
Rahasia Menantu Culun Bab 45
Beberapa detik berlalu, keheningan pun sempat terjadi antara Citra dan Angga. Hingga Angga yang tidak ingin terjadi sesuatu yang lebih mengerikan dari yang kemarin terhadap wanita yang dia cintai. Lalu dia pun memberi pengertian kepada Citra, agar Citra jangan terpengaruh dengan omong kosong Syasi.
"Aku tau dia memang adikmu. Namun, dia tak pernah sekalipun menganggapmu sebagai kakaknya, dan aku sangat yakin kalau dia datang menemuimu karena ada maksud terselubung."
Citra terdiam, sebenarnya dia juga sudah merasakan hal itu sejak tadi. Namun, ia menepis semua hal itu karena Syasi sudah meminta maaf, bahkan dengan sudi menyentuh kakinya.
"Tapi Angga, dia sudah meminta maaf kepadaku atas apa yang dia lakukan selama ini, dan aku sebagai kakak tidak mungkin tidak memaafkan adikku sendiri. Terlebih sekarang Syasi sudah tak memiliki keluarga selain diriku," tutur Citra lembut.
Angga terdiam dan terpaku saat mendengar betapa perempuan di hadapannya itu sangat begitu baik.
Padahal selama ini Syasi sudah merebut semua kebahagiaannya, bahkan suaminya sendiri pun direbut oleh Syasi. Tapi apa yang barusan Ia dengar, Citra dengan tulus memaafkan semua kesalahan yang dilakukan oleh Syasi terhadap dirinya.
Angga menarik nafas dalam. Lalu dia mengingatkan tujuan awal Citra untuk membalas dendam atas perlakuan Syasi terhadap dirinya, dan inilah waktu yang tepat melakukan hal itu.
Dan Angga juga mengingatkan, Citra bisa menyeret Syasi sekarang juga ke dalam jeruji besi, karena sudah mengantongi bukti kejahatan Syasi.
Citra menggeleng dengan cepat.
"Aku tidak akan pernah melakukan hal itu Angga, iya memang. Dulu aku berniat membalaskan semua perlakuan keji yang dilakukan oleh Syasi terhadap diriku. Tapi sekarang tidak. Karena menurutku balas dendam hanya membuat hidup kita tidak tenang, dan akan dihantui oleh rasa bersalah sepanjang masa," jelas Citra panjang lebar.
Angga terdiam. Bola matanya tak berkedip menatap manik mata wanita yang dia cintai. Selain cantik, ternyata Citra juga mampu membuat hatinya bergetar dengan kata-kata yang diucapkan oleh Citra.
Sedangkan Syasi yang berada di depan pintu, ia hanya tersenyum picik mendengar ucapan Citra barusan. Bahkan dalam hati dia bersorak kegirangan.
Angga tak mampu berucap sepatah katapun lagi, karena semua keputusan memang ada di tangan Citra.
******
Hari demi hari berlalu, kini Citra dan Syasi semakin dekat. Bahkan mereka sering makan siang bersama di Mall.
"Dari mana saja kamu." teriak Rifki menggema di ruang tamu. Sebab, Rifki mendapat laporan dari pengasuh anaknya Ronald, kalau Syasi sekarang tak pernah mengindahkan anak mereka. Bahkan tadi pagi Ronald sampai merengek minta digendong oleh Syasi.
Namun, Syasi dengan tega meninggalkan Ronald begitu saja, tanpa berniat untuk menggendong anaknya.
__ADS_1
Rifki yang mendapat laporan itu dari pengasuh Ronald, sengaja menunggu kedatangan Syasi di ruang tamu. Sebab, akhir-akhir ini Syasi selalu saja pulang malam.
Syasi yang mendengar teriakan itu langsung menoleh ke arah sumber suara.
Lalu dia menyunggingkan senyuman ketika melihat sosok Rifki menatap kearah dirinya dengan nyalang.
"Jangan melihatku seperti itu, aku gemas," ujar Syasi sambil mencubit pipi Rifki dengan sayang.
Bukannya melunak, Rifki malah menepis tangan Syasi dengan sedikit kasar. Lalu dia melingkarkan tangannya di pinggang ramping Syasi.
"Aku tanya sekali lagi, dari mana saja kamu, sampai-sampai mengabaikan anak kita Ronald?" tanya Rifki dengan penuh tekanan.
Syasi tersenyum getir. Namun, ia berusaha tenang untuk menghadapi Rifki yang sedang di puncak kemarahan.
Dengan mengalungkan tangan di leher sang suami, kemudian Syasi menempelkan buah kembar miliknya ke dada bidang Rifki, lalu dia berbisik di telinganya dengan lembut.
"Kamu tidak perlu tau aku dari mana sayang, karena saat ini aku sedang menjalankan misi yang sangat rahasia," ujar Syasi lalu dia mengecup leher Rifki sekilas.
Sedangkan Rifki yang diperlukan oleh Syasi seperti itu, dirinya mulai merasa gerah. Karena sejak tadi Syasi terus saja menyentuh daerah sensitifnya. Dan dia mulai melupakan niat awal untuk memberikan Syasi pelajaran.
Sedangkan Syasi, dirinya merasa puas karena telah berhasil mengalahkan amarah suaminya.
-
-
-
****
"Apa aku tidak salah dengar Citra? kau sudah memaafkan semua kesalahan Syasi?" tanya Robin.
Entah apa yang dipikirkan oleh sahabatnya itu sampai-sampai memaafkan Syasi. Adik tiri yang tega merebut suaminya sendiri.
Citra terdiam cukup lama. Sebab, dirinya masih merangkai kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan sahabatnya, Robin.
__ADS_1
"Jawab Cit, jangan diam saja," ujar Robin yang mulai marah. Pasalnya dia tidak terima, jika melihat Citra jalan berduaan bersama dengan Syasi.
Karena Robin bisa membaca wajah Syasi, kalau perempuan itu hanya pura-pura baik terhadap Citra.
Citra mendongakkan kepala, memberanikan diri untuk melihat wajah sahabat baiknya itu.
"Aku kasihan padanya Robin, Syasi itu sudah tidak punya siapapun lagi selain diriku, lagipula dia sudah meminta maaf kok sama aku," jawab Citra akhirnya.
Robin menarik nafas dalam mendengar penjelasan sahabat baiknya. Dan Citra, tidak seharusnya berbuat kesalahan sebesar itu.
"Ini salah Cit, ini semua tidak benar. Aku takut, kalau dia saat ini sedang merencanakan sesuatu yang besar untuk menghancurkan mu," ujar Robin.
Kemudian dia mengingatkan perbuatan-perbuatan keji yang dilakukan oleh Syasi. Mulai dari merebut suaminya Rifki, sampai dengan membuang Citra ke desa terpencil.
Mengingat hal itu semua, membuat luka lama yang di kubur oleh Citra dalam-dalam kembali mencuat ke permukaan. Dan tanpa sadar, Citra meneteskan air mata kesedihan.
Robin terdiam, Ia merasa salah dengan apa yang barusan Ia katakan terhadap Citra. Namun, demi kebaikan sahabatnya ia harus mengingatkan semua hal itu. Agar Citra tak lagi merasakan penindasan dari saudara tirinya.
"Maafkan aku," ucap Robin akhirnya. Karena dia tidak tega melihat Citra yang mulai menangis sesenggukan.
"Ka-kamu tidak salah kok Robin, aku yang salah. Angga juga sudah mengingatkan aku sebelumnya. Tapi, karena Syasi sudah meminta maaf dan bersedia menyentuh kakiku, aku pun luluh dan memaafkannya begitu saja," ucap Citra lalu dia menghapus cairan bening yang mengalir dari kelopak mata dengan tisu yang diberikan oleh sahabatnya Robin.
Sedangkan Robin ia pun akhirnya merasa lega, karena sekarang Citra memahami kegundahan hatinya beberapa hari ini.
"Jadi sekarang apa yang harus aku lakukan, jika Syasi datang menemui ku?" tanya Citra sambil melepas pelukan dari sahabatnya Robin.
Robin berpikir sejenak. Kemudian dia meminta Citra untuk bersikap seperti biasa. Namun, tetap hati-hati dan mulai waspada. Dan jika perlu, Citra harus menghubungi dirinya kalau Syasi berbuat sesuatu yang aneh.
Robin juga memberikan gelang untuk Citra, lalu mengingatkan sahabatnya itu agar selalu memakainya dan jangan pernah melepasnya.
Citra mengeryit, lalu dia menanyakan pada Robin, gelang apa sebenarnya yang diberikan oleh sahabat baiknya itu pada dirinya.
Robin tersenyum.
Kemudian dia mengatakan, kalau gelang itu adalah gelang biasa.
__ADS_1
"Oh…!" Citra pun hanya ber oh ria. Lalu dia memperhatikan gelang itu yang menurutnya sedikit unik.