
Rahasia Menantu Culun Bab 49
Pagi harinya.
Sesuai jadwal, Citra pun kini sudah berada di pengadilan agama bersama dengan Robin dan juga Angga.
Citra sengaja mengajak Angga, agar Rifki menyadari kalau Citra sudah tidak memiliki perasaan lagi terhadap Rifki.
Sedangkan Rifki Ia masih bersiap-siap untuk berangkat ke pengadilan, dan ia bertekad akan mempertahankan hubungannya dengan Citra. Apapun alasannya.
Saat dirinya melangkah menjauh dari kamarnya. Ia pun menyempatkan menghubungi Mommynya dan memberitahukan pada Siska, bahwa hari ini dia tidak bisa datang ke rumah sakit untuk menjenguk Ronald. Karena ada pekerjaan penting yang tidak bisa ditinggalkan.
"Tidak apa-apa sayang, lagi pula keadaan Ronald juga sudah membaik."
Setelah mengabari kalau dirinya tidak bisa datang, kemudian Rifki memutuskan sambungan Ponselnya dan berjalan sedikit tergesa menuju mobil.
Rifki pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dan sesekali ia melirik jarum jam yang melingkar di pergelangan tangan, rupanya saat ini dia sudah terlambat hampir setengah jam, karena memang jalanan saat ini sangat begitu macet.
Terpaksa Rifki memilih jalan pintas, walaupun jalannya sedikit berkelok, tapi kemungkinan besar jalan raya itu tidak macet.
Rifki terus saja melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, agar ia cepat sampai di pengadilan agama.
Namun naas, saat melewati jalan berkelok sebuah truk tangki membawa bahan bakar minyak rupanya sedang mogok ditengah jalan. Alhasil kendaraan yang melintas sama sekali tidak bisa lewat.
"Ah...sial?" Rifki pun memukul setir mobilnya hingga beberapa kali. Ingin mundur juga sudah percuma, karena beberapa kendaraan lainnya sudah mulai memadati jalanan tersebut.
"Apa yang harus aku lakukan, jika aku tidak sampai ke pengadilan secepatnya, aku takut, hakim langsung mengabulkan gugatan perceraian antara aku dan Citra."
Rifki pun keluar dari dalam mobil dan dia berniat untuk berjalan kaki menuju ke pengadilan.
Namun baru saja dia berjalan beberapa meter, Rifki sudah mulai ngos-ngosan. Tapi, semua hal itu tak dihiraukan olehnya demi untuk sampai secepatnya ke pengadilan agama.
Rifki terus saja melangkah menyusuri jalanan yang tampak ramai oleh kendaraan.
Namun tiba-tiba, ada sebuah mobil yang tampak oleng mendekat kearah Rifki.
Rifki yang melihat hal itu, ia berusaha menjauh. Namun naas, mobil itu tiba-tiba menyenggol dirinya hingga dia tersungkur ke samping.
"Argh…!" teriak Rifki. Ia merasa sakit di area lutut.
__ADS_1
Dan orang-orang yang melihat kejadian tersebut, mulai berdatangan untuk menolong Rifki.
*****
Di ruang persidangan
Citra, Robin dan juga Angga sedang menunggu kedatangan Rifki sejak tadi. Namun, sudah hampir dua jam mereka menunggu, Rifki belum juga menampakkan hidung belangnya.
Persidangan pun telah dimulai sejak dua jam lalu, dan para hakim yang sudah mulai merasa bosan, kemudian mereka memberi waktu lima menit lagi untuk Rifki, kalau sampai Rifki belum juga datang, terpaksa para hakim mengabulkan gugatan Citra.
Angga yang mendengar keputusan para hakim tersebut, kemudian dia berdoa dalam hati, jangan sampai Rifki datang ke pengadilan.
"Ya Tuhan, aku mohon padamu kabulkan lah permintaan hamba kali ini, aku mohon dengan sangat, jangan biarkan Rifki datang ke pengadilan ini," doa Angga dalam hati.
Lima menit berlalu.
Citra pun bernafas lega, karena pada akhirnya para hakim mengabulkan gugatannya. Karena ketidak hadiran Rifki membuat segalanya menjadi mudah.
Bahkan Citra sampai bersujud syukur kepada Tuhan, karena tidak mendapat kendala sedikitpun.
"Ya Tuhan, terima kasih atas segalanya, kau telah mempermudah urusan ku hari ini." kemudian Citra berdiri.
"Selamat. Akhirnya kau terlepas juga dari suami penyiksa itu," ujar Robin bahagia. Bahkan ia sampai berjingkrak-jingkrak di ruang persidangan itu.
Sedangkan Angga yang melihat kedekatan Citra dengan Robin, ia merasa sedikit cemburu, padahal sebelum-sebelumnya Angga tidak pernah merasakan hal seperti itu.
Apakah rasa cinta Angga terhadap Citra sudah mulai menggunung, hingga melihat Robin saja memeluk Citra, ia sudah merasakan kecemburuan yang teramat luar biasa?
"Ehm...ehm." karena tidak tahan lagi melihat kedekatan Citra dengan Robin, terpaksa ia harus memberi kode agar Robin segera melepas pelukannya terhadap Citra.
"Apa-apaan sih bro, bilang saja kalau kau juga ingin berpelukan dengan Citra, nggak usah berdehem segala, aku tau kalau saat ini kau sedang iri padaku, iya 'kan," tuduh Robin, kemudian ia melepas pelukannya terhadap Citra, dan menggantikannya dengan merangkul pinggang ramping Citra, berniat untuk memanas-manasi Angga.
Angga yang mendengar tuduhan Robin yang tidak berdasar, padahal sebenarnya memang kenyataan, kemudian dia mendekat ke arah Citra dan menjauhkan tangan Robin dari pinggang ramping Citra dan menggantikan dengan tangannya sendiri.
"Lepaskan tanganmu, memangnya kamu doang yang ingin mengucapkan selamat kepada Citra, aku juga ingin," ucap Angga.
Kemudian dia menatap manik mata Citra dengan dalam.
Citra yang menyadari hal itu, dia langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.
__ADS_1
"Jangan menatapku seperti itu Angga, aku tidak suka," tutur Citra lembut.
Lalu dia meraih tangan Angga dan melepas dari pinggangnya, kemudian Citra berjalan keluar dari dalam ruang sidang itu dengan sedikit terburu-buru.
Entah kenapa, Citra tiba-tiba teringat terhadap Rifki. Kenapa mantan suaminya itu tidak datang ke persidangan.
"Apa yang terjadi dengannya? apakah aku salah bicara, Robin?" kemudian Angga menatap kearah Robin sambil menautkan kedua alis, merasa bingung sekaligus resah atas sikap Citra.
Sedangkan Robin yang ditanya oleh Angga dia hanya menggelengkan kepala.
Kedua laki-laki itu pun mengikuti langkah kaki Citra keluar ruangan, mereka saling melirik satu sama lain saat melihat Citra saat ini sedang termenung di ruang tunggu.
"Apa yang terjadi dengan Citra? bukankah tadi dia sangat senang mendengar keputusan hakim, tapi kenapa sekarang dia tampak bersedih," ujar Angga pada Robin.
Sedangkan Robin, lagi-lagi dia menggelengkan kepala sambil menatap sahabatnya itu yang mulai meneteskan air mata.
"Daripada kita bertanya-tanya yang tidak tau apa jawabannya, bagaimana kalau kita berdua menanyakan langsung pada Citra," usul Robin.
Angga terdiam sejenak, menimang-nimang usul Robin. Hingga sepersekian detik kemudian Angga pun menyetujui usul Robin.
"Baiklah," ucap Angga.
Kemudian mereka berdua berjalan mendekat ke arah Citra, dan tanpa basa-basi kedua laki-laki itu pun menanyakan kenapa Citra tiba-tiba bersedih?
Citra menatap kearah Angga dan juga Robin, ia merasa bingung. Apakah dia harus menceritakan kegundahan hatinya pada Robin dan juga Angga.
Melihat Citra yang tidak mengucapkan sepatah katapun, kemudian Robin menggenggam tangan Citra dengan lembut.
Sedangkan Angga yang melihat hal itu, kemudian dia menepis tangan Robin dan menggantikan dengan tangannya.
"Apa-apaan sih kamu Angga, kamu tidak lihat apa, kalau Citra sedang bersedih," kesal Robin.
Angga mengalihkan pandangannya pada Robin. Lalu dia meminta laki-laki itu untuk pergi meninggalkan mereka berdua.
******
Hallo kakak-kakak semuanya, sambil menunggu author riski iki update, kalian boleh mampir ke karya kak Author
❤️Ramanda❤️ dengan judul Jamur Janda Muda Dibawah Umur. Terima kasih.😘😘😘
__ADS_1