Rahasia Menantu Culun

Rahasia Menantu Culun
Rahasia Menantu Culun Bab 52


__ADS_3

Rahasia Menantu Culun Bab 52


Dengan cairan bening yang masih menggenang di pelupuk mata, kemudian Citra pamit pada Rifki. Dan dia berpesan pada laki-laki itu untuk tidak lagi mengganggu kehidupannya. Terlebih sekarang mereka telah resmi bercerai.


"Citra," panggil Rifki langsung berdiri dari bed pasien. Sebab, ia belum rela jika kehilangan Citra untuk selama-lamanya. Karena setelah Citra meninggalkan dirinya waktu itu ia baru sadar kalau dia sangat begitu mencintai wanita yang pernah dia sia-siakan dulu.


Citra berbalik, ia begitu tersentak saat melihat Rifki ternyata sudah bisa berdiri.


Sedangkan Rifki yang menyadari hal tersebut, ia langsung pura-pura terjatuh ke atas lantai. Berharap Citra menolong dirinya.


"Argh…!" pekiknya kemudian. Lalu dia memegang kedua lututnya.


Citra yang melihat hal itu, ia segera menghampiri Rifki untuk menolongnya.


Namun, saat mendekat kearah Rifki, tiba-tiba langkah kakinya terhenti. Lalu dia berbalik dan lebih memilih untuk memanggil Syasi yang berada di luar ruangan.


Sedangkan Rifki yang melihat hal itu, dirinya sangat merasa kesal, lalu dia pun berusaha berdiri dan kembali lagi duduk di atas ranjang pasien.


"Sial, aku pikir Citra akan menolongku, tapi ternyata tidak." Kemudian Rifki termenung sambil menopang dagu dengan kedua tangan.


Apakah rasa cinta Citra padaku sudah benar-benar pudar. Dan tidak tersisa sedikitpun.


Dalam keadaan termenung, kemudian Citra datang bersama dengan yang lainnya. Sebab, mereka cukup khawatir mendengar ucapan Citra yang mengatakan kalau Rifki jatuh ke atas lantai.


"Kamu tidak apa-apa 'kan sayang?" tanya Syasi sambil menelisik seluruh tubuh Rifki. Bahkan ia meraba-raba kaki suaminya, namun Rifki tidak merasakan kesakitan sama sekali.


Hingga Syasi meyakini bahwa suaminya saat ini baik-baik saja, seperti yang dikatakan oleh dokter.


"Aku tidak apa-apa," jawab Rifki ketus. Sebab, dirinya cukup kesal dengan ulah Citra tadi.


"Baiklah kalau begitu, 'kan sekarang kamu sudah sembuh, jadi aku pikir untuk apa kak Citra berada di sini, lagi pula aku kan bisa merawat kamu sendiri, tidak butuh bantuan orang lain. Apalagi sekarang kak Citra dan kamu sudah resmi bercerai, jadi saran aku mendingan kak Citra pergi saja dari sini," usir Syasi cukup lembut. Karena sebenarnya, kehadiran Citra di rumah sakit itu hanya membuat dirinya cemburu dan takut.


Takut, kalau Rifki semakin mencintai Citra.


Citra tersenyum tipis, kemudian dia mendekat kearah Syasi. Karena dia tau betul, kalau saat ini adik tirinya itu sedang cemburu padanya.


"Kau tidak perlu merasa khawatir dek, aku ini adalah kakak mu, meskipun statusku hanya kakak tiri, tapi aku tidak akan mungkin merebut suami adikku sendiri."


Deg….


Degup jantung Syasi seakan berhenti berdetak, saat mendengar ucapan Citra barusan. Bahkan ia tak berkedip menatap Citra.

__ADS_1


Apakah Citra sedang mengejekku.


Citra yang melihat reaksi Syasi, kemudian dia menerbitkan sebuah senyuman tipis. Lalu dia menepuk pundak adik tirinya itu dengan lembut.


"Aku pamit, jaga suamimu dengan baik. Karena orang yang sudah pernah berkhianat, bukan tidak mungkin akan kembali mengulangi perbuatannya, apalagi suamimu itu selalu dikelilingi oleh wanita cantik," bisik Citra tepat di telinga Syasi. Lalu dia pun melangkahkan kakinya keluar dari dalam ruang rawat Rifki.


Syasi terdiam, meresapi kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh kakak tirinya barusan.


Namun, baru saja Citra berjalan beberapa langkah, tiba-tiba Rifki memanggil dirinya.


"Citra tunggu," ujar Rifki.


Citra menoleh.


"Ada apa lagi, aku sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi denganmu. Jadi aku minta, kau jangan pernah meminta siapapun lagi untuk menghubungi diriku, dan aku ingatkan bahwa ini adalah pertemuan pertama dan terakhir kita," ucap Citra tegas.


"Tapi Citra, aku belum selesai berbicara denganmu. Masih banyak yang ingin aku jelaskan mengenai hubungan kita, tidak bisakah kau memberiku waktu walau sebentar saja," pinta Rifki memohon agar Citra jangan dulu meninggalkan dirinya.


Citra menarik nafas dalam. Lalu dia mengatakan pada Rifki, bahwa dirinya sudah memberi waktu kepada mantan suaminya itu cukup lama, bahkan sampai dua tahun lebih.


"Aku pamit," ujar Citra. Lalu dia membanting pintu ruangan itu cukup kencang. Hingga membuat Rifki dan Syasi sampai terperanjat.


******


Angga hanya tersenyum, sambil sesekali ia melirik wajah Citra yang semakin hari semakin tambah cantik. Bahkan, lebih menggoda dari hari sebelum-sebelumnya.


Dengan refleks Angga pun menarik pergelangan tangan Citra, lalu dia menggenggamnya dengan sangat erat. Kemudian keduanya berjalan beriringan menuju parkiran mobil.


Citra yang mendapat perlakuan seperti itu dari Angga, ia hanya terdiam membiarkan Angga menggenggam tangannya tanpa protes sama sekali.


Sesampainya di depan mobil, kemudian Angga membukakan pintu mobil untuk Citra.


"Terima kasih," ucap Citra sambil tersenyum manis. Lalu dia pun masuk ke dalam mobil.


Setelah Citra masuk ke dalam mobil, kemudian Angga pun masuk. Lalu dia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Dalam perjalanan pulang, Citra tak sedikit pun berbicara dengan Angga. Keduanya sama-sama saling diam membisu.


Namun, berbeda dengan Angga. Sesekali ia melirik ke arah Citra, tapi Citra tak pernah sekalipun melihat ke arahnya.


Dalam keheningan yang terjadi di antara kedua insan itu, tiba-tiba Citra memegang tangan Angga. Dan hal itu mampu membuat degup jantung Angga semakin berdetak tidak karuan.

__ADS_1


Angga seketika menoleh kearah Citra, dan berusaha agar tidak kehilangan fokus.


"Ada apa?" tanya Angga lembut.


Citra menunduk, malu rasanya jika dia mengatakan kalau saat ini ia sedang lapar. Karena kesibukannya hari ini membuat dirinya lupa untuk sekedar mengisi perut.


"Tidak jadi deh," jawab Citra sambil melepaskan genggaman tangan dari Angga. Lalu dia kembali fokus menatap lurus ke depan.


Namun, tidak berselang lama. Tiba-tiba perut Citra berbunyi dan tidak bisa lagi di kondisikan.


Kriuk...kriuk.


Angga yang mendengar suara perut Citra, langsung menoleh. Menatap lekat wajah wanita yang selalu menghiasi hari-harinya.


"Kau lapar?"


Tanpa menjawab, kemudian Citra menundukkan kepala.


Ih...ini perut, kenapa sih tiba-tiba berbunyi disaat waktu yang tidak tepat, membuat aku malu saja.


Angga yang tidak mendapat jawaban dari Citra, kemudian dia mengulangi pertanyaannya untuk kedua kalinya.


Sedangkan Citra yang masih dalam mode malu, ia hanya menerbitkan sebuah senyuman tipis di bibir indahnya.


Angga yang melihat senyuman Citra, membuat hatinya meleleh. Dan sepersekian detik kemudian ia pun memutar balik mobilnya menuju restoran.


Citra hanya terdiam melihat hal itu, namun sesekali dia mencuri-curi pandang ke arah Angga.


Namun Angga terlalu fokus menyetir, sehingga dia tidak merespon tatapan mata Citra.


Ckit…


Mobil yang dikendarai oleh Angga akhirnya berhenti di depan sebuah restoran mewah. Lalu dia turun dan membukakan pintu mobil untuk Citra.


Mulai hari ini, Angga berjanji pada dirinya sendiri, bahwa ia akan memperlakukan Citra sebagai wanita yang paling istimewa di dalam hidupnya.


"Ayo Cit," ujar Angga sambil tersenyum manis, lalu dia meraih pergelangan tangan Citra dan menggandengnya menuju restoran.


******


Sambil menunggu author update bab selanjutnya, kalian boleh mampir ke karya kak author ❤️ TOMPEALL KRIWEALL❤️ dengan judul, Kembalinya Sang Mafia. Oh...iya. Jangan lupa juga sampaikan salam author riski iki pada kak TOMPEALL KRIWEALL ya😘😘😘

__ADS_1



__ADS_2