
Rahasia Menantu Culun Bab 38
Robin yang merasa tidak tenang dengan kepergian Citra seorang diri, kemudian dia berniat untuk menyusul.
Entah kenapa, semenjak kepergian Citra, Robin merasa tidak fokus dengan pekerjaannya.
"Ah... daripada aku terus-menerus memikirkan Citra, lebih baik aku menyusulnya sekarang juga."
Kemudian Robin berdiri dari tempat duduknya, lalu dia berjalan menuju parkiran.
Namun, sebelum dia masuk ke dalam mobil, Robin menyempatkan sebentar untuk memeriksa dimana posisi mobil sahabatnya berada.
Karena seminggu yang lalu, Robin diam-diam memasang GPS di dalam mobil Citra, dengan tujuan untuk mengawasi pergerakan sahabatnya, sebab dia tidak ingin kejadian beberapa bulan yang lalu terulang kembali, dimana dirinya tidak bisa melakukan apapun disaat Rifki menculik Citra.
Kening Robin bertaut, saat melihat mobil Citra terparkir jauh dari pemukiman.
"Apa yang dia lakukan disana?" batin Robin.
Kemudian Robin menghubungi nomor ponsel Citra, terhubung. Namun tidak diangkat.
Rasa cemas kian membuncah, disaat Robin kembali menghubungi nomor ponsel Citra untuk kedua kali, dan sama seperti sebelumnya ponsel itu tetap terhubung. Namun, tidak diangkat.
"Pasti ada yang tidak beres," kemudian Robin bergegas masuk ke dalam mobil, lalu dia melajukan kotak besi itu bak pembalap internasional menuju lokasi tempat mobil Citra berada.
Namun ditengah perjalanan, Robin tiba-tiba memberhentikan kotak besi itu secara mendadak. Hingga membuat para pengendara lainnya mengupat kesal.
"Kalau mengendarai mobil hati-hati dong mas, jangan ugal-ugalan seperti itu, dan apa anda tidak sadar jika kelakuan burukmu bisa membuat pengendara lainnya celaka," umpat pengendara itu dengan kesal.
Robin menunduk, lalu dia meminta maaf kepada pengendara mobil tersebut.
"Baiklah, lain kali jangan diulangi lagi," ujar pengendara mobil, dan setelah itu Ia pun pergi meninggalkan Robin.
Setelah kepergian pengendara mobil tersebut, kemudian Robin merogoh kantong jasnya dan mengeluarkan sebuah benda berbentuk pipih dari dalam.
Buru-buru ia mencari nomor kontak Angga, dan setelah ketemu, barulah dia menghubunginya.
"Hallo, tumben banget kamu menghubungi aku, ada perlu apa?" tanya Angga sedikit sinis, karena dia cukup kesal terhadap Robin tadi siang.
Robin menarik nafas dalam, dia tau kalau Angga masih kesal terhadap dirinya.
__ADS_1
"Tuan Angga, maafkan aku soal tadi siang, aku akui. Aku memang salah, tapi sekarang dengarkan aku baik-baik, saat ini Citra dalam keadaan bahaya, dan aku ingin meminta bantuan darimu, apakah Tuan bersedia?"
Angga seketika terperanjat dari kursi kebesarannya saat mendengar sang pujaan hati sedang dalam keadaan bahaya.
"M-maksudmu apa?"
Robin pun mulai menceritakan tentang GPS yang dia pasang diam-diam di dalam mobil Citra. Lalu Ia menjelaskan pada Angga bahwa mobil Citra sekarang berada jauh dari pemukiman. Dan Robin khawatir kalau ini adalah ulah Rifki.
"Baiklah, aku akan membantumu."
Kemudian Angga meminta pada Robin untuk mengirimkan lokasi keberadaan Citra.
Namun, sebelum Angga pergi menyusul Robin, dirinya menyempatkan mampir ke kantor polisi terdekat untuk melaporkan kejadian itu.
*****
Byur….
Seember air dingin kini mendarat sempurna diseluruh tubuh Citra, dan perlahan Citra pun mulai merespon dengan mengerjap-erjapkan bola matanya dengan sayu.
"Aku dimana?" ucapnya sambil menelisik seluruh ruangan yang tampak asing baginya.
"K-kau... apa yang ingin kamu lakukan, cepat lepaskan aku," ucap Citra yang menyadari kalau saat ini tangannya sedang di ikat.
Brenda tersenyum, lalu dia berjalan mendekat kearah Citra.
Dengan sekuat tenaga, Brenda pun mencengkeram rahang Citra, bahkan saat ini wanita yang sedang hamil muda itu pun mulai meringis kesakitan.
"Melepaskan mu, jangan mimpi?"
Kemudian Brenda mengibaskan tangan, sedangkan anak buahnya yang mengerti dengan isyarat itu, lalu dia membawa berkas itu pada Brenda.
"Cepat tanda tangani surat pengalihan semua harta kekayaan yang kamu miliki, jika tidak…!" ujar Brenda tercekat. Karena Citra tiba-tiba memotong ucapannya.
"Jika tidak, apa? aku pikir kamu sudah berubah, tapi ternyata tidak. Masih sama seperti sebelumnya, jahat, licik dan tidak punya perasaan," ucap Citra sambil menatap kearah ibu tirinya itu dengan tajam.
Brenda seketika tertawa terbahak, lalu dia membalas tatapan tajam Citra. Dan sepersekian detik kemudian dia melayangkan lima jarinya tepat di pipi mulus Citra.
Tidak hanya itu, saat ini Brenda mulai mencengkeram rambut Citra dengan kuat. Lalu dia kembali menyuruh Citra untuk segera menandatangani berkas pengalihan harta kekayaan milik Citra.
__ADS_1
"Tanda tangani sekarang…!" teriaknya menggema, lalu dia melepaskan cengkraman tangannya dari rambut Citra dengan kasar.
Citra pun kembali meringis kesakitan. Namun, walaupun demikian dia tetap bersikukuh tidak mau menandatangani berkas pengalihan harta itu. Ia pikir, lebih baik mati daripada menyerahkan harta kekayaannya kepada orang licik seperti Brenda.
Brenda tersenyum menyeringai, lalu dia kembali mengibaskan tangan, dan anak buahnya pun membawa satu jerigen bensin, lalu menyerahkannya pada Brenda.
"Kamu pikir aku main-main. Tidak Citra, tidak. Dan jika kamu tidak mau menandatangani berkas pengalihan harta kekayaan mu padaku, maka aku akan membakarmu hidup-hidup," ancam Brenda.
Bukannya takut dengan ancaman Brenda, Citra malah tersenyum.
"Silahkan saja, aku tidak takut mati," ujarnya kemudian.
Mendengar hal itu, darah Brenda kian mendidih. Lalu dia membuka penutup jerigen itu dan menumpahkan seluruh isinya pada tubuh Citra.
Citra tidak bergeming, ia hanya memandang ibu tirinya itu dengan kemarahan luar biasa.
"Sudah aku bilang sebelumnya, aku tidak akan pernah main-main, tanda tangani berkas pengalihan harta itu, maka aku akan membiarkanmu tetap hidup," ancam Brenda untuk kesekian kalinya.
Namun, sama seperti sebelumnya Citra tetap bersikukuh tidak mau menandatangani berkas pengalihan harta kekayaan miliknya.
"Baiklah jika itu maumu," ujar Brenda sembari mengeluarkan korek api dari saku tasnya. Lalu dia berjalan perlahan meninggalkan Citra seorang diri di dalam gubuk reyot itu dalam keadaan terikat.
Namun, disaat dirinya sudah berada di luar, Brenda cukup terhenyak melihat adegan di luar ruangan. Dimana saat ini, Robin dan anak buahnya saling baku hantam.
"Dari mana dia tau kalau Citra berada di sini," batin Brenda.
Namun, dia tidak merasa takut sama sekali. Karena anak buahnya tampak lebih mendominasi.
Bhug... bhug.
Robin pun kini tampak babak belur dihajar oleh anak buah Brenda, dan kini tubuhnya sudah tergeletak tak berdaya di atas tanah.
"Orang seperti dirimu ingin menghajar kami, Cih…! rasakan ini," ujar anak buah Brenda sambil melayangkan bogem mentahnya tepat di pipi sebelah kanan Robin.
Dari sudut bibir Robin mengalir darah segar. Namun, walaupun begitu dia belum menyerah, terlihat saat ini dia sedang berusaha untuk berdiri.
Kedua preman suruhan Brenda tertawa terbahak, saat melihat kegigihan Robin. Lalu Rico pun kembali melayangkan bogem mentahnya pada wajah Robin.
Bhug…
__ADS_1
Seketika tubuh Robin terhuyung ke belakang, dan saat itu pula Tio mendekat, kemudian dia menyeret tubuh Robin ke dalam gubuk reyot itu.