
Rahasia Menantu Culun Bab 69
Dua Minggu berlalu begitu cepat, kini tibalah saatnya hari yang dinanti nantikan oleh sepasang kekasih Citra dan Angga.
Tepatnya di sebuah kamar hotel mewah, tampaklah seorang wanita cantik sedang di dandani oleh para makeup artist yang sangat profesional.
Wajah cantik Citra sejak tadi begitu berseri, bahkan senyum manisnya tak pernah pudar dari bibir indahnya.
Namun walaupun begitu, di dalam lubuk hati yang paling dalam, masih ada rasa khawatir yang cukup begitu pekat ia rasakan.
Dan rasa itu adalah, rasa takut dan trauma kalau ia akan mengalami pernikahan yang cukup menyedihkan, seperti pernikahannya dengan Rifki beberapa tahun silam.
Citra menutup mata, berusaha keras menepis rasa khawatir yang tiba-tiba muncul di dalam benaknya.
Kemudian menarik nafas dalam, dan berusaha sekuat tenaga menghilangkan pikiran buruk yang tiba-tiba muncul.
"Dia adalah Angga, bukan Rifki. Mereka berdua adalah orang yang berbeda," batin Citra. Lalu dia kembali fokus pada riasan wajahnya yang hampir selesai.
"Non Citra sangat cantik," puji salah satu para makeup artist tersebut.
Sedangkan Citra yang mendengar pujian itu ia hanya menanggapi dengan senyuman, kemudian melihat sendiri di depan cermin, bagaimana penampilannya.
Disaat Citra sedang bercermin, melihat apakah penampilannya sudah sempurna, tiba-tiba terdengar suara seseorang mengetuk pintu.
Salah satu makeup artist yang menemani Citra pun langsung bergegas ketika mendengar suara pintu diketuk. Kemudian membukanya.
"Nyonya Rosa, silahkan masuk."ujar makeup artist tersebut, ketika ia melihat siapa gerangan yang datang.
Rosa Hafiq tersenyum, kemudian dia berjalan anggun menuju calon menantunya.
Sesampainya di hadapan Citra, Rosa Hafiq pun langsung memancarkan senyum manisnya, lalu dia memuji kecantikan Citra.
"Aku tidak menyangka ternyata kamu sangat begitu cantik nak, pantas saja anakku Angga sangat begitu tergila-gila pada mu," ujar Rosa Hafiq.
Citra tersenyum. Kemudian berterima kasih kepada Rosa Hafiq, karena telah memujinya.
__ADS_1
"Terimakasih atas pujiannya Bu."
Setelah berbincang-bincang sebentar, kemudian Rosa Hafiq meminta pelayannya untuk segera mengeluarkan bingkisan yang ia bawa dari rumah.
"Ini Nyonya," ujar pelayan itu sambil menyerahkan sebuah kotak antik. Namun cukup menyita perhatian dari setiap orang yang melihatnya.
Rosa Hafiq pun membuka kotak itu di hadapan Citra, dan tampaklah satu set perhiasan yang begitu mewah. Kalau diperkirakan harganya mencapai dua miliar.
"Ini untukmu sayang, jagalah baik-baik perhiasan ini, karena ini adalah pemberian dari almarhum ibu mertuaku, dan sesuai adat di keluarga kami, ini sudah menjadi milikmu sekarang," ujar Rosa Hafiq sambil menyunggingkan senyuman. Kemudian dia memasangkan nya pada leher jenjang Citra.
Citra tersenyum, kemudian mengelus lembut perhiasan mewah yang bertengger indah di lehernya, hingga membuat rasa khawatir dan cemas yang sempat melintas di dalam pikirannya tiba-tiba saja sirna, saat melihat sendiri bagaimana perlakuan Rosa Hafiq padanya.
"Terimakasih, kau memang ibu mertua yang sangat baik, andai saja semua wanita di dunia ini mendapat calon mertua seperti dirimu, pasti mereka semua akan merasa sangat bahagia," ucap Citra lalu dia memeluk wanita paruh baya itu dengan erat. Bahkan air mata kebahagiaan pun lolos begitu saja dari kelopak matanya tanpa diundang.
Rosa Hafiq yang merasakan hal itu, ia pun langsung melepas pelukannya dari Citra, lalu menatap lekat wajah calon menantunya.
Dan sepersekian detik kemudian, ia lalu mengambil tisu yang berada di atas nakas, kemudian menghapus air mata Citra dengan lembut.
"Janganlah menangis sayang, ini adalah hari bahagia untukmu, jika anakku Angga sampai melihat hal ini, pasti dia akan marah padaku," ucapnya disertai senyuman.
Hingga menit berikutnya, Rosa Hafiq pun pamit pada Citra dan memberitahukan bahwa sebentar lagi acara akan dimulai.
*****
Di kamar Angga
Pemuda tampan nan karismatik, idaman setiap wanita itu sedang memandangi dirinya di depan cermin.
Ia tampak gagah dengan balutan tuxedo warna putih yang ia kenakan.
Ia tidak menyangka bahwa pada hari ini, dirinya dan Citra akan meresmikan hubungan mereka dalam sebuah ikatan pernikahan.
"Aku tidak mimpi 'kan?" Angga pun menepuk pipinya beberapa kali, bahkan dia mencubit tangannya sendiri. Dan setelah dia merasakan sakit, barulah ia percaya sepenuhnya, bahwa ia tidak mengalami mimpi.
Angga tersenyum, kemudian memperbaiki penampilannya. Rasa bahagia terus saja menyelimuti hatinya karena sebentar lagi ia akan meresmikan hubungannya dengan Citra.
__ADS_1
Tidak berselang lama, datanglah Robin. Sahabat Citra, Ia beralasan membawa dasi untuk Angga.
Disinilah Robin sekarang, berdiri tepat di hadapan Angga. Ia pun lalu memuji ketampanan Angga.
"Kau memang sangat tampan kawan, pantas saja sahabatku Citra tak berkutik, saat kau mengutarakan isi hatimu padanya, dan selamat, akhirnya kau berhasil menjadikannya sebagai istri," ujar Robin sambil menepuk pundak Angga dengan lembut.
"Dan ingat, aku memiliki pesan penting padamu sobat, jagalah Citra dengan penuh cinta, perlakuan ia layaknya sebagai istrimu, dan jangan pernah membuatnya bersedih, apalagi sampai meneteskan air mata," ujar Robin.
Angga tersenyum, kemudian menatap lekat manik mata Robin.
"Jangan khawatir, kamu tau 'kan kalau aku sangat mencintai Citra, dan aku berjanji padamu, akan selalu berusaha membuat Citra bahagia," ujar Angga.
Robin yang mendengar ucapan Angga, dirinya pun sangat merasa senang dan bahagia, kemudian dia langsung memeluk Angga sambil mengucapkan terima kasih.
"Semoga kalian berdua selalu bahagia, dan akan segera mendapat momongan yang cantik dan juga tampan," ucap Robin. Kemudian dia mengajak Angga untuk segera pergi ke aula pernikahan. Karena sebentar lagi acara akan segera dimulai.
Angga pun turun bersama dengan Robin di sampingnya. Dan begitu sampai di depan aula, rupanya Rosa Hafiq sudah menunggu sejak tadi.
"Kemana saja kamu sayang, lama banget bersiap-siap nya?"
"Ya, iyalah Bu. Ini 'kan hari spesial."
Rosa Hafiq tersenyum mendengar celotehan anaknya, kemudian dia menggandeng tangan Angga menuju tempat dilaksanakannya ijab qobul.
Namun berbeda dengan Citra, ia baru saja keluar dari dalam kamar, bersama dengan para dayang-dayang yang ditugaskan oleh Rosa Hafiq untuk membantu Citra.
Citra pun terus berjalan menyusuri koridor demi koridor, hingga akhirnya ia sampai di aula.
Para tamu undangan yang melihat kedatangan pengantin wanita, semua mata pun tertuju padanya, dan kebanyakan dari semua para tamu undangan yang hadir, mereka semua memuji kecantikan Citra.
Tap…
Citra menghentikan langkah kakinya, begitu ia sampai di dekat Angga.
Rosa Hafiq yang melihat kedatangan calon mempelai wanita, kemudian dia berdiri dari tempat duduknya, lalu menuntun Citra untuk duduk di samping Angga.
__ADS_1
Pak penghulu yang melihat pengantin pria dan wanitanya sudah lengkap, lalu dia pun memulai acaranya.
Dan beberapa menit kemudian, ia lalu menjabat tangan Angga.