Rahasia Menantu Culun

Rahasia Menantu Culun
Rahasia Menantu Culun Bab 47


__ADS_3

Rahasia Menantu Culun Bab 47


Siska mengusap cairan bening yang sempat menetes dari kelopak matanya. Lalu dia menatap manik mata anak kesayangannya, Rifki.


"Hubungi Syasi sekarang juga," pinta Siska sambil menatap tajam wajah Rifki.


"I-iya Mom," jawab Rifki terbata.


*****


"Kak, aku permisi ke toilet dulu ya."


Citra mengangguk, sambil mengecek beberapa pesan penting yang masuk ke dalam ponselnya.


Sedangkan Syasi, ia tersenyum tipis saat melihat Citra sedang sibuk, dan itu memudahkan dirinya melaksanakan rencana yang dia susun dengan rapi.


Syasi melangkah perlahan meninggalkan Citra dengan tujuan ke toilet. Namun ditengah perjalanan Syasi melirik Citra yang masih sibuk dengan benda pipih yang ia pegang.


"Baguslah," batin Syasi.


Kemudian dia membelokkan kakinya menuju dapur, dan memanggil salah satu pelayan di restoran itu.


"Ada apa mbak? apa mbak butuh sesuatu?" tanya pelayan restoran itu.


Bukannya menjawab pertanyaan pelayan restoran tersebut, Syasi malah menarik pergelangan tangan pelayan itu, lalu dia membawa ke tempat yang sepi.


"Mbak, ada apa sih? kenapa mbak menarik tangan saya, saya itu masih banyak pekerjaan, jadi tolong lepaskan tangan saya."


Syasi menghentikan langkahnya sebentar, setelah mendengar ucapan pelayan itu barusan, lalu dia menatap wajah pelayan restoran itu dengan cukup tajam. Dan sepersekian detik kemudian Syasi melirik ke kanan dan ke kiri, memastikan dulu bahwa tempat itu benar-benar sepi.


Setelah di rasa aman, barulah Syasi melepaskan genggaman tangannya dari pelayan restoran itu.


"Mbak mau uang nggak," kemudian Syasi mengeluarkan segepok uang pecahan seratus ribu dari dalam tasnya.


Bola mata pelayan restoran itu seketika melotot melihat uang pecahan seratus ribu yang berada di tangan Syasi, bahkan dengan susah payah dia menelan ludahnya sendiri.


"B-benar uang itu untuk saya mbak?" tanya pelayan restoran itu sambil menunjuk ke arah dirinya sendiri.


Syasi tersenyum.


"Tentu saja uang ini untuk anda, tapi ada syaratnya."


Dengan cepat, pelayan restoran itu pun menanyakan kepada Syasi, apa syaratnya, jika ia ingin mendapatkan uang tersebut.


Syasi lagi-lagi tersenyum puas, bahkan dirinya merasa sangat beruntung telah memilih orang yang tepat.


"Sangat mudah… kau hanya menaruh obat ini pada salah satu makanan yang aku pesan tadi, dengan menu spaghetti saus bolognese, ingat... spaghetti saus bolognese," ucap Syasi.


Karena tergiur dengan uang segepok yang dijanjikan oleh Syasi, kemudian tanpa menanyakan jenis obat apa yang hendak dia berikan kepada orang yang tidak dikenal, pelayan restoran itu pun langsung menyetujuinya.


"Baiklah aku setuju," ujar pelayan restoran itu.

__ADS_1


Kemudian dia menarik uang yang berada di tangan Syasi, lalu memasukkannya ke dalam kantong celemek yang dia pakai.


Syasi tersenyum tipis, saat melihat pelayan restoran itu yang ternyata mata duitan.


"Ingat... jangan sampai gagal, dan jika hal itu terjadi, aku akan meminta uangku kembali," ujar Syasi tegas.


Pelayan restoran itu tersenyum.


"Hm... baiklah, itu tidak masalah, mbak." kemudian mereka berdua saling berjabat tangan sambil mengucapkan deal.


Setelah melakukan kesepakatan dengan orang yang tidak ia kenal, kemudian pelayan restoran itu pun kembali ke dapur dan melaksanakan pekerjaannya.


Wajahnya berseri, dan senyum indahnya tak pernah pudar sejak ia memasuki dapur.


Alhasil, membuat teman di sebelahnya merasa heran dan menanyakan apa yang terjadi kepada temannya.


"Kau ini kesambet setan apa? sampai-sampai kaya orang gila, ketawa sendiri, senyum-senyum sendiri, hum..!" ucap temannya sambil menautkan kening. Merasa heran sekaligus penasaran tingkat tinggi.


Pelayan restoran suruhan Syasi tersenyum tipis.


"Bukan urusanmu, lakukan saja pekerjaanmu dengan baik, jika tidak ingin dipecat, apa kamu mau aku mengadukan kepada pak bos? kalau kamu senang bergosip."


Seketika temannya terdiam, lalu dia kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Kepo banget sih… sama urusan orang," batin pelayan suruhan Syasi.


-


-


-


Dan tidak lama berselang, datanglah pramusaji membawakan pesanan mereka sebelumnya.


"Ini spaghetti bolognese pesanan mbak," ujar pelayan suruhan Syasi sambil menyodorkannya ke hadapan Citra.


Citra tersenyum manis.


"Terima kasih," ucap Citra kemudian.


Setelah selesai menghidangkan makanan itu, kemudian para pramusaji itu pun pergi.


Sedangkan Syasi dirinya merasa sangat senang dan bahagia, karena sebentar lagi rencananya akan berhasil.


"Ayo kak, nikmati makanannya, kalau nanti dingin rasanya tidak enak lagi," ujar Syasi sambil tersenyum.


"Baiklah dek," jawab Citra tersenyum, lalu dia meletakkan ponselnya di atas meja.


Citra pun mulai mengaduk spaghetti itu, dan setelah semua sausnya tercampur, lalu dia menyendoknya ke dalam mulut.


Syasi yang melihat hal itu, hatinya bersorak kegirangan, kemudian dia menghitung mundur.

__ADS_1


Tiga….


Dua….


Satu….


Dret...dret...dret.


Sendok yang berisi spaghetti yang hendak dimasukkan Citra kedalam mulut, tiba-tiba kembali dia letakkan di piring saji. Dan meraih ponselnya yang berdering.


"Hallo Robin, ada apa?" jawab Citra sambil berdiri dari tempat duduknya, lalu dia melangkah menjauh dari Syasi.


"Citra... cepatlah datang ke kantor sekarang juga, ada kolega bisnis kita yang ingin bertemu."


"Tapi Robin, saat ini aku sedang bersama dengan Syasi, kami berdua sedang makan siang bersama, tidak bisakah kau mengatasinya sendiri," ujar Citra.


Robin terdiam cukup lama, hingga sepersekian detik kemudian Robin mengatakan kalau Citra harus datang ke kantor, karena kolega bisnis mereka ingin bertemu dengan Citra secara pribadi.


"Hum…! baiklah," akhirnya Citra menyerah dan mengiyakan permintaan Robin.


Setelah mengakhiri perbincangan dirinya dengan Robin, kemudian Citra kembali menemui Syasi.


"Syasi, maafkan aku, saat ini aku sedang ada urusan penting, ada klien yang ingin bertemu denganku," ucap Citra lalu dia kembali meminta maaf kepada Syasi.


Syasi tersenyum masam, tapi dia masih berusaha untuk membujuk Citra agar mau mencicipi makanan yang mereka pesan.


Lagi-lagi Citra minta maaf, karena saat ini dia sedang terburu-buru.


"Sekali lagi maafkan kakak Syasi," kemudian Citra meninggalkan Syasi seorang diri di meja makan itu.


Syasi yang melihat kepergian Citra, dirinya sangat merasa kesal, padahal tinggal selangkah lagi agar rencananya berhasil.


"Robin si@lan… dia selalu mengganggu rencana ku, andai saja dia tidak menghubungi Citra, maka rencanaku sudah berhasil," celoteh Syasi dalam hati.


Kesal, marah, benci. Kini sudah bercampur aduk di dalam hati Syasi. Andai saja Syasi berada di tempat yang sepi, mungkin dia sudah berteriak sejadi-jadinya mengumpat Robin yang berhasil menggagalkan rencananya yang tinggal selangkah lagi.


Dengan kemarahan yang menggebu, kemudian Syasi meninggalkan restoran itu.


Namun, baru saja dia sampai di parkiran, tiba-tiba ponselnya berdering.


"Hallo ada apa Rifki, saat ini aku sedang tidak mood, jadi jangan menelpon ku dulu," ujar Syasi yang hendak memutuskan sambungan teleponnya.


Namun, tindakannya itu langsung dihalau oleh Rifki.


"Tunggu-tunggu, jangan dulu putuskan sambungan teleponnya, karena aku ingin memberitahukan kepadamu bahwa anak kita Ronald sedang di rawat di rumah sakit," jelas Rifki.


Hai...para readers setia pembaca novel Rahasia Menantu Culun. Author mengucapkan terima kasih banyak untuk kalian😘😘



Sambil menunggu author update, kalian boleh mampir ke karya kak author AdindaRa dengan judul kurebut suami kakakku. Oh iya... Jangan lupa juga, sampaikan salam author riski iki pada kak AdindaRa ya. 😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2