
Rahasia Menantu Culun Bab 73
Sangking terkejutnya melihat apa yang sedang terjadi di dalam rumah Angga, Citra sampai menutup mulut dengan kedua tangan.
Lalu tanpa aba-aba berlari menuju Rosa Hafiq, kemudian menghantam tubuh wanita paruh baya itu dengan pelukan.
"Ibu…!" ucapnya sambil meneteskan air mata kebahagiaan.
Citra tidak menyangka bahwa ibu mertuanya sampai bersusah payah menyiapkan acara semewah itu untuk menyambut kedatangan dirinya ke rumah itu.
Benar-benar ibu mertua idaman setiap wanita di muka bumi ini.
"Jangan menangis Nak, ini adalah acara bahagia," ucap Rosa Hafiq sambil mengelus punggung Citra dengan lembut.
Citra menghapus air mata yang sempat menetes dari kelopak mata dengan jari tangan, kemudian melepas pelukannya dari Rosa Hafiq.
"Sekali lagi terimakasih ibu." ujar Citra kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, terpampang jelas di dinding dengan tulisan selamat datang menantu kesayangan ku. Dan tentu saja hal itu membuat Citra merasa terharu sekaligus bahagia mendapat ibu mertua seperti Rosa Hafiq. Yang ternyata sangat baik.
Sedangkan Angga yang masih berdiri di ambang pintu, ia pun lalu mendekat ke arah dua wanita yang sangat ia cintai itu, kemudian memeluknya dengan cukup erat.
"Tetaplah seperti ini Bu, sayangi Citra seperti anakmu sendiri dan jangan biarkan ia merasakan kembali masa lalunya yang kelam," ujar Angga.
Rosa Hafiq tersenyum.
"Pasti sayang. Dan jangan khawatir, ibu akan menganggap Citra sebagai anak ibu sendiri," jawab Rosa Hafiq.
Setelah momen yang cukup mengharukan itu berlalu, kini Rosa Hafiq pun mulai memperkenalkan Citra pada semua teman arisannya.
"Wah…menantumu benar-benar cantik Ros, kau sangat beruntung mendapatkannya, dan aku dengar-dengar dia juga memiliki perusahaan ya?" tanya salah satu teman Rosa Hafiq yang ternyata saat acara pernikahan Angga dan Citra dirinya tidak bisa hadir karena dia sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri.
Rosa Hafiq tersenyum.
"Iya itu memang benar," ujar Rosa Hafiq.
Usai memperkenalkan Citra pada semua teman arisannya dan mengobrol sebentar, kini Angga pun datang menghampiri. Kemudian menarik pergelangan tangan Citra dan mengajaknya untuk beristirahat.
Sedangkan Rosa Hafiq ia pun tidak mempermasalahkannya sebab dirinya mengerti kalau pengantin baru itu memang butuh waktu untuk berdua di dalam kamar.
"Iya sayang, tidak apa-apa. Pergilah, dan berikan aku segera malaikat kecil yang menggemaskan," ujar Rosa Hafiq disertai senyuman manis.
__ADS_1
Citra yang mendengar ucapan ibu mertuanya, dirinya pun tidak bisa berkata apa-apa melainkan dia hanya menunduk malu.
Namun berbeda dengan Angga, ia langsung memeluk tubuh ramping istrinya dengan erat, bahkan dirinya tidak segan-segan mencium bibir Citra di hadapan semua orang.
"Itu sudah pasti ibu, jangan khawatir," jawab Angga. Kemudian dia membawa istrinya masuk ke dalam kamar.
Sesampainya di dalam kamar, Angga pun melepas pelukannya dari tubuh Citra. Lalu meminta istrinya itu untuk segera istirahat.
"Baiklah, jika itu yang kamu inginkan. Dan aku juga merasa badanku sangat remuk. Mungkin karena aktivitas kita tadi pagi," ucap Citra kemudian dia melenggak-lenggokkan tubuhnya menuju tempat tidur.
Angga yang melihat body aduhai istrinya, tiba-tiba saja ia merasakan getaran yang tidak biasa muncul dari dalam tubuhnya.
Ingin rasanya dia kembali menikmati tubuh sang istri, tapi rasanya dia tidak tega karena tadi pagi dia sudah menyerang tubuh istrinya itu cukup lama.
Angga berjalan menuju tempat tidur, kemudian dia berbaring di samping Citra.
"Kamu capek ya, sayang. Apa perlu aku pijit," tanya Angga.
"Boleh, jika kamu tidak keberatan," ujar Citra.
Mendapat angin segar dan ide cemerlang, Angga pun meminta istrinya itu untuk membalikkan tubuhnya. Sedangkan Citra ia hanya menurut tanpa tau apa yang sedang terjadi selanjutnya.
Mula-mula Angga sangat konsisten dengan pekerjaannya. Tapi lama-lama melihat kemolekan tubuh sang istri tercinta, akhirnya dia pun sudah tidak tahan. Terlebih mereka berdua memang pengantin baru.
Dan Citra yang merasakan hal itu, tentu saja ia langsung membalikkan badan berniat ingin proses dengan kelakuan sang suami.
"Angga…! katanya kamu mau mijit punggung, tapi kenapa menyentuh yang lain," protes Citra.
Angga tersenyum.
"Kan bagian belakang sudah, sekarang giliran yang di depan," ujar Angga lalu dia kembali memberikan sentuhan-sentuhan lembut di bagian daerah sensitif Citra.
Citra mendelik, ingin protes kembali, tapi tubuhnya merespon lain. Lalu tanpa sadar, akhirnya Citra pun mengeluarkan suara yang membuat Angga semakin semangat.
Angga pun semakin menyunggingkan senyuman, karena Citra ternyata sudah masuk ke dalam perangkapnya.
Perlahan-lahan Angga mulai membuka pengait berwarna hitam yang membungkus kedua bukit kembar itu dengan satu tangan.
Sedangkan tangan yang lain, sibuk memainkan peranan yang sangat penting.
__ADS_1
Dan untuk kedua kalinya, Citra pun kembali mengeluarkan suara yang sangat mendayu-dayu di telinga Angga.
Hingga dalam hitungan detik, kini Angga pun sudah berhasil membuat tubuh istrinya itu kembali polos.
Dengan semangat menggebu, Angga pun mulai menautkan bibirnya pada bibir tipis Citra. Sedangkan tangannya sibuk bermain di bukit kembar milik Citra.
Hingga sepersekian detik kemudian pasangan pengantin baru itu pun kembali mengarungi kenikmatan surgawi yang sangat memabukkan setiap kaum Adam dan hawa itu.
******
Sore harinya.
Perlahan-lahan Citra mulai membuka mata, kemudian mengarahkan pandangannya ke samping.
Ternyata suaminya Angga masih tertidur pulas. Lalu dengan perlahan Citra pun turun dari ranjang. Kemudian berjalan menuju balkon.
Sesampainya di balkon Citra pun menatap lurus ke arah barat, menikmati sejenak pemandangan indah di sore hari.
Lalu tanpa sadar senyum manis pun terbit di bibir indahnya. Mengingat semua yang terjadi di dalam kehidupannya selama ini.
Mulai dari menjadi istri dari Rifki yang memperlakukannya dengan sangat buruk. Begitu juga dengan ibu mertuanya yang sangat kejam. Mengingat hal itu semua rasanya Citra tidak percaya dengan kehidupannya yang sekarang.
Tapi itulah takdir.
Tidak ada manusia yang bisa menghindar dari yang namanya takdir yang sudah di tentukan oleh yang maha kuasa pada setiap hambanya.
Namun sekarang, kehidupan Citra sangatlah berbeda seratus delapan puluh derajat. Dirinya sangat begitu bahagia.
Apalagi di kehidupannya yang sekarang, ia mendapatkan ibu mertua yang sangat baik, suami yang sangat perhatian dan mencintai dirinya melebihi apapun.
Sembari menarik nafas dalam, kemudian Citra menutup mata.
"Terimakasih Tuhan, kau telah memberikan kebahagiaan kepadaku, dan aku berharap kebahagiaan ini akan abadi selamanya," batin Citra lalu dia membuka mata.
Dan tiba-tiba Angga sudah memeluknya dari belakang.
"Kau sudah bangun?" tanya Citra.
Bukannya menanggapi pertanyaan Citra, Angga malah mengecup daun telinganya. Dan hal itu mampu membuat Citra menggeliat manja.
__ADS_1
Bahagia itulah yang Citra rasakan sekarang. Mendapat suami seperti Angga adalah kebahagiaan terbesar dalam hidupnya.
END