
Rahasia Menantu Culun Bab 63
Sesampainya di depan pintu kamar Dila, tanpa basa-basi kemudian tuan Nugroho langsung mendobrak pintu kamar itu.
Brak…brak…brak.
Sudah berulang kali tuan Nugroho mencoba untuk mendobrak pintu itu. Namun tak kunjung jua terbuka.
Hingga dirinya merasa kesal, dan mengambil sebuah palu besar yang berada di gudang. Lalu menghantam 'kannya pada engsel pintu itu dengan sangat kencang.
"Akhirnya pintunya terbuka," ucap Romlah sembari mengusap dada, merasa sedikit lega karena sebentar lagi Ia akan mengetahui keadaan anaknya Dila.
Takut, resah dan gelisah, itulah yang dia rasakan sekarang.
Sedangkan Tuan Nugroho, ia pun mulai mendorong pintu dengan perlahan. Lalu menggeser sisa-sisa engsel pintu yang berserakan di atas lantai.
"Silahkan Bu, cepatlah masuk. Periksa keadaan anak kita, aku takut sesuatu terjadi padanya," ujar Nugroho pada istrinya.
Romlah pun masuk, kemudian mengarahkan pandangannya dari sudut ke sudut. Namun ia tidak menemukan keberadaan Dila.
Rasa takut kian menghinggapi pikirannya, saat tidak menemukan sosok anak kesayangannya di dalam kamar.
Dengan perlahan, Romlah pun berjalan perlahan mendekat ke arah pintu kamar mandi, karena ruangan itulah yang belum ia periksa.
"Dila…Dila, apakah kamu berada di dalam nak?" Romlah pun mulai mengetuk pintu kamar mandi sambil terus memanggil nama Dila. Namun sama seperti sebelumnya, tidak ada sahutan sama sekali.
Ceklek…
Romlah memutar kenop pintu, yang ternyata tidak dikunci, kemudian dia melangkah perlahan memasuki kamar mandi.
Namun, sesampainya di depan bathtub, seluruh tubuhnya terasa lemas bagaikan tak bertulang. Matanya melotot melihat keadaan anaknya, Dan sepersekian detik kemudian, Romlah pun berteriak dengan sangat kencang.
"Dila….!" teriak Romlah terdengar seantero jagat raya.
Sedangkan Tuan Nugroho yang mendengar teriakan istrinya, ia pun langsung berlari tergesa menuju asal suara.
Dan betapa terhenyaknya beliau, saat melihat keadaan anak semata wayangnya.
"D-Dila…!"
__ADS_1
Seketika kaki Tuan Nugroho pun sudah tak mampu lagi menopang berat badannya, karena tidak kuat melihat kejadian yang berada di hadapannya. Dan sepersekian detik kemudian, tuan Nugroho pun langsung tersungkur ke atas lantai.
******
Beberapa jam kemudian.
Suara Ambulan di depan rumah keluarga Dila terdengar begitu memekakkan telinga. Hingga para tetangga yang mendengar suara itu, mereka pun mulai dirundung rasa penasaran.
Lalu mereka semua mulai berbondong-bondong mencari tau apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarga itu.
"Innalillah wa Inna ilaihi Roji'un, yang sabar ya Mbak," ucap salah satu tetangga sebelah rumah Dila. Kemudian dia menenangkan Romlah sambil mengusap punggungnya hingga beberapa kali.
Sedangkan Romlah, dirinya sangat merasa sedih dan terpukul atas kepergian anaknya yang begitu mendadak. Dan ia tidak menyangka kalau Dila sampai berbuat senekat itu.
"Hiks…hiks…hiks." Tangis Romlah terdengar sangat begitu menyayat hati, bahkan para tetangga yang mendengar tangisan Romlah, mereka pun sampai menitihkan air mata. Merasakan kesedihan yang sama, seperti yang dirasakan oleh Romlah.
Ambulan yang mengantarkan jenazah Dila pun kini sudah berlalu pergi meninggalkan rumah Dila. Dan para tetangga pun mulai berkerumun, menyiapkan keperluan pemakaman.
*****
"Cepatlah Angga, kenapa kau menyetir mobil dengan lelet banget sih," ujar Rosa Hafiq merasa kesal bercampur sedih. Dirinya tidak menyangka kalau sore ini mendapat kabar duka dari calon besannya. Dan saat ini, dirinya terus menerus menitihkan air mata kesedihan. Sebab, ia sudah menganggap Dila sebagai anaknya sendiri.
Namun sekarang, harapan tinggalah harapan, karena Dila sudah tiada.
Sepanjang perjalanan menuju rumah Dila, Rosa Hafiq tak henti-hentinya menitihkan air mata kesedihan. Hingga bola matanya pun terlihat sedikit merah dan membengkak.
Cekit….
Mobil yang dikendarai oleh Angga pun akhirnya berhenti tepat di depan rumah Dila.
Kemudian Rosa Hafiq buru-buru keluar dari dalam mobil, lalu ia berjalan tergesa memasuki rumah Dila.
"Dila…sayang. Apa yang kamu lakukan nak? kenapa semua ini bisa terjadi?" Tangis Rosa Hafiq pun akhirnya pecah, saat melihat tubuh Dila yang terbaring kaku di atas lantai yang hanya beralaskan sebuah kasur kecil.
Sambil menggoyang-goyangkan tubuh Dila yang sudah kaku, kemudian Rosa Hafiq menumpahkan semua keluh kesahnya, dan tidak lupa pula dia meminta maaf.
Sedangkan Romlah, dirinya pun kembali menangis histeris saat melihat keberadaan Angga. Karena memang tidak dapat dipungkiri bahwa kematian Dila bisa jadi, Angga adalah penyebabnya.
"Pah, usir laki-laki ini dari dalam rumah kita, aku tidak mampu melihat wajahnya bareng sedetik pun," bisik Romlah sambil menangis.
__ADS_1
Tuan Nugroho mendekat kearah Angga. Kemudian dengan hormat meminta Angga agar segera keluar dari dalam rumahnya.
"Sekali lagi maafkan aku pak Angga, aku hanya tidak ingin melihat istri ku semakin sedih dengan keberadaanmu di rumah kami," ujarnya dengan sopan.
Walau sebenarnya, ia sangat marah dengan Angga. Namun ia sadar, kalau cinta memang tidak bisa dipaksakan.
"Tidak apa-apa tuan Nugroho, aku mengerti kok, dan aku juga minta maaf sebesar-besarnya kepada bapak," ujar Angga sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada.
Tuan Nugroho tersenyum miris.
"Ini semua bukan salahmu Angga, karena aku yakin. Mungkin inilah yang sudah ditakdirkan oleh sang Pencipta untuk anakku Dila," ucapnya sambil menahan air mata yang menggenang di pelupuk mata agar tidak tumpah.
Angga yang mendengar ucapan tuan Nugroho barusan, ada sedikit rasa lega yang menjalar di lubuk hati. Karena ternyata tuan Nugroho tidak menyalahkan dirinya atas kematian Dila.
"Kalau begitu aku pamit, dan tolong bilang sama ibu, kalau aku tidak bisa menunggunya," ujar Angga.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, kemudian tuan Nugroho mengangguk mengiyakan.
*****
Beberapa jam berlalu
Jasad Dila pun kini sudah dimakamkan di salah satu pemakaman umum, dan Romlah hanya bisa menangis, melihat tubuh Dila yang mulai ditimbun oleh tanah merah oleh petugas pemakaman.
"Dila…! kenapa kau tega meninggalkan ibu sendiri di dunia ini nak," tangis Romlah kembali pecah di atas gundukan tanah yang sudah ditaburi bunga warna-warni itu.
Sedangkan Tuan Nugroho yang melihat kesedihan istrinya, hatinya pun merasa teriris pisau yang sangat tajam, dan sesekali ia juga menitihkan air mata kesedihan.
"Ayolah Bu, mari kita pulang. Karena hari juga sudah mulai menjelang malam."
"Pah, aku masih ingin disini, menemani anak kita, aku tidak ingin meninggalkannya sendiri," ujar Romlah sambil memeluk pusara.
Tuan Nugroho terdiam. Kemudian dia memeluk tubuh istrinya.
"Jangan seperti ini mah, ikhlaskan kepergian Dila, biar dia tenang di alam sana."
"Tapi, pah?"
"Ayolah mah, hari sudah mulai malam," Tuan Nugroho pun terus membujuk istrinya Romlah.
__ADS_1
Hingga akhirnya istrinya itu pun luluh, dan mau meninggalkan makam anaknya.