Rahasia Menantu Culun

Rahasia Menantu Culun
Rahasia Menantu Culun Bab 56


__ADS_3

Rahasia Menantu Culun Bab 56


Setelah kepergian Indah, kemudian Robin memberitahukan Citra, bahwa sebentar lagi klien bisnis mereka akan segera sampai.


Citra menarik nafas dalam, kemudian menatap sahabatnya Robin.


"Baiklah Robin, persiapkan semuanya. Aku tunggu di ruang rapat," Citra berdiri dari kursi kebesarannya, kemudian berjalan anggun menuju ruang rapat.


****


Di kantor Angga


Entah sudah berapa kali alarm berdering, mengingatkan kalau hari sudah beranjak pagi.


Namun entah mengapa Angga masih enggan untuk membuka mata, sejak tadi ia tersenyum sendiri dalam tidurnya.


Entah apa yang dimimpikan oleh laki-laki tampan nan rupawan itu, hanya dia lah yang tau.


Tok...tok...tok.


Anton terus saja mengetuk pintu. Namun dari dalam tak kunjung ada jawaban. Dengan rasa tidak sabar, kemudian Anton memutar kenop pintu, lalu dia merengsek masuk ke dalam ruangan Angga.


Namun, setelah ia masuk, dirinya sangat begitu terhenyak melihat keadaan sahabat sekaligus Bosnya.


"Angga ada apa? aku ini Anton, bukan Citra. Menjauh lah dariku," pekik Anton cukup kesal.


Namun Angga tak sedikitpun menggubris ucapan Anton, dia terus saja berjalan mendekat kearah laki-laki itu, meskipun sudah melarang.


"Na...na...na."


Dengan keadaan mata tertutup rapat, Angga terus saja melantunkan lirik lagu yang tidak terlalu jelas di dengar, kemudian menggenggam tangan Anton lembut, lalu mengajaknya untuk berdansa.


Anton yang melihat tingkah laku bosnya yang sudah keterlaluan, lalu dia kembali memintanya untuk sadar.


"Angga sadarlah, aku ini Anton bukan Citra," pekik Anton semakin kesal. Lalu dia meletakkan setelan jas yang dia bawa, Kemudian mengambil segelas air putih yang bertengger di atas meja kerja Angga.


Byuur….


Dengan segenap keberanian yang Anton miliki, akhirnya Ia pun mengguyur tubuh Bosnya.


"Hujan... hujan…! Citra ayo kita berteduh di bawah pohon rindang itu," ucap Angga sambil menarik pergelangan tangan Anton.


"Aku ini Anton bukan Citra, lepaskan."


Tap….

__ADS_1


Angga seketika membuka mata, lalu dia berbalik, dan betapa terperanjatnya beliau saat melihat Anton berada di hadapannya.


"Bukankah tadi aku bersama dengan Citra, lalu kenapa tiba-tiba berubah menjadi jomblo lapuk ini," batin Angga.


Dengan memasang mimik wajah yang cukup menyeramkan, kemudian dia melepas genggaman tangannya dari Anton.


"Kenapa kau berada di sini, bukankah tadi aku bersama dengan Citra. Dan sekarang dia ada di mana?"


Anton membelalakkan mata, saat mendengar pertanyaan konyol Angga. Jika dirinya adalah Bos, mungkin ia sudah melayangkan bogem mentahnya tepat di wajah Angga.


"Hufh…!" Anton menarik nafas dalam. Lalu dia menjelaskan pada Angga bahwa sejak tadi dirinyalah yang diajak Angga berbicara.


"Kau itu mimpi Bos, mimpi di siang bolong. Dan sekarang cepatlah bersiap-siap, karena kita akan mengadakan rapat di cafe mawar merah," ucap Anton kemudian dia menyerahkan setelan Jas yang ia bawa.


Angga menggaruk kepalanya yang tidak gatal, saat ia mendengar penjelasan Anton.


Bukannya tadi ia merasakan momen indah bersama dengan Citra benar-benar nyata? disertai kekehan kecil, kemudian Angga berjalan perlahan menuju kamar mandi yang berada di ruangannya.


Mungkin semalam dia terlalu memikirkan Citra, maka dari itu. Pagi ini Citra hadir dalam mimpinya.


"Benar-benar mimpi yang sangat indah," batin Angga sambil tersenyum tipis.


*****


Dimension Rosa Hafiq


"Darius, apakah kamu sudah menelpon kakakmu," Darius seketika meletakkan sendoknya di atas piring, lalu dia menatap manik mata sayu ibunya.


"Belum Bu, biarkan saja dia itu sudah dewasa, ibu tidak perlu mengkhawatirkan keadaannya, paling juga dia berada di kantor menghindari perjodohan konyol yang selalu ibu lakukan," kemudian Darius melanjutkan sarapannya.


Sedangkan Rosa Hafiq dia mengangguk-nganggukan kepala, saat mendengar celotehan anak keduanya.


"Hum... sekarang kamu juga sudah mulai mendukung kakakmu ya, bagus-bagus," ucapnya sambil mengetuk-ngetuk 'kan jari telunjuknya di atas meja.


Sedangkan Darius yang mendengar ucapan ibunya, seketika dia menghentikan sarapannya, lalu menatap Rosa Hafiq dengan sendu. Menyesali apa yang barusan Ia katakan.


"Ibu jangan bilang seperti itu? Mana mungkin aku berani melawan ibu, tapi kalau kakak aku tidak tau, aku 'kan sangat sayang pada ibu," kemudian Darius berdiri dari tempat duduknya, lalu memeluk ibu tercintanya.


"Maafkan ucapanku Bu," ucapnya kembali.


"Tidak apa-apa Nak," jawab Rosa sambil menyunggingkan senyuman tipis.


"Baiklah Bu, kalau begitu aku pamit dulu, dan soal kak Angga ibu tidak perlu terlalu memikirkan dirinya, dia pasti baik-baik saja," ujar Darius sambil mencium kening ibunya.


Kemudian dia beranjak meninggalkan ibunya yang berada di meja makan.

__ADS_1


"Hufh…!"


Rosa yang tidak bernapsu makan, karena tidak kehadiran Angga, kemudian dia menyuruh pembantunya untuk segera membereskan meja makan.


Lalu memanggil Farhat, untuk segera menyiapkan mobil. Karena dia ingin menjenguk Angga ke kantor.


"Baik Nyonya."


Farhat pun langsung bergegas menyiapkan mobil, sebelum Rosa Hafiq mengeluh karena ke leletannya.


Dalam perjalanan menuju kantor, Rosa Hafiq sempat termenung memikirkan ucapan anaknya Darius, saat di meja makan tadi.


"Apakah aku terlalu mengkekang Angga untuk perjodohan ini. Tapi, aku ingin Dila Abraham lah yang menjadi menantuku. Dia tampak sempurna di mataku, Oh...Dila anakku. Bersabarlah sayang, sebentar lagi kamu akan bersanding dengan anakku Angga," batin Rosa Hafiq.


Membayangkan Dila bersanding dengan Angga, membuat Rosa Hafiq tersenyum-senyum sendiri.


Hingga membuat Farhat yang mengemudikan mobil menggelengkan kepala.


*****


Di kantor Citra


Saat ini rapat sedang berlangsung alot, penawaran-penawaran kerja sama yang di ajukan oleh Citra sejak tadi belum di setujui oleh klien bisnis mereka.


Namun, tidak berselang lama, akhirnya kerja sama antar perusahaan Pratama Group dengan Gulstan Group pun akhirnya selesai. Setelah Citra sedikit mau mengalah.


"Terima kasih Non Citra, saat ini perusahaan kita sudah resmi bekerja sama," ucap klien bisnis Citra sambil berjabat tangan.


"Sama-sama Tuan," ucap Citra sambil tersenyum manis. Kemudian dia meminta Robin agar segera menemani klien bisnis mereka sampai ke lobby.


"Baik Non Citra."


Setelah kepergian klien bisnisnya, kemudian Citra beranjak dari tempat duduk, lalu dia berjalan Anggun menuju ruangannya.


"Hufh…!" Citra menghembuskan nafas dengan sedikit kasar, lalu dia mendudukkan bokongnya di atas kursi kebesarannya.


"Klien bisnis yang satu ini benar-benar sangat sulit di taklukkan, kalau aku tidak mengalah, mungkin sampai sekarang pertemuan itu masih berlangsung," celoteh Citra cukup kesal. Karena keuntungan yang didapat oleh perusahaan Gulstan lebih banyak dari perusahaannya.


Namun, disaat Citra memikirkan hal itu semua, tiba-tiba pintu ruangannya di ketuk.


"Masuk."


Robin pun masuk, lalu dia duduk di hadapan Citra, kemudian memberondong Citra dengan begitu banyak pertanyaan.


"Sudahlah Robin, topik ini kita tutup, lagi pula kita 'kan masih memiliki untung, walaupun tidak sebanding dengan perusahaan Gulstan," ucap Citra.

__ADS_1


Kemudian dia berdiri dari kursi kebesarannya, lalu meminta Robin untuk mengantarnya ke kafe mawar merah. Sebab, dia ingin menenangkan pikiran dari hiruk pikuk kehidupan yang ia jalani.


__ADS_2