
Rahasia Menantu Culun Bab 41
Tanpa sadar, rupanya sejak tadi ada sepasang mata mengawasi gerak-gerik Citra dan Angga.
Tangannya mengepal sempurna, lalu dia melihat ke arah Citra dengan geram.
Ya, dia adalah Syasi yang datang ke rumah sakit untuk menjemput jenazah ibunya, karena sebentar lagi akan dimakamkan.
"Tunggu pembalasanku, aku tidak akan pernah membiarkan dirimu bahagia walau hanya sedetik."
Kemudian Syasi melihat ke arah Citra dengan bola mata membulat sempurna.
Rupanya ia baru tau dari anak buah Rifki, bahwa Citra saat ini sedang hamil, tapi untungnya Citra sekarang sudah keguguran, jadi dia tidak perlu mengkhawatirkan hal itu lagi.
Namun disaat dirinya sedang melihat kebersamaan Citra dan Angga, tiba-tiba dari arah belakang Rifki datang menghampiri.
"Sayang kau sedang ap…?" ucap Rifki terhenti karena dia mengarahkan Indra penglihatannya ke arah Syasi memandang.
"Citra…!" ujar Rifki marah.
Kemudian tangannya mengepal sempurna saat melihat Citra bersama dengan laki-laki yang sangat dia benci.
Dengan langkah tergesa, kemudian Rifki langsung masuk ke dalam ruangan Citra dirawat, lalu dia membanting pintu kamar itu dengan sedikit kasar.
Brak…
Citra dan Angga langsung mengarahkan pandangannya ke arah pintu.
"Rifki…!" ujar mereka berdua serempak.
Dengan kemarahan yang menggebu, kemudian Rifki menghampiri Angga.
"Angga…! sudah berulang kali aku peringatkan, jangan coba-coba mendekati istriku? apalagi saat ini dia sedang mengandung anakku," teriak Rifki yang hendak melayangkan bogem mentahnya tepat di pipi Angga.
Namun, Angga dengan sigap menghalau kepalan tinju Rifki, lalu dia tersenyum mengejek.
"Istri? anda tidak malu mengakui Citra itu adalah istri kamu, dan aku rasa semenjak kalian menikah selama dua tahun, kau bahkan tidak pernah sedikitpun memberikan kebahagiaan padanya, kau hanya menyiksa fisik dan batinnya, dan yang paling menyedihkan dia dengan tulus mencintaimu dan rela melakukan apapun untuk mu, tapi apa yang kamu lakukan…?" Angga menggelengkan kepala sambil menatap wajah Rifki tanpa berkedip.
__ADS_1
Kemudian dia kembali melanjutkan ucapannya.
"Kau tega mengkhianati cinta tulusnya, dengan menikahi adiknya Syasi," jelas Angga.
Kepalan tangan Rifki kian melemah saat membayangkan rentetan peristiwa yang dia lakukan dulu terhadap Citra. Lalu dia kembali menatap wajah Angga dengan tajam.
"Lalu apa urusanmu? bukankah dia itu istriku? dan kau memangnya siapa? selalu ikut campur dalam rumah tanggaku dengan Citra. Dan ingat baik-baik, aku dan Citra masih sah sebagai suami istri di mata hukum dan agama."
Kemudian Angga berjalan perlahan mendekat ke arah Citra, dan berniat menanyakan, kenapa Citra sampai berada di rumah sakit.
Sedangkan Angga, dirinya sangat geram dengan ucapan Rifki barusan.
"Jangan mendekat, jika kau mendekat ke arah Citra satu langkah lagi, maka jangan salahkan aku mengusirmu dari rumah sakit ini dengan paksa," ancam Angga.
Jika kemarin-kemarin Angga selalu diam dengan apa yang dilakukan oleh Rifki terhadap dirinya, tapi tidak kali ini, ia harus tegas untuk melindungi Citra. Sebab, dia tidak ingin kejadian seperti kemarin terulang kembali.
"Berani sekali kau mengancam ku," teriak Rifki sambil berjalan ke arah Angga, kemudian dia melayangkan bogem mentahnya pada pipi Angga.
Bhug…
Seketika darah segar mengalir dari sudut bibir Angga, kemudian dia mengusap sudut bibirnya yang terasa sedikit kebas.
Namun, tindakannya itu langsung dihalau oleh Citra.
"Kalian berdua, hentikan. Ini rumah sakit bukan arena tinju," ujar Citra dengan sedikit berteriak.
Kemudian dia menatap Rifki dengan tajam.
"Dan kau Rifki, apa kau ingin tau kenapa aku sampai di rumah sakit?" ucap Citra sambil menatap Rifki tanpa berkedip.
Rifki hanya mengangguk tanpa berani mengucapkan sepatah katapun. Karena selama mereka berdua menikah Citra tak pernah sekalipun berkata demikian padanya.
"Baiklah, kalau begitu aku akan menceritakannya."
Citra pun mulai menceritakan semua rentetan kejadian yang dialami kepada Rifki.
Bola mata Rifki tiba-tiba berkaca-kaca saat mendengar penjelasan Citra, yang mengatakan bahwa dirinya baru saja kehilangan janin yang ada di dalam kandungannya.
__ADS_1
"Anakku…!" tangis Rifki seketika pecah saat itu juga. Dia tidak menyangka akan kehilangan anaknya yang baru saja tumbuh di dalam janin Citra secepat itu.
Sedangkan Syasi yang diam di luar ruangan, ia pun mengulas senyum kebahagiaan saat mendengar pengakuan langsung dari bibir Citra.
Dengan santai ia pun melenggang masuk ke dalam ruangan Citra, lalu dia berjongkok di hadapan suaminya Rifki.
"Sayang jangan bersedih seperti itu dong, bukankah kita sudah punya anak, lagi pula apa kamu yakin anak yang dikandung oleh Citra itu adalah anakmu?" ujar Syasi.
Rifki seketika menoleh ke arah Syasi. Kemudian dia mencengkeram lengan Syasi dengan kuat. Bahkan Syasi sampai meringis kesakitan.
"Aku yakin seratus persen, kalau anak yang dikandung oleh Citra itu adalah anakku," ucap Rifki lalu dia menatap tajam manik mata Syasi, kemudian dia melepas cengkraman tangannya dari lengan Syasi.
Sebenarnya saat ini dirinya sangat geram terhadap Syasi, mengingat apa yang dilakukan oleh Brenda pada Citra. Dan karena ulah ibu mertuanya itulah sekarang Citra kehilangan janin yang ada di dalam kandungannya.
Namun, karena saat ini Syasi sedang dalam keadaan berduka atas kehilangan ibunya, Rifki pun akhirnya memilih meninggalkan Syasi seorang diri di dalam ruangan Citra.
"Mas, tunggu. Kau mau kemana," teriak Syasi sambil mengejar suaminya Rifki.
Namun saat dia berada di ambang pintu, Syasi pun kembali menoleh ke arah Citra, lalu dia menatap Citra dengan tajam.
"Awas saja kalau kau berniat kembali bersama dengan suamiku Rifki, aku akan membunuhmu saat itu juga, dan ingat. Rifki adalah milikku dan akan tetap menjadi milikku untuk selamanya," ancam Syasi kemudian dia kembali mengejar Rifki.
Citra yang mendengar ancaman saudara tirinya itu hanya bisa mengelus dada. Dan lagi pula dia sama sekali tidak ada niatan untuk kembali bersama dengan Rifki.
Citra menarik nafas dalam, kemudian dia menoleh ke arah Angga. Lalu dia mengelus lembut luka yang berada di sudut bibir Angga.
"Apakah ini sakit?" tanya Citra sambil menekan sedikit luka memar yang berada di sudut bibir Angga.
Angga menatap manik mata Citra dengan dalam, kemudian dia pura-pura meringis kesakitan.
"Aduh…! sakit. Pelan-pelan," rengek Angga manja.
Kemudian dia mendekatkan wajahnya pada wajah Citra, hingga membuat jarak diantara mereka hanya tinggal beberapa centi.
Pandangan mata keduanya saling beradu, hingga membuat jantung Citra semakin berdetak tidak karuan.
Dan untuk pertama kalinya, Citra juga merasakan hal aneh dalam dirinya. Biasanya ia merasakan hal seperti ini jika dekat dengan Rifki.
__ADS_1
Lalu apa yang terjadi? kenapa dirinya tiba-tiba merasakan getaran yang tidak biasa saat berdekatan dengan Angga.
Apakah ia sudah mulai menaruh hati terhadap Angga?