
Rahasia Menantu Culun Bab 48
Syasi begitu terperanjat saat mendengar ucapan Rifki barusan. Bahkan, ponsel yang dia pegang hampir saja terjatuh dari tangannya
"Bagaimana mungkin, semalam Ronald sehat-sehat saja, dan dia masih ceria seperti biasa," jawab Syasi yang masih belum percaya sepenuhnya dengan ucapan Rifki.
Namun, walaupun demikian cairan bening sudah hampir menetes dari kelopak mata.
Rifki yang sebelumnya menelpon Syasi dengan telepon biasa, lalu dia mengubahnya menjadi panggilan video.
"Saat ini aku dan Mom sedang di rumah sakit, dan dokter yang menangani Ronald di ruangan IGD belum juga keluar sejak tadi." jelas Rifki.
Dengan suara sedikit gemetar kemudian Syasi pun mengatakan kalau dirinya akan segera datang ke rumah sakit.
"Baiklah aku tunggu," kemudian Rifki mematikan sambungan teleponnya.
"Bagaimana, apakah nomor ponsel Syasi sudah bisa di hubungi?" tanya Siska.
"Sudah Mom, ini baru saja aku selesai bicara dengannya."
Mobil yang dikendarai oleh Syasi pun kini terus saja melaju kencang, tanpa peduli dengan umpatan dari pengendara lain, ia terus saja memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Ckiit….
Mobil yang dikendarai oleh Syasi pun kini sudah berhenti tepat di depan rumah sakit.
Dengan langkah tergesa, kemudian dia langsung menuju kamar tempat anaknya Ronald dirawat.
Rifki dan Siska yang sedang duduk menunggu di luar ruangan, mereka berdua langsung menoleh ketika mendengar suara derap langkah kaki yang semakin dekat.
Nyonya Siska langsung berdiri dari tempat duduknya, saat melihat siapa gerangan yang datang.
"Syasi…!"
Dengan wajah marah dan kesal bercampur aduk, kemudian dia berjalan perlahan mendekat kearah menantu kesayangannya.
Plak….
Terdengar suara tamparan keras, menggema di ruangan itu.
"Dari mana saja kamu, hah…!" tanya Siska dengan nada cukup tinggi. Hingga membuat beberapa pengunjung menoleh ke arah mereka.
Syasi menitihkan air mata, sambil memegang pipinya yang terasa sedikit kebas.
"Mah... maafkan Syasi," ucapnya disertai isak tangis.
__ADS_1
Ya, ini adalah kali pertama ibu mertuanya berbuat kasar padanya, jadi saat ini Syasi merasa sangat bersalah karena telah mengabaikan Ronald. Bahkan sampai masuk rumah sakit.
Memang, kemarin-kemarin Rifki dan Siska sudah memperingatkan dirinya agar memperhatikan keadaan Ronald. Namun, karena obsesi balas dendam terhadap Citra begitu tinggi, tanpa sadar dia telah mengabaikan tugasnya sebagai seorang ibu.
Dengan sisa kemarahan yang masih menggebu, kemudian Siska kembali mengayunkan telapak tangannya. Dan dia berniat kembali menghantam pipi mulus Syasi.
Sedangkan Rifki yang melihat adegan yang tak biasa itu, kemudian dia mendekat dan menghentikan ulah Mommynya.
"Mom, hentikan. Ini rumah sakit, tempat umum, jangan membuat keributan. Dan lihatlah di sekeliling mom, orang-orang sudah berkumpul menyaksikan perbuatan mom, apa mom tidak malu, jika salah satu diantara mereka membagikannya ke media sosial, mau ditaruh dimana muka mom dan aku nanti, bisa-bisa perusahaan kita anjlok karena kejadian ini," jelas Rifki panjang lebar.
Siska seketika menurunkan tangan, lalu dia memperhatikan sekelilingnya. Dan benar, apa yang dikatakan oleh Rifki. Bahwa semua orang sudah mengarahkan pandangan kepada dirinya.
"Maafkan Mommy yang tidak bisa mengontrol emosi." ucap Siska akhirnya.
Ia merasa bersalah, karena tanpa sadar telah mempermalukan Syasi di depan umum.
"Mom tidak salah, aku yang salah karena telah mengabaikan tugasku sebagai seorang ibu, dan aku tau kalau saat ini Mom sangat sedih melihat keadaan Ronald," Kemudian Syasi memeluk ibu mertuanya itu.
Keheningan pun sempat terjadi di antara menantu dan mertua itu.
Sedangkan para pengunjung yang sempat melihat keributan tersebut, kemudian mereka membubarkan diri. Karena melihat keduanya saling berpelukan.
Ceklek…
Ruangan IGD pun terbuka, dan hal itu membuat Siska, Rifki dan juga Syasi berjalan menghampiri sang dokter.
"Anak ibu baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, sebentar lagi juga dia akan dipindahkan ke ruang rawat," ujar dokter.
"Syukurlah," ucap Syasi sambil mengelus dada beberapa kali. Ia merasa lega, setelah mendengar penjelasan dokter.
"Baiklah bu, saya tinggal dulu," ucap sang dokter sambil berjalan meninggalkan Syasi.
-
-
-
Citra yang baru saja pulang ke rumah, setelah selesai melakukan pertemuan dengan klien bisnisnya bersama Robin tadi siang.
Dirinya cukup terperanjat saat mendengar suara ketukan pintu. Pasalnya dia baru saja membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Tunggu sebentar," jawab Citra akhirnya, setelah beberapa kali orang yang berada di luar mengetuk pintu kamarnya.
"Ada apa bi? saya mau istirahat, jika tidak ada yang perlu dibicarakan, saya mohon dengan sangat, bibi cepatlah tidur, karena hari juga sudah malam," ujar Citra yang hendak kembali menutup pintu.
__ADS_1
"Tapi Non, bibi hanya mau memberikan ini, dan maaf karena telah mengganggu istirahat Non Citra," jawabnya sambil menyerahkan amplop berwarna coklat kepada Citra.
Citra mengeryit.
"Ini apa bi?" tanya Citra akhirnya.
"Bibi nggak tau Non, tapi menurut orang yang mengantarkannya tadi siang, itu adalah surat panggilan kepada Non Citra dari pengadilan agama."
Citra seketika mengetuk jidatnya sendiri, pasalnya dia baru ingat bahwa beberapa bulan yang lalu dia telah mendaftarkan perceraiannya dengan Rifki pada pengadilan agama.
"Terima kasih Bi," ucap Citra.
"Sama-sama Non."
Citra pun kembali menutup pintu, lalu dia berjalan perlahan menuju sofa yang berada di dalam kamar.
Setelah mendudukkan bokongnya tepat di atas kursi, kemudian Citra membuka isi amplop berwarna coklat itu.
Citra pun membaca berkas itu dengan teliti, dan menurut tanggal yang tertera di atas kertas tersebut. Citra harus datang besok siang ke pengadilan agama.
"Hufh…! semoga saja besok urusanku berjalan lancar," batin Citra.
Kemudian dia meletakkan amplop berwarna coklat itu di atas meja, lalu ia berdiri dari tempat duduk, dan kembali berjalan menuju pembaringan. Melepas lelah setelah seharian bekerja.
*****
Sama halnya dengan Rifki, dia yang baru saja pulang dari rumah sakit, tiba-tiba salah satu pelayan di rumahnya memanggil namanya.
"Ada apa bi?"
"Ini Tuan, tadi siang ada yang mengantar sesuatu untuk Tuan, dan katanya ini adalah surat dari pengadilan agama."
Rifki mengeryit, lalu dia meraih amplop berwarna coklat itu dari tangan pelayannya.
"Terima kasih bi."
"Sama-sama Tuan."
Rifki pun kembali melangkah menuju kamarnya. Dan setelah sampai di dalam kamar, Rifki pun membuka amplop berwarna coklat itu.
"A-apa…!" Penyakit jantung Rifki hampir saja kumat saat membaca isi dari amplop berwarna coklat itu.
"Tidak mungkin," ucapnya yang masih belum percaya sepenuhnya tentang apa yang barusan dia baca. Bahkan surat itu di robek oleh Rifki sampai tidak berbentuk.
Ia tidak menyangka bahwa Citra sampai menggugat perceraian mereka pada pengadilan agama. Ia pikir selama ini hati Citra sudah melunak karena dirinya sudah beberapa kali meminta maaf kepada Citra.
__ADS_1
Namun ternyata Rifki salah, perempuan yang sempat menjadi istrinya itu selama dua tahun, diam-diam telah mendaftarkan perceraian mereka.
"Ah... apa yang harus aku lakukan? aku tidak boleh bercerai dengan Citra, apapun harus aku lakukan agar Citra kembali menjadi milikku, dia itu milikku dan akan tetap menjadi milikku selamanya," teriak Rifki menggema di dalam kamar.