
Rahasia Menantu Culun Bab 54
Angga menarik nafas dalam, saat melihat Dira meneteskan air mata. Namun hal itu tidak mengurungkan niat untuk pergi meninggalkan wanita itu secepatnya.
"Ayo Cit, kita pergi dari sini," ujar Angga kemudian dia mengambil uang dari saku kantong celana dan meletakkan di atas meja.
"Tapi mas, bagaimana dengan wanita itu? kasihan tau kalau kita tinggalin sendiri, apalagi saat ini dia sedang menangis, apa kau tidak merasa kasihan?" ujar Citra sambil melirik ke arah Dira yang sampai saat ini wanita itu masih setia meneteskan air mata buayanya.
Namun Angga tak sedikitpun menggubris perkataan Citra, dan sepersekian detik kemudian, Angga lalu menggenggam pergelangan tangan Citra, dan membawanya menjauh dari jangkauan Dira. Sebab, Angga begitu takut jika Dira nanti berbuat yang tidak diinginkan terhadap Citra.
"Angga, kenapa kau malah diam. Sekarang lebih baik lepaskan tanganmu dariku," ujar Citra setelah mereka sampai di parkiran mobil.
Angga pun menghentikan langkahnya, lalu dia dengan perlahan melepaskan genggaman tangannya dari Citra.
"Maafkan aku Citra, apa aku menyakiti dirimu," ujarnya sambil berbalik dan memeriksa pergelangan tangan Citra.
Memar.
Angga pun berjongkok, lalu dia mengusap pergelangan tangan Citra dengan lembut.
"Maafkan aku," ucapnya kemudian.
Sedangkan Citra yang melihat hal itu, kemudian dia mensejajarkan tubuhnya dengan Angga.
"Kamu tidak salah, mungkin gelang ku yang terlalu sempit. Jadi baru juga terkena tekan sedikit saja sudah menyebabkan kulitku memerah," ujar Citra disertai senyuman manis.
"Benarkah, aku tidak menyakiti kamu 'kan, aku tidak membuat hatimu terluka 'kan?" ucap Angga sambil mengelus pergelangan tangan Citra.
Citra mengangguk, lalu dia tersenyum.
Angga seketika mengusap dada, merasa sedikit lega karena mendengar ucapan Citra.
Namun sepersekian detik kemudian dia kembali murung, karena Citra tiba-tiba melayangkan sebuah pertanyaan yang membuat hatinya sedikit mencelos.
"Sudahlah, ayo aku antar pulang," ucap Angga menghindari pertanyaan Citra. Lalu dia membuka pintu mobil dan meminta Citra untuk segera masuk.
Citra pun menuruti keinginan Angga, kemudian dia masuk kedalam mobil, lalu diikuti oleh Angga.
Dalam perjalanan pulang, keduanya saling diam membisu, tanpa ada yang mau memulai pembicaraan.
Sesekali Citra melirik ke arah Angga yang tampak sangat fokus pada jalanan yang ia lalui, dan tanpa terasa pagar rumah Citra yang menjulang tinggi itu sudah mulai terlihat.
__ADS_1
Angga pun membunyikan klakson, dan seketika pagar besi itu terbuka lebar.
"Selamat sore pak," sapa pak satpam dengan ramah. Dan Angga pun menanggapinya dengan ramah pula.
Sesampainya di halaman, kemudian Citra turun dari mobil, lalu dia mengajak Angga untuk masuk ke dalam rumah.
Namun Angga menolak ajakan Citra, dengan alasan kalau sekretarisnya sudah menunggu dirinya di kantor.
"Baiklah, kalau begitu. Sampai jumpa kembali," ucap Citra sembari melambaikan tangan pada Angga.
Angga tersenyum, lalu dia kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
******
Hari demi hari Rifki lalu di rumah sakit dengan keadaan murung dan juga sedih. Sebab, Ia terus saja memikirkan perceraiannya dengan Citra.
"Sudahlah Nak, tidak usah terlalu memikirkan wanita seperti Citra, lagi pula dia itu 'kan wanita tidak berguna, bahkan tidak bisa memberikanmu keturunan, dia itu mandul," ujar Siska.
"Mom….!" pekik Rifki, bahkan dia menatap manik mata Mommynya dengan sedikit tajam.
"Sudah berapa kali aku bilang, dia itu bukan perempuan mandul, dia itu wanita normal, sama seperti perempuan lainnya," ucap Rifki.
Siska berdecih.
Rifki menunduk. Lalu dia menarik nafas dalam.
"Mungkin selama ini aku yang terlalu bodoh Mom, karena tidak menyadari kecantikan yang tersembunyi di balik wajah culun istriku, padahal aku hidup selama dua tahun bersamanya dalam satu atap," ujar Rifki tanpa terasa bulir bening mulai menetes dari kelopak mata. Namun dengan secepat kilat ia menghapusnya dengan punggung tangan.
"Dan lebih bodohnya, aku tidak bisa mempertahankan hubunganku dengannya Mom. Dan sekarang, aku su-sudah resmi bercerai dengannya," ucap Rifki dengan genangan air mata yang siap tumpah. Namun, dia berusaha sekuat tenaga untuk menahannya.
Siska yang melihat Rifki terlampau rapuh, kemudian dia langsung memeluk anaknya. Dan meminta Rifki agar tidak terlalu memikirkan Citra lagi. Sebab, masih ada Syasi dan juga anaknya Ronald yang sangat membutuhkan perhatian darinya.
"Tapi Mom, sekarang aku sangat mencintai Citra, dan aku baru menyadari hal itu semenjak kehilangan dirinya." ucap Rifki parau.
Sedangkan Siska yang mendengar suara parau anaknya, kini dirinya pun sudah tidak bisa berkata apapun lagi, ia hanya diam membisu sambil mengusap punggung Rifki dengan lembut.
Keheningan pun sempat terjadi diantara keduanya, hingga beberapa menit kemudian terdengarlah suara seseorang mendorong pintu ruang rawat Rifki.
Kriet….
Ibu dan anak itu pun langsung menoleh, kemudian Siska melepas pelukannya dari Rifki. Karena melihat kedatangan Syasi.
__ADS_1
"Apa semua baik-baik saja?" ucap Syasi yang baru saja datang, lalu dia berjalan perlahan menuju bed pasien Rifki.
Bibir Rifki terangkat membentuk sebuah senyuman tipis, sambil mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.
Syasi tersenyum.
"Syukurlah," ucapnya, kemudian dia memberitahukan kepada Rifki, bahwa hari ini dokter sudah memperbolehkan dirinya untuk pulang ke rumah.
Mendengar berita yang disampaikan oleh Syasi, Rifki pun sangat merasa senang.
Buru-buru dia berdiri dari bed pasien, kemudian dia memeluk Syasi.
"Terima kasih atas perhatian lebih yang kamu berikan selama aku sakit," ucap Rifki.
"Sama-sama sayang, aku 'kan istrimu, jadi itu sudah kewajiban ku untuk merawatmu," jawab Syasi disertai senyum kebahagiaan.
Bahagia, karena sekarang dirinya adalah wanita satu-satunya yang berada di sisi Rifki.
Sedangkan Siska yang melihat hal itu, ia pun tersenyum bahagia.
*****
Waktu berlalu begitu cepat, kini keluarga itu pun sudah sampai di rumah. Dan saat ini mereka semua hendak melakukan makan malam.
Makan malam spesial, karena Rifki baru saja keluar dari rumah sakit, maka dari itu, Syasi pun sudah menyiapkan semua makanan kesukaan Rifki.
Rifki yang baru saja menuruni anak tangga satu persatu dengan santai, dirinya pun langsung mempercepat langkah kakinya, begitu mencium aroma yang menyeruak dari dalam dapur.
"Hum… wanginya membuat perutku lapar," ucapnya disertai senyuman.
Sesampainya di ruang makan, Rifki cukup terhenyak melihat jejeran makanan kesukaan dirinya tertata rapi di atas meja.
"Wah… siapa yang memasak makanan sebanyak ini?" ujar Rifki.
"Aku," jawab Syasi yang baru saja datang dari dapur. Kemudian dia meletakkan jus jeruk yang dia bawa di atas meja.
"Benarkah," ujar Rifki.
"Ya, benarlah. Tapi masih dibantu oleh bibi," jawab Syasi.
Rifki tersenyum, lalu dia mendudukkan bokongnya di atas kursi. Sedangkan Syasi, ia sibuk menyendok semua menu dan menatanya di atas piring yang sudah ia isi sebelumnya dengan nasi. Dan setelah selesai, kemudian meletakkannya di hadapan Rifki.
__ADS_1
Rifki pun mulai menikmati makan malam itu, dan sesekali ia memuji kelezatan yang dimasak oleh Syasi.