Rahasia Menantu Culun

Rahasia Menantu Culun
Rahasia Menantu Culun Bab 44


__ADS_3

Rahasia Menantu Culun Bab 44


Syasi yang berada di dalam mobil, kemudian dia keluar saat mendengar penjelasan satpam itu.


"Maaf pak, tapi saya adalah adiknya sendiri."


Pak satpam itu tercengang, saat mendengar pengakuan wanita muda yang berada di hadapannya.


Terlebih, selama bekerja bertahun-tahun ia tak pernah sekalipun melihat Nona mudanya membawa wanita yang berada di hadapannya itu ke rumah.


"Apa kamu serius Nona, jika aku nanti membuat kesalahan sedikit saja, pekerjaan ku adalah taruhannya. Maka dari itu aku harus memastikan dulu dengan menelpon Tuan Angga." kemudian dia merogoh kantong celana dan segera menelpon Angga.


Gawat, jika sampai satpam sialan itu menelpon Angga, bisa-bisa aku tidak dapat menemui Citra.


Beruntung akal picik Syasi langsung bekerja di saat keadaan mendesak seperti ini.


Kemudian dia pun pura-pura meringis menahan rasa sakit di area kepala.


"Aduh...pak, tolong aku. Kepalaku tiba-tiba pusing," ujar Syasi sembari memegang kepalanya yang sama sekali tidak sakit.


Pak satpam tidak mengindahkan ucapan Syasi, ia terus saja mencari nomor kontak Angga di ponselnya.


Sedangkan Syasi yang merasa diacuhkan, kemudian dia pun pura-pura sempoyongan.


"P-pak, t-tolong aku," ucapnya sekali lagi, lalu dia pun tersungkur ke belakang.


Beruntung, supirnya dengan sigap menangkap tubuh Syasi dan meminta pak satpam untuk segera membuka pintu gerbang.


"Tapi pak…!"


Pak satpam tampak ragu, namun karena melihat keadaan Syasi akhirnya dia pun membuka pintu gerbang. Dan langsung membawa Syasi ke dalam pos satpam.


"Pak, boleh aku minta air minum?"


Pak satpam mengangguk, lalu dia bergegas ke belakang untuk mengambil air minum.


Setelah kepergian satpam itu ke belakang, kemudian Syasi lekas berdiri dan menggunakan kesempatan itu untuk masuk ke dalam rumah.


Sedangkan supir Syasi hanya melongo melihat tingkah laku majikannya.

__ADS_1


Tanpa mengetuk pintu, kemudian Syasi langsung nyelonong masuk ke dalam rumah Citra. Dan kebetulan saat ini Citra sedang berada di ruang tamu membaca majalah kesukaannya.


"Kak, Citra…! panggil Syasi.


Citra yang mendengar panggilan itu begitu terhenyak. Sebab, dirinya cukup Familiar dengan pemilik suara tersebut.


Seketika Citra berdiri dari sofa, bahkan dia sampai menjatuhkan majalah yang ia pegang ke atas lantai, karena sangking terkejut melihat Syasi yang tiba-tiba muncul di hadapannya.


"Kak Citra, maafkan aku," ucap Syasi sambil berjalan mendekat ke arah Citra.


Citra terdiam, lalu dia mundur beberapa langkah ke belakang.


"Kak," panggil Syasi. Lalu dia menghentikan langkahnya saat melihat reaksi Citra.


"K-kau, untuk apa kau datang kemari?" tanya Citra sedikit gagap. Karena tidak biasanya Syasi mengucapkan kata maaf. Ia tau betul, jika adik tirinya itu sampai mengucapkan kata tersebut, pasti ada niat terselubung.


Syasi langsung membungkuk, kemudian dia mengeluarkan air mata buayanya.


Hiks...hiks..hiks.


"Kak Citra, maafkan aku. Jika selama ini aku selalu berbuat jahat terhadap kakak, bahkan aku dengan tega merebut mas Rifki, padahal aku tau kalau kakak selama ini sangat mencintainya," ujar Syasi sambil terus meneteskan air mata buaya.


Citra terdiam sejenak, karena dia sudah tau maksud dan tujuan adik tirinya itu datang ke rumahnya.


"Kakak sudah mengerti, kamu datang ke rumah ini untuk meminta aku menjauhi Rifki 'kan? dan kalau mengenai hal itu kamu tidak perlu merasa khawatir, karena aku sudah tidak ada niat sama sekali untuk kembali bersama dengannya," tutur Citra lembut.


Walau sebenarnya dalam hati ia merasa jengkel. Tapi, karena Syasi telah meminta maaf kepadanya tadi, maka Citra berusaha untuk memperlakukan adik tirinya itu selembut mungkin.


Syasi menatap wajah Citra dengan pura-pura berlinang air mata.


"Bukan itu maksudku kak, aku datang ke sini untuk memperbaiki hubungan kita. Hubungan sebagai kakak dan adik."


Citra seketika melepas tangannya dari pundak Syasi, lalu dia menelisik wajah adik tirinya itu. Sebab, ia belum percaya sepenuhnya atas apa yang dia dengar barusan.


Syasi yang melihat reaksi Citra, kemudian dia mengencangkan suara tangisnya. Dan meminta maaf kembali kepada Citra atas apa yang dia lakukan selama ini.


"Aku tau kak, memang tidak mudah bagi kakak untuk memaafkan diriku, terlebih kesalahan yang aku lakukan bukan kesalahan kecil, tapi aku ini adalah adik kakak, hanya kakak yang aku miliki sekarang di dunia ini," ujar Syasi kemudian dia berjalan mendekat ke arah Citra dan langsung berlutut dan menyentuh kaki Citra.


Kalau bukan karena ambisi ku untuk membalaskan dendam kematian ibu, mana mungkin aku Sudi menyentuh kaki Citra, melihat mukanya saja aku sudah jijik.

__ADS_1


Citra mundur beberapa langkah ke belakang, lalu dia meraih tangan Syasi dan langsung menyuruhnya untuk segera berdiri.


Namun belum sempat Citra berkata apapun, tiba-tiba Angga datang dengan tergesa. Sebab, satpam penjaga rumah Citra sudah memberitahukan padanya. Bahwa ada seorang perempuan datang ke rumah Citra, dan wanita itu mengaku kalau dia adalah adik Citra.


"Apa yang kau lakukan disini wanita ular?" Angga menggertakkan gigi saat melihat Syasi yang hampir berhasil dengan akting yang dia lakukan.


"Citra, jangan percaya dengan omongannya, dia itu hanya pura-pura meminta maaf padamu, demi memuluskan rencananya. Dan apa kamu tau? dia berencana untuk membalaskan dendam kematian ibunya padamu. Dan ini adalah rencananya dan Rico. Orang yang dulu menculikmu," jelas Angga.


Kemudian dia berjalan ke arah Citra dan menjauhkan wanita yang dia cintai itu dari genggaman Syasi.


Angga sialan, kenapa dia tiba-tiba datang, padahal sedikit lagi rencana ku akan berhasil membujuk Citra.


Syasi kembali menangis dengan tersedu. Lalu dia menatap Angga.


"Kak Angga, kenapa kau tega menuduhku seperti itu, padahal aku meminta maaf kepada kak Citra dengan tulus," ujarnya sambil menangis sesenggukan.


Citra menatap Angga. Sedangkan Angga yang di tatap seperti itu oleh Citra ia hanya menggelengkan kepala.


Mengisyaratkan agar Citra jangan terpengaruh dengan omong kosong Syasi.


"Tapi Angga, biar bagaimanapun dia tetap lah adikku, dan aku sendiri tidak tega melihatnya menangis seperti itu," ucap Citra yang mulai luluh dengan perkataan Syasi.


Sedangkan Syasi yang mendapat pembelaan dari Citra, dalam hati ia pun bersorak kegirangan.


Angga menatap Syasi dengan tajam, lalu dia meraih pergelangan Syasi dan menyeretnya ke luar dari rumah.


"Pergi kau dari sini dan jangan coba-coba untuk kembali lagi," sarkas Angga.


"Kak," panggil Syasi berharap ada pembelaan dari Citra.


Namun, Angga seketika menggelengkan kepala, sambil memberi isyarat agar Citra diam.


"Tapi Angga, dia adalah adikku." ucapnya kemudian.


Angga terdiam sejenak. Lalu dia menatap manik mata Citra dengan sangat dalam


Terima kasih kepada pembaca setia novel dengan judul Rahasia Menantu Culun, dengan Author riski iki. Dan jika kalian berkenan silahkan kasih like, komen dan vote ya. Author tunggu ya🤭🤭


Dan seperti biasa, kalau hari Senin Author riski iki akan merekomendasikan novel yang sangat bagus untuk kalian.

__ADS_1



Jika kalian berkenan silahkan mampir ya, dan lupa juga sampaikan salam author riski iki pada kak Santi Suki ya😘😘😘


__ADS_2