Rahasia Menantu Culun

Rahasia Menantu Culun
Rahasia Menantu Culun Bab 51


__ADS_3

Rahasia Menantu Culun Bab 51


"Bagaimana keadaan suami saya dokter?" tanya Syasi setelah pintu ruangan Instalasi Gawat Darurat itu baru saja dibuka oleh sang dokter.


Dokter itu tersenyum ramah.


"Nona tidak perlu merasa khawatir, karena suami anda baik-baik saja."


Syasi yang belum puas dengan jawaban sang dokter, lalu dia pun menanyakan bagaimana dengan kondisi kaki suaminya.


Lagi-lagi sang dokter tersenyum tipis. Lalu dia menjelaskan pada Syasi bahwa kaki pasien tidak mengalami luka yang serius. Bahkan dokter itu mengatakan pada Syasi, kalau hari ini Rifki sudah boleh pulang ke rumah.


Syasi mengernyit, merasa heran dengan jawaban sang dokter. Bukankah tadi dia melihat sendiri kalau suaminya Rifki merasakan kesakitan yang teramat sangat. Apakah itu hanya kepura-puraan Rifki saja?


Bingung itulah yang dia rasakan sekarang.


"Nona, kalau sudah tidak ada lagi yang perlu ditanyakan, saya permisi," pamit sang dokter.


Syasi mengangguk pelan, lalu dia kembali duduk pada kursi yang tersedia di depan ruangan itu.


"Bagaimana dengan kondisi Rifki?" tanya Siska yang baru saja tiba bersama dengan pengasuh Ronald.


Syasi menarik nafas dalam, lalu dia menatap kearah ibu mertuanya.


"Kata dokter, Rifki baik-baik saja Mom, tidak ada yang perlu di khawatirkan. Bahkan sore ini juga sudah diperbolehkan pulang ke rumah," jawab Syasi.


Siska mengusap dada beberapa kali, merasa lega mendengar penuturan menantunya. Kemudian dia duduk di sebelah Syasi untuk menanyakan lebih jauh tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Rifki.


Namun, baru saja Siska mendudukkan bokongnya tepat di atas kursi, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka, dan tampak beberapa suster mendorong brankar Rifki menuju ruang rawat.


Siska yang melihat hal itu, lalu dia menghampiri Rifki, namun tindakannya langsung dihalau oleh salah satu suster, dengan alasan kalau saat ini pasien sedang istirahat dan dalam keadaan masa pemulihan.


"Baiklah," ucap Siska sambil mengikuti brankar Rifki menuju ruang rawat.


Sedangkan Syasi, ia masih setia duduk di atas kursi, memikirkan ucapan dokter barusan.


*****


Mobil yang dikendarai oleh Angga melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalanan ibukota. Sedangkan Citra yang duduk di sebelah Angga dia terus meminta laki-laki itu untuk memacu kendaraannya agar lebih cepat.

__ADS_1


Pasalnya dia tidak tenang, sebelum mengetahui keadaan Rifki yang sebenarnya.


"Angga, lebih cepat lagi," pinta Citra.


Angga melirik sekilas ke arah wajah Citra.


"Ini sudah cepat Citra," jawabannya kemudian.


Entahlah, saat ini Angga sangat merasa cemburu melihat Citra mengkhawatirkan Rifki.


Ckiit….


Mobil yang dikendarai oleh Angga akhirnya berhenti tepat di depan rumah sakit, Citra langsung turun dan berjalan menuju meja resepsionis. Lalu dia menanyakan dimana ruang rawat pasien atas nama Rifki Ansori Bagaskara pada petugas yang berjaga.


"Nona lurus saja, nanti kalau ada gang belok kanan," ucap resepsionis itu.


"Baiklah, terima kasih," ucap Citra lalu dia mengikuti petunjuk yang diberikan oleh suster tersebut.


Sedangkan Angga, dengan sabar dia mengikuti langkah kaki Citra dari arah belakang.


Tap...tap..tap.


Citra terus saja melangkah menyusuri koridor rumah sakit, hingga akhirnya sampailah ia di depan ruangan Rifki di rawat.


Syasi mendongak, lalu dia menatap manik mata Citra, tergambar jelas di sana, bahwa saat ini kakak tirinya itu sangat mengkhawatirkan Rifki.


Melihat hal itu, relung hati Syasi mencelos. Merasa menyesal karena telah mengabari Citra tentang keadaan Rifki.


Kemudian Syasi melepas tangan Citra dari genggaman tangannya.


"Kakak tidak perlu merasa khawatir, suamiku baik-baik saja kok," jawab Syasi.


"Lalu dimana dia sekarang, kakak ingin bertemu dengannya," ujar Citra.


Apa-apaan sih ini perempuan sok peduli deh.


Kemudian Syasi menatap manik mata Citra.


"Baiklah," ucapnya pasrah. Kemudian dia membawa Citra menuju ruangan Rifki di rawat.

__ADS_1


Sesampainya di depan pintu, kemudian Syasi, Angga dan juga Citra memasuki ruangan.


Sedangkan Siska yang melihat kedatangan Citra ia pun merasa heran kenapa mantan menantu culunnya itu mengetahui kalau saat ini Rifki sedang dirawat.


Dengan perlahan ia pun mengarahkan pandangannya pada Syasi. Lalu dia menatapnya dengan tatapan menghunus.


Sedangkan Syasi yang mengerti dengan arti tatapan tajam ibu mertuanya, kemudian dia langsung mendekat dan membisikkan sesuatu yang membuat hati Siska akhirnya melunak. Lalu mereka berdua berjalan menuju Angga dan menarik lengan laki-laki itu keluar ruangan.


Kini tinggallah Citra dan Rifki di ruangan itu.


"Mendekat lah," pinta Rifki akhirnya. Walaupun saat ini hatinya merasa sakit melihat kedatangan Citra bersama dengan Angga.


Citra menunduk, lalu dia berjalan perlahan mendekat menuju bed pasien Rifki.


"Kenapa kamu datang bersama dengan Angga, kamu tau 'kan kalau aku sangat, sangat tidak suka melihat kamu dekat-dekat laki-laki jahanam itu," ujar Rifki tampak murka.


Citra seketika mendongakkan kepala, lalu dia melihat ke arah Rifki. Dan memperlihatkan langsung pada mantan suaminya itu mengenai keputusan hakim.


"Saat ini kita sudah tidak memiliki ikatan apapun Rifki, jadi kamu tidak berhak melarangku untuk dekat dengan siapapun."


Citra menatap tajam ke arah Rifki. Ia lupa kalau saat ini mantan suaminya itu sedang dirawat di rumah sakit. Karena sangat kesal mendengar ucapan Rifki yang melarangnya untuk berteman dengan Angga.


"Kamu tetaplah istriku, tidak ada yang bisa memisahkan kita, dan mengenai keputusan hakim aku tidak peduli," ujar Rifki.


Citra tersenyum mengejek, lalu dia mengingatkan mantan suaminya itu, mengenai pernikahan yang mereka jalani selama dua tahun.


"Kamu tau mas, dulu aku sangat mencintaimu melebihi apapun, bahkan aku rela mengemis cinta padamu, rela melakukan apapun asal kamu memperhatikan diriku, dan lebih menyakitkan lagi aku diperlakukan seperti pembantu pun aku masih terima. Tapi kamu tidak pernah melihat ketulusan cinta ku, kamu menyia-nyiakan aku mas," tanpa terasa bulir bening mulai menetes dari kelopak mata Citra, saat mengingat penderitaannya dulu, dalam menjalani kehidupan rumah tangga bersama dengan Rifki.


Dengan cepat Citra pun mengusap air matanya dengan punggung tangan. Sebab, dia tidak ingin terlihat lemah dihadapan mantan suaminya itu.


"Dan apa kamu masih ingat mas, saat di pagi hari aku hanya telat bangun, ibu sudah mengguyur tubuhku dengan air Es, dan mengatai diriku wanita culun dan mandul? hatiku sangat sakit mas, sakit," kemudian Citra memukul-mukul dadanya.


"Dan lebih menyakitkan lagi mas, kamu membawa adik tiriku Syasi ke rumah, dan mengakui bahwa kau dan dirinya sudah menikah, dan bahkan kalian sudah mempunyai anak, aku tidak tau," Citra menggelengkan kepala. Dan kali ini ia sudah tidak bisa lagi membendung air matanya yang mulai menganak sungai.


Rifki terdiam. Tidak berani menatap kearah Citra. Ia hanya menunduk menyesali perbuatannya dulu terhadap wanita yang tulus mencintai dirinya.


Namun, penyesalan tinggallah penyesalan. Kejadian yang telah berlalu tidak akan pernah mungkin terulang kembali.


******

__ADS_1


Hai….para reader semuanya, salam hangat dari author riski iki 😊. Oh….iya, sambil menunggu cerita Rahasia Menantu Culun update, kalian boleh mampir ke karya kak author ❤️Nirwana Asri❤️ dengan judul Dikira Melarat Ternyata Konglomerat. Dan jangan lupa juga sampaikan salam author riski iki pada kak Nirwana Asri ya. 😘😘😘



__ADS_2