
Rahasia Menantu Culun Bab 57
Di kafe mawar merah
"Terima kasih, sudah bersedia menjadi rekan bisnis kami Tuan Kevin," ucap Angga sambil berdiri dari tempat duduknya, lalu dia mengulurkan tangan pada Kevin.
Disertai kekehan kecil, kemudian Kevin menyambut uluran tangan Angga. Setelah itu ia pun pamit.
"Baiklah, aku rasa setelah ini kita akan sering berjumpa," ujar Angga sambil tersenyum tipis.
"Aku rasa juga begitu, Tuan Angga," jawab Kevin. Kemudian dia pergi meninggalkan Angga.
Kevin pun terus melangkah meninggalkan kafe. Namun, disaat di ambang pintu tiba-tiba dirinya melihat seorang wanita cantik, seksi dan juga anggun.
Ia pun berhenti sejenak, melihat pemandangan yang menurutnya sangat begitu menakjubkan.
"Siapa wanita cantik itu, dan kalau dilihat dari penampilannya dia bukan wanita sembarangan," batin Kevin. Kemudian dia terus menatap ke arah Citra tanpa berkedip.
Namun sepersekian detik kemudian, dirinya cukup terperanjat saat melihat seseorang yang berjalan di belakang wanita itu.
"Robin! bukankah itu Robin. Aku tidak mungkin salah lihat 'kan ," batin Kevin sambil mengucek matanya beberapa kali.
Dengan langkah cukup semangat dan percaya diri, kemudian dia berjalan menghampiri wanita itu.
Brak…
Kevin pun pura-pura menabrak Citra, karena dia berniat untuk berkenalan dengan wanita cantik itu.
"Maaf, aku tidak sengaja," ujar Kevin.
Sedangkan Citra dia hanya mengangguk, tanpa memperdulikan Kevin kemudian dia terus berjalan menuju kafe mawar merah. Sebab, saat ini moodnya sedang tidak baik.
Setelah kepergian Citra, Kevin pun langsung menarik tangan Robin, lalu dia memberondong laki-laki itu dengan begitu banyak pertanyaan.
"Iya, dia itu Citra. Beberapa Minggu yang lalu dia sudah resmi menyandang status janda, karena sebelumnya dia adalah istri dari Rifki Ansori Bagaskara," jelas Robin. Kemudian dia pamit pada Kevin.
Sedangkan Kevin yang mendengar status Citra, diapun hanya mengangguk-angguk 'kan kepala sambil sesekali tersenyum tipis. Sebab, dirinya ada kesempatan untuk mendekati Citra.
"Baiklah Kevin, aku pamit. Sepertinya Bosku itu hatinya sedang dirundung masalah. Maka dari itu, tadi dia tidak menghiraukan keberadaan mu, maafkan lah dia," ujar Robin sambil menepuk pundak Kevin dengan lembut.
__ADS_1
"Itu tidak masalah, Tuan Robin. Itu wajar terjadi pada setiap wanita yang baru saja bercerai dengan suaminya," ucap Kevin.
"Baiklah kalau begitu, aku tinggal dulu," ujar Robin kemudian dia melangkah perlahan menuju kafe.
Namun, begitu dirinya sampai di dalam kafe, ia cukup terperanjat saat melihat Citra bersama dengan Angga, yang saat ini sedang dalam satu meja.
Mereka berdua sedang dalam keadaan bercanda, dan Citra tampak sangat gembira menikmati ke bersamaannya dengan Angga.
"Syukurlah, akhirnya aku melihat tawa Citra," batin Robin. Setelah itu ia pergi meninggalkan Citra di kafe itu, karena dia tidak ingin mengganggu kebersamaan Citra dan Angga.
****
"Kok bisa ya kita bertemu di sini? padahal kita 'kan tidak janjian," ucap Citra dalam keadaan masih tertawa kecil.
Angga tersenyum tipis, lalu dia menatap manik mata Citra dengan dalam.
"Mungkin kita satu hati, dan bisa jadi kita berdua berjodoh," ucap Angga disertai senyuman tipis. Lalu menggenggam tangan Citra lembut.
Citra yang tadinya tertawa kecil, kemudian langsung menghentikan tawanya begitu mendengar penuturan Angga. Terlebih sekarang, Angga menggenggam tangannya begitu lembut.
Namun hal itu tidak berlangsung lama, karena seorang pramusaji datang membawa makanan dan minuman untuk Citra. Dan Angga yang melihat itu langsung melepas genggaman tangannya dari Citra. Tapi, setelah kepergian pramusaji tersebut, Angga kembali menggenggam tangan Citra kembali.
"Apa? berlibur?" Citra cukup terperanjat saat mendengar Angga mengajaknya untuk berlibur. Bahkan dengan susah payah Citra menelan ludahnya sendiri. Sebab, dia belum percaya sepenuhnya dengan apa yang ia dengar.
"Iya, berlibur. Menghilangkan sejenak hiruk-pikuk dalam bekerja. Dan akhir-akhir ini aku sangat muak dengan hari-hari yang aku jalani," ujar Angga.
Citra terdiam, kemudian melepas genggaman tangannya dari Angga.
Hingga sepersekian detik kemudian, Citra pun akhirnya menyetujui usul Angga tersebut.
"Baiklah, aku setuju kalau kita berlibur. Tapi berlibur kemana?" tanya Citra.
Angga tersenyum sumringah. Lalu dia mengatakan kalau soal itu Citra tidak perlu risau. Karena semuanya akan diatur olehnya.
"Baiklah, aku akan menunggu kabar darimu," ucap Citra. Lalu dia pun menikmati makanan yang sudah tersaji di hadapannya.
*****
Rosa Hafiq sangat begitu marah saat dia sudah sampai di ruangan Angga. Namun, tidak melihat keberadaan anaknya.
__ADS_1
Buru-buru dia mengambil ponsel dari dalam tas limited edition yang menggantung di pergelangan tangannya, lalu men-dial nomor telepon Angga.
Namun, sudah berapa kali ia mencoba, tapi anaknya Angga tak kunjung mengangkat panggilan darinya.
"Kemana anak itu," batinnya sangat merasa kesal. Kemudian menghubungi nomor telepon Anton.
Anton yang masih dalam perjalanan pulang menuju kantor, dirinya sangat begitu terhenyak saat melihat siapa gerangan yang menelpon dirinya.
"Rosa Hafiq? untuk apa dia menelpon disaat jam kerja seperti ini? apa ada sesuatu yang penting," batin Anton lalu dia menepikan mobilnya ke pinggir jalan.
"Iya, Ada apa Nyonya?" jawab Anton.
Rosa Hafiq yang dalam keadaan marah, lalu meninggikan suaranya dalam satu oktaf. Kemudian dia memberondong Anton dengan begitu banyak pertanyaan.
Sedangkan Anton yang mendengar suara kerasnya Rosa Hafiq, ia bahkan menjauhkan ponselnya dari daun telinganya.
Dengan memberanikan diri, kemudian Anton menjawab semua pertanyaan Rosa Hafiq.
"Kau tidak perlu merasa khawatir Nyonya. Sebab, anakmu Angga sekarang berada di kafe mawar merah, dan kenapa aku meninggalkannya. Ya… karena saat ini dia sedang bersama seorang perempuan cantik," jelas Anton mengatakan hal yang sebenarnya.
Sedangkan Rosa Hafiq yang mendengar penjelasan Anton, dirinya kembali meradang saat Anton menyebut kalau anaknya Angga sedang bersama perempuan cantik.
"Anton, siapa perempuan itu," ujar Rosa Hafiq dengan penuh tekanan.
Anton yang mendengar pertanyaan Rosa Hafiq, dia pun langsung menepuk jidatnya sendiri. Karena sudah merasa keceplosan, dengan menceritakan tentang keberadaan Citra.
"Haduh… gawat! kenapa aku sampai menceritakan tentang keberadaan Non Citra," batin Anton.
Sedangkan Rosa Hafiq yang belum mendapat jawaban dari Anton, kemudian dia kembali mengulangi pertanyaannya.
"Anton, jawab. Siapa perempuan itu? kau masih mendengar suara ku 'kan," ucap Rosa Hafiq kembali meninggikan suaranya dalam satu oktaf.
"I-iya…Nyonya. Aku masih mendengar suaramu," jawab Anton terbata.
Rosa Hafiq mengangguk-anggukkan kepala, kemudian dia meminta Anton untuk menceritakan tentang perempuan yang dekat dengan anaknya Angga.
"Hum…kalau begitu jelaskan siapa perempuan itu," ucap Rosa Hafiq.
Anton pun mulai menceritakan semua tentang Citra. Namun, saat Anton menyebut kalau Citra itu ternyata seorang Janda, Rosa Hafiq pun sangat marah. Bahkan dia berjanji pada dirinya sendiri, bahwa ia tidak akan merestui hubungan Anaknya dengan Citra.
__ADS_1