
Rahasia Menantu Culun Bab 68
Robin berlari bagai orang kesetanan menuju ruangan Citra. Namun sesampainya di depan pintu, hal yang tak terduga pun terjadi.
Pintu ruangan Citra mendadak tidak bisa dibuka.
"Apakah wanita sialan itu menguncinya dari dalam?" Robin mulai tampak khawatir dengan keadaan Citra di dalam.
Pasalnya, Robin jelas-jelas melihat di CCTV bahwa Syasi sedang menggenggam pisau di tangannya.
"Ah…sial," Robin tampak frustasi, kemudian bergegas untuk meminta bantuan.
Sedangkan di dalam ruangan Citra, terjadi ketegangan yang teramat luar biasa. Saat ini Syasi sedang menodongkan pisau kecil tepat di wajah Citra.
"Apa yang ingin kamu lakukan Syasi, apa kamu gila? menodongkan pisau pada kakakmu sendiri, menjauh lah dariku," pekik Citra disertai ketakutan yang teramat dahsyat.
Bibirnya gemetar, dan wajahnya pucat pasi.
Syasi tertawa terbahak, melihat ketakutan yang tergambar jelas di wajah Citra, terlebih mendengar ucapan Citra yang mengatakan kalau mereka adalah saudara.
"Hm…kita memang saudara kak Citra, tapi ingat! hanya saudara tiri, tidak lebih dari itu," ujar Syasi disertai kekehan kecil di wajahnya.
Citra semakin gemetar, tatkala Syasi semakin dekat dengannya, apalagi sekarang pisau kecil itu kini hanya berjarak beberapa senti saja dari wajahnya.
Namun walaupun begitu, Citra masih berusaha membujuk Syasi agar menjauhkan pisau kecil itu darinya.
"Kenapa kak Citra sayang? apa kamu takut kalau pisau ini aku goreskan tepat di wajah cantikmu? karena wajah inilah yang membuat suamiku Rifki selalu mengejar-ngejar kamu setiap saat."
Syasi kembali tertawa terbahak. Sedangkan Citra, ia semakin ketakutan.
Tap…tap…tap.
Citra pun terus berusaha menjauh dari Syasi, dengan melangkah mundur kebelakang.
Namun Syasi tidak memberikannya ruang, ia terus mengikuti langkah kaki Citra, hingga tubuh Citra sekarang sudah bersandar di dinding.
"Kali ini aku tidak akan membiarkan kamu lolos kak Citra, aku akan melukai wajah ini, sehingga laki-laki manapun tak akan sudi melihatnya, termasuk Rifki…dan Angga," ujar Syasi sambil mengelus wajah Citra dengan ke lembutan tiada tara.
"Ha…ha…ha," Syasi kembali tertawa terbahak. Sedangkan Citra tubuhnya kian bergetar ketakutan.
"Baiklah, aku tidak ingin berlama lama lagi, karena aku ingin melihatmu menderita, seperti dulu lagi, sebelum wajah ini menjadi cantik," ujar Syasi tampak serius. Kemudian mengarahkan pisau kecil itu pada wajah Citra.
Namun ketika Syasi mengarahkan pisau kecil itu pada wajah Citra, pintu ruangan itupun tiba-tiba terbuka lebar, dan menampakkan Robin dan beberapa karyawan lainnya.
__ADS_1
Dan menyadari hal itu, Syasi pun menyembunyikan pisau kecil itu pada tempatnya semula, lalu dia bersimpuh di bawah kaki Citra.
"Kakak, aku benar-benar minta maaf atas semua kesalahan yang aku lakukan selama ini," ucap Syasi disertai air mata yang berbondong-bondong ke luar dari kelopak matanya.
Sedangkan Citra, ia belum bisa menetralkan rasa ketakutannya, hingga membuat dirinya hanya diam saja tanpa berkutik sama sekali.
Namun berbeda dengan para karyawan yang melihat kejadian itu, mereka semua tampak kasihan melihat Syasi. Tapi, mereka semua tidak berani ikut campur, karena itu bukanlah urusan mereka.
"Baiklah, mari kita bubar. Ini bukanlah urusan kita, dan ini adalah urusan keluarga mereka," ujar salah satu karyawan, kemudian mereka semua kembali melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing.
Sedangkan Robin, buru-buru ia berlari menuju Citra. Kemudian menanyakan apakah Citra baik-baik saja.
Citra mengangguk, kemudian memeluk sahabat baiknya itu dengan sangat erat.
Sedangkan Syasi, iapun diam-diam berdiri, kemudian melarikan diri secepatnya dari tempat itu.
Robin yang menyadari hal itu, iapun hendak mengejar Syasi, Namun Citra melarangnya.
"Biarkan ia pergi, ini semua adalah salahku, mungkin dia sakit hati karena suaminya Rifki masih mengejar-ngejar diriku sampai saat ini," ujar Citra sambil terisak.
"Tapi Citra….? bagaimana aku bisa membiarkannya pergi begitu saja, sedangkan tadi aku jelas-jelas melihat dengan mata kepalaku sendiri, ia hendak mencelakai mu untuk kedua kalinya. Ini tidak bisa dibiarkan, kali ini aku harus menjebloskan dia kedalam penjara," ujar Robin.
"Diamlah Robin, Diam. Apa kamu tau, biar bagaimanapun dia itu adalah adikku, ia masih memiliki anak kecil yang sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang, Bagaimana mungkin aku tega memisahkan mereka," ujar Citra dengan masih terisak.
Dengan lembut, Robin pun kembali meraih tubuh Citra, kemudian memeluknya dengan sangat erat, lalu berusaha menenangkannya. Sebab,ia tau kalau saat ini sahabatnya itu sedang dilanda ketakutan yang teramat dahsyat.
"Terimakasih Robin, kau selalu menyelamatkan aku dari orang-orang seperti mereka," ujar Citra.
Robin terdiam, kemudian menatap manik mata Citra.
"Jangan berkata seperti itu, biar bagaimanapun kamu adalah sahabatku," ujar Robin.
Citra tersenyum.
"Ya, sahabat yang selalu menyusahkan mu, iya 'kan!" jawab Citra.
Robin tertawa. Kemudian kembali memeluk Citra dengan erat.
*******
Di dalam mobil
Syasi terus saja diselimuti rasa kesal yang teramat sangat, karena rencananya untuk merusak wajah Citra mengalami kegagalan.
__ADS_1
"Sial, kenapa Robin selalu saja datang di waktu yang tepat untuk menyelamatkan Citra, seakan-akan dia itu dewa penolong untuk wanita tak tau diri itu," sarkas Syasi sambil membanting setir mobilnya berulang kali.
Ya, semalam Syasi dan Rifki kembali bertengkar, dan dalam pertengkaran mereka, Rifki mengatakan kalau dirinya menyesal telah menikah dengan Syasi.
Dan jika dirinya tau kalau Citra adalah wanita yang sangat cantik, bahkan memiliki perusahaan yang sangat besar, ia tidak mungkin menyia-nyiakan istrinya itu selama dua tahun.
Syasi yang mengetahui hal itu pun mulai kebakaran jenggot, ia tidak suka mendengar ucapan suaminya, terlebih belakang ini Rifki selalu mengejar-ngejar Citra, bahkan membanding-bandingkan dirinya dengan kakak tirinya itu. Ya, jelaslah ia tidak terima.
Maka dari itu, hari ini Syasi memutuskan untuk menemui Citra dan berencana untuk merusak wajahnya. Namun sayang seribu sayang, rencananya mengalami kegagalan.
"Sial…sial…sial…!" teriak Syasi terdengar seantero jagat raya.
******
Angga yang baru saja menapakkan kaki di kantor, tiba-tiba merasakan sesak di dada.
Ia tiba-tiba teringat dengan Citra, sang pujaan hati.
"Apa terjadi sesuatu dengannya?" batin Angga cemas.
Kemudian ia kembali melangkah memasuki mobil dengan cukup tergesa. Sedangkan sekretarisnya Anton yang melihat kedatangan Bos nya iapun langsung memanggil.
"Bos, mau kemana lagi, klien bisnis kita sudah menunggumu sejak tadi," teriak Anton sambil berlari untuk menghampiri Angga.
"Kau saja yang urus mereka, aku ada keperluan mendadak," ujar Angga.
Anton yang sudah sampai di dekat Angga, ia pun langsung menarik tangan Bos nya, lalu menutup kembali pintu mobil.
"Jangan bilang ini mengenai Citra, kalau hal itu aku tidak bisa mengijinkannya, karena kalian berdua untuk saat ini tidak boleh sering bertemu," ujar Anton.
Angga menatap Anton dengan cukup tajam. Berani-beraninya bawahannya itu memerintah dirinya.
"Aku ini Bos mu, jangan seenaknya memerintah diriku," sarkas Angga.
Anton terdiam, kemudian melepaskan genggaman tangannya dari Angga.
"Maafkan kelancangan ku bos, tapi ini adalah perintah Nyonya Rosa Hafiq, untuk saat ini ia melarangmu untuk bertemu dengan Citra. Bersabarlah, ini cuma dua Minggu lagi, setelah itu kalian berdua bebas untuk melakukan apapun," ucap Anton sambil menunduk.
Ia tidak berani menatap wajah Angga.
"Hufh…!" Angga menarik nafas dalam. Sebenarnya ia sangat ingin melihat keadaan Citra saat ini, tapi apalah daya, ia harus menuruti perintah ibunya. Kalau tidak, bisa-bisa dirinya tidak jadi menikah dengan Citra.
Jadi, untuk sementara waktu dia harus mengalah.
__ADS_1
"Baiklah, mari kita urus klien bisnis kita," ujar Angga. Kemudian mereka berdua melangkah memasuki kantor.