Rahasia Menantu Culun

Rahasia Menantu Culun
Rahasia Menantu Culun Bab 65


__ADS_3

Rahasia Menantu Culun Bab 65


"Siapa yang memberitahukan mu, tentang keberadaan kami di restoran ini?" tanya Rosa Hafiq sambil menatap Angga dengan cukup tajam.


Ia merasa cukup kesal, karena sang anak telah menguping pembicaraannya dengan Citra.


Angga tersenyum tipis, kemudian mendekat kearah sang ibu, lalu dengan tiba-tiba memeluk Rosa Hafiq sambil mendaratkan sebuah ciuman lembut di dahi.


"Ibu ini bagaimana sih! aku ini adalah putramu, dan restoran ini berada di bawah kendaliku, bagaimana mungkin aku tidak mengetahui tentang pertemuan yang sangat menakjubkan seperti ini," ujar Angga sambil mengedipkan sebelah matanya.


Dan Rosa Hafiq yang melihat tingkah sang anak, akhirnya sebuah senyuman tipis pun terbit di bibirnya.


"Baiklah, aku akui. Kau memang putraku yang sangat hebat. Dan aku yakin kamu juga sudah mendengar tentang semua pembicaraan antara ibu dan Citra. Dan ingat! aku merestui pernikahan kalian hanya dengan satu syarat, ingat…satu syarat!"


Angga dan Citra saling beradu pandang, mereka berdua merasa deg-degan dengan persyaratan yang akan diajukan oleh Rosa Hafiq. Bahkan Citra dengan susah payah menelan ludahnya sendiri.


Sedangkan Angga, dengan wajah sedikit panik dan pucat, ia pun lalu mendekat kearah sang ibu.


"M-memang, s-syaratnya apa Bu? jangan aneh-aneh deh, perasaan tadi aku tidak mendengar ibu membicarakan tentang persyaratan itu dengan Citra," ujar Angga gugup.


Rosa Hafiq tersenyum, menyadari perubahan sikap yang ditunjukkan oleh Angga, lalu dia menepuk pipi sang anak dengan lembut.


"Kau jangan gugup sayang, ini hanya persyaratan kecil, ibu hanya ingin setelah kalian menikah, kalian berdua harus segera memberikan seorang cucu pada ibu, kamu tau 'kan ibu ini sudah tua, dan ibu hanya ingin melihat putra ibu bahagia."


Rasa tegang dan gugup yang sempat menghinggapi pikiran Angga sejak tadi, kini berubah menjadi tawa bahagia. Lalu dengan secepat kilat ia langsung memeluk tubuh Rosa Hafiq dengan sangat erat.


"Ibu, kau membuatku takut saja. Aku pikir tadi kamu memberikan syarat yang sulit. Tapi ternyata!" kemudian Angga kembali tertawa terbahak. Lalu melepas pelukannya dari Rosa Hafiq.


"Kalau mengenai hal itu, ibu jangan khawatir, aku dan Citra akan berusaha secepat mungkin untuk memberikan ibu seorang cucu."


Rosa Hafiq tersenyum, lalu memegang tangan Angga dan Citra. Dan sepersekian detik kemudian ia pun menyatukannya.


"Kalau begitu kapan kalian menikah?" kemudian Rosa Hafiq tersenyum menatap kearah Citra.


Citra tersentak, sekaligus gelagapan. Ia tidak tau harus bagaimana menjawab pertanyaan dari Rosa Hafiq.

__ADS_1


Sedangkan Angga yang mengerti dengan sikap yang ditunjukkan oleh Citra, kemudian menggenggam tangan ibunya dengan lembut.


"Jika saatnya tiba, aku dan Citra akan langsung memberitahukan nya pada ibu secepatnya," ujar Angga.


Rosa Hafiq mengerutkan kening. Kemudian menatap Angga dan Citra secara bergantian.


"Ibu tidak mau menunggu lama, bukankah kalian berdua itu sudah saling mengenal satu sama lain, jadi untuk apa lagi menunggu? Dan kalau kalian setuju, bagaimana kalau bulan depan?"


"Apa….! bulan depan?" ucap Angga dan Citra secara bersamaan. Lalu mereka berdua saling melirik satu sama lain.


Sedangkan Rosa Hafiq, Ia hanya tersenyum melihat kekompakan anak dan calon menantunya.


"Bu-bukankah itu terlalu cepat Bu?" tanya Angga.


Rosa Hafiq lagi-lagi tersenyum.


"Hum…bagaimana itu dibilang terlalu cepat, bukankah itu yang kamu inginkan, anakku Angga?"


Angga mengusap tengkuknya disertai kekehan kecil, kemudian menatap manik mata Citra dengan sangat dalam. Meski tak dapat dipungkiri bahwa apa yang dikatakan oleh ibunya itu memang benar.


"Bagaimana Citra? apakah kamu setuju dengan apa yang diucapkan oleh ibuku barusan?" Angga meminta persetujuan dari Citra.


"A-aku…! A-aku…! aku menyetujuinya," jawab Citra terbata.


Sangking senangnya Angga mendengar jawaban Citra, kemudian dia berdiri, lalu menggendong tubuh Citra, tanpa peduli dengan tatapan mata dari para pengunjung restoran itu.


"Akhirnya, kita berdua bersatu juga, aku sangat mencintaimu melebihi apapun Citra," bisik Angga tepat di telinga Citra.


Kemudian dia berteriak, memberitahukan kepada seluruh pengunjung restoran, bahwa sebentar lagi dirinya akan menikah dengan wanita yang sangat ia cintai.


Semua pengunjung restoran pun berdiri, lalu mereka semua bertepuk tangan, kemudian memberikan selamat untuk Angga dan Citra.


Namun berbeda dengan salah satu pengunjung yang berada di sisi pojok restoran itu, dirinya tiba-tiba merasakan kekesalan luar biasa.


Bagaimana tidak, melihat mantan istrinya Citra bersama dengan laki-laki yang sejak dulu ia benci, darahnya pun tiba-tiba mendidih.

__ADS_1


"Meeting kita tunda, kita lanjutkan di lain waktu," ucap Angga membatalkan meeting penting itu.


Para kolega bisnis Rifki pun pergi, tanpa mengucapkan sepatah katapun. Karena mereka cukup kecewa dengan keputusan direktur utama dari perusahaan Bagaskara tersebut.


Sedangkan sekretaris pribadinya Tomy tidak bisa berkata apapun lagi, melihat guratan kemarahan yang tergambar jelas di wajah sang Bos.


"Bos…a-aku!"


"Sudahlah Tomy, ini bukanlah salahmu, mungkin ini adalah takdir Tuhan, mempertemukan aku dan Citra dalam keadaan seperti ini, dan barusan! apakah aku tidak salah dengar? bahwa Angga dan Citra sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan?"


Tomy terdiam, tidak berkutik sama sekali. Ia lebih memilih menundukkan kepala, karena tidak tau harus menjawab apa, karena jelas-jelas tadi Angga berteriak dengan sangat kencang. Mengumumkan pernikahannya dengan Citra Astika Pratama.


Mana mungkin dirinya salah dengar, toh telinganya masih berfungsi dengan baik dan benar.


"Hufh…!" Rifki menarik nafas dalam, menenangkan pikirannya yang sedang berkecamuk.


Rifki akui, dirinya memang sudah resmi bercerai dengan Citra, tapi melihat Citra bersama dengan laki-laki lain, ia masih belum terima.


Karena di dalam lubuk hati yang paling dalam, Rifki masih menyimpan rasa cinta yang cukup besar untuk mantan istrinya itu.


"Tidak bisakah kita berdua bersatu lagi, dalam ikatan pernikahan untuk kedua kalinya," batin Rifki terus memandang Citra dan Angga yang saat ini sedang tertawa bahagia.


Karena tidak tahan melihat kebahagiaan Citra, akhirnya Rifki pun memilih pergi dari restoran itu. Sebab, ia tidak ingin membuat keributan, yang akan menyebabkan harga dirinya ternoda.


Dengan langkah kaki seribu, kemudian Rifki pergi meninggalkan restoran itu.


"Bos, perasaan ini jalurnya bukan ke kantor, tapi…!"


Tomy menghentikan ucapannya, karena mendapat tatapan tajam dari Rifki.


"Diamlah, aku ingin pergi ke rumah Citra dan menunggunya di sana, aku ingin bicara empat mata dengannya," jawab Rifki ketus.


Kemudian dia menghentikan mobil dan meminta Tomy agar segera turun, karena tidak ingin sekretarisnya itu mengganggunya jika ia berbicara dengan Citra.


"Tapi bos, masa kamu tega menurunkan aku di tengah jalan begini," ucap Tomy.

__ADS_1


Rifki menatap tajam ke arah Tomy, kemudian kembali memintanya untuk segera turun.


"B-baiklah bos," ucap Tomy terbata, lalu dengan secepat kilat turun dari mobil Bosnya.


__ADS_2