
Rahasia Menantu Culun Bab 50
Dengan rasa kesal yang membuncah di lubuk hati, kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun lalu Robin meninggalkan Citra dan Angga berdua.
Sedangkan Angga, dirinya pun mulai menanyakan kenapa Citra tiba-tiba bersedih.
"Apa aku menyinggung perasaanmu?" tanya Angga sambil mengusap air mata Citra yang sempat menetes dari kelopak mata.
Citra menggeleng cepat.
"Lalu apa yang membuat dirimu bersedih?" tanya Angga kembali.
Citra terdiam, lalu dia menundukkan kepala, karena tidak mungkin mengatakan apa yang sebenarnya dia rasakan.
Angga menarik nafas dalam, entah apa yang harus dia lakukan untuk membuat gadis yang ia cintai itu kembali tersenyum.
Keheningan pun sempat terjadi di antara Citra dan Angga, hingga beberapa menit berlalu, barulah Citra membuka suara dan meminta Angga untuk mengantarnya pulang ke rumah.
Angga tersenyum tipis, rupanya itulah yang ditunggu-ditunggu oleh laki-laki tampan itu sejenak tadi. Agar dia bisa berduaan dengan Citra.
"Baiklah," kemudian Angga menggenggam tangan Citra dengan sangat erat. Dan menggandeng tangan Citra menuju mobil.
******
Syasi yang baru saja menyelesaikan administrasi anaknya Ronald, begitu terperanjat saat mendengar suara teriakan kesakitan yang cukup familiar di telinganya.
Ia langsung menoleh ke arah brankar yang baru saja turun dari mobil ambulan.
"Apakah keluarganya sudah ada yang tau," tanya seorang suster yang mulai mendorong brankar itu menuju ruangan Instalasi Gawat Darurat.
"Belum, tapi kata orang yang mengantarkannya tadi, mereka sudah berusaha untuk menghubungi keluarganya. Namun sampai saat ini belum ada yang menjawab telepon darinya," jawab suster lainnya.
"Saya adalah istrinya suster," ucap Syasi yang langsung menyambar tubuh Rifki. Bahkan ia menggenggam tangan suaminya dengan sangat erat.
Tangisnya langsung pecah tatkala melihat keadaan Rifki. Walaupun masih keadaan sadar, tapi Syasi yakin kalau suaminya itu sedang merasakan kesakitan yang teramat dahsyat.
Rifki yang mendengar suara Syasi, kemudian dia menoleh. Lalu meminta istri keduanya itu untuk menghubungi Citra.
"Sya…si, hubungi Citra sekarang juga," pinta Rifki terbata.
Syasi terdiam sesaat, menatap nanar ke arah suaminya, walaupun Ia sudah berdamai dengan Citra. Tapi mendengar permintaan Rifki barusan, membuat hatinya bagaikan ditusuk ribuan jarum.
__ADS_1
Rifki yang melihat Syasi hanya diam saja, tanpa mengucapkan sepatah katapun, lalu dia mengulangi ucapannya kembali.
"Ba-baiklah, aku akan menghubunginya," jawab Syasi mengalah karena tidak mungkin dia menolak permintaan suaminya di hadapan para suster. Terlebih, keadaan Rifki saat ini sedang sakit.
Rifki tersenyum, dan tidak lama kemudian kesadarannya mulai memudar. Dan para suster itu pun langsung menghentikan langkah Syasi ketika sudah sampai di depan pintu Instalasi Gawat Darurat.
*****
"Dokter, apakah cucu saya sudah boleh pulang hari ini?" tanya Siska ketika sang dokter yang merawat Ronald selama dirumah sakit datang memeriksa keadaan Ronald.
Dokter itu tersenyum ramah, kemudian dia menjelaskan pada Siska bahwa Ronald sudah baik-baik saja. Dan tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Bahkan, saat ini juga Ronald sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah.
"Baiklah dokter, terima kasih penjelasannya," ucap Siska.
"Sama-sama." Kemudian dokter itu pun keluar dari dalam ruangan Ronald.
Setelah kepergian Dokter itu, kemudian Siska kembali menghampiri cucu kesayangannya yang tampak sudah ceria.
Namun, baru saja Siska hendak menggendong Ronald, tiba-tiba ponsel yang ia taruh di atas nakas berdering. Siska pun mengambil ponselnya dan melihat nama Syasi tertera di layar ponsel.
"Ya, ada apa Syasi? apakah semua administrasi Ronald sudah kau urus?" tanya Siska.
Sedangkan Siska yang mendengar tangisan Syasi, ia pun mengernyit, merasa heran kenapa menantu kesayangannya itu sampai menangis.
"Ada apa? kenapa kau malah menangis?"
"R-R-Rifki Mom, saat ini dia sedang berada di rumah sakit."
Siska tertawa mendengar ucapan Syasi barusan.
"Kau ini ada-ada saja, baguslah kalau dia sedang berada di sini, bukankah itu lebih baik, mungkin dia ingin menjenguk Ronald, ingin mengetahui keadaan anaknya," ujar Siska enteng.
Syasi yang mendengar ucapan ibu mertuanya barusan, seketika ia mengencangkan suara tangisnya. Dan hal itu mampu membuat Siska merasa khawatir.
"Ada apa sih Syasi, kenapa kau malah menangis kencang, dan Rifki apa yang sebenarnya terjadi dengannya, kalau dia berada di sini, kenapa dia tidak datang keruangan Ronald."
"Mas R-Rifki bukan ingin menjenguk Ronald Mom, tapi saat ini dia sedang di rawat di ruangan Instalasi Gawat Darurat, d-dia kecelakaan," ucap Syasi.
Siska yang mendengar ucapan Syasi, tiba-tiba tubuhnya terasa lemas, bahkan untuk menopang tubuhnya saja dia sudah tidak mampu.
Brak….
__ADS_1
Ponsel yang dia pegang pun jatuh ke atas lantai bersamaan dengan tubuhnya yang tiba-tiba ambruk di atas lantai.
Sedangkan pengasuh Ronald yang melihat kejadian tersebut, ia pun menghampirinya.
"Nyonya kau kenapa?"
Siska menatap nanar ke arah pengasuh cucunya.
"Bi...bi, antarkan aku ke ruangan IGD, sekarang juga," titah Siska.
"Sekarang, Nyonya?" tanya pengasuh Ronald.
"Iya, sekarang Bi."
****
Setelah mengabari ibu mertuanya, Siska. Kemudian Syasi dengan terpaksa menghubungi kakak tirinya Citra.
"Iya, hallo. Ada apa Syasi." jawab Citra di seberang sana. Ia baru saja sampai di depan rumahnya bersama dengan Angga.
"I-ini kak, mas Rifki ingin bertemu dengan kakak."
Citra menolak, lalu dia mengatakan pada Syasi, bahwa dirinya sekarang sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi terhadap Rifki.
"Kak, jangan bilang seperti itu, bukankah kakak itu masih sah sebagai istri dari mas Rifki?"
Citra menarik nafas dalam, lalu dia menjelaskan pada Syasi bahwa hari ini dirinya sudah resmi bercerai dengan Rifki.
Syasi cukup terperanjat mendengar ucapan kakak tirinya itu, dan dalam hati, sebenarnya ia merasa sangat senang sekaligus bahagia. Ingin rasanya dia berjingkrak-jingkrak saat mendengar berita yang sangat menggembirakan itu, namun Syasi teringat kalau saat ini ia sedang berada di rumah sakit.
"Tapi kak, ini adalah permintaan Rifki, saat ini dia sedang dirawat di rumah sakit, bahkan sampai sekarang Rifki masih berada di ruang IGD," jelas Syasi.
Syasi terdiam, dadanya terasa sesak mendengar ucapan adik tirinya itu. Dan pantas saja sejak tadi ia tidak bisa tenang. Mungkin inilah jawaban atas ke risauan hatinya.
Citra menatap kearah Angga yang sedang berada di sampingnya, dan dia ingin meminta pendapat pada laki-laki itu. Namun, secepat kilat Angga mengangkat kedua bahunya ke atas.
Syasi yang belum mendapat jawaban, lalu dia kembali menanyakan apakah Citra bisa datang ke rumah sakit. Sambil sesekali ia membujuk Citra agar mau datang untuk menemui Rifki.
"Baiklah," jawab Citra akhirnya.
Sedangkan Angga, dalam hati ia merasa sedikit kecewa dengan keputusan Citra. Namun, saat ini dia belum bisa berbuat apa-apa, karena antara dirinya dan Citra belum memiliki ikatan apapun.
__ADS_1