
Di dalam hati, Berkali-kali Shalome merutuki kebodohannya. Lagi-lagi dia dijebak. Itu pun dengan trik murahan yang sama. Untung saja kali ini, dia bisa menyadari lebih awal kalau ada yang salah dengan tubuhnya. Setelah dua kali berada di bawah pengaruh obat perangsang. Sekarang untuk ketiga kalinya. Shalome sudah bisa mengatasinya.
Ia bertekad. Ini terakhir kalinya, dia dibodohi orang dengan dijebak menggunakan obat perangsang yang diam-diam ditambahkan ke dalam minumannya. Dia tidak mengira, keputusan datang ke pesta salah seorang konglomerat kenalannya akan membawa masalah padanya.
Sesuai malam ini, Shalome akan membalas dua kali lipat siapa pun orang yang sudah berani melakukan hal murahan tersebut padanya. Namun prioritas Shalome sekarang adalah mencari tempat persembunyian yang aman.
Shalome kembali ke kamarnya dengan peluh bercucuran. Wanita itu berpikiran dia akan lebih aman bila sudah berada di kamarnya. Sial, bagi Shalome. Di lift, dia justru malah harus berhadapan dengan seorang pria brengsek. Untungnya dia berhasil melarikan diri dan sekarang dia hanya tinggal mencari nomor kamarnya.
Justin menatap murka layar handphonenya. “Cari keberadaan Shalome!” perintah dingin dan tegas Justin pada orangnya di balik telepon.
Beberapa menit kemudian, sebuah pesan ia terima dari salah satu bawahannya. Justin langsung pergi dari ballroom. Mengabaikan sapaan atau pun orang-orang yang mencoba untuk berbicara dengannya.
Di area dalam hotel yang sepi. Shalome berjuang kembali ke kamarnya, Secepat yang dia bisa. Ketika Shalome bersiap membuka pintu kamarnya. Tubuh Shalome menegang, tiba-tiba seorang pria, memeluk dia dari belakang. Shalome melepas dekapan posesif pria yang tak dikenalnya, lalu berbalik.
“Justin?”
“Ya.” Justin mengecup leher belakang Shalome.
“Ini aku. Memang siapa yang kau harapkan?” desis dingin Justin.
Shalome tak menjawab pertanyaan berselip sindiran Justin. Ia sibuk menjaga kewarasannya. Tetap menjaga martabatnya sebagai seorang wanita terhormat. Agar tak lepas kendali, hingga melakukan sesuatu yang akan memalukan dirinya di masa depan.
“Ada apa denganmu?” Justin membalikan badan Shalome dan memegang kedua bahu Shalome. Menyadari ada yang salah dengan wanita cantik itu.
“Sial,” umpat Justin. Sadar penyebab, peluh yang membanjiri wajah cantik wanitanya. Juga gerak tubuh Shalome yang tidak normal. Seolah tubuhnya tidak dikendalikan olehnya.
Sebelum Shalome berbuat lebih parah lagi. Justin sudah duluan membuka pintu kamar Shalome dan menariknya ke dalam. Dia tidak ingin sampai ada pria lain mendapati Shalome dalam keadaan setengah sadar di bawah pengaruh obat perangsang.
“Justin,” lirih Shalome sesaat setelah keduanya berada di dalam.
Shalome menatap sayu Justin. Dia menggigit bibir bawahnya, menahan sesuatu yang bergejolak dalam dirinya ketika melihat sosok tampan Justin.
“Justin,” panggil Shalome lagi. Justin tak merespon panggilan itu. Dia hanya menatap Shalome tajam.
Kehilangan kesabaran. Tanpa peringatan, Shalome melepas pegangan Justin pada lengannya. Lalu menyusuri lengan kekar Justin yang masih dibalut setelan mahal dengan gerakan sensual. Nafas Shalome memburu, arah pandangannya mengikuti gerak tangannya yang bergerak dari lengan bawah Justin. Hingga sampai bahu lebar pria itu.
Untuk sesaat Shalome mendongak, melihat reaksi Justin. Jari lentik Shalome bergerak membentuk lingkaran abstrak di dada bidang Justin. Tanpa Shalome sadari, sejak tadi dalam diam Justin memperhatikan semua tindakannya. Shalome tak berhenti. Tangannya terus bergerak. Dari luar pakaian Justin yang masih menempelkan dengan sempurna. Shalome dengan tak tahu malu, membelai perut six-pack Justin. Tujuan Shalome berlanjut pada sesuatu yang berada diantara paha Justin.
__ADS_1
“Cukup!” Justin mencekal tangan Shalome. Tepat sebelum Shalome menyentuh sesuatu yang tidak seharusnya dia usik.
“Hentikan!”
Bukannya takut. Shalome malah menatap Justin dengan berani.
“Justin ....” Tanpa sadar Shalome menyebut nama Justin dengan nada yang tak seharusnya——nada mengundang.
Justin mendorong tubuh Shalome ke dinding. Dia menahan tubuh mungil Shalome dan langsung mencium bibir sensual Shalome tanpa ampun. Bahkan dia juga tak segan menggerayangi tubuh indah yang selama ini terus dia impikan.
Shalome terjebak di antara dinding dan tubuh kekar Justin. Dia tengah berperang dengan dirinya sendiri. Di satu sisi dia menikamati perlakuan Justin. Di sisi lain, Shalome tahu mereka mengarah ke jalan yang salah. Walaupun Shalome sudah mendorong sekuat tenaga. Tubuh Justin tak bergeming sedikit pun.
“Emmm ....”
“Gadis nakal.” Justin mengendus liar leher jenjang Shalome. Menghirup kuat-kuat aroma sensual Shalome. Tidak pernah ada bosannya Justin menikmati aroma tubuh Shalome yang selalu sukses membangunkan hasratnya.
Nafas Shalome tercekat. Pikirannya kosong, dia tak bisa melakukan apa pun pada hembusan nafas hangat Justin yang menyapu kulitnya. Menggelitik dan menggoda setiap pori di dalam tubuhnya.
“Aku harus menghukum gadis pembangkang sepertimu,” bisik Justin sensual. Dia menjilat cuping telinga Shalome.
“Tidak,” tolak tegas Shalome.
“Kira-kira, hukuman apa yang cocok untukmu.” Sebelum Shalome bersuara, Justin sudah keburu menghisap kuat leher jenjangnya. Membuat Shalome melenguh panjang. Lalu mengecup sana-sini leher Shalome. Lama kelamaan kecupan itu berubah menjadi kecupan basah dan sesekali Justin menggigit kulit lehernya. Meninggalkan tanda kepemilikan yang akan berbekas.
Antara nikmat dan tersiksa, tangan Shalome terulur dan meremas acak rambut hitam Justin. Melampiaskan segala perasaan campur aduk yang dia rasakan. Dihadapkan harus tetap mengedapkan rasionalitas yang dia banggakan atau menuruti kebutuhan biologisnya yang sudah berada di ujung tanduk.
“Justin.” Kepala Shalome mendongak ke atas. Memberikan akses bagi lidah hangat nan lembut milik Justin menelusuri leher putihnya yang kini sudah dihiasi banyak tanda cinta dari Justin.
Nafas keduanya memburu. Tetapi tatapan Justin terlihat lebih bernafsu, sedangkan Shalome berusaha menetralkan nafasnya. Kepalanya sedikit pening.
“Kau hanya bisa menjadi milikku,” klaim Justin. Shalome terkekeh, berpikir sifat arogansi pria tampan itu seperti sudah mendarah daging.
Entah kenapa, dia amat marah ketika ingatannya kembali pada foto Shalome tengah bermesraan dengan seorang pria. Tidak hanya satu foto. Pengirim anonim itu mengirimi beberapa foto. Bahkan juga ada videonya. Seolah-olah, pengirim anonim itu berada di tkp ketika peristiwa tersebut terjadi.
Shalome sedikit mendorong dada Justin. “Benarkah?” tanya Shalome polos. Tanpa disadari, Justin salah menafsirkan pertanyaan polos Shalome tersebut.
“Jangan memancingku,” desis rendah Justin. Dia menggeram, mengira Shalome tengah menggodanya.
__ADS_1
Shalome mencari udara untuk mengisi stock oksigen yang sudah menipis di paru-parunya. Sembari mengembalikan akal sehatnya. Sadar akan hal itu. Justin langsung menarik tengkuk Shalome. Kembali merangsang wanita itu.
Shalome yang tidak ingin Justin bertindak lebih jauh, berusaha melawan. Sekuat tenaga mendorong Justin menjauh darinya. Tetapi, tenaga tak sebanding dengan Justin. Pria itu jauh lebih kuat darinya. Sibuk meloloskan diri dari kungkungan Justin. Tanpa dia sadari. Dirinya digiring ke arah ranjang.
BRUKK
Kaki Shalome terhalang sisi ranjang. Keduanya jatuh ke ranjang dengan Justin menindih Shalome.
“Akh ....” pekik Shalome tertahan.
Selesai sudah. Posisi tersebut tak menguntungkan Shalome. Dia hanya bisa berbaring pasrah di bawah kuasa Justin.
Tatapan Justin berkabut, gairah. Pria itu sudah sepenuhnya dikendalikan oleh nafsu.
“Akan ku tunjukan ... sehebat apa kemampuanku,” sindir Justin. Shalome yang tidak mengerti hanya bisa diam.
“Akhhh."
“Ku jamin, pasti kau menyukainya.”
Shalome pasrah, tubuhnya menerima setiap buaian Justin. Shalome tak menampik lagi, fakta bahwa dirinya menginginkan lebih dari pria tampan itu. Intinya juga sudah basah. Berteriak, memohon dipuaskan.
“Akh ... Justin,” mohon Shalome tak sabaran.
Dalam hitungan kurang dari semenit, Justin sudah berhasil melucuti semua kain yang menutupi tubuh Shalome. Justin sejenak menyusuri tubuh Shalome yang tak tertutupi sehelai benang pun. Semakin dilihat, hasratnya semakin memuncah tak terkendali. Tubuh polos Shalome yang dihiasi tanda kepemilikan di sana-sini, membangunkan sisi liarnya.
“Malam ini, kau akan jadi milikku sepenuhnya,” bisik Justin sensual di samping telinga Shalome.
Justin tertenggun, saat miliknya merasakan sesuatu menghalanginya. Tanpa pikir panjang, dia mendorong miliknya lebih kuat lagi. Sampai akhirnya, dia merobek sesuatu di dalam sana.
“Sampai kapan kau akan menatapku?” ringis Shalome karena Justin, sesaat setelah memasukinya. Malah terdiam dengan bodohnya. Tak kunjung bergerak.
Bukannya lekas bergerak. Justin malah dengan polosnya, menatap wajah kesakitan Shalome dan mengedipkan kedua matanya. Namun tak berlangsung lama. Nafsunya kembali mendominasi. Dengan bangganya, Justin memompa Shalome tanpa mengontrol besar tenaga yang dia pakai. Ringisan dan ekspresi kesakitan Shalome seolah-olah tak terlihat di matanya. Satu-satunya hal yang otaknya tangkap adalah ... dia menjadi yang pertama bagi Shalome.
Malam itu, Justin benar-benar memakan Shalome sampai tak bersisa. Sekali pria itu beraksi, dia baru melepaskan Shalome saat terbit fajar.
💕💕💕
__ADS_1
Ace Blue Charlotte
03 November 2020