindas Giselle yang merupakan mantan tunangan Justin sebelumnya. Alasannya karena api asmara diantara keduanya masih belum padam. Drama Memang. Tetapi itulah kenyataannya——fakta pola pikir sempit orang-orang zaman sekarang.
“Tetap saja .... Apa yang terlihat di mata itu, tak selalu sesuai kenyataan yang ada.” Giselle menyodorkan salah satu gelas yang dia bawa ke arah Shalome.
Shalome tidak langsung menerima gelas tersebut. Lagi-lagi hanya ada kesunyian.
Giselle yang sudah sempat mencari tahu tentang Shalome. Nampak tenang-tenang saja. Tidak terkejut dengan sikap dingin mau pun tembok yang Shalome bangun. Sejak awal Giselle sudah tahu. Kalau Shalome itu tidak mudah didekati. Giselle diam-diam tersenyum, merasa puas dengan respon dingin yang Shalome berikan padanya.
“Kenapa?”
Bibir Shalome terkantup rapat. Menolak mengatakan alasannya.
Giselle tidak menyerah, dia tetap menyodorkan gelas berisi anggur ke arah Shalome. “Anda takut saya menaruh sesuatu di dalam gelasnya?” kelakar Giselle. Shalome diam, tidak menyangkal lalu ....
“Hahaha .... Anda lucu sekali.” Menyadari raut wajah Shalome yang serius. “Maaf-maaf .... Saya hanya berpikir Anda lucu saja.” Giselle berusaha berhenti tertawa. Kendati sudah berusaha, ekspresi kaku Giselle yang menahan tawa jelas terlihat.
“Kalau pun, saya memang benar menaruh sesuatu. Pasti saya hanya menuang ke dalam satu gelas saja. Memang apa yang bisa saya lakukan pada Anda dengan keberadaan bodyguard Anda di sini,” urai Giselle, sudah bisa mengendalikan dirinya dari menertawakan Shalome.
“Lalu ... saya tidak memiliki banyak nyawa. Sampai mau mempertaruhkan satu-satunya nyawa yang saya miliki. Toh, saya tidak mempunyai apa pun untuk berurusan dengan Valkyrie Group's.”
Giselle memiringkan kepalanya. “Apalagi dengan dukungan Alexander Corporation's di belakang Anda. Kesempatan untuk mencelai Anda sudah tertutup jauh sebelum saya sempat berpikir ke arah sana.”
Tak ada sesuatu yang bisa disebut mencurigakan, baik itu perilaku, tatapan mau pun raut muka Giselle. Malah senyuman yang tercetak di wajah cantik Giselle, menangkis semua pemikiran buruk Shalome akan dirinya. Akan tetapi, ada semacam firasat yang memperingatkan Shalome untuk tetap waspada terhadap wanita cantik itu. Meski begitu, pada akhirnya Shalome tetap menerima gelas pemberian Giselle.
“Enak, 'kan!? Saya secara khusus menyiapkan anggur ini untuk Anda, seorang,” ujar Giselle bangga.
__ADS_1
Shalome melihat Giselle dengan tenangnya meminum anggur dari gelasnya dan tidak terjadi apa pun. Bahkan setelah menunggu beberapa saat masih tidak terjadi sesuatu padanya. Dengan ragu, Shalome ikut meneguk anggur tersebut. Diam-diam, Giselle mengamati tindakan Shalome dan tersenyum puas di balik gelasnya.
“Iya. Terima kasih.”
Shalome menangkap makna lain dari kata 'seorang' yang Giselle katakan. Seolah-olah kata itu memang ditunjukan khusus untuk Shalome. Atau masih ada maksud lain. Shalome benar-benar berpikir harus cepat-cepat menyelesaikan urusannya dengan Giselle. Entah masalah macam apa yang mungkin bisa menimpa dirinya bila berurusan dengan Giselle lebih lama lagi.
“Apa Anda akan terus bersikap dingin pada saya. Sekali pun saya bilang ....” Giselle berjalan menjauhi Shalome.
Shalome diam, menanti kelanjutan kalimat dari Giselle. “Saya memiliki sesuatu yang Anda cari.” Giselle mengisi ulang gelasnya. “Informasi tentang mendiang Wakil Presdir Valkyrie,” imbuhnya.
“Apa maksudmu!?” geram Shalome tanpa sadar.
“Saya yakin Anda tahu betul maksud saya.” Giselle tetap tersenyum, mengabaikan aura permusuhan dari Shalome.
“Apa yang kau inginkan?” Shalome mencengkeram kuat gelas anggurnya.
“Ini baru Nona Muda Valkyrie yang saya tahu.”
Shalome benar-benar muak dengan suara tawa dan senyuman palsu Giselle. Di mata orang lain pasti suara tawa Giselle terdengar lembut dan merdu. Juga senyumannya yang terlihat ramah tak nampak sedikit pun menyembunyikan niat buruk.
“Hahaha .... Anda bisa tenang tentang itu. Sepertinya yang sudah saya katakan sebelumnya. Saya tidak memiliki pikiran atau pun kekuatan untuk berperang dengan Anda.” Lagi-lagi Giselle tersenyum bisnis.
“Jadi .... ” Shalome meletakan kasar gelasnya. “Mari kita mulai bisnisnya. Berapa harga yang kau inginkan?” ucap Shalome langsung ke pokok pembicaraan. Dia juga sudah tidak menggunakan melupakan bahasa formal. Giselle tersenyum lebar. Setuju untuk segera menyelesaikan transaksi mereka.
“Bagaimana menurutmu?” tanya Shalome. Tidak mendapat jawaban atas pertanyaannya, Shalome mengalihkan tatapannya pada Derk. Karena Giselle sudah pergi beberapa saat lalu dan hanya menyisakan Shalome bersama sang pengawal.
“Aku yakin kau juga sepemikiran denganku.” Shalome berjalan ke arah meja dan menuang anggur ke dalam gelas.
“Tetapi, cukup mengagetkan juga.” Shalome meneguk anggurnya. “Sebagai orang yang berkerja di dekat Grandpa. Kau juga tidak mengetahuinya,” imbuhnya.
Derk kaku. Bibirnya sempat terbuka, seperti ada yang mau dia katakan. Tapi tak berlangsung lama. Derk kembali menutup rapat bibirnya. Ekspresi terkejut dan ragu Derk yang sempat Shalome tangkap, sudah hilang tak berbekas. Tergantikan ekspresi datar yang selalu dia perlihatkan.
“Kalau tidak mau aku mengetahui isi kepalamu. Berhenti, 'lah sok cuek! Bahasa tubuhmu mengatakan segalanya.” Shalome menegak anggur untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
Derk menatap Shalome yang sedang menikmati anggurnya. Dia kagum akan ketelitian cucu majikannya. Alasan Shalome bisa menebak dengan tepat kalau Derk tidak mengetahui apa yang mau Giselle tunjukan. Wajah Derk tadi terkejut ketika Giselle menyebut ayah Shalome. Derk terseyuman, dia mengakui kecerobohannya.
“Keputusanmu tetap sama,” celetuk Shalome setelah keheningan panjang diantara mereka.
“Sekarang aku ragu .... Apa, 'kah aku boleh membiarkanmu begitu saja atau aku harus melakukan sesuatu untuk menutup mulutmu?” Masih tak ada komentar dari orang yang bersangkutan.
“Hah!?” Shalome menghela nafas. “Memang apa yang bisa aku harapkan darimu,” celetuknya.
💕💕💕
“Sudah ketemu?”
“Kalian?” Para pria yang bertugas sebagai bodyguard Shalome hanya bisa menggeleng pasrah. Terdiam, sadar atas kelalaian mereka.
“Sekarang bagaimana?” Charles menatap Justin.
Sejak tadi pria itu terus diam. Tetapi Charles tahu kalau Justin sedang menahan amarahnya agar tidak meledak. Di sini, Charles juga berusaha supaya Justin tidak meledak atau entah apa yang bisa pria itu perbuat dalam kemarahan yang bahkan sudah terlihat jelas dari tatapannya.
“Memang apalagi. Geledah semuanya! Cari Shalome sampai ketemu!” Suara Justin terdengar sangat dingin. Mengisaratkan siapa pun yang nekad mencari perkara denganya akan habis ditangannya. Charles dan para bodyguard dibuat bergedik ngeri.
Justin menatap para bawahannya. “Jangan berhenti mencari sebelum Shalome ditemukan!” titah Justin mutlak.
“Kalian pasti tahu apa yang menanti kalian, jika Shalome tidak segera ditemukan.” Ucapan terakhir Justin sukses meneror para bodyguard. Di tengah ketakutan mereka dengan cepat semuanya menyebar, mencari Shalome.
“Huh ....” Charles menghembuskan nafas lewat mulut. Dia ingin menenangkan, tidak——memastikan Justin tetap tenang. Tetapi, dia juga takut nyawanya melayang karena mengusik Justin yang tengah dilingkupi api kemarahan. Demi Kenyamanan bersama, Charles memilih tidak melakukan apa pun.
“Mau kemana?” tanya Charles reflek agak kencang, ketika Justin melangkah pergi.
“Mencari Shalome.”
💕💕💕
Ace Blue Charlotte
__ADS_1
28 Oktober 2020