Rahasia Menantu Culun

Rahasia Menantu Culun
Rahasia Menantu Culun Bab 42


__ADS_3

Rahasia Menantu Culun Bab 42


Setelah seminggu dirawat di rumah sakit, kini tibalah saatnya Citra untuk pulang.


Namun sebelum dirinya pulang ke rumah, dia menyempatkan untuk melihat keadaan sahabatnya Robin terlebih dahulu.


Tok...tok…tok.


Citra mengetuk pintu, sedangkan Angga dengan setia berada di sampingnya. Menemani wanita itu kemanapun ia pergi.


"Masuk."


Citra yang mendengar seruan untuk masuk, kemudian dia memutar knop pintu, lalu keduanya berjalan beriringan menuju bed pasien Robin.


Disertai senyuman manis, kemudian Citra mendekat ke arah Robin, lalu dia menanyakan apakah sahabat sekaligus sekretaris pribadinya itu sudah merasa baikan atau tidak.


Robin menggenggam tangan Citra dengan lembut. Kemudian dia mengangguk.


"Kau tidak perlu cemas, sebenarnya aku sudah merasa baikan sejak tiga hari yang lalu, tapi dokter Lisa belum memperbolehkan aku pulang."


Citra menyunggingkan senyuman. Lalu dia meminta Robin untuk bersabar demi kebaikan dirinya sendiri.


"Tapi…!" ujar Robin terhenti, karena melihat dokter Lisa tiba-tiba masuk ke dalam ruangan.


"Tapi apa?" tanya Citra.


"Tidak jadi," jawab Robin sambil melepas genggaman tangannya dari Citra. Hingga membuat Citra memicingkan mata.


"Kau ini aneh sekali," ujar Citra. Kemudian dia memberitahukan maksud dan tujuannya datang ke kamar Robin.


****


Setelah berpamitan pada Robin, kemudian Citra dan Angga keluar dari dalam kamar Robin lalu mereka berdua berjalan beriringan menuju parkiran.


Sesampainya di depan mobil, Angga membukakan pintu mobil untuk Citra.


"Silahkan masuk tuan putri," ujar Angga disertai senyuman termanisnya.


Namun berbeda dengan Citra, ia hanya membalas senyuman manis Angga dengan tersenyum masam, lalu dia masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Sedangkan di seberang jalan, tampak seseorang membanting stir mobil dengan kasar, dadanya bergemuruh seketika, saat melihat tingkah Angga yang semakin menjadi terhadap istrinya Citra.


Ingin rasanya dia menghampiri Angga saat ini juga dan memberikan pelajaran terhadap laki-laki itu. Namun dia urungkan karena tiba-tiba saja sekretaris pribadinya Tomy menelpon. Lagi pula keadaan Citra baru saja membaik, jadi dia memutuskan untuk tidak membuat keributan.


"Awas saja jika aku bertemu denganmu Angga, aku akan memberikan pelajaran," teriak Rifki lalu dia meninggalkan tempat itu menuju kantornya.


"Jangan panggil aku dengan sebutan tuan putri, aku merasa tidak nyaman," ujar Citra saat keduanya sudah masuk ke dalam mobil.


Angga menatap manik mata Citra dengan dalam. Lalu dia menghirup udara di sekitar itu dengan paksa.


Apa salahnya jika aku memanggil dirimu dengan sebutan tuan putri, bukankah sebentar lagi kau akan menjadi tuan putri di dalam hidupku.


"Hm… baiklah." jawab Angga akhirnya, karena dia tidak ingin Citra merasa tidak nyaman.


Angga pun mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dan dalam perjalanan Citra dan Angga tidak saling bicara karena Citra takut terjadi apa-apa jika Ia mengajak Angga berbincang.


Cukup lama mobil yang dikendarai oleh Angga melaju membelah jalanan ibukota, hingga akhirnya sampai tepat di depan rumah Citra.


Angga pun turun dari mobil, lalu dia bergegas membukakan pintu untuk Citra.


"Terima kasih," ucap Citra.


Angga mengangguk.


"Aku tidak diajak masuk," ucap Angga akhirnya.


Citra membalikkan badan, lalu dia tersenyum canggung.


Oh...iya. Kenapa aku sampai lupa? kemudian Citra menepuk jidatnya sendiri.


"S-silahkan masuk," ucap Citra akhirnya. Ia merasa sedikit bersalah karena lupa mengajak Angga untuk masuk. Padahal selama di rumah sakit Angga lah yang selalu setia menemani dirinya. Dan apapun yang dia butuhkan Angga selalu siap memenuhinya.


Bukan karena Citra tidak tau terima kasih, tapi semenjak di perjalanan menuju rumahnya, entah kenapa Citra selalu mengingat janin yang sempat tumbuh di dalam rahimnya.


Hatinya kembali terpukul, karena mengingat keteledorannya. Andai saja dia menyerahkan semua harta kekayaan yang Ia miliki pada Brenda kejadian seperti ini tidak akan terjadi.


Dan tanpa sadar bulir bening lolos begitu saja dari kelopak mata Citra, namun secepat kilat dia menghapusnya dengan punggung tangan.


"Kau kenapa?" tanya Angga yang menyadari perubahan sikap Citra.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa?" ucap Citra dengan senyum yang dipaksakan.


Sedangkan Angga yang mengerti dengan kegundahan hati Citra, tanpa permisi ia pun langsung meraih tubuh Citra dan memeluknya.


"Sudahlah jangan pikirkan kejadian yang sudah berlalu, dan ingat. Jangan pernah menyalahkan dirimu, karena ini sudah suratan takdir dari yang maha kuasa," ucap Angga sambil mengusap punggung Citra dengan lembut.


Tangis Citra tiba-tiba pecah, tatkala mendengar ucapan Angga barusan. Sedangkan Angga yang melihat hal itu kemudian dia menuntun Citra untuk masuk ke dalam rumah.


****


Seminggu setelah kematian Brenda, saat ini Syasi berencana untuk pergi berkunjung ke makam ibunya.


Dengan berdandan ala kadarnya, lalu dia masuk ke dalam mobil.


"Antarkan aku ke makam ibu pak," ujar Syasi pada supirnya.


"Baik Nyonya." Kemudian pak supir langsung melajukan mobilnya menuju tempat dimana almarhum Brenda dimakamkan.


Tanpa butuh waktu lama, mobil yang ditumpangi oleh Syasi, kini sudah berhenti tepat di depan pemakaman.


Syasi pun turun, namun sebelum dirinya masuk kedalam pemakaman, Syasi menyempatkan diri untuk membeli seikat bunga mawar putih kesukaan almarhum ibunya sewaktu masih hidup dulu.


Usai membeli bunga mawar putih kesukaan ibunya, kemudian Syasi melangkah masuk ke dalam area pemakaman.


Tangisnya kembali pecah, saat melihat pusara ibu tercintanya.


"Ibu.. aku kangen padamu, baru juga seminggu kau meninggalkan diriku, rasanya sudah puluhan tahun," Syasi terus saja mengoceh disertai tangisan yang terdengar begitu menyayat hati, hingga akhirnya seseorang datang menepuk pundaknya dari arah belakang.


Syasi seketika menoleh, dan melihat seorang laki-laki berbadan tegap. Ya, dia adalah orang suruhan Brenda yang bernama Rico.


"Nona, kau jangan menangisi kepergian Nyonya Brenda, karena bukan itu yang dia inginkan. Beliau ingin Nona segera membalaskan dendam atas kematiannya."


Syasi terdiam sesaat, memikirkan ucapan orang suruhan ibunya. Hingga sepersekian detik kemudian, Syasi mensejajarkan tubuhnya dengan Rico.


"Tapi…! bagaimana caraku agar bisa membalaskan dendam atas kematian ibuku, bahkan sekarang hubunganku dengan suamiku mulai sedikit renggang karena dia ingin kembali bersama dengan wanita sialan itu," ujar Syasi tampak marah. Mengingat akhir-akhir ini Rifki selalu mengacuhkan dirinya.


Rico menyunggingkan senyuman.


"Kau tidak perlu merasa khawatir Nona, karena sebelum Nyonya Brenda menghembuskan nafas terakhir. Aku dan salah satu temanku, Tio. Sudah berjanji akan membantumu untuk membalaskan dendam atas kematian ibumu."

__ADS_1


Syasi yang mendengar ucapan Rico, seketika rasa percaya dirinya yang beberapa Minggu ini mulai menghilang, kini perlahan tumbuh kembali.


"Baiklah," jawab Syasi akhirnya. Kemudian mereka berdua saling bertukar nomor ponsel.


__ADS_2