
Rahasia Menantu Culun Bab 72
Usai melewati permainan panas itu, kini Angga terkulai lemas di samping Citra. Menikmati sisa-sisa kenikmatan surgawi yang diberikan oleh sang istri tercinta padanya.
"Terimakasih sayang," ujar Angga kemudian mengecup sekilas kening Citra. Karena merasa sangat capek iapun mulai memejamkan mata sebentar.
Sedangkan Citra, iapun merasa sangat bahagia karena sudah melaksanakan tugasnya sebagai seorang istri.
Karena takut Angga terganggu, Citra dengan perlahan menyibakkan selimut yang menutupi bagian tubuhnya. Kemudian beranjak dari tempat tidur, lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sesampainya di dalam kamar mandi, Citra pun bercermin melihat jejak yang ditinggalkan oleh Angga pada setiap inci tubuhnya.
Dan dia mengakui kalau Angga benar-benar sangat perkasa. Bahkan tadi ia sangat kewalahan mengimbangi permainan yang diciptakan oleh sang suami.
-
-
-
Beberapa jam kemudian
Angga yang masih enggan untuk membuka mata, kemudian dia merentangkan tangan lalu meraba sosok istri yang berada di sampingnya.
Namun ketika jari-jemari kekarnya sudah meraba kemana-mana, tapi dia tidak menemukan sosok yang ia cari.
"Citra…Citra sayang," panggilnya berulang kali. Namun tidak ada sahutan.
Angga mengucek mata, kemudian beranjak dari tempat tidur.
"Mungkin dia berada di dalam kamar mandi," batin Angga kemudian dia berjalan perlahan menuju kamar mandi, mencari keberadaan sang istri tercinta.
Ceklek….
Angga membuka kenop pintu, lalu dia menatap ke seluruh penjuru kamar mandi, dan bola matanya terbelalak saat melihat Citra tertidur pulas di dalam bathtub.
Buru-buru ia berlari menuju bathtub, dan tanpa membangunkan Citra, Angga lalu mengangkat tubuh sang istri kemudian membawanya menuju tempat tidur.
Citra menggeliat. Namun bola matanya masih terpejam.
Takut Citra masuk angin, Angga lalu menyelimuti tubuh Citra dengan selimut yang cukup tebal. Dan tidak lupa pula ia mengambil hair dryer untuk mengeringkan rambut Citra.
Mungkin karena suara hair dryer itu terlalu bising, Citra pun perlahan-lahan membuka mata.
Dilihatnya Angga sedang tersenyum manis padanya.
"Kau sudah bangun sayang?" tanya Angga.
__ADS_1
Citra tidak menjawab, melainkan ia menanyakan kenapa dirinya berada di atas tempat tidur. Bukankah tadi dia sedang berendam air hangat di dalam bathtub?
"Hufh….! iya kamu tadi memang sedang berendam. Dan akulah yang mengangkat mu kesini," jelas Angga.
Mendengar hal itu, senyuman manis pun terbit di bibir indahnya. Dan tanpa aba-aba, Citra langsung menghantam tubuh Angga dengan pelukan hangat. Dan tidak lupa pula ia menghadiahi seluruh wajah suaminya itu dengan kecupan mesra.
Angga yang sedang memegang hair dryer, tiba-tiba menjatuhkannya ke atas lantai, karena mendapat serangan mendadak dari sang istri membuat adik kecilnya mendadak bangun.
"Yah…jatuh," ucap Citra dengan mimik wajah cukup sedih.
"Tidak apa-apa sayang, tapi jangan dekat-dekat denganku dulu. Karena aku takut adik kecilku kembali bangun dan ingin kembali masuk ke dalam sarangnya," ujar Angga dengan mimik wajah yang sulit diartikan.
Citra yang mendengar hal itu, tentu saja langsung melepas pelukannya dari sang suami, lalu menggeser bokongnya sedikit menjauh.
Kriuk…kriuk…kriuk.
Cacing yang berada di dalam perut Citra tiba-tiba berteriak untuk meminta makan. Dan Angga yang mendengar suara itu, dirinya pun langsung tepuk jidat.
Di iringi bola mata yang langsung terarah pada jam dinding yang bertengger manis di pojokan.
"Astaghfirullah. Kenapa aku sampai lupa waktu begini sih," sesalnya. Sebab, sudah jam sepuluh pagi dirinya dan Citra belum juga sarapan. Dan pantas saja cacing yang berada di dalam perut Citra sampai menari-nari.
Buru-buru Angga beranjak dari tempat duduk, lalu berlari menuju kamar mandi.
Namun, ketika sampai di hadapan pintu, Angga kemudian membalikkan badan.
Citra yang melihat kelakuan Angga, dirinya pun tiba-tiba tersenyum. Di sinilah Citra menyadari bahwa Angga sangat perhatian padanya.
Perutnya berbunyi saja Angga sudah sangat tampak panik seperti itu, bagaimana dengan yang lainnya.
"Hufh…!" Citra menarik nafas dalam. Kemudian berjalan mengambil paper bag yang berada di dalam lemari. Lalu mengeluarkan isinya.
Dan sepersekian detik kemudian Citra sudah tampak anggun dengan balutan gaun selutut warna merah maroon yang ia kenakan.
Dengan polesan make up natural, membuat penampilan Citra tampak sempurna. Bahkan Angga yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi, dirinya begitu tercengang melihat penampilan sang istri.
Citra membalikkan badan, ketika menyadari kehadiran sang suami. Kemudian dia berdiri, lalu mengambil paper bag dan menyerahkannya pada Angga.
"Ini pakaianmu," ujar Citra. kemudian dia kembali melanjutkan aktivitasnya.
Angga yang masih terpesona dengan kecantikan sang istri, kemudian berjalan menuju meja rias. Lalu mengambil sebuah tisu dan mengelap lipstik natural yang dioleskan oleh Citra barusan.
"Jangan pakai lipstik, aku tidak ingin mata laki-laki di luar sana menikmati bibir indah istriku," ucap Angga.
Citra terdiam, dan tidak mempermasalahkannya, kemudian membiarkan Angga mengelap lipstik tipis yang dia oleskan tadi.
"Baiklah, aku tidak akan pernah mengoleskan lipstik ini pada bibir ku lagi," ucap Citra lalu membuang lipstik itu ke tempat sampah.
__ADS_1
Angga tersenyum, kemudian dia masuk ke dalam ruang ganti.
-
-
-
Beberapa jam berlalu
Citra dan Angga yang baru saja selesai sarapan pagi. Tiba-tiba mendapat telpon dari Rosa Hafiq. Dan Rosa Hafiq memberitahukan kepada Angga agar segera membawa Citra kerumah mereka.
"Baiklah Bu, aku dan Citra akan segera meluncur ke sana," jawab Angga.
"Cepatlah sayang, aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan menantu kesayanganku," jawab Rosa Hafiq.
"Iya ibu. Iya," ujar Angga. Dan setelah itu ia pun memutuskan sambungan telepon dan langsung memberitahukan kepada Citra tentang keinginan ibunya.
"Baiklah ayo," ucap Citra.
Kemudian pasangan pengantin baru itu pun mulai beranjak dari meja makan, menuju tempat mobil mereka terparkir.
Sesampainya di depan mobil, Angga membukakan pintu untuk Citra dan langsung mempersilahkannya untuk masuk.
"Terimakasih," ujar Citra.
"Sama-sama sayang," jawab Angga disertai senyuman manis.
Dalam perjalanan menuju Rumah Angga, Citra pun sempat merasakan kekhawatiran di dalam benaknya. Sebab, sifat Rosa Hafiq belum sepenuhnya ia pahami.
Sedangkan Angga yang mengerti dengan sikap khawatir istrinya, dengan lembut ia mengulurkan tangan lalu menggenggam jari-jemari Citra, kemudian menciumnya.
"Jangan khawatir, ibu pasti sangat menyayangimu."
Citra tersenyum, kemudian mengelus lembut tangan suaminya.
"Iya, aku tau. Ibu pasti sangat menyayangi ku," ujar Citra kemudian menarik nafas dalam lalu menatap lurus ke depan. Mencoba meminimalisir pikirannya dengan pikiran positif.
Tidak berselang lama mobil yang dikendarai oleh Angga dan Citra pun kini sudah berhenti tepat di depan rumah mewah bernuansa putih itu.
Keduanya lalu turun dari mobil saling bergandengan tangan.
"Ayo," ajak Angga.
Citra mengangguk, kemudian pasangan pengantin baru itu pun berjalan beriringan menuju pintu.
Namun sesampainya di depan pintu, Angga dan Citra saling beradu pandang, mereka berdua tampak terperanjat melihat apa yang sedang terjadi di rumah itu.
__ADS_1