
Rahasia Menantu Culun Bab 66
Hari sudah menjelang sore. Namun, sampai saat ini Citra belum ada tanda-tanda akan segera sampai di rumah.
Hingga membuat Rifki yang sedang bersembunyi di balik gang kecil yang berada di sudut rumah Citra mulai tampak bosan.
Ia terus membanting stir mobil sangking kesalnya.
Namun, kekesalannya tiba-tiba sirna, saat melihat sebuah mobil mewah yang ia yakini itu adalah mobil Citra semakin dekat ke rumah mewah itu.
"Semoga saja Angga tidak mengantarnya pulang, biar aku leluasa berbicara dengan Citra," batin Rifki.
Ia terus saja mengawasi situasi, dan senyumnya langsung melebar, saat melihat Citra pulang sendiri.
"Terima kasih Tuhan, kau telah mengabulkan permintaan ku," batin Rifki merasa senang.
Buru-buru dia keluar dari tempat persembunyiannya, lalu berlari dan menerobos masuk ke dalam rumah Citra, saat pak satpam membuka pintu gerbang.
"Hei…! kamu siapa?" tanya pak satpam penjaga pintu gerbang.
Rifki berbalik, kemudian menyuruh pak satpam itu segera diam.
"Diamlah, jangan ikut campur. Aku datang ke sini tidak ingin membuat keributan, tapi ingin bicara empat mata dengan istriku," ancam Rifki.
"Tapi pak, saya tidak ingin membuat Non Citra merasa tidak nyaman, jadi aku minta bapak segera keluar dari rumah ini," pak satpam tidak merasa getir dengan ancaman yang dilontarkan oleh Rifki.
"Kau…!" Rifki mengepalkan tangan, kemudian hendak melayangkan bogem mentahnya pada pak satpam.
Namun, belum sempat ia melayangkan nya pada pipi satpam itu, tiba-tiba Citra datang.
"Ada apa ribut-ribut?"
Rifki membalikkan badan, sedangkan pak satpam, Ia lebih memilih pergi setelah menjelaskan pada Citra tentang tujuan Rifki datang ke rumah itu.
"Baiklah pak, tinggalkan kami berdua, dan kamu mas, ikut aku kedalam," ujar Citra tampak serius.
Pak satpam itu pun kembali melanjutkan pekerjaannya, sedangkan Rifki ia terus saja berjalan mengikuti langkah kaki Citra.
Sesampainya di ruang tamu, Citra pun mempersilahkan mantan suaminya itu untuk duduk di sofa.
__ADS_1
Rifki tersenyum, melihat keramahan yang ditunjukkan oleh Citra.
Namun, senyum manis yang menghiasi bibir Rifki sejak tadi tiba-tiba pudar, saat Citra menanyakan dengan tegas apa sebenarnya tujuan Rifki datang ke rumahnya.
"A-aku… aku hanya ingin kita berdua kembali bersama dalam ikatan sebuah pernikahan," ujar Rifki tanpa basa-basi.
Citra tersentak, bahkan dirinya sampai berdiri dari tempat duduknya.
"Apa….!"
Belum sempat Citra menetralkan keterkejutannya, tiba-tiba Rifki bersimpuh di hadapannya, memohon agar Citra mau menerimanya kembali.
Citra berdecih. Merasa bosan dengan tingkah laku sang mantan suami. Karena sudah puluhan kali dirinya menolak dengan permintaan Rifki yang tidak masuk akal itu.
"Pulanglah mas, jangan mempermalukan dirimu."
Rifki berdiri, mensejajarkan tubuhnya dengan Citra, kemudian menatap lekat manik mata milik Citra.
"Aku rela mempermalukan diriku, sampai kamu mau menerima cinta ku kembali."
Citra terdiam.
"Aku bilang pulang mas, jangan pernah berpikir untuk menemuiku kembali, karena sebentar lagi istri yang pernah kamu sia-siakan selama dua tahun ini sudah menemukan kebahagiaannya sendiri."
Rifki mengepalkan tangan, kemudian menarik nafas dalam. Rasa sesak yang teramat dahsyat tiba-tiba menghinggapi dadanya, saat mendengar pengakuan Citra barusan.
"Kamu tidak boleh menikah dengan siapapun, kecuali dengan ku," ucap Rifki terdengar seperti ancaman. Bahkan dirinya meninggikan suaranya dalam satu oktaf.
Citra membelalakkan mata, tidak terima dengan ucapan yang disertai ancaman yang dilontarkan oleh mantan suaminya itu. Lalu dengan berani menatap Rifki dengan sangat tajam.
"Memangnya siapa dirimu, berani memerintah aku seperti itu, dan ingat mas, aku bukanlah Citra yang dulu kamu kenal, jika mendapat ancaman seperti itu hanya bisa gemetar," jelas Citra.
"Kalau aku bilang tidak boleh, ya tidak boleh, kamu adalah milikku dan akan tetap menjadi milikku," Rifki tetap bersikukuh.
Citra menarik nafas dalam, ia tidak tau harus berkata apa sekarang.
Disertai emosi yang mulai meninggi, kemudian Citra meminta Rifki untuk segera keluar dari rumahnya.
"Gila kamu mas, ingat… kita itu sudah resmi bercerai di mata hukum dan agama, kita sudah tidak memiliki ikatan apapun. Jadi aku berhak memutuskan dengan siapa aku menikah. Dan sekarang, aku minta kamu cepat keluar dari rumahku," teriak Citra karena dirinya benar-benar sangat kesal dengan Rifki.
__ADS_1
Sedangkan pak satpam yang sedang berjaga di luar, dirinya pun langsung masuk kedalam rumah, ketika mendengar teriakan Citra.
"Ada apa Non? apa terjadi sesuatu? apa laki-laki ini membuat keributan lagi?" tanya pak satpam menatap Citra dengan cukup khawatir.
"Iya pak, laki-laki ini membuat keributan lagi, dan aku minta seret dia keluar dari dalam rumahku," ucap Citra.
Kali ini ia harus tegas, demi membuat Rifki mengerti, bahwa mereka berdua sudah tidak memiliki ikatan apapun lagi. Apalagi sampai membentaknya seperti tadi.
Rifki mengepalkan tangan, kemudian menatap Citra dengan sangat tajam.
"Tidak perlu, aku punya kaki, dan masih bisa jalan sendiri, jadi kau tidak perlu menyeret ku dengan paksa," ujar Rifki sambil menyibakkan jasnya, lalu dia berjalan keluar dari dalam rumah Citra.
Namun, ketika Rifki berada tepat di ambang pintu, tiba-tiba dirinya kembali membalikkan badan, lalu menatap Citra dengan penuh kemarahan.
"Aku akan membuat perhitungan denganmu. Dan ingat, kau tidak akan ku lepaskan semudah itu Citra. Ingat itu," ucap Rifki disertai kemarahan luar biasa.
Dan setelah mengucapkan kalimat itu, Rifki pun benar-benar pergi meninggalkan rumah Citra.
Citra yang sejak tadi terlihat tegar dihadapan Rifki, lalu memerosotkan tubuhnya di atas sofa dengan sangat lemas, bahkan air matanya sudah siap tumpah. Jika pak satpam tidak berada di hadapannya.
"Kau baik-baik saja Non?" tanya pak satpam.
"Iya pak, aku baik-baik saja," jawab Citra.
Setelah berbasa-basi sebentar, kemudian pak satpam pergi meninggalkan Citra, lalu melanjutkan kembali pekerjaannya.
Kini tinggallah Citra seorang diri, karena tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan, apalagi memikirkan ancaman Rifki yang cukup menyayat hati, kemudian dia bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan dengan sedikit sempoyongan menuju kamar.
Sesampainya di dalam kamar, Citra pun merebahkan tubuhnya di atas kasur king size miliknya.
Dan dalam sekejap, ucapan Rifki kembali terngiang-ngiang di dalam pikirannya.
Citra pun segera bangkit, lalu dia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Di Dalam kamar mandi, Citra pun bercermin, melihat keadaan dirinya sendiri, yang terlihat cukup berantakan.
"Aku tidak boleh seperti ini, aku harus kuat menghadapi Rifki," batin Citra.
Kemudian dia berjalan menuju bathtub dan memilih berendam dengan air hangat yang sudah dicampur dengan aroma terapi.
__ADS_1
Berharap, kejadian yang ia alami barusan, agar segera sirna tanpa jejak dari pikirannya.