
Rahasia Menantu Culun Bab 43
Dalam keheningan malam, tampak Syasi sedang memikirkan bagaimana cara agar ia bisa membalaskan dendam atas kematian ibunya.
Dirinya terus saja termenung memikirkan apa yang dikatakan oleh Rico saat di pemakaman tadi.
Bagaimana tidak, Rico menyarankan agar dirinya pura-pura baik pada Citra. Dan meminta maaf kepada saudara tirinya itu atas kesalahan yang dia lakukan selama ini. Jika perlu ia harus menyentuh kaki Citra, agar saudara tirinya itu percaya kalau Syasi benar-benar tulus meminta maaf.
Memikirkan hal itu, rasanya kepala Syasi mau meledak.
Duar….
Terdengar suara vas bunga pecah. Ya, saat ini Syasi melempar vas bunga itu ke sembarang arah, hingga membuat pecahan belingnya berceceran dimana-mana.
"Argh…!" kali kini berganti dengan suara teriakan yang begitu memekakkan telinga. Lalu sepersekian detik kemudian berganti lagi dengan suara tangisan yang terdengar begitu menyayat hati.
Ya, Syasi sedang menangisi kehidupannya, ia merasa sejuk dulu Tuhan tak pernah adil baginya.
Mungkin, bisa jadi ini adalah karma untuknya karena dulu dia telah merebut semua kebahagiaan yang dimiliki oleh adik tirinya Citra.
Berawal dari kasih sayang ayah kandung Citra, dan sekarang suami dari adik tirinya itu pun berhasil direbut olehnya.
Sebenarnya Syasi adalah tipe perempuan ceria, penyayang dan juga baik hati. Tapi karena rasa iri dan cemburu terhadap kehidupan Citra yang serba berkecukupan, akhirnya Syasi gelap mata. Dan melakukan segala cara agar ia bisa berada di posisi Citra.
Terbukti sekarang, ia pun berhasil menyandang status istri dari Rifki Ansori Bagaskara.
"Argh...aku tidak sudi jika harus meminta maaf kepada wanita sialan itu," teriak Syasi menggema di dalam kamar.
Namun, setelah ia selesai mengucapkan kalimat itu, tiba-tiba dia teringat kembali dengan kematian ibunya yang begitu menyedihkan.
"Bu, andai saja kau tidak bertindak ceroboh, semua ini tidak perlu aku lakukan, ibu tau 'kan sejak dulu aku sangat membenci Citra, bahkan untuk pura-pura baik saja aku tidak sudi melakukannya," ucapnya sambil sesenggukan.
"Tapi, ibu tidak perlu khawatir, aku berjanji akan melakukannya demi ibu, demi balas dendam ibu agar terpenuhi," kemudian Syasi mengusap air matanya dengan punggung tangan.
*****
__ADS_1
Pagi-pagi sekali, Syasi perlahan-lahan membuka mata, sambil menepuk-nepuk ranjang di sebelahnya.
Hatinya kembali teriris saat tidak menemukan sosok suaminya Rifki berada di sebelahnya.
Ya, beberapa Minggu ini memang mereka sudah tidak tidur seranjang, karena Rifki lebih memilih tidur di dalam ruang kerjanya.
Syasi pun turun dari atas ranjang, lalu dia berjalan perlahan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Di dalam kamar mandi, Syasi memilih berendam air hangat sambil menghirup aroma terapi adalah pilihannya, karena sebelum beraktivitas ia ingin menenangkan pikiran terlebih dahulu. Apalagi tugasnya kali ini cukup berat.
Cukup lama ia berendam, hingga tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, barulah Syasi keluar dari bathtub.
"Ada apa mas?" tanya Syasi setelah dia membuka pintu, dan melihat suaminya Rifki lah yang mengetuk pintu itu.
Rifki tiba-tiba terdiam, saat melihat penampilan Syasi yang hanya dibalut oleh handuk tipis saja, bahkan lekukan tubuhnya tergambar jelas di mata Rifki.
Tak dapat dipungkiri, nalurinya sebagai laki-laki tiba-tiba berkobar saat melihat penampilan istrinya yang begitu menggoda.
Dengan susah payah, Rifki pun menelan ludahnya sendiri. Bahkan bola matanya tak berkedip saat melihat buah kembar milik Syasi yang selama seminggu ini tidak pernah dia sentuh.
"Mas apa kamu mau mandi? apa aku perlu menyiapkan semua yang kamu butuhkan?" tanya Syasi.
Tanpa aba-aba, Rifki langsung menarik handuk yang melilit di tubuh ramping Syasi, kemudian menikmati sejenak pemandangan indah yang disuguhkan di hadapannya.
Sedangkan Syasi Ia merasa seolah terbang ke langit ketujuh, lalu diapun memanfaatkan momen indah itu dengan sebaik-baiknya.
Dengan tersenyum menggoda, lalu dia berjalan mendekat kearah Rifki, kemudian melingkarkan tangannya di leher sang suami.
Lenguhan lembut lolos begitu saja dari bibir Rifki, sedangkan adik kecilnya mulai meronta-ronta ingin di masukkan ke dalam sarangnya.
Dengan sedikit kasar, kemudian Rifki meraih tubuh Syasi, lalu dia menggendongnya dan membaringkan tubuh Syasi di atas tempat tidur.
Untuk sesaat, Rifki pun kembali menikmati pemandangan indah yang berada di hadapannya. Hingga sepersekian detik kemudian Rifki mulai naik ke atas tubuh Syasi dan langsung menautkan bibirnya pada bibir tipis Syasi.
Sejengkal demi sejengkal, kini Rifki mulai menjelajahi seluruh tubuh ramping Syasi. Hingga akhirnya, pergulatan panas pun terjadi diantara pasangan suami istri itu.
__ADS_1
*****
Senyum Syasi terus saja terpancar dari bibir indahnya, mengingat pergulatan panas yang mereka lakukan pagi ini.
Ya, semenjak seminggu di abaikan oleh Rifki, baru kali ini dia kembali mendapat kehangatan dari suaminya itu.
"Kau mau kemana?" tanya Rifki yang baru saja bangun dari tempat tidur. Dan menelisik penampilan istrinya itu dari atas sampai bawah, sangat rapi.
Disertai senyuman manis, kemudian Syasi berdiri dari kursi riasnya dan berjalan anggun menuju kearah Rifki, lalu mendaratkan kecupan mesra di bibir sang suami.
"Aku mau ke apartemen ibu, dan membereskan barang-barang berharga yang ditinggalkan oleh ibu," ujar Syasi berbohong, padahal yang sebenarnya dia ingin pergi untuk menemui Citra.
"Oh…!" Rifki pun hanya ber oh ria. Lalu dia berdiri dari tempat tidur, dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Syasi hanya tersenyum melihat tingkah laku Rifki, lalu dia kembali melangkah menuju meja rias dan mengambil tas limited edition miliknya.
"Antarkan aku ke rumah Citra pak," ucap Syasi sambil menyerahkan secarik kertas yang bertuliskan alamat lengkap saudara tirinya itu.
"Baik Nona."
Kemudian pak sopir mengemudikan mobil itu dengan kecepatan sedang.
Saat dalam perjalanan menuju rumah Citra, tiba-tiba terdengar suara notifikasi dari ponselnya. Syasi pun meraih benda berbentuk pipih itu dari dalam tas. Kemudian dia membaca isi pesan singkat itu.
"Bagaimana Nona, apakah kau sudah bersedia melakukan apa yang aku katakan kemarin saat di pemakaman?"
Ya, Rico lah orang yang mengirim pesan itu pada Syasi.
"Aku bersedia, Rico. Dan saat ini aku sedang menuju ke rumah Citra," balas Syasi.
"Baguslah, aku tunggu kabar baik darimu," kemudian Rico menyudahi obrolannya dengan Syasi.
Tanpa terasa, Mobil yang ditumpangi oleh Syasi pun kini sudah berhenti tepat di depan gerbang rumah Citra.
Kemudian pak supir turun dari mobil, lalu dia menemui pak satpam yang sedang berjaga di depan gerbang.
__ADS_1
Dengan sedikit basa-basi, kemudian pak supir memberitahukan tujuannya datang ke rumah itu.
"Memang benar, ini adalah rumah Non Citra, tapi menurut informasi yang diberikan oleh Tuan Angga kemarin. Non Citra sama sekali tidak diperbolehkan untuk menerima tamu. Apalagi tamu itu tidak dikenal," ujar pak satpam sopan.