
Rahasia Menantu Culun Bab 67
Persiapan pernikahan
Rasa bahagia terus saja menyelimuti kedua insan yang sedang dimabuk asmara, Citra dan Angga.
Keduanya saling melempar senyum ketika Rosa Hafiq sedang sibuk memilih decoration pernikahan. Ia ingin, pernikahan Angga dan Citra diselenggarakan dengan sangat mewah, bahkan di kota itu tidak ada yang bisa menandingi.
Ketika Rosa Hafiq sedang sibuk memilih decoration pernikahan, lain halnya dengan Angga, sejak tadi ia terus menatap wajah Citra tanpa berkedip.
Entahlah, Angga merasa penampilan Citra hari ini sangat begitu memukau.
Dengan perlahan, Angga pun beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan mengitari Rosa Hafiq kemudian dengan sempurna mendaratkan bokongnya tepat di samping Citra.
Citra tersenyum canggung.
"Mas, kenapa kamu menghampiri ku, cepatlah kembali duduk di sebelah ibu, aku takut, jika kamu duduk di sebelahku ibu nanti akan marah," bisik Citra tepat di telinga Angga.
Bukannya menanggapi, Angga malah cengengesan. Lalu dengan berani mengalungkan tangannya tepat di pinggang ramping Citra.
Citra terbelalak, melihat tingkah laku Angga yang semakin hari menurutnya semakin aneh saja. Bahkan tampak seperti anak kecil yang kurang perhatian.
"Mas cepatlah duduk kembali pada tempat duduk mu semula, sebelum ibu melihat kita, aku benar-benar takut kalau ibu nanti marah," bisik Citra untuk kedua kalinya.
Namun lagi-lagi Angga tak menanggapi, ia terus saja bergelayut manja pada pinggang ramping Citra, bahkan sesekali menghirup aroma parfum yang menyeruak dari leher jenjang Citra, dan hal itu membuatnya candu.
Hingga ia ingin, menautkan bibirnya pada leher jenjang itu dan memberinya tanda cinta.
"Mas, apa yang kamu lakukan?" Citra mulai risih dengan tingkah Angga. Pasalnya mereka sekarang berada di ruangan terbuka. Bahkan banyak orang yang berlalu lalang.
Rosa Hafiq yang sejak tadi begitu serius mengobrol dengan penanggung jawab decoration pernikahan, ia pun baru menyadari kalau anaknya Angga sudah tidak berada di sampingnya.
"Hufh…!" Rosa Hafiq menarik nafas dalam, ketika ia menoleh langsung melihat anaknya Angga sedang berduaan bersama Citra.
"Angga apa yang kamu lakukan, bukankah tadi ibu perintahkan kamu diam duduk di samping ibu, tapi kenapa sekarang kamu berpindah tempat."
Angga yang sedang bergelayut manja pada Citra, dalam sekejap langsung menghentikan aksinya. Kemudian berdiri dan duduk kembali pada tempat duduknya semula.
__ADS_1
"Ibu jangan menatapku seperti itu? ibu tau 'kan aku tidak bisa lama-lama berjauhan dengan Citra. Tapi apa yang ibu lakukan. Dengan tega melarangku untuk tidak bertemu dengan Citra, bahkan sudah hampir dua Minggu," ucap Angga.
Sedangkan Rosa Hafiq yang mendengar ocehan anaknya, ia pun hanya menggeleng-gelengkan kepala.
"Dasar anak jaman sekarang, bersabarlah. Ini tidak akan lama, sebentar lagi juga kalian akan bersama untuk selamanya," ujar Rosa Hafiq.
Kemudian dia berdiri dari tempat duduknya, lalu pamit pada Citra untuk pulang ke rumah, karena dia sangat merasa lelah.
Angga yang mendengar hal itu, dia langsung berdiri dari tempat duduknya. Lalu memeluk ibunya dengan sangat erat.
"Sudah aku bilang, ibu tidak usah menyibukkan diri dengan pernikahan kami, tapi ibu tidak mendengarnya," ucap Angga.
Rosa Hafiq tersenyum. Kemudian mengusap punggung Angga dengan lembut.
"Bagaimana ibu bisa hanya berdiam diri di rumah, sedangkan hari yang sangat berarti untuk anak ibu sudah semakin dekat, dan ibu tidak mau melewatkan momen yang begitu spesial ini," ujar Rosa Hafiq disertai senyuman manis.
Citra yang mendengar ucapan Rosa Hafiq, ia pun lalu berdiri dari tempat duduknya. Merasa terharu sekaligus bahagia mendapat ibu mertua yang sangat begitu perhatian dan baik seperti Rosa Hafiq.
"Terimakasih, ibu sudah ikut andil dalam persiapan pernikahan kami, bahkan dengan rela meluangkan waktu hanya untuk mengurus dekorasi-nya " ucap Citra kemudian ia memeluk Rosa Hafiq.
"Sama-sama sayang, kamu tidak perlu merasa khawatir, semua ini ibu lakukan karena kalian berdua itu adalah anakku, maka aku sebagai seorang ibu, itu memang kewajiban ku," ujar Rosa Hafiq tersenyum. Lalu membalas pelukan hangat dari calon menantunya itu.
Setelah momen yang cukup mengharukan itu berlalu, kini mereka semua pun pergi meninggalkan ruangan itu menuju lobby.
Rosa Hafiq pulang ke rumah yang diantar oleh supir pribadinya, sedangkan Citra pulang bersama Angga menuju ke kantor.
"Ufh…sayang, kenapa kamu masih bekerja, seharusnya kamu berada di rumah untuk memanjakan diri," ucap Angga.
Citra tersenyum.
"Aku hanya singgah sebentar di kantor, setelah itu pulang, karena Robin tadi pagi menelpon, katanya ada berkas penting yang harus aku tandatangani," ucap Citra.
"Oh…hanya itu. Berarti aku boleh menunggu mu 'kan, dan akan mengantarkan kamu pulang nanti," ucap Angga dengan cukup semangat.
Citra menggeleng dengan cepat, lalu memperingati Angga, bahwa untuk saat ini mereka berdua tidak boleh lama-lama bertatap muka, kalau tidak ada urusan penting mengenai hal yang bersangkutan dengan resepsi pernikahan. Mereka berdua tidak boleh bertemu.
Lagi-lagi Angga menarik nafas dalam, mendengar ucapan Citra yang sama seperti ibunya.
__ADS_1
"Ah..itu lagi-itu lagi, aku bosan mendengar kalimat itu," ucap Angga cukup kesal.
Sedangkan Citra hanya tersenyum mendengar celotehan Angga.
Tidak berselang lama, mobil itu pun kini sudah berhenti tepat di depan kantor Citra.
Citra pun turun, kemudian melambaikan tangan pada Angga.
Angga tersenyum tipis, kemudian kembali melajukan mobil menuju kantornya, karena ia juga sebenarnya memiliki pekerjaan yang cukup penting hari ini.
Setelah kepergian Angga, Citra pun melangkah perlahan menuju ruangannya.
Namun, ketika dirinya berada di depan pintu, tiba-tiba Robin datang menghampiri dan memberitahukan pada Citra, bahwa saat ini Syasi sedang berada di dalam ruangannya.
"Apa….?" buru-buru Robin memberikan isyarat dengan meletakkan jari telunjuknya di depan mulut Citra.
"Jangan keras-keras, nanti Syasi mendengarnya," ujar Robin.
"Iya…maaf, aku cukup terkejut mendengar kabar itu," jawab Citra.
Dengan penasaran yang cukup tinggi, apa sebenarnya tujuan Syasi datang menemuinya jauh-jauh, kemudian Citra membuka knop pintu itu dengan perlahan, dan mengarahkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Namun ia tidak menemukan keberadaan adik tirinya itu.
"Bagaimana sih, katanya ada Syasi di dalam ruangan ku, tapi kemana orangnya," ucap Citra sambil mengerutkan kening.
Robin menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia tidak mungkin salah, karena dirinya lah yang menyuruh Syasi untuk menunggu di ruangan Citra.
"Kemana orangnya, bukankah tadi dia berada di sini?" Robin juga merasa bingung sendiri, karena dirinya tidak melihat keberadaan Syasi.
"Ah…sudahlah, tidak usah terlalu memikirkannya, mungkin dia sudah pulang," ucap Citra.
Kemudian dia meminta Robin untuk segera mengantarkan berkas penting yang harus ditandatangani hari ini.
"Baiklah, tunggu sebentar, aku akan segera mengambilnya dulu di dalam ruangan ku." Robin pun buru-buru keluar dari dalam ruangan Citra menuju ruangannya.
Sesampainya di dalam ruang kerja Robin, bukannya mengambil berkas penting yang diminta oleh Citra, ia malah penasaran kemana sebenarnya Syasi pergi.
Dengan mengecek CCTV yang berada di dalam ruangannya, Robin pun cukup terperanjat saat melihat kejadian yang terjadi di dalam ruangan Citra sekarang.
__ADS_1
"Oh…tidak!"