Rahasia Menantu Culun

Rahasia Menantu Culun
Rahasia Menantu Culun Bab 36


__ADS_3

Rahasia Menantu Culun Bab 36


Chit…


Mobil yang dikendarai oleh dokter Lisa pun kini sudah berhenti tepat di kawasan perkantoran Pratama Group, lalu dia berjalan tergesa menuju ruangan yang telah diarahkan oleh Robin sebelumnya.


Sedangkan para karyawan yang melihat perempuan berjas putih itupun sedikit heran, mereka sempat bertanya-tanya dalam hati, siapa gerangan yang sakit.


Namun karena kesibukan mereka dalam bekerja, akhirnya para karyawan pun tak mengindahkan hal tersebut, dan melanjutkan kembali pekerjaan mereka masing-masing.


Tok...tok...tok


Terdengar suara pintu diketuk dari luar, dan Robin yang sedang berada di dalam ruangan langsung menyuruhnya untuk segera masuk.


Dokter Lisa pun memutar knop pintu, setelah terdengar suara seseorang menyuruhnya untuk masuk.


Tanpa basa-basi, dokter Lisa segera mengeluarkan alat medis yang ia bawa, kemudian dia memeriksa Citra yang sedang terbaring lemas di atas sofa.


Cukup lama dokter Lisa memeriksa keadaan Citra, dan dia juga sudah berulang kali menghirup kan aromaterapi tepat di depan hidung Citra.


Hingga menit berikutnya, barulah Citra perlahan membuka Indra penglihatannya. Dan dirinya cukup terhenyak melihat keberadaan dokter Lisa di dalam ruangannya.


Ya, Lisa adalah salah satu sahabat baiknya sama seperti Robin.


Angga pun langsung mendekat ke arah Citra, ketika sang pujaan hati mulai membuka mata. Lalu dia menanyakan apakah Citra sudah merasa baikan.


Citra mengangguk.


Sedangkan Angga, Ia merasa sangat lega.


Namun sepersekian detik kemudian, Citra kembali merasakan perutnya seperti diaduk-aduk.


Karena tubuhnya masih dalam keadaan lemah, ia pun meminta Robin untuk menemani dirinya ke dalam kamar mandi.


Robin mengangguk, lalu dia menuntun Citra masuk kedalam kamar mandi.


Di dalam kamar mandi.


Citra kembali mengeluarkan seluruh isi perutnya, hingga beberapa menit berlalu barulah ia merasa lega.

__ADS_1


Sembari memandangi wajahnya di cermin, kemudian Citra mengelus perutnya yang masih rata.


Ia tidak tau harus senang ataupun sedih, jika apa yang dia pikirkan benar-benar terjadi.


Citra pun keluar dari dalam kamar mandi, sedangkan sahabatnya Robin dengan setia menunggu di depan pintu, dan setelah Citra selesai memuntahkan seluruh isi perutnya, Robin pun kembali memapah Citra untuk duduk di atas sofa.


Citra memandang ke arah dokter Lisa dengan sayu. Sebab, dirinya cukup takut mendengar apa yang dikatakan oleh dokter tersebut. Karena jujur, Citra belum siap jika dokter itu memvonis dirinya kalau saat ini dia sedang hamil.


Namun ketakutannya benar-benar terjadi, ketika sang dokter mengulurkan tangan pada Citra, sambil mengucapkan selamat atas kehamilannya. Dan dokter Lisa juga menjelaskan kalau umur kehamilan Citra saat ini sudah memasuki Minggu ke sembilan.


Namun lebih jelasnya, Citra harus memeriksakan diri ke dokter kandungan, jika ingin data yang lebih akurat.


Citra menutup mata perlahan, berharap apa yang dia dengar barusan hanyalah mimpi.


Namun, ketika Citra membuka Indra penglihatannya kembali, ia pun melihat dokter Lisa berada di hadapannya, bahkan sahabat lamanya itu sedang tersenyum manis.


"Selamat, sebentar lagi kau akan menjadi wanita yang paling sempurna."


Dokter Lisa pun kembali mengucapkan selamat atas kehamilan Citra, lalu dia menyodorkan secarik kertas yang bertuliskan resep obat yang harus dikonsumsi oleh Citra, biar rasa mualnya sedikit berkurang.


Setelah selesai memeriksa keadaan Citra, dokter Lisa pun pamit undur diri karena pekerjaannya di rumah sakit masih menumpuk.


Sedangkan Angga yang sejak tadi berdiam diri di pojokan, ia merasa sedikit kecewa mendengar berita kehamilan Citra.


****


Beberapa hari ini, Syasi selalu mendesak Rifki agar mau menceraikan Citra.


Namun sepertinya, Rifki sudah bertekad tidak akan pernah menceraikan Citra, apapun alasannya.


Seperti sekarang, pasangan yang dulu saling mencintai itu pun kembali beradu argumen.


Syasi kembali meminta suaminya Rifki agar mau menandatangani surat cerai yang disodorkan oleh Citra beberapa Minggu yang lalu.


Namun seperti hari-hari sebelumnya, Rifki tak pernah mengindahkan permintaan Syasi. Hingga akhirnya pertengkaran hebat pun terjadi diantara pasangan suami istri itu.


Siska yang baru saja menginjakkan kaki di ruang tamu, dirinya begitu terhenyak mendengar pertengkaran hebat antara anak dan menantunya.


"Diam…!" teriaknya menggema.

__ADS_1


Syasi dan Rifki yang sejak tadi beradu argumen langsung terdiam, lalu keduanya saling menatap satu sama lain.


"Apa lagi sih yang kalian ributkan, Mom pusing terus menerus mendengar pertengkaran kalian, tidak bisakah kalian mengakhirinya sekarang juga," pekik Siska kemudian dia menatap wajah Rifki dan Syasi secara bergantian.


Takut pertengkarannya dengan Syasi kian membuncah, Rifki pun akhirnya memilih untuk pergi meninggalkan rumah.


Sedangkan Syasi, Ia pun langsung memeluk ibu mertuanya sambil menangis tersedu.


Lalu mengadukan nasib pernikahan dirinya yang semakin hari semakin berada di ujung tanduk.


Siska memeluk menantu kesayangannya itu dengan erat, ia juga sebenarnya merasa kasihan terhadap Syasi. Namun bagaimanapun juga keputusan mutlak berada di tangan Rifki.


"Yang sabar ya sayang, semuanya pasti akan berlalu." Kemudian Siska mengusap punggung Syasi dengan lembut.


*****


Rifki yang sudah keluar dari rumah, lalu dia memutuskan untuk pergi ke kantor. Dan sekretarisnya Tomy pun kini menjadi sasaran empuk kemarahannya.


"Kau ini bagaimana sih, mengurus hal sepele seperti itu saja kau tidak becus, pokoknya aku tidak mau tau dalam waktu dua jam semua berkas proyek yang berada di kota B sudah siap, karena besok aku akan meninjau ke lokasi" ucap Rifki sambil melempar kasar berkas yang disodorkan oleh Tomy di atas meja kerjanya.


"B….b... baik Tuan." jawab Tomy terbata.


Kemudian dia langsung pergi meninggalkan ruangan Rifki dengan secepat kilat. Karena dirinya tidak ingin menjadi sasaran empuk atas kemarahan bosnya.


Dalam perjalanan menuju ruangan, Tomy pun sempat merutuki kebodohannya, karena dia lupa membaca situasi.


Brak…


Tomy pun kini melempar berkas itu ke atas meja kerjanya, dan kembali memeriksa ulang berkas tersebut.


Di dalam ruangan Rifki.


Tiba-tiba saja dia mendapat telepon dari salah satu anak buah suruhannya, yang khusus dia tugaskan untuk mengamati gerak-gerik Citra.


"Hallo, ada apa kau menghubungiku, dan jika hanya masalah sepele, lebih baik aku matikan saja," ancam Rifki.


"E...e... jangan gitu dong bos, ini masalah yang sangat…sangat begitu istimewa, aku pastikan bos akan terbang ke langit ketujuh, jika bos mendengar kabar bahagia yang aku sampaikan," ujar anak buah Rifki sembari tersenyum berbinar.


Dengan rasa kesal yang masih tersisa, kemudian Rifki menyuruh anak buahnya untuk segera memberitahukan kabar tersebut.

__ADS_1


Sebab, dirinya mulai penasaran, hal penting apa yang terjadi terhadap Citra, hingga anak buahnya mengatakan dirinya pasti akan merasa bahagia mendengar kabar yang disampaikan oleh anak buahnya.


"Cepat katakan," ujarnya kemudian.


__ADS_2