
Rahasia Menantu Culun Bab 71
Angga mendekap tubuh Citra dengan kelembutan tiada tara, hingga membuat Citra merasa sedikit tenang.
Dengan perlahan rasa cemas yang sempat melintas di dalam benaknya pun mulai menghilang, saat melihat perlakuan Angga barusan.
"Kamu kenapa sayang, apa kamu terlalu lelah?" tanya Angga sambil melepas pelukannya dari tubuh Citra. Kemudian menatap manik mata istrinya itu dengan dalam.
Citra menggeleng dengan cepat, sambil membalas tatapan Angga padanya.
"Aku tidak apa-apa, mungkin aku terlalu lelah tadi," ucap Citra.
Angga tersenyum, kemudian mengangkat tubuh Citra keatas tempat tidur. Lalu membaringkannya dengan lembut.
"Beristirahatlah," ujar Angga sambil menutupi tubuh Citra dengan selimut. Lalu dia bergegas untuk meninggalkan Citra.
Namun disaat Angga hendak berbalik, tiba-tiba Citra menarik pergelangan tangan Angga.
"Jangan tinggalkan aku, lagi pula ini adalah malam pengantin kita, aku tidak mau melewatkan momen yang sangat istimewa ini," ujar Citra disertai senyuman.
Angga berjongkok, kemudian mengecup kening Citra dengan lembut.
"Baiklah, jika itu yang kamu inginkan, aku akan menurutinya," ujar Angga kemudian dia naik ke atas tempat tidur, dan berbaring tepat di samping Citra.
Citra yang untuk pertama kalinya berbaring bersama Angga, ia mulai merasakan detak jantungnya kian berdegup dengan sangat kencang.
"Aku tidak ingin membuat Angga merasa kecewa, aku harus menyenangkannya malam ini, karena dulu saat menikah dengan Rifki, hatiku begitu sakit ketika di abaikan pas di malam pengantin," batin Citra.
Kemudian menggeser posisi tidurnya menghadap Angga, lalu mengalungkan tangannya tepat di pinggang sang suami.
Angga yang mendapat perlakuan seperti itu dari Citra, iapun buru-buru mengubah posisi tidurnya menghadap Citra.
Kemudian mengelus lembut tangan yang melingkar di pinggangnya.
"Kamu kenapa tidak tidur, bukankah seharian ini kamu sangat capek, beristirahat lah," ujar Angga sekali lagi.
Citra tersenyum canggung. Bagaimanapun dia adalah seorang perempuan, rasanya tidak etis jika dirinya yang memulai duluan.
"Baiklah aku akan tidur," ucap Citra kemudian dengan perlahan mulai memejamkan mata. Dan tidak lama kemudian Citra pun akhirnya masuk ke alam mimpi.
*******
Pagi harinya
__ADS_1
Angga yang sudah terbangun lebih awal, kemudian menatap lekat wajah teduh Citra.
"Kamu adalah satu-satunya wanita yang mampu membuat hatiku bergetar," ucap Angga dalam hati. Kemudian mengecup kening Citra.
Citra membuka mata perlahan, saat merasakan ciuman lembut dari Angga.
"Kamu sudah bangun?"
Angga tersenyum, lalu mengangguk dan sepersekian detik kemudian ia memperbaiki rambut Citra yang tampak sedikit berantakan.
"Kamu tampak sangat cantik. Bak bidadari yang turun dari kayangan," puji Angga.
Detak jantung Citra pun tiba-tiba berdebar dengan sangat kencang, saat mendengar pujian tulus dari sang suami.
"Ini masih pagi sayang, tapi kau sudah memujiku seperti itu," ujar Citra sembari menguap. Lalu dia menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya. Kemudian beranjak memasuki kamar mandi dengan niat untuk membersihkan diri.
Namun sayang seribu sayang, rencana tinggal rencana, karena Angga tiba-tiba menarik tangan Citra, hingga membuat tubuhnya kembali berbaring di tempat tidur.
Dengan perlahan tapi pasti, Angga pun mulai mendekap tubuh Citra, kemudian mengecup kening, dan menit berikutnya turun ke bibir.
Citra yang mendapat serangan mendadak dari Angga, ia pun hanya bisa mengikuti alur yang dimainkan oleh sang suami. Dan anehnya, tidak ada rasa takut, tidak ada rasa trauma yang muncul di dalam pikirannya, hingga lama-kelamaan Citra pun mulai menikmatinya.
Sedangkan Angga yang melihat tidak ada penolakan sama sekali dari sang istri, iapun lalu memperdalam ciumannya. Dan setelah puas menikmati bibir tipis Citra, perlahan-lahan Angga mulai merayap menuju buah kembar yang masih terbungkus rapi.
Namun saat membuka kancing baju tidur Citra yang terakhir, tiba-tiba tangan Citra telulur.
Tap….
Angga seketika menghentikan aksinya, saat mendapat reaksi dari Citra, lalu menatap lekat manik mata istri tercinta.
"Ada apa? apa kamu masih butuh waktu untuk melakukannya denganku?"
Citra menggeleng dengan cepat.
"M-Mas aku belum mandi, apa kamu tidak merasa jijik," ujar Citra lalu dia menundukkan kepala.
Angga tersenyum, kemudian mengangkat dagu Citra. Hingga bola mata keduanya saling beradu pandang.
"Aku mencintaimu melebihi apapun Citra, mana mungkin aku merasakan hal seperti itu," ucap Angga.
"Tapi ini adalah hal yang istimewa, dan aku tidak ingin membuatmu kecewa."
Angga lagi-lagi tersenyum. Kemudian mengangkat tubuh Citra secara tiba-tiba.
__ADS_1
"Mas apa yang ingin kamu lakukan, lepaskan."
Angga tertawa.
"Katanya kamu mau mandi, yaudah kita mandi bareng saja," ucap Angga dengan enteng.
Mendengar hal itu, pipi Citra pun mulai memerah.
"A-apa? mandi bareng?"
"Iya, kita 'kan suami istri, apa salahnya."
Citra terdiam tanpa mampu mengucapkan sepatah katapun.
Sedangkan Angga, ia lalu membopong tubuh Citra menuju kamar mandi.
Sesampainya di dalam kamar mandi, Angga langsung meletakkan tubuh Citra ke dalam bathtub.
"Aku mau mandi, jadi kamu tunggu diluar sana," usir Citra sambil memercikkan air ke tubuh Angga.
Namun hal diluar dugaan terjadi, Angga tiba-tiba membuka seluruh pakaiannya di hadapan Citra. Lalu dia ikut bergabung bersama dengan sang istri di dalam bathtub.
Citra melongo melihat apa yang dilakukan oleh Angga, ingin mengusir untuk kedua kali. Tapi rasanya ia tak mampu, hingga Citra hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan Angga saat ini.
Cukup lama sepasang suami istri itu berendam air hangat di dalam bathtub, hingga jari-jemari Angga mulai nakal, lalu dengan perlahan merayap menelusuri daerah sensitif Citra.
"Angga," panggil Citra. Sebab dirinya mulai merasa risi dengan apa yang dilakukan oleh sang suami.
Namun Angga sama sekali tidak merespon, karena mungkin dirinya sudah tak tahan melihat kemolekan tubuh ramping Citra.
Dengan perlahan Angga mulai merapatkan tubuhnya pada Citra, dan detik berikutnya ia lalu meletakkan jari-jemari pada buah kembar milik Citra.
"Mas Angga," panggil Citra sekali lagi. Namun, laki-laki itu tidak menyahut. Sebab ia sibuk mempermainkan buah kembar milik Citra. Hingga akhirnya, lama-kelamaan Citra terbawa suasana, dan kalimat kenikmatan pun lolos begitu saja dari bibirnya.
Angga yang mendengar hal itu, dirinya pun langsung semangat memberikan sentuhan-sentuhan lembut di daerah sensitif Citra. Dan menit berikutnya Citra mulai membuka suara.
"Mas apa kita harus melakukannya di sini?"
Angga seketika menghentikan aksinya, saat mendengar pertanyaan dari sang istri, lalu tanpa aba-aba membopong tubuh Citra menuju tempat tidur dalam keadaan polos.
Brak…
Angga menjatuhkan tubuh Citra di atas kasur, kemudian dia kembali melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda.
__ADS_1
Mula-mula Angga menautkan bibirnya pada Citra, dan Citra pun membalasnya. Dan tidak lama kemudian, terjadilah pergulatan panas antara Angga dan Citra, di pagi yang cerah nan indah itu.