
Rahasia Menantu Culun Bab 61
Namun, disaat Rosa Hafiq hendak berjalan. Tiba-tiba pelayan menghentikan langkahnya sambil mengatakan bahwa Rosa Hafiq tidak perlu repot membuka pintu, biarkan ia saja yang membuka pintunya.
"Baiklah, silahkan," ujar Rosa Hafiq, kemudian dia kembali duduk pada kursi.
Pelayan itu pun melangkah perlahan menuju pintu, kemudian membukanya.
Namun, betapa terhenyaknya beliau saat melihat Angga sedang bersama seorang perempuan, bahkan mereka berdua saling bergandengan tangan. Dan tersenyum manis ke arahnya.
Pelayan yang menyaksikan hal itu, bola matanya melotot, bahkan hampir keluar dari sarang, saat melihat pemandangan yang tidak biasa itu.
Angga tersenyum tipis, saat melihat keterkejutan pelayannya, lalu dia pun menanyakan keberadaan ibunya.
"Ibu ada Bi?" tanya Angga.
"A-ada, T-tuan muda. Silahkan masuk," ucap pelayan itu sambil terbata.
Angga dan Citra pun masuk, lalu mereka berdua berjalan beriringan menuju ruang tamu.
Rosa Hafiq yang sedang berbincang dengan santai bersama dengan keluarga Dila. Seketika ia berdiri dari sofa, lalu mengarahkan pandangan mematikannya pada Angga yang sedang berjalan menuju kearahnya bersama seorang perempuan.
Sedangkan Angga yang melihat ke marahan di mata ibunya, ia pun berjalan santai, karena hal ini memang sudah ia prediksi sebelumnya.
"Selamat malam Bu," ucap Angga santai, kemudian ia meraih tangan ibunya, lalu menciumnya.
Rosa Hafiq yang dalam keadaan marah, kemudian iapun mengarahkan pandangan mematikannya pada Citra.
"Siapa perempuan ini, kenapa kau membawanya ke rumahku tanpa seizinku," ucap Rosa Hafiq dengan penuh amarah.
__ADS_1
Angga tersenyum, lalu dia memeluk Citra dihadapan semua orang. Bahkan Dila yang melihat hal itu, dirinya pun sampai menutup mata, merasakan sesak di dada, karena tak sanggup melihat laki-laki yang dia cintai bersama dengan perempuan lain.
Ia pikir saat bertemu dengan Citra dan Angga seminggu yang lalu di kafe, mereka berdua hanya rekan bisnis. Karena saat dirinya memeluk Angga, tidak ada reaksi aneh yang ditunjukkan oleh Citra.
Namun sekarang, melihat kemesraan yang ditujukan oleh Angga, Dila yakin bahwa diantara Angga dan Citra memiliki hubungan khusus.
"Perkenalkan, namanya Citra Astika Pratama. Dan dia adalah Calon menantu ibu."
Dila yang mendengar ucapan Angga barusan, seketika ia memegang dada, merasakan sesak yang teramat dahsyat. Bahkan, cairan bening pun sudah siap tumpah dari pelupuk mata.
"T-tidak mungkin," ucap Dila. bahkan tubuhnya pun sudah hampir terhuyung ke atas lantai. Jika sang bunda tidak buru-buru memegang pergelangan tangannya.
"Tenangkan dirimu Nak," ucap Romlah sambil mengusap punggung anaknya beberapa kali.
Sedangkan Tuan Nugroho yang mendengar dan melihat kejadian di depan matanya sendiri, dan tidak ingin memperburuk keadaan, lalu dia pun segera pamit pada Rosa Hafiq.
"Nyonya, lebih baik kami pulang, karena keadaan sepertinya sudah tidak memungkinkan kami sekeluarga berada di sini," ucapnya sambil menarik pergelangan tangan istri dan anaknya.
"Tidak, Nyonya Rosa Hafiq. Selesaikan dulu urusanmu dan Angga, setelah itu baru kita berbicara lagi," ucap Nugroho tegas. Kemudian dia dan keluarganya pergi meninggalkan rumah itu.
Setelah kepergian keluarga Dila, Rosa Hafiq pun menatap manik mata Citra dengan sangat tajam.
Sedangkan Citra yang ditatap oleh Rosa Hafiq seperti itu, ia pun merasakan detak jantungnya kian berdegup dengan sangat kencang, bahkan hampir melompat dari sarangnya, dan sepersekian detik kemudian Citra menunduk. Karena tidak tahan melihat ketajaman tatapan ibunya Angga.
Angga yang menyadari hal tersebut, lalu dia mengeratkan genggaman tangannya pada Citra. Kemudian membisikkan kata-kata romantis yang membuat hati Citra merasa sedikit tenang.
Rosa Hafiq kemudian duduk kembali pada posisi semula, lalu dia menatap Angga dan Citra secara bergantian.
"Aku sudah tau kalau namamu adalah Citra Astika Pratama, dan kamu adalah pemimpin perusahaan Pratama Group, dan yang menjadi permasalahannya adalah, kamu itu berstatus sebagai seorang janda, dan aku Rosa Hafiq, sangat-sangat tidak setuju dengan hubungan mu dan anakku, jadi aku minta, menjauh lah dari kehidupan Angga. Karena aku sudah memilih jodoh yang terbaik untuknya," sarkas Rosa Hafiq.
__ADS_1
Citra yang mendengar hinaan tentang statusnya, tanpa terasa bulir bening pun mulai menetes dari kelopak mata, lalu dia berusaha sekuat tenaga untuk melepas genggaman tangan Angga darinya.
Namun sekuat apapun Citra berusaha, genggaman tangan Angga tidak pernah terlepas, karena Angga sangat menggenggamnya dengan sangat erat.
"Tenangkan dirimu Citra, kamu sudah berjanji 'kan, apapun yang terjadi kamu tidak pernah meninggalkan aku sendiri, mari kita hadapi bersama, mungkin ini adalah ujian cinta kita," ucap Angga sambil mencium ubun-ubun Citra dengan kelembutan tiada tara.
Bahkan Rosa Hafiq yang melihat hal itu, iapun sampai memalingkan wajahnya ke samping.
Setelah Citra merasa sedikit tenang, kemudian Angga berjongkok di hadapan Rosa Hafiq, lalu meraih jari-jemari ibunya.
"Ibu…apa salahnya jika Citra berstatus sebagai seorang janda, bukankah dalam menjalin hubungan yang dinamakan rumah tangga, cinta adalah yang paling utama, karena ibu selalu mengajarkan hal itu pada ku, dan Dila! Wanita cantik yang paling ibu idam-idamkan menjadi menantu ibu, aku tidak mencintainya. Jadi tolong mengertilah Bu," ujar Angga.
Rosa Hafiq yang mendengar penjelasan Angga, kemudian dia menatap manik mata anaknya itu. Memang tergambar jelas, bahwa anak laki-lakinya itu sangat mencintai Citra.
Namun, mengingat status Citra sebagai seorang janda, rasanya dia tidak rela. Jika anaknya yang nyaris sempurna itu menikah dengan seorang Janda. Terlebih rumor yang sempat ia dengar. Bahwa Citra itu seorang perempuan mandul.
"Tidak Nak, tidak. Ibu tidak akan pernah membiarkan mu menikah dengan wanita itu, apalagi statusnya sebagai seorang janda, mau taro dimana muka ibu di hadapan teman-teman sosialita ibu."
Citra yang sudah tak tahan mendengar kalimat demi kalimat hinaan yang keluar dari mulut Rosa Hafiq, kemudian dia dengan sangat kencang menghempaskan tangan Angga darinya, hingga membuat genggaman Angga terlepas. Dan Citra memanfaatkan hal itu untuk segera meninggalkan kediaman Angga, sambil berlinang air mata.
Angga hendak mengejar Citra. Namun Rosa Hafiq menarik pergelangan tangan Angga dengan secepat kilat.
"Mau kemana kamu Nak, biarkan wanita itu pergi, dia tidak cocok untukmu," ujar Rosa Hafiq.
Angga terdiam, kemudian menatap manik mata ibunya dengan sangat tajam.
"Lepas Bu, lepas. Dan jika ibu tidak melepaskan tangan ibu sekarang juga. Maka jangan salahkan aku meninggalkan ibu dan rumah ini untuk selama-lamanya," ancam Angga.
Rosa Hafiq terdiam, ia tidak tau apa yang harus dia lakukan sekarang. Apalagi saat mendengar ancaman Angga yang akan meninggalkan dirinya. Dan sepersekian detik kemudian, akhirnya dia pun melepas genggaman tangannya dari Angga. Karena ia tidak ingin Angga meninggalkan rumah.
__ADS_1
Apalagi Ia sangat mengenal anaknya Angga, dan jika mengancam tidak akan pernah main-main.