
Rahasia Menantu Culun Bab 70
Di Dalam aula pernikahan yang dihadiri oleh ratusan orang itu pun hening, saat Angga membalas menjabat tangan yang diulurkan oleh pak penghulu padanya.
Sedangkan Citra, ia pun menundukkan kepala. Walaupun ini adalah pernikahan yang kedua kali, ia tetap merasa sangat begitu deg-degan.
Namun berbeda dengan Rosa Hafiq, saat Angga menyambut tangan pak penghulu, dirinya pun mulai memanjatkan doa kepada sang pencipta.
"Semoga semuanya berjalan dengan lancar," ujar Rosa Hafiq di dalam benaknya.
Dan tidak berselang lama, dalam satu tarikan nafas Angga pun mengucapkan ijab kabul itu dengan sempurna.
"Bagaimana para saksi, apakah sudah sah?" tanya pak penghulu.
Kedua saksi itu pun saling beradu pandang, kemudian mereka berdua mengucapkan "Sah" secara bersamaan.
Keadaan yang tadinya tegang dan hening, kini berubah menjadi meriah, saat semua para tamu undangan yang hadir bertepuk tangan.
Namun berbeda dengan Citra, ia pun menitihkan air mata kebahagiaan sambil berdoa dalam hati, semoga ini adalah pernikahannya yang terakhir.
Hingga sepersekian detik kemudian, dia lalu mencium punggung tangan Angga, dan Angga membalasnya dengan mengecup kening Citra dan tidak lupa pula mereka berdua saling bertukar cincin.
*****
Setelah kalimat "Sah" menggema, dan doa kepada sang pencipta yang dipimpin oleh pak penghulu berakhir. Kini tibalah saatnya acara resepsi.
Acara resepsi pernikahan Citra dan Angga digelar dengan sangat meriah.
Para tamu undangan serta kolega bisnis Angga dan Citra pun turut hadir, tidak terkecuali Rifki dan Syasi.
Rifki memutuskan hadir di acara pernikahan mantan istrinya, karena dirinya mulai merasa ikhlas. Mungkin jodohnya bukanlah Citra melainkan Syasi.
"Selamat," ujar Rifki sambil mengulurkan tangan pada Angga, begitu juga dengan Syasi.
Dan setelah memberi selamat kepada Angga, kini tibalah giliran Citra, kedua pasangan itupun lalu mendekat kearah Citra.
Syasi yang dulu pernah menyakiti perasaan Citra, kini dirinya pun mulai sadar, bahwa sekarang Citra bukanlah penghalang baginya untuk mendapatkan Rifki seutuhnya.
Karena ia melihat sendiri, Citra sangatlah mencintai Angga. Maka dari itu ia putuskan untuk tidak lagi mengganggu kehidupan Citra. Dan lebih fokus mengurus suami dan anaknya.
"Kak Citra. Selamat atas pernikahanmu, maafkan adikmu ini yang selalu menyakiti hati dan perasaan mu dulu," ujar Syasi sambil menunduk.
Citra tersenyum, lalu dia memeluk adik tirinya itu dengan sangat erat.
"Kau adalah adikku, mana mungkin aku bisa membenci dirimu," ujar Citra.
Syasi yang mendengar ucapan Citra, ia lalu melepas pelukannya.
__ADS_1
"Benarkah kak, kau tidak membenci diriku sama sekali?"
Citra menggeleng dengan cepat. Sedangkan Syasi, air matanya mulai meleleh saat melihat sendiri, betapa baiknya Citra padanya selama ini.
Bahkan dirinya sudah merebut Rifki dari kehidupan Citra, dan bukan hanya itu saja, Ia dan mendiang ibunya juga pernah berencana untuk mengakhiri hidup Citra, dengan membuang Citra ke dalam jurang.
Namun hal itu semua, Citra sama sekali tidak pernah sekalipun membalas perbuatan bejatnya.
"Kau memang kakak yang sangat baik, sekali lagi maafkan aku ya kak," ujar Syasi.
"Iya dek, kakak sudah memaafkan kamu kok," ucap Citra sambil mengusap air mata yang sempat menetes dari kelopak mata Syasi.
Begitu juga dengan Rifki, ia juga meminta maaf kepada Citra atas perlakuan kasarnya selama ini. Dan Citra pun memaafkannya.
Usai kedua saudara itu saling bermaaf-maafan, kini tibalah giliran Robin memberi selamat kepada pasangan pengantin baru itu.
"Selamat akhirnya kamu berhasil menemukan kebahagiaan Cit, dan kamu Angga, ingat kata-kataku tadi," ujar Robin pada Angga.
"Tenang saja aku akan mengingatnya," jawab Angga. kemudian dia tersenyum.
-
-
-
-
Citra merasa cukup lelah, ternyata berdiri seharian di atas panggung menyalami begitu banyak para tamu undangan yang hadir, rupanya sangat menguras energi dan tenaganya.
"Aku sangat capek dan lelah," keluh Citra dengan sangat pelan. Namun rupanya di dengar oleh Angga.
Angga yang berjalan beriringan dengan Citra, seketika menghentikan langkah, begitu mendengar keluhan sang istri.
"Kau capek? apa perlu aku gendong?"
Jawaban Angga sontak membuat Citra mempercepat langkah kakinya, ia tidak menyangka keluhannya itu begitu cepat ditanggapi oleh sang suami. Padahal tadi ia mengucapkannya dengan sangat pelan.
"Tidak perlu, aku masih bisa berjalan sendiri," ujar Citra sambil berjongkok, kemudian melepas heels yang menghiasi telapak kakinya selama seharian penuh.
Angga tersenyum, kemudian menarik pergelangan tangan Citra, lalu tanpa aba-aba ia mengangkat tubuh ramping Citra ke dalam gendongannya.
"Aw…. apa yang kamu lakukan Angga, cepat turunkan aku?" Citra yang takut jatuh mulai mengalungkan tangannya tepat di leher Angga.
Hingga membuat netra sepasang suami istri itu saling beradu pandang. Dan timbullah rasa yang tidak biasa di dalam benak masing-masing.
"Katanya kamu capek, yaudah aku gendong saja," ucap Angga tanpa ekspresi.
__ADS_1
Meski wajah Angga tidak menunjukkan ekspresi sama sekali. Tapi Citra bisa merasakan kalau saat ini degup jantung suaminya itu mulai tak beraturan.
Dengan perlahan, Citra mulai melepas satu tangannya dari leher Angga, kemudian meletakkannya tepat di dada bidang Angga.
"Mas turunkan aku. Aku tau kamu juga capek 'kan?" ujar Citra dengan lembut.
Angga seketika menghentikan langkah kakinya, kemudian menatap manik mata Citra.
"Baiklah," dengan perasaan yang berdebar Angga pun menurunkan Citra dari gendongannya.
Citra tersenyum, lalu meraih jari-jemari Angga, kemudian menggenggamnya.
"Kalau seperti ini 'kan enak," ujar Citra.
Kemudian mereka berdua berjalan beriringan menuju kamar.
Sesampainya di dalam kamar, Citra cukup terperanjat saat melihat dekorasi kamar pengantinnya.
Kagum itulah yang dia rasakan.
Mulai dari pertama kali menapakkan kaki di dalam kamar hotel itu sampai ke kamar utama, sepanjang perjalanan lantainya dihiasi oleh kelopak bunga mawar merah yang di tata seindah mungkin.
Belum lagi di atas tempat tidur king size itu, segerombolan kelopak bunga mawar merah sudah ditata sedemikian rupa.
"Indah, benar-benar indah," batin Citra.
Dengan senyum merekah, Citra menatap kearah Angga dengan lembut, lalu dia menanyakan apakah semua itu Angga yang menyiapkannya.
"Tentu sayang, semua ini aku yang menyiapkannya," ujar Angga disertai senyuman yang menggoda.
"Oh…!" ucap Citra ber oh ria. Dan senyum indah yang menghiasi bibir indahnya sejak tadi tiba-tiba saja sirna.
Saat sekelebat bayangan hinggap di dalam pikirannya.
Lalu dia mundur beberapa langkah ke belakang, menyandarkan tubuhnya di dinding, kemudian menutup mata dan telinga. Teringat bagaimana dulu Rifki merebut kesuciannya dengan paksa.
"Apakah aku kembali merasakan kesakitan seperti itu," batin Citra bergejolak.
Angga yang melihat hal itu, seketika mengerutkan kening.
"Kamu kenapa?" tanya Angga cukup khawatir.
Citra tidak menjawab, seluruh tubuhnya sudah berkeringat dingin, bahkan keningnya sudah bercucuran keringat sebiji jagung. Dan hal itu membuat Angga semakin ketakutan.
Buru-buru ia mendekat ke arah Citra, lalu memeluknya dengan sangat erat. Dan tidak lupa pula Angga mengendorkan kancing baju pengantin Citra.
Angga berpikir, mungkin Citra terlalu lama memakai baju pengantin itu, hingga membuat tubuhnya berkeringat.
__ADS_1