Rahasia Menantu Culun

Rahasia Menantu Culun
Rahasia Menantu Culun Bab 39


__ADS_3

Rahasia Menantu Culun Bab 39


Brenda dan anak buahnya seketika tertawa terbahak saat melihat ketidak berdayaan Robin.


Lalu dia menyuruh anak buahnya untuk segera mengikat tubuh Robin di dekat Citra. Siapa tau setelah melihat keadaan Robin yang begitu mengenaskan, hati Citra akhirnya luluh dan mau menandatangani berkas pengalihan harta kekayaan miliknya.


Tawa bahagia terus saja menggema menghiasi langkah kaki mereka memasuki gubuk reyot itu.


"R-Robin…!" panggil Citra terbata. Saat melihat sahabat sekaligus sekretaris pribadinya dengan luka memar di sekujur tubuh.


Brenda mendekat, lalu dia kembali mencengkeram rahang Citra dengan kuat, kemudian menyuruhnya untuk segera menandatangani berkas pengalihan harta kekayaan milik Citra.


Citra terdiam sejenak, saat ini dirinya merasa bingung dan dia tidak tau apa yang harus dia lakukan sekarang.


"Haruskah aku menyerahkan semua harta kekayaan milikku pada orang licik seperti Brenda?" batin Citra.


Lalu dia menatap kearah sahabatnya Robin, yang saat ini sedang disiksa didepan matanya sendiri.


Teriakan demi teriakan kesakitan terus saja keluar dari bibir Robin, namun para preman itu tak pernah mengindahkan sama sekali, mereka terus saja mencambuk tubuh Robin hingga membuat Robin lemah tak berdaya.


Citra menitihkan air mata kesedihan saat melihat keadaan sahabatnya Robin. Kemudian dia meminta pada Brenda agar segera menghentikan penyiksaan itu.


"Baiklah, aku akan menandatanganinya," ucap Citra.


Sedangkan Robin yang mendengar hal itu, iapun menoleh ke arah Citra dengan sayu, lalu dia menggelengkan kepala dengan lemah.


"Ja...ngan la...ku...kan itu...Cit," ujar Robin dengan lemah.


Namun, berbeda dengan Brenda seketika Ia tertawa terbahak, karena dia telah berhasil dalam misinya.


"Cepat tanda tangan, jika tidak. Aku akan menghabisi nyawa sahabat tak berguna mu itu," bentak Brenda sembari menyodorkan berkas dan pulpen pada Citra.


Citra pun meraih bolpoin yang disodorkan oleh Brenda dengan tangan bergetar.


Namun disaat Citra hendak menandatangani berkas pengalihan harta kekayaan miliknya, tiba-tiba pintu gubuk reyot itu terbuka lebar dan menampakkan sosok Angga dan beberapa orang polisi dengan senjata lengkap.


"Angkat tangan, dan jangan coba-coba untuk melarikan diri," ujar para polisi itu dengan tegas, lalu mereka semua mengarahkan senjata api pada Brenda dan juga anak buahnya Rico dan Tio.


Untuk sesaat Brenda sempat panik, hingga ia menjatuhkan berkas pengalihan harta kekayaan milik Citra ke atas lantai.


Namun, bukan Brenda namanya, jika dia tidak bisa berbuat sesuatu. Dengan perlahan Brenda pun meraih pisau kecil yang diselipkan di balik blazer miliknya dan mengarahkannya pada leher Citra.

__ADS_1


"Buang senjata kalian jauh-jauh, jika tidak ingin nyawa wanita ini melayang," ancam Brenda, lalu dia sedikit menekan pisau kecil itu di leher Citra, hingga leher Citra mengeluarkan darah segar.


Citra berteriak kesakitan, hingga membuat Angga dan para polisi lainnya mulai panik.


"Baiklah. Baik, tapi jangan sakiti Citra," ujar Angga. Kemudian dia meminta para polisi itu untuk melempar senjata api itu ke sembarang arah.


Rico dan Tio yang melihat hal itu seketika tertawa terbahak, lalu keduanya pun memungut senjata api itu dan mengarahkannya pada para polisi.


Namun tawa bahagia mereka tiba-tiba sirna, saat di luar gubuk reyot itu terdengar suara tembakan.


Dor...dor...dor.


Brenda beserta anak buahnya kembali merasakan kepanikan luar biasa, dan kali ini Brenda tidak bisa berpikir jernih, saat mendengar suara keras yang mengatakan kalau tempat itu sudah dikepung.


"Aku tidak boleh tertangkap," batin Brenda, lalu dia memberi isyarat pada anak buahnya untuk segera mendekat.


Rico dan Tio langsung mendekat ke arah Brenda.


Kemudian Brenda memberi isyarat agar segera mendorong kursi Citra saat ini juga.


Brak...


Tubuh Citra terjatuh dan terbentur pada salah satu benda keras yang berada di hadapannya, kemudian Citra berteriak dengan sangat kencang.


Angga dan para polisi itu pun menghampiri Citra, kemudian mereka membuka tali pengikat yang melekat di tubuh Citra.


Sedangkan Brenda, Rico dan juga Tio menggunakan kesempatan itu untuk kabur dari pintu belakang.


Citra menjerit keras, karena dia merasakan sakit yang cukup luar biasa di sekitar perutnya.


"Arghh…!" jeritnya sekali lagi. Kemudian dia mengarahkan pandangannya pada pangkal pahanya.


"D-darah…!" ucap Citra dengan bibir gemetar, dan sekujur tubuhnya mulai melemah hingga akhirnya Citra pun pingsan.


Angga yang melihat kejadian itu kian tambah panik, dan sangking paniknya ia bingung harus berbuat apa, beruntung salah satu polisi langsung membopong tubuh Citra ke dalam mobil dan menyuruh Angga untuk segera membawanya ke rumah sakit terdekat.


Setelah polisi itu mendudukkan Citra tepat dipangkuan Angga, kemudian Ia pamit untuk mengejar para penjahat yang menculik Citra.


*****


Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Angga pun kembali merasakan panik luar biasa, saat melihat wajah Citra yang kian memucat.

__ADS_1


Hingga membuat Angga meminta kepada supir untuk segera mempercepat laju kendaraannya.


"Iya pak, sebentar lagi kita juga sampai."


Chit….


Mobil yang ditumpangi oleh Angga pun kini sudah berhenti tepat di sebuah rumah sakit.


Lalu dia keluar dari dalam mobil sambil membopong tubuh Citra, sedangkan sopir itu memanggil dokter.


Dokter dan perawat yang sedang berjaga pun langsung panik, saat melihat hampir seluruh pakaian Citra dipenuhi oleh noda darah.


Belum lagi bau yang menguar dari pakaian Citra, membuat mereka saling bermonolog di dalam hati, apakah pasien ini sedang mencoba untuk membakar dirinya hidup-hidup.


"Tuan suaminya pasien." pertanyaan dokter itu membuat Angga kembali merasakan kepanikan tingkat tinggi.


"B-bukan dok, saya adalah temannya," jawabnya jujur.


"Baiklah, kalau begitu dimana suami pasien?"


Angga semakin gugup saat sang


dokter menanyakan Suami Citra, Alhasil, Angga terpaksa harus berbohong dengan mengatakan kalau Citra itu seorang janda yang sudah ditinggalkan suaminya saat mengetahui kalau Citra hamil.


"Dasar suami tak berguna, maunya enaknya saja. setelah tau hamil ditinggal," kemudian dokter itupun menggelengkan kepala.


Sedangkan Angga, Ia merasa cukup senang kala dokter itu mempercayai ucapannya.


Lalu dia pun meminta sang dokter untuk segera melakukan tindakan terhadap Citra, karena dirinya lah yang akan bertanggung jawab untuk membayar semua administrasinya.


"Baiklah, kalau begitu cepat anda selesaikan administrasinya," ujar sang dokter, lalu dia pun kembali masuk ke dalam ruang IGD.


Setelah menyelesaikan semua administrasi, kemudian Angga kembali berdiri di depan ruangan IGD. Dirinya cukup khawatir saat melihat ruangan itu masih tertutup.


Angga melirik jarum jam yang melingkar di pergelangan tangan, rupanya dia sudah dua jam berdiri di depan ruangan IGD itu.


Namun, sampai saat ini sang dokter belum ada tanda-tanda untuk keluar.


Angga pun mondar-mandir tidak karuan, karena dirinya cukup khawatir memikirkan kondisi Citra saat ini.


Ceklek….

__ADS_1


Pintu pun akhirnya terbuka dan menampakkan dokter yang tadi sempat berbicara dengannya.


Angga langsung menghampiri, kemudian dia menanyakan bagaimana kondisi Citra saat ini.


__ADS_2