Rahasia Menantu Culun

Rahasia Menantu Culun
Rahasia Menantu Culun Bab 64


__ADS_3

Rahasia Menantu Culun Bab 64


Dua bulan kemudian


Semenjak kematian Dila, hubungan antara Angga dan Citra pun sudah tidak ada penghalang, mereka berdua semakin hari semakin dekat. Dan ibunya Angga juga sepertinya sudah mulai menerima kehadiran Citra.


Setelah sang anak kesayangan, Angga. bersikeras untuk menikahi Citra. Dan demi kebahagiaan Angga, akhirnya Rosa Hafiq mau tidak mau menyetujui keinginan anaknya.


Seperti saat ini, kedua perempuan beda usia itu sedang berbincang dari hati kehati, tepatnya di salah satu restoran mewah milik keluarga Rosa Hafiq.


"Aku memang sudah menyetujui kalau kamu dekat dengan Angga, bahkan aku juga sudah berjanji padanya akan merestui pernikahan kalian. Tapi…!" Rosa Hafiq menghentikan kalimatnya sejenak, kemudian menarik nafas dalam sambil menatap wajah Citra dengan cukup tajam.


Citra yang ditatap oleh Rosa Hafiq seperti itu, ia pun lalu menundukkan kepala. Tidak berani menatap wajah lawan bicaranya. Karena yang berada di hadapannya itu bukan orang lain, melainkan ibunya Angga.


Calon mertuanya sendiri, Dan biar bagaimanapun Citra harus tetap menghormatinya.


Dengan mengumpulkan keberanian, Citra lalu menanyakan, kenapa Rosa Hafiq menghentikan kalimatnya.


Padahal dirinya sangat begitu penasaran dengan kelanjutan apa yang sebenarnya yang ingin dikatakan oleh calon mertuanya itu.


Rosa Hafiq tersenyum tipis.


"Kau yakin ingin mendengarnya?"


"Tentu saja, nyonya Rosa Hafiq," jawab Citra tegas. Padahal di dalam hati, Citra merasakan ketegangan luar biasa. Jantungnya berdegup kencang, dan telapak tangannya juga sudah mulai dingin. Dan jangan ditanya, kalau raut wajahnya, sudah pasti tampak pucat pasi.


Sekali lagi Rosa Hafiq tersenyum. Kemudian dia pun langsung mengatakan apa yang mengganjal di dalam hatinya.


"Aku tidak bermaksud menyakiti hati dan perasaan mu Citra, tapi sebagai seorang ibu aku ingin memastikan bahwa anakku Angga menikahi wanita yang tepat," kemudian sekali lagi Rosa Hafiq menarik nafas, sebelum dia mengutarakan maksud dan tujuannya untuk bertemu dengan Citra.


"Apakah kabar yang beredar di luar sana, bahwa dirimu adalah perempuan mandul?"


Citra yang tadinya menunduk, kemudian mendongak. Lalu dengan garang menatap wajah calon ibu mertuanya itu.


Saat ini dirinya begitu emosi, ia tidak terima jika ia dibilang wanita mandul.

__ADS_1


Rosa Hafiq yang mengerti dengan sikap yang ditunjukkan oleh Citra, ia pun buru-buru memberi pengertian.


"Sekali lagi aku minta maaf, aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu, aku hanya tidak ingin, jika nanti Angga menikah, ia tidak memiliki keturunan," ujar Rosa Hafiq.


Citra menarik nafas dalam, kemudian melembutkan tatapan matanya. Ia mengerti kecemasan Rosa Hafiq saat ini. Lalu menceritakan sekilas mengenai hubungannya dengan suami pertamanya, Rifki.


"Apakah kamu kenal dengan wanita ini?" Citra pun lalu mengeluarkan sebuah foto dari dalam dompet, kemudian menyerahkannya kepada Rosa Hafiq.


Rosa Hafiq pun memperhatikan dengan seksama foto yang diberikan oleh Citra. Lalu dia menggeleng dengan cepat.


"Aku tidak kenal, memangnya siapa perempuan ini, kok wajahnya aneh sekali. Tapi tunggu, kalau diperhatikan… bola matanya sangat mirip denganmu," ujar Rosa Hafiq membandingkan bola mata yang berada di foto itu dengan Citra.


Citra tersenyum miris.


Lalu dia mengatakan kalau itu memang dirinya, waktu menikah dengan suami pertamanya, Rifki.


Citra juga menjelaskan, selama menikah dengan Rifki, dirinya tak pernah sekalipun disentuh oleh laki-laki itu, karena melihat wajahnya saja, suaminya sudah jijik.


Namun hal tak terduga terjadi, setelah Citra merubah penampilannya dan sudah cantik seperti sekarang, tiba-tiba suaminya Rifki menculiknya dan melakukan hubungan suami istri dengan dirinya, dan Citra juga menceritakan, setelah berhubungan dengan Rifki dirinya sempat hamil.


"Hufh…!" Citra menarik nafas panjang, setelah dia menceritakan sekilas mengenai hubungannya dengan suami pertamanya.


Sedangkan Rosa Hafiq yang mendengar sekilas tentang kehidupan masa lalu Citra, dirinya pun sampai menitihkan air mata.


Kasihan, itulah yang dia rasakan.


"Maafkan aku, aku tidak menduga bahwa kehidupanmu di masa lampau ternyata semenyakit ' kan itu," ujar Rosa Hafiq sambil menghapus air matanya. Dan ia merasa menyesal karena telah mengungkit luka lama yang berusaha Citra kubur dalam-dalam.


Citra tersenyum tipis.


"Tidak apa-apa nyonya, lagipula aku menceritakannya bukan kepada orang asing, melainkan calon ibu mertuaku, dan sebagai seorang ibu, ibu berhak mengetahui masa lalu calon menantunya," ujar Citra tampak tegar.


Mendengar ucapan Citra, kemudian Rosa Hafiq berdiri dari tempat duduknya, lalu dia menghampiri Citra dan memeluknya dengan sangat erat.


"Ternyata anakku Angga tidak salah memilih kamu sebagai calon istrinya, akulah yang salah selama ini selalu menutup mata dan tidak melihat kebesaran hatimu, maafkan aku Citra," ucap Rosa Hafiq.

__ADS_1


"Tidak apa-apa nyonya," jawab Citra.


Rosa Hafiq langsung melepas pelukannya dari Citra, saat mendengar jawaban sang calon mantu. Lalu menatap lekat manik mata Citra yang tampak digenangi oleh cairan bening.


"Jangan panggil aku nyonya, panggil lah aku seperti Angga memanggil diriku, karena sebentar lagi kamu akan menjadi menantu ku," ucap Rosa Hafiq.


Cairan bening yang menggenang di pelupuk mata Citra seketika tumpah, saat mendengar ucapan Rosa Hafiq barusan.


"A-apakah aku boleh memanggilmu dengan sebutan, i-ibu," ucap Citra.


Rosa Hafiq tersenyum, lalu dia mengangguk mengiyakan.


Citra merasa terharu, lalu dengan secepat kilat ia langsung memeluk tubuh Rosa Hafiq dengan sangat erat. Dirinya tidak menyangka, wanita paruh baya yang selalu tampil arogan di hadapannya itu, ternyata sangat baik.


Bahkan dirinya diizinkan untuk memanggilnya dengan sebutan ibu.


"Terima kasih, ibu. Sekarang aku sudah tidak sendiri lagi di dunia ini, aku sudah memiliki ibu yang baik seperti dirimu, sekali lagi terimakasih," ujar Citra sambil berlinang air mata.


Sedangkan di lain tempat, seseorang juga meneteskan air mata. Walaupun ia seorang laki-laki gagah perkasa, rasanya dia tak sanggup membendung air matanya, Saat melihat dua wanita yang ia cintai itu sudah berdamai.


Setelah menghapus air mata yang sempat menetes dari kelopak mata, ia pun lalu berdiri dari kursi kebesarannya. Kemudian melangkah dengan sedikit tergesa menuju kursi Ibu dan calon istrinya.


Sesampainya di depan kursi kedua orang yang dia sayangi itu, ia pun lalu merentangkan kedua tangan. Kemudian dengan tiba-tiba memeluk tubuh ibu dan calon istrinya yang masih saling berpelukan.


"Ibu…Citra… aku sangat mencintai dan menyayangi kalian berdua, aku tidak sanggup berpisah dengan salah satu diantara kalian," ujar Angga memeluk kedua wanita berbeda usia itu.


Citra dan Rosa Hafiq saling beradu pandang, mereka berdua tampak heran, kenapa Angga tiba-tiba berada di dalam restoran itu.


Padahal mereka berdua sudah sepakat, untuk tidak memberitahu kepada siapapun, tentang pertemuan mereka hari ini.


Rosa Hafiq memberi isyarat pada Citra melalui tatapan mata. Namun Citra yang mengerti arti dari tatapan mata itu, kemudian dia menggeleng dengan cepat.


Dengan rasa penasaran yang membuncah di lubuk hati, kemudian Rosa Hafiq menanyakan kenapa Angga berada di dalam restoran itu.


Angga seketika melepas pelukannya dari kedua wanita berbeda usia itu, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


__ADS_2