Rahasia Menantu Culun

Rahasia Menantu Culun
Rahasia Menantu Culun Bab 40


__ADS_3

Rahasia Menantu Culun Bab 40


Dokter menepuk pundak Angga dengan lembut, lalu dia menyampaikan bahwa janin yang dikandung oleh Citra tidak bisa diselamatkan.


Mendengar penjelasan dokter membuat Angga merasa sangat sedih, walaupun sebenarnya benih yang dikandung oleh Citra itu bukan anaknya, tapi tetap saja dia merasakan kesedihan yang teramat sangat.


"Lalu bagaimana dengan luka yang berada di leher Citra dokter, apakah luka itu cukup serius?"


Dokter menggeleng dengan cepat. Kemudian dia menjelaskan pada Angga bahwa luka itu hanya luka biasa, dan Angga tidak perlu mengkhawatirkannya.


*****


Dor...dor...dor.


Suara tembakan terdengar saling beradu membuat Brenda dan anak buahnya yang melarikan diri ke dalam hutan mengumpat dengan kesal.


Bagaimana tidak, saat ini persediaan timah panas pada senjata api mereka sudah mulai menipis.


Sedangkan para polisi itu, sampai sekarang belum ada tanda-tanda untuk berhenti mengejar mereka.


"B@ngs@t tuh si Angga, bisa-bisanya dia ikut campur dalam masalah ini, awas saja kalau aku bertemu dengannya, aku akan membuat perhitungan," ujar Brenda kesal.


Kemudian Brenda dan anak buahnya pun kini berlari sejauh mungkin, agar para polisi itu tidak menemukan mereka.


Namun sayang seribu sayang, disaat mereka berlari tak tentu arah, Brenda bahkan tidak memperhatikan kondisi sekelilingnya hingga sebuah timah panas mendarat sempurna di betis kirinya.


"Argh…!" teriaknya. Lalu dia memegang betisnya yang mengeluarkan darah segar.


Namun, walaupun begitu. Brenda tetap saja berjalan meskipun saat ini dia sudah terkena tembakan.


"Argh...argh," teriknya kembali. Saat ini langkahnya begitu terseok, dan darah segar terus saja mengalir dari betisnya, terlebih sekarang wajah Brenda tampak semakin pucat.


Rico dan Tio menghampiri Brenda, lalu mereka berdua hendak membopong tubuh Brenda. Namun, perempuan paruh baya itu segera menghentikan niat anak buahnya.


"Jangan pedulikan aku, cepatlah pergi dari sini sebelum para polisi itu menangkap kalian," ujar Brenda.


Rico dan Tio saling melirik satu sama lain, mereka berdua merasa tidak tega meninggalkan Brenda seorang diri. Terlebih sekarang Brenda sedang terluka parah.


"Tapi nyonya."


Brenda menarik nafas dalam, lalu dia mengeluarkannya secara perlahan.


"Pergilah, jika aku dan kalian di tangkap oleh polisi, maka semua usaha yang kita lakukan akan sia-sia. Dan ingat setelah kalian berhasil keluar dari tempat ini, jangan lupa untuk menemui anakku Syasi," ujar Brenda dengan nafas tersengal menahan rasa sakit yang kian membuncah dari betisnya.


"T-tapi."


Tiba-tiba Brenda meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, karena dia mendengar suara derap langkah kaki beberapa orang mendekat kearah persembunyian mereka.

__ADS_1


Dengan suara yang terputus-putus, kemudian Brenda sekali lagi memerintahkan anak buahnya untuk segera meninggalkan dirinya.


Dengan pasrah, akhirnya Rico dan Tio pun meninggalkan Brenda seorang diri.


Tap...tap..tap.


Langkah kaki itupun kian mendekat kearah persembunyian Brenda.


Hingga para polisi itupun akhirnya menemukan Brenda dalam keadaan mengenaskan.


Flashback on


"Aku tidak mau ditangkap oleh polisi, lebih baik aku mati dari pada masuk ke dalam jeruji besi," ujar Brenda.


Kemudian dia mengambil pisau kecil yang dia sembunyikan dibalik blazer yang ia pakai.


Kemudian dia mengarahkan pisau kecil itu tepat pada pergelangan tangannya.


Bless..


Akhirnya Brenda pun menggoreskan pisau itu tepat pada urat nadinya.


Flashback off


"Dia sudah tiada," ujar polisi itu pada temannya.


Dan setelah semuanya berkumpul, barulah mereka mengangkat tubuh Brenda dan membawanya ke rumah sakit dengan mobil Ambulans.


******


Di rumah sakit


Citra membuka mata perlahan, lalu dia mengarahkan pandangannya ke sekeliling ruangan bercat putih itu.


Sedangkan Angga yang melihat Citra sudah membuka mata, kemudian dia mendekat ke arah Citra.


"Kau sudah bangun?" tanya Angga sambil berjalan perlahan menuju bed pasien Citra. Kemudian dia menggenggam tangan Citra dengan lembut.


Citra mengangguk, lalu dia tersenyum.


Keheningan pun sempat terjadi diantara keduanya, hingga Citra tiba-tiba menanyakan pada Angga, bagaimana dengan kondisi janin yang ada di dalam kandungannya.


Angga menarik nafas dalam, lalu dia memandang manik mata Citra yang tiba-tiba mengeluarkan cairan bening.


Dengan refleks, Angga pun menghapus cairan bening yang mengalir dari kelompok mata Citra.


"Yang sabar ya Citra, kata dokter janin yang berada di dalam kandunganmu tidak bisa diselamatkan."

__ADS_1


Mendengar hal itu, cairan bening dari kelopak mata Citra tiba-tiba mengalir deras.


Ia merasa bersalah, karena tidak menuruti keinginan ibu tirinya, Brenda.


"Ini semua salahku, maafkan ibu Nak, kalau saja kemaren ibu langsung menuruti keinginan wanita licik itu, kejadian seperti ini tidak akan terjadi," ujar Citra sambil menangis kian tersedu.


Sedangkan Angga yang melihat keadaan Citra, hatinya begitu sakit bak pisau tajam menembus relung hatinya yang paling dalam.


Dengan refleks, Angga pun kembali menggenggam tangan Citra dengan lembut, lalu dia mendekap tubuh Citra dengan erat.


"Kamu harus kuat Citra,dan kamu juga jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri, karena semua ini sudah suratan takdir dari yang maha kuasa, mungkin saat ini kamu belum ditakdirkan untuk menjadi seorang ibu," ujar Angga sembari mengeratkan dekapannya terhadap tubuh Citra.


Bukannya tangisan Citra kian mereda, wanita itu kembali menangis histeris, lalu dia berusaha melepaskan dekapan Angga dari tubuhnya.


"Lepaskan aku kak, aku ingin membuat perhitungan dengan Brenda, karena dialah satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas kehilangan janin yang ada di dalam kandungan ku," ujar Citra.


Mendengar ucapan Citra barusan, kemudian Angga melepas dekapannya terhadap Citra. Lalu dia mengelus rambut wanita yang dia cintai itu dengan penuh kasih. Dan sepersekian detik kemudian Angga tersenyum.


"Kau tidak perlu repot-repot membalaskan dendam mu padanya, karena dia telah mendapat ganjaran yang setimpal, dan barusan aku mendapat informasi bahwa dia telah pergi dari dunia ini untuk selama-lamanya."


Citra terdiam.


Lalu dia menatap wajah Angga dengan sayu. Walaupun sebelumnya dia mengatakan ingin membalas dendam terhadap Brenda, tapi setelah mendengar kabar bahwa ibu tirinya itu telah tiada, ada rasa sedih yang menjalar di lubuk hatinya yang paling dalam.


"Benarkah apa yang kau katakan itu Angga? Lalu bagaimana dengan kondisi sahabatku Robin? apakah dia baik-baik saja?"


Angga mengangguk mengiyakan, lalu dia memberitahukan kepada Citra bahwa keadaan Robin juga baik-baik saja, dan tidak lupa pula Angga menceritakan kepada Citra bahwa Robin di rawat di rumah sakit yang sama dengan Citra.


Mendengar hal itu, kemudian Citra menggenggam tangan Angga, lalu dia meminta Angga untuk segera mengantarkan dirinya untuk melihat keadaan sahabatnya Robin.


Angga menggelengkan kepala, lalu dia meminta pada Citra untuk beristirahat dulu, karena dia belum sepenuhnya pulih.


"Tapi kak Angga, aku ingin melihat keadaan Robin?"


Angga menarik nafas dalam. Kemudian dia mengelus rambut Citra dengan lembut.


"Baiklah, kalau memang itu keinginanmu, aku akan menurutinya, tapi setelah dokter memeriksa keadaanmu dulu," ucap Angga dengan refleks mencium kening Citra.


πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦


Hai para readers semuanya, terima kasih telah mengikuti kisah Cinta antara Citra dan Rifki.


Oh iya, sambil menunggu author update kembali, kalian boleh mampir ke karya author Ummi Asya, dengan judul Preman Cantik Di Nikahi CEO.



Dan Jangan lupa juga, sampaikan salam author riski iki pada Ummi Asya ya.😘😘

__ADS_1


__ADS_2