Rahasia Menantu Culun

Rahasia Menantu Culun
Rahasia Menantu Culun Bab 29


__ADS_3

Rahasia Menantu Culun Bab 29


Setelah menceritakan semua keluh kesahnya pada sang Mommy, kemudian Syasi tiba-tiba menitihkan air mata. Hingga membuat Brenda mengerutkan kening.


"Mom tau nggak, sekarang suamiku Rifki kini telah mengejar-ngejar wanita pembawa sial itu, bahkan kemarin dia sampai mencampakkan diriku karena lebih memilih Citra," adu Syasi sembari berlinang air mata.


Brenda yang sejak tadi diam membisu mendengarkan keluh kesah anaknya, kini dia tiba-tiba berdiri sembari menggebrak meja.


Brak...


Darahnya mendidih seketika, kala mendengar Rifki lebih memilih Citra dari pada anaknya.


"Apa yang kau katakan itu benar nak?" teriaknya dengan marah.


Syasi yang sedang menangis sesenggukan, kini dia hanya mampu menganggukkan kepala.


Sedangkan Brenda, hatinya semakin bergemuruh marah saat melihat anak kesayangannya menangis sesenggukan.


Lalu dia berjanji dalam hati untuk membalaskan semua sakit hati anaknya terhadap Citra.


"Tunggu pembalasanku," batinnya kemudian.


******


Rifki yang sudah kembali dari Bali, kini dirinya tidak pulang ke Mansion keluarganya, karena ia lebih memilih tinggal di Apartemen untuk menenangkan diri.


Lalu memikirkan cara bagaimana dia harus memperbaiki hubungannya dengan Citra.


Namun ketika dia hendak memejamkan mata, tiba-tiba ponselnya yang berada di atas nakas berdering. Dan baru saja dia menggeser tombol hijau itu ke atas, terdengar suara Mommynya yang begitu memekakkan telinga.


"Mom, kalau bicara sama anak itu volumenya dikecilin dikit napa?" ujar Rifki terdengar kesal.


Namun, bukannya mengecilkan suaranya Siska malah semakin mengencangkan volume suaranya.


"Bagaimana Mom tidak kesal dan marah, mantan istri mandul mu sedang berada di rumah dan saat ini dia sedang membawa surat cerai untuk segera kamu tanda tangani," ucap Siska menggebu.

__ADS_1


Rifki terhenyak mendengar ucapan sang Mommy, kemudian dia bangkit dari tempat tidur dengan tergesa.


"Pokoknya Mom tidak mau tau, kau harus sampai rumah dalam waktu lima menit," ujar Siska lalu dia memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak.


Rifki yang masih dalam mode terkejut, karena tidak menyangka Citra akan kembali mengajukan cerai terhadap dirinya, padahal selama ini dia sudah berusaha untuk mempertahankan rumah tangganya dengan Citra.


Bahkan dia sampai menyusul Citra ke Bali untuk meminta maaf atas perlakuan kasarnya selama ini terhadap Citra.


Namun ternyata, usahanya itu hanya sia-sia belaka, karena sekarang Citra sendiri yang membawa surat cerai itu kepadanya langsung.


"Apa yang harus aku lakukan? apakah aku harus melepas Citra? tapi itu tidak mungkin, karena aku sangat mencintainya, Ya… Tuhan, kenapa aku baru menyadari kalau ternyata diriku sangat mencintai Citra? padahal aku sudah menjalin hubungan dengannya selama dua tahun," batin Rifki berkecamuk, kemudian Rifki keluar dari Apartemen dan langsung tancap gas menuju rumahnya.


****


Siska menatap penampilan menantunya Citra dari atas sampai bawah, dan dia tidak menyangka kalau Citra yang dulu ia kenal kini sudah berubah bak bidadari yang turun dari kayangan.


"Cantik, tapi sayang dia mandul." batin Siska menghakimi menantunya itu secara sepihak. Sebab, dia tidak tau kalau selama ini Rifki tidak pernah sekalipun menyentuh Citra. Bagaimana bisa hamil?


Sedangkan Citra, Ia menatap ibu mertuanya itu dengan dingin. Bahkan Ia enggan untuk melihat wajah mertuanya. Karena dia masih trauma dengan penyiksaan yang dialami selama dua tahun. Dan kalau mengingat hal itu semua ingin rasanya dia meluluh lantahkan semua bisnis keluarga Bagaskara, agar merasakan penderitaan seperti yang dia alami selama dua tahun.


Huph….


Citra menarik nafas dalam, karena sudah hampir satu jam dia duduk diruang tamu menunggu kedatangan Rifki.


Namun, sampai sekarang laki-laki yang dulu sangat dia cintai belum juga menampakkan diri.


"Apa dia sengaja menghindar dari ku," batin Citra kemudian dia berdiri sambil meraih berkas surat cerai itu dari atas meja, lalu dia memasukkannya ke dalam tas.


"Robin ayo kita pergi dari sini, aku rasa nyonya Siska sengaja menyembunyikan anaknya dari ku, agar bisa menunda perceraian antara aku dan Rifki," ujar Citra lalu dia berjalan menuju pintu.


Sedangkan Siska yang mendengar ucapan Citra barusan, dia hanya tersenyum masam tanpa mampu mengucapkan sepatah katapun.


Namun baru saja Citra melangkah, tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti tepat di depan halaman.


Siska yang mengetahui kalau itu adalah Rifki, seketika dia berlari untuk mendahului Citra.

__ADS_1


"Rifki anakku sayang," panggil Siska kemudian dia memeluk anaknya, sambil menuntun Rifki masuk ke dalam rumah.


Sesampainya di dalam rumah, tepatnya di ruang tamu Rifki seketika menghentikan langkah kakinya. Sebab, Rifki sangat begitu terpukau dengan kecantikan Citra saat ini. Bahkan, bola matanya tidak berkedip menatap wanita yang dia sia-siakan dulu.


"Oh... Tuhan, kenapa rasa cinta ini datang disaat hubungan diantara kami berdua sudah merenggang," batin Rifki sambil memegang dada bidangnya yang tidak berhenti berdetak.


"Mas, aku kesini datang untuk memintamu menandatangani surat cerai ini. Sebab, aku tidak mau menggantung hubungan kita terlalu lama lagi," ujar Citra lalu dia menyodorkan berkas itu pada Rifki.


Rifki tak mampu berucap bareng sepatah katapun, dia hanya meraih berkas yang diserahkan oleh Citra dengan tangan bergetar.


Melihat hal itu, Siska langsung mengambil berkas dari tangan Rifki. Dan meminta anaknya agar segera menandatangani surat cerai itu.


"Rifki, apa lagi yang kau tunggu, cepat tanda tangani surat cerai ini," pinta Siska sambil menyodorkan kembali surat cerai itu lengkap dengan penanya.


Lagi-lagi Rifki terdiam, lalu dia melangkah mendekat kearah Citra.


"Citra, maafkan aku, tidak bisakah kamu memberikan kesempatan satu kali lagi pada mas, dan aku akan berusaha memperbaiki hubungan kita," ujar Rifki lalu dia berusaha meraih tangan Citra.


Citra menepis tangan Rifki, lalu dia menggelengkan kepala dengan cepat.


Melihat reaksi Citra, kemudian Rifki menunduk, lalu dia berusaha menghirup oksigen di ruangan itu dengan paksa.


Sakit, itulah yang dirasakan oleh Rifki, ternyata mencintai seseorang itu begitu menyakitkan, apalagi tidak berbalas seperti ini.


Ingin rasanya dia berteriak menangis menumpahkan segala lara yang bersemayam di lubuk hati , tapi sebagai seorang laki-laki Rifki tidak mungkin melakukan hal itu, karena dirinya tidak ingin terlihat lemah.


"Mas cepatlah tanda tangani surat cerai kita, agar aku bisa terbebas dari hubungan yang tidak di dasari oleh cinta ini, dan aku juga sudah menekankan bahwa aku tidak ingin memberi ruang untuk memperbaiki hubungan kita sedikitpun," jelas Citra.


Rifki menutup mata perlahan, karena tidak kuat mendengar apa yang diucapkan oleh Citra barusan.


Dirinya yang berusaha mati-matian mempertahankan hubungan dengan Citra, ternyata tidak berbalas. Dan tiba-tiba Rifki merasakan ruangan itu gelap dan lama-kelamaan semakin gelap.


Brak…


Tubuh kekar Rifki tiba-tiba tersungkur ke lantai.

__ADS_1


__ADS_2